Menjadi anak bungsu harusnya enak. Paling dimanja, paling disayang, dan dipenuhi kebutuhannya. Seharusnya begitu. Namun mengapa Amelia justru merasa tidak ingin menjadi anak bungsu? Ah, andai saja dia bisa membuat pilihan. Kiranya dilahirkan bukan sebagai anak bungsu. Meskipun juga bukan sebagai anak sulung. Pokoknya, asal bukan anak bungsu.

Ini tidak lain perlakuan Eliana, kakaknya yang selalu menyuruhnya
mengerjakan banyak hal. Melakukan inilah, melakukan itulah. Padahal tidak begitu kepada kakaknya yang lain. Bahkan Mamaknya pun sama. Hampir tidak bisadia bermain atau ikut dalam kegiatan warga seperti menanam padi, ke ladang, atau lainnya.

Sampai kemudian dia mendapat rahasia dari Maya yang dapat membuat supayakakaknya tidak cerewet padanya. Namun nahas, rencana itu berantakan. Ketahuan. Kakaknya marah besar. Bahkan Mamak dan Bapaknya pun marah. Amelia dihukum oleh bapaknya; mengerjakan semua pekerjaan kakaknya. Baru kemudian dia tersadar betapa lelahnya menjadi anak sulung. Lebih banyak lagi yang harus dikerjakan,
lebih banyak lagi kewajiban yang wajib ditunaikan. Benar kata Nek Kiba,
“Orang-orang yang melakukan kesalahan pasti hidupnya tidak tenang hingga dia mau bertobat” (hlm 51).

Namun hukuman terbesarnya adalah menemani kakaknya mencari kayu bakar di hutan. Menemani sosok yang justru dibenci dan dihindarinya. Sampai kemudian sebuah musibah yang membuat pandangan Amelia terhadap kakaknya berubah. Sebuah musibah yang membuat kakaknya mempertaruhkan kesehatan dan dirinya. Peristiwa yang membuka mata Amelia, betapa sejak dulu kakaknya bukan hanya sayang dan melindunginya. Sejak saat itu, Amelia berharap dipanggil Eli. Sebagai sebuah kebanggaan terhadap sang kakak.

Amelia harus berhadapan dengan masalah teman sekelasnya yang nakal, usil, dan kurang bersahabat. Dia berjuang untuk mengalahkan dirinya sendiri.

Cara bapak menegur dan menghukum Amelia sungguh mujarab. Begitulah cara Bapak mendidik anak-anaknya. Tidak serta merta menghukum tapi dengan memberikan pemahaman terlebih dahulu.

Sungguh pun tidak mendapatkan pendidikan yang tinggi, namun Bapak memiliki cara mendidik anak-anaknya yang hebat. Menanamkan karakter positif pada setiap anaknya. Amelia, si anak kuat. Bukan kuat secara fisik, tapi hatinya yang kuat. Perasa dan mampu mengartikan banyak hal tentang kehidupan.

Melalui novel ini kita juga disadarkan pentingnya pendidikan. Lewat pak
guru Bin anak-anak kampung disadarkan bahwa dengan pendidikan, kehidupan kita bisa maju dan meningkat. Ilmu membuat usaha pertanian dan perkebunan dilakukan dengan cara yang cerdas, termasuk dalam hal pemilihan bibit yang akan ditanam sehingga hasilnya pun lebih baik. Kepada anak-anak kampung itulah pak Bin berharap mereka dapat mengubah nasib penduduk kampung.

Kemiskinan dan keterbatasan bisa dilawan dengan pendidikan, ditambah kerja
keras tentunya. Ilmu pengetahuan bisa membuat petani kampung kita bisa hidup
lebih makmur dan berkecukupan (hlm 86).

Kisah-kisah yang disuguhkan dalam novel ini juga membangun kesadaran kita  bahwa persaudaraan adalah segalanya. Saling bantu dan kerja sama haruslah dibangun dalam keluarga. Kita disuguhkan pada potret kehidupan yang terjadi di pedalaman pulau Sumatera sana. Kehidupan khasnya menyadap karet, menanam padi sistem huma, atau hutan yang masih asri. Kehidupan anak-anak di sana seperti  bermain di sungai, mencari jamur, mengumpulkan kayu bakar, atau mencuci piring
dengan sabut kelapa mengembalikan nostalgia kita tentang kehidupan lampau. Banyak hikmah dalam novel keluarga ini. Selamat membaca.