Belakangan, lagu tentang Ummul Mukminin Aisyah ra menjadi viral. Tidak tanggung-tanggung, belasan cover lagu semua menjadi trending. Bahkan ada yang mencapai 33 juta kali ditonton. Meskipun begitu, lagu ini menjadi perbincangan dengan pro dan kontra.

Salah satu alasan yang menyayangkan lagu ini karena liriknya yang hanya mengedepankan fisik beliau semata. Sehingga dikhawatirkan hanya hal duniawi saja yang diambil dari sisi beliau. Bahkan kesannya kurang sopan. Lantas, seorang tokoh pun menganjurkan agar liriknya diubah. 

KLirik Aisyah pun beragam bahasa. Tetap menjadi trending. Bahkan ulasan tentang cover lagu pun menjadi trending. Nah, buku ini setidaknya menjawab kekurangan yang disandingkan pada lagu tersebut.

 

Buku ini merupakan bagian ketiga dari serial Wanita Mulia Di Sisi Rasulullah. Review sederhana ini bukan pula bermaksud menandingi keberadaan lagu Aisyah, hanya sekadar menambah pengetahuan tentang sosok wanita mulia isteri Rasulullah. Dan, penggambaran sosok beliau dalam review ini juga hanyalah secuil dari keluasan karakter beliau. 

Buku ini merupakan karya Syekh Sayyid Sulaiman an-Nadawi, ulama terkemuka di Universitas Nadwatul Ulama’. Menjadi sebuah anugerah bagi khasanah keilmuan bagi sejarah Islam. Keistimewaannya terhadap pada studi akademis dan historis atas kehidupan Ummul Mukminin.

Buku ini sekaligus sebagai cermin bagi setiap wanita muslim untuk melihat dirinya dan menyandarkannya pada sifat sifat dan karakter dari Aisyah. Merupakan terjemahan dari buku yang ditulis Sayyid Sulaiman yang merupakan tokoh Islam dari India. Syekh Sulaiman an-Nadawi sendiri telah berpulang ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala pada 22 November 1953 Masehi. 

Banyak literatur yang menyatakan perbedaan kelahiran Aisyah. Menurut buku ini, versi yang paling benar adalah bahwa Aisyah lahir pada bulan Syawal akhir tahun ke-5 Hijriyah, 8 tahun sebelum peristiwa hijrah bertepatan dengan bulan Juli tahun 614 M. 

Tidak banyak literatur tentang Aisyah. Sehingga karya ini bisa menjadi sumber yang sangat mumpuni tentang Aisyah. Aisyah menjadi sosok yang sangat mengetahui rahasia-rahasia pribadi Rasulullah Saw. Sehingga banyak hal yang dilakukan dan diucapkan Aisyah bersandar dari pengalamannya bersama Rasulullah Saw.

Buku ini juga mengupas posisi strategis kehidupan Aisyah dalam bidang ilmu pengetahuan terutama hadist. Seperti diketahui, banyak hadis yang yang diriwayatkan oleh beliau bahkan beliau juga menjadi perantara turunnya sebab turunnya Alquran.

Aisyah Banyak Meriwayatkan Hadits

Aisyah Wanita Tercerdas Dalam Sejarah Ummat

Mengapa Rasulullah sangat mencintai Aisyah? Banyak orang mengira bahwa Rasulullah sangat mencintai Aisyah lantaran kecantikannya semata. Pendapat ini tidak benar, karena banyak istri beliau yang lain seperti Zainab, Juwairiyah dan Shafiyah memiliki wajah yang juga elok dipandang. 

Dari literatur-literatur hadist serta sejarah terdapat penjelasan yang melimpah tentang kecantikan istri-istri nabi tersebut. Tetapi hanya ada satu atau dua riwayat yang menyebutkan kecantikan Aisyah.

Tetapi mengapa posisi Aisyah lebih istimewa di hati Rasulullah sebuah posisi yang tidak bisa dicapai oleh istri-istri orang lain? 

Aisyah sendiri memiliki keistimewaan dibandingkan istri-istri Nabi yang lain dalam hal keluasan dan kematangan ilmunya di bidang agama termasuk Alquran, tafsir, hadits dan fiqih. Ia juga memiliki kemampuan ijtihad yang mengagumkan, pemahaman yang mendalam tentang persoalan-persoalan agama, dan serta kemampuan merumuskan hukum untuk situasi situasi baru. (halaman 49)

 

Aisyah banyak meriwayatkan hadist. Menjadi orang keempat yang paling banyak meriwayatkan hadist.

Aisyah lahir ketika kedua orang tuanya telah memeluk agama Islam. Tidak ada satupun keluarga Muslim yang mampu menyamai perjuangan dan pengorbanan keluarga Abu Bakar dalam penyebaran agama Islam. Rumahnya diberkahi dan penuh dengan kemuliaan, kebahagiaan, dan keagungan terpancar terang. 

Sembilan Keutamaan Aisyah   

“Aisyah ra berkata, “Aku memiliki sembilan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh wanita manapun sebelum ini. Aku katakan bukan dengan tujuan menyombongkan diri atas istri Rasulullah SAW yang lain. Pertama, Rasulullah SAW pernah didatangi oleh malaikat yang menyerupai diriku. Kedua, Rasulullah menikahi saat aku berusia 7 tahun. Ketiga, beliau mengajakku hidup bersama di bawah satu atap saat aku masih berusia 9 tahun. Keempat, Rasulullah menikahiku saat aku masih perawan, dan tidak ada wanita lain yang beliau nikahi dalam keadaan seperti itu. Kelima, wahyu pertama turun ketika Rasulullah sedang bersamaku di dalam satu selimut. Keenam, aku termasuk salah seorang yang paling beliau cintai. Ketujuh, ada beberapa ayat dalam Alquran yang diturunkan karena diriku, sementara umat Islam nyaris binasa karenanya. Kedelapan, aku pernah melihat Jibril dengan mata kepalaku sendiri, dan itu tidak pernah dialami oleh istri-istri nabi yang lain. Kesembilan, Rasulullah Saw. pernah didatangi malaikat dalam sebuah rumah di mana tidak ada orang lain di sana kecuali diriku sendiri. HR Hakim Thabrani dan Ibnu Abi Syaibah).

Maka, adalah wajar, tentu saja jika Rasulullah mencintainya melebihi rasa cinta beliau kepada istri-istri yang lain. Buku ini merupakan salah satu dari sekian banyak karya Sayyid Sulaiman terdapat 11 buku sudah ditulis oleh Sayyid Sulaiman.

 Aisyah Sang Dermawan

Aisyah beruntung dilahirkan pada keluarga yang memiliki akhlak mulia. Ditambah bimbingan dari Rasulullah Saw. maka Aisyah menjadi pribadi yang sangat luhur akhlaknya memiliki spiritual dan makna ilmiah yang terpuji memiliki sifat zuhud dan wara’ serta berhati-hati menjalankan ajaran agama. tidak terhitung potret sifat-sifat terpuji di dalam kepribadiannya yang agung.

Suatu hari Muawiyah pernah menghadiahkan uang sebesar 100.000 dirham kepada Aisyah. Aisyah segera menyedekahkan seluruh uang tersebut tanpa menyisakan untuk dirinya. Ketika ia ditanya, “Engkau sedang berpuasa. Mengapa tidak kau sisakan satu dirham saja untuk membeli daging?” Aisyah menjawab, “Andai aku ingat, aku pasti melakukannya.” (HR Hakim.)

 

“Aisyah tidak pernah hamil dan tidak memiliki keturunan. Tetapi ia tidak merasa sedih dengan kenyataan itu. Ia menerimanya dengan ikhlas dan rela. Sepanjang hidupnya, Aisyah tidak pernah mengeluh.” (halaman 206)

Aisyah kemudian mengadopsi Abdullah bin Zubair yang dicintainya seperti anaknya sendiri. Demikian pula, Abdullah mencintai Aisyah lebih daripada ia mencintai ibu kandungnya. Aisyah juga mengasuh beberapa anak yatim.

 

Judul               : Aisyah Kekasih yang Terindah

Penulis            : Sulaiman an-Nadawi

Penerjemah   : Ghozi Mubarok

Penerbit         : Republika Penerbit

Tebal               : x+381 halaman

Cetakan          : Januari 2018

ISBN                : 978-602-082-276-1

Peresensi        : Supadilah