Mudahnya Berzakat Online dan Berbagi Kebaikan Bersama Sinergi Foundation

Mudahnya Berzakat Online dan Berbagi Kebaikan Bersama Sinergi Foundation

Mudahnya Zakat Online dan Berbagi Kebaikan Bersama Sinergi Foundation

“Pak Padil punya 2 ribuan? Saya mau beli susu buat anak ini kurang, Pak. Maaf banget ini saya minta,” kata Pak Ilham, guru kebersihan di sekolah saya, setelah dengan malu-malu mendekati saya.

Astaqfirullah, saya kaget sekali. Buat beli susu mungkin tidak seberapa besar. Tapi bahkan untuk itu, dia tidak punya sesuatu lagi. Seketika saya merasa berdosa karena tidak tahu saudaranya dalam kondisi kekurangan.

“Kalau nggak merepotkan ya,”

“Ya nggaklah, Pak,”

Lalu saya merogoh dompet. Meneliti sebentar dan mengambil uang pecahan Rp. 50 ribu.

“Ini Pak Ilham. Buat nambahin beli susu atau jajan anak,”

“Wah, kok segini, Pak Padil?”

“Nggak apa-apa, Pak Ilham”

Pak Ilham bilang jadi ragu-ragu menerimanya. Saya memaksanya. Baru dia mau menerimanya. Sepulangnya Pak Ilham, saya terpekur. Merasa kurang peka, sampai-sampai orang dekat saja tidak tahu kondisinya. Kalau sampai minta berarti sangat terdesak.

Banyak orang yang dalam kondisi kekurangan. Tapi kita tidak tahu. Mari bersegera berbagi kebaikan. Yang kita beri mungkin sederhana, tapi bagi mereka bisa menjadi luar biasa.

Memanfaatkan Amanah untuk Berbagi

Sangat mungkin ada orang lain lagi yang mirip dengan Pak Ilham. Lalu saya berpikir untuk memberikan sesuatu untuk guru-guru. Kebetulan saya ketua koperasi sekolah. Namanya koperasi serba usaha (KSU) Al Qudwah, bergerak di bidang usaha dan pembiayaan. Insya Allah dijalankan secara syariah. Menjelang Ramadhan, koperasi memberikan bingkisan kepada 173 guru-guru.  Di sini, dinamakan munggahan. 

Bingkisan itu berupa bahan pokok seperti gula, minyak goreng, daging ayam, dan sirup. Alhamdulillah bisa disisihkan dari penghasilan koperasi. Berharap bingkisan itu bisa memberikan kebahagiaan kepada guru-guru.

“Alhamdulillah, terima kasih, Pak Padil. Semoga koperasi semakin maju,”

Berbagai ucapan syukur dan terima kasih diucapkan oleh para guru.

Berbagi bingkisan saat munggahan Ramadhan

Ada petuah bijak. Dalam urusan dunia, lihatlah ke bawah. Hal ini membuat kita bersyukur karena dalam kondisi yang lebih beruntung daripada mereka. Dalam urusan akhirat, lihatlah ke atas.

Bagaimana memunculkannya? Saya punya tips nih. Coba sekali-kali keluar rumah, jalan-jalan. Tapi kali ini nikmati perjalanan dengan santai, lalu lebih jeli memotret apa yang ditemui di jalan.

Mungkin kita akan ketemu pemulung yang harus mencari satu dua bekas botol mineral atau kardus. Atau pedagang kaki lima yang harus berpanas dan berdebu berjualan. Atau tukang sol sepatu yang berjalan memanggul peralatan mencari nafkahnya. Atau pengamen jalanan baik itu yang memakai gitar, alat musik, maupun manusia silver. Begitulah beratnya dalam mencari nafkah. Lalu bandingkan dengan kita yang tak perlu seperti mereka dalam mencari nafkah. Hm, kita jauh lebih beruntung.

Mudahnya Berzakat Online di Sinergi Foundation

Satu kebaikan yang kita anggap kecil hari ini bisa jadi menumbuhkan kebaikan besar. Kebaikan yang bisa menyentuh banyak lapisan. Menolong orang tua yang tengah berjuang menafkahi keluarga, guru yang tengah berjihad dengan ilmunya, atau membantu anak mewujudkan cita-cita mulianya. (Ciptakan Kebaikan Setiap Hari – Sinergi Foundation)

Saya : Assalamualaikum

Sinergi Foundation (SF)  : Wa’alaikumsalam

Saya : Kak,Saya mau menyalurkan zakat fitrah lewat Sinergi. Apakah bisa?

SF : wa’alaikumsalam,  mangga Pak, Bisa InsyaAllah

Saya    : Kalau pakai uang saja, bisa?

SF: Boleh Pak, nanti kami menyalurkannya menjadi beras

Saya    : Siap. Untuk 5 jiwa, berapa uang yang harus dibayarkan? Boleh minta no rekeningnya?

SF: perorang nya 3 kg di kali harga beras yg di konsumsi, kalau di Sinergi Foundation harga yg dipakai 15.000 jadi perorang 45.000

SF: Alhamdulillah, boleh Bapak/Ibu. Apabila sudah transaksi boleh langsung konfirmasi. Terimakasih.

Tidak berapa lama, saya selesai membayarkan zakat fitrah untuk kelarga saya yang berjumlah 5 jiwa dengan orang tua. Bukti transfernya saya kirimkan.

Begitulah pengalaman saya membayarkan zakat tanpa harus keluar rumah. Pas sekali dengan kondisi saat ini, kita sedang menjaga jarak dan mengurangi aktivitas di luar untuk pencegahan Covid-19.

Zakat Online bisa menjadi pilihan. Paktis, tak perlu keluar rumah, Tak perlu menunggu menjelang Idu Fitri. Bahkan zakat fitrah bisa dibayarkan sejak awal bulan Ramadhan. Majelis Ulama Indonesia pun lewat Fatwa MUI Nomor 23 tahun 2020.

Kemajuan teknologi memiliki banyak manfaat. Hal ini juga dimanfaatkan untuk mempermudah pelaksanaan ibadah. Seperti zakat online yang membuat kita bisa menunaikan zakat dengan mudah.

Seperti halnya membayar zakat fitrah tadi, kita juga bisa membayar donasi lainnya lewat Sinergi Foundation. Tiga layanan zakat yang bisa kita lakukan lewat Sinergi Foundation yaitu zakat maal, zakat penghasilan, dan zakat fitrah.

Begitu mudah berdonasi. Bahkan saldo e-money pun bisa disedekahkan. Ya, kadang ada saldo di dompet digital masih mengendap. Untuk transaksi nominalnya kurang, mau diuangkan juga nggak bisa. daripada mengendap, bisa disedekahkan ke Sinergi Foundation. Lebih bermanfaat.

Begini caranya.

  1. Masuk ke laman bit.ly/infaksinergi
  2. Pilih program yang ingin dibantu dan KLIK Donasi
  3. Isi jumlah rupiah yang ingin didonasikan
  4. Pilih metode pembayaran Gopay/ShopeePay/Ovo/LinkAja/Jenius/Dana
  5. Isi data diri

Prosesnya nggak sampai dua menit. Ringkas saja. Tapi kita bisa membuat dana mengendap menjadi lebih bermanfaat. Banyak pahala pula dengan dana itu. Berapa pun nominalnya insya Allah menjadi pahala kita. Kita juga dapat Zakat Online menggunakan scan kode QRIS yang didukung berbagai dompet digital seperti OVO, Gopay, LinkAja, ShoopePay, Jenius, atau DANA. Dapatkan kode QRIS-nya dengan mengunjungi website resmi Sinergi Foundation di www.sinergifoundation.org atau melalui bit.ly/sinergizakat

Berbagi kebaikan harus disegerakan. Sekarang ini berbagi sangat mudah dilakukan. Berbekal smartphone dalam genggaman. Berbagi kebaikan bisa dilakukan dengan transferan. Beberapa alasan mengapa kita layak percaya pada Sinergi Foundation.

=

Mudahnya Pelayanan

Layanan berzakat atau berdonasi apapun bisa dilakukan dengan mudah. Bisa dilakukan lewat media sosial (instagram, WhatsApp) maupun lewat website.

=

Terpercaya dan Amanah

Sinergi Foundation telah berkiprah sejak 14 Oktober 2002. Legalitas Sinergi Foundation terdaftar berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: AHU – 5622.AH.01.05. Tahun 2011. Terdaftar sebagai Lembaga Amil Zakat sesuai SK Menteri Agama DJ.III/564 Tahun 2016.

=

Memiliki Banyak Program

Hingga Desember 2020, Sinergi Foundation telah memberikan manfaat kepada 770.752 penerima manfaat. Sebanyak 37.659 donatur dan 13.074 mitra bersinergi bersama Sinergi Foundation.

=

Banyak Pilihan Berdonasi

Tak perlu bingung dengan biaya transfer antar bank sebab Sinergi Foundation memiliki 6 lebih rekening tujuan yang dapat dipilih sesuai rekening asal kita.

=

Aman dan Legal

Semua dana yang terhimpun di Sinergi Foundation murni disalurkan untuk kepentingan sosial, dan BUKAN untuk tujuan pencucian uang, terorisme, maupun tindak kejahatan lainnya.

=

Memiliki Jangkauan Luas

Programnya luas. Menebarkan kebaikan hingga ke pelosok Nusantara seperti Kalimantan dan Papua, hingga masyarakat dunia, seperti rakyat Palestina.

=

Laporan Donasi Aktual Dan Jelas

Setelah berdonasi, admin akan memberikan informasi transaksi yang dilakukan. Selain itu, laporan donasi diberikan dengan jelas sehingga kita tidak ragu lagi dengan sebaran donasi yang diberikan.

Dibalik keceriaan kita menyambut Hari Raya Idul Fitri, ada banyak kaum dhuafa yang tak seberuntung kita. Mereka hidup dalam serba kekurangan dan keterbatasan. Alangkah baiknya jika kewajiban zakat segera kita tunaikan. Sebagian orang merasa enggan mengeluarkan zakat. Alasannya? Zakat akan mengurangi harta yang dimiliki.

Zakat bukan hanya untuk membantu orang lain tetapi juga untuk membersihkan harta dan jiwa sekaligus sebagai pemerataan kemakmuran untuk mencapai keadilan sosial. Ayo segera Bayar Zakat. Jangan tunda untuk berbagi bahagia. (*)

#RamadhanSiapBeramal

Kantor SF Bandung

Jl. HOS Tjokroaminoto (Pasirkaliki)
No. 143 Bandung 40173

Telp: (022) 6120 218
Fax: (022) 6120 130

WhatsApp : 0813-2120-0100

Gedung Wakaf 99

Jl. Sidomukti No. 99 H
Bandung 40123

Telp: (022) 251 3991
Fax: (022) 2511 865

 

Sosial Media:

Raih Masa Depan Bersama Dengan BPJS Kesehatan

Raih Masa Depan Bersama Dengan BPJS Kesehatan

Anak-anak kami sangat berbahagia karena diberikan mobil baru. Saat dibuka mereka begitu antusias. Dalam hitungan detik, keduanya sudah asyik dengan mainan baru mereka.

Kami memandang dengan penuh kebahagiaan. Bersyukur telah sampai pada kondisi ini. Kebayang waktu dulu saat menghadapi kelahiran anak-anak kami.

Untuk diketahui, dua anak kami dilahirkan secara sesar. Pada kelahiran anak pertama, suasana batin dan pikiran kami saat itu sangat cemas. Persiapan kelahiran sudah dilakukan. Termasuk sering cek ke dokter kandungan. Dan semakin dekat HPL-nya, diketahui bahwa anak kami kemungkinan akan dilahirkan secara sesar.

Wah, seketika ada dua hal yang dipikirkan, yaitu keselamatan ibu dan anak dan biaya operasi. Pasti besar, pikir saya.

Tapi jumlahnya saya belum tahu. Dua hari kemudian saya nanya-nanya ke teman. Ternyata, biayanya sangat besar. Ada yang bilang Rp. 8 juta, 11 juta atau Rp. 13 juta. Tergantung rumah sakitnya.

Uang sebesar itu bagi saya ya sangat besar sekali. Apalagi saat itu saya masih guru honor dalam masa percobaan dengan gaji Rp. 300 – Rp. 500 per bulan. Kalau sampai operasi dengan biaya Rp. 8 juta – Rp. 15 juta, dari mana saya dapatkan uang sejumlah itu?

Untungnya di sekolah saya ada kesempatan untuk ikut anggota BPJS Kesehatan. Dengar-dengar dapat membantu kalau kita sakit. Awalnya saya ragu. Tapi kemudian diyakinkan oleh ketua yayasan bahwa sangat pas mendaftar BPJS Kesehatan.

Tanpa pikir panjang, saya pun mendaftarkan. Apalagi mendaftarnya diurus oleh sekolah. Saya hanya menyetor KTP saja. Bahkan iurannya dipotong dari gaji sekolah. Jadi sungguh-sungguh meringankan.

Anak kami lahir dengan sehat walafiat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Sesuai dengan prediksi dokter kelahirannya harus sesar.

 

Anak yang kedua pun lahir dengan proses yang sama. Sesar. Meskipun saat itu saya sudah menjadi pegawai tetap yayasan (PTY) dengan gaji yang sudah lumayan tapi kalau harus mengeluarkan sejumlah uang di atas, berarti setara dengan 4 sampai 5 gajian bulanan saya.

Untungnya, sekali lagi, saya sudah menjadi anggota BPJS Kesehatan. Sehingga tidak terlalu pusing benar dengan biaya sesar. Akhirnya anak kami pun lahir dengan selamat sehat walafiat sehat sampai sekarang ini.

Dan kami pun yakin dengan meraih masa depan bersama BPJS Kesehatan. Sebuah konsep gotong royong yang telah membantu banyak orang. Termasuk keluarga saya.

Saya beruntung mengajar di yayasan tempat sekolah saya bernaung justru menjadi garda terdepan mendorong guru-guru untuk bergabung dengan BPJS Kesehatan. Saya ingat benar seruan ketua Yayasan bahwa BPJS kesehatan itu sama seperti subsidi silang.

“Yang mampu membantu yang tidak mampu. Biar diringankan. Nanti kalau yang tidak mampu sudah diringankan, gentian membantu yang tidak mampu lainnya.

Ketua Yayasan memang sangat menganjurkan untuk mengikuti BPJS Kesehatan. Dan saya mengikuti BPJS Pekerja Penerima Upah (PPU). BPJS Kesehatan ini sangat baik sekali jika setiap warga paham tentang dan mengikutinya untuk jaga-jaga kesehatan keluarga.

 

Kepesertaan dari BPJS kesehatan dikelompokan menjadi 3 kategori sebagai berikut.

 

  1. BPJS Mandiri atau Individu

BPJS mandiri ini mendaftarkan diri atas nama perseorangan. Setiap peserta BPJS mandiri harus membayar iuran bulanan yang besar kecilnya ditentukan oleh kelas BPJS yang diambil.

 

Ada 3 kelas bpjs yang bisa dipilih oleh peserta mandiri yaitu:

  • BPJS Kelas 1
  • BPJS kelas 2
  • BPJS kelas 3

 

Iuran bulanan yang harus dibayarkan jumlahnya berbeda. Kelas I paling besar, diikuti oleh kelas II dan III. Hal ini berpengaruh pada ruangan rawat inap yang akan menjadi haknya ketika peserta di rawat inap di rumah sakit.

 

Kelas I akan mendapatkan ruang kelas satu, begitu juga untuk kelas dua dan kelas tiga, sayangnya khusus untuk kelas 3 tidak bisa naik kelas perawatan.

 

  1. BPJS Pekerja Penerima Upah (PPU)

BPJS ini diperuntukan untuk setiap karyawan perusahaan baik karyawan swasta, negeri PNS maupun TNI/ POLRI. Untuk menjadi peserta BPJS PPU harus didaftarkan oleh perwakilan perusahaan dan tidak bisa daftar sendiri.

 

Iuran atau premi bulanannya sebagian dibayar oleh perusahaan dan sebagian dipotong dari gaji setiap pekerja, setiap perusahaan memiliki kewajiban untuk mendaftarkan setiap karyawannya ke BPJS untuk menjadi peserta BPJS Badan usaha atau BPJS PPU. Nah, saya mengikuti BPJS PPU ini.

BPJS jenis ini hanya berhak atas kelas I dan kelas II saja, dan pengambilan kelas ditentukan berdasarkan besar kecilnya gaji untuk masing-masing karyawan. 

 

  1. BPJS Peserta Bantuan Iuran (PBI)

BPJS PBI hanya untuk warga miskin dan warga tidak mampu menurut data yang tercatat di dinas sosial. Peserta ini tidak memiliki kewajiban untuk membayar iuran karena iuran bulanan BPJS karena sepenuhnya dibayarkan oleh pemerintah.

Peserta BPJS jenis ini hanya berhak atas kelas III, dan hanya akan mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan di puskesmas kelurahan atau desa setempat. seluruh warga yang dulunya pemegang jamkesda dan jamkesmas akan dialihkan menjadi peserta BPJS PBI.

Bisnis Kian Eksis Dengan ASUS ExpertCenter D300TA

Bisnis Kian Eksis Dengan ASUS ExpertCenter D300TA

Dana bantuan sosial (bansos) senilai puluhan juta yang sudah di depan mata akhirnya melayang. Penyebabnya apa? Entahlah. Saya pun bingung. Proposal yang lain cair tapi kenapa saya tidak? Padahal, proposal usaha saya tak kalah menarik. Semua proposal jadi didanai kecuali saya. Saya sempat sakit hati. Tapi kemudian sadar bahwa jadi pengusaha nggak boleh cengen. Harus kuat dan tahan banting.

“Udahlah, Mas. Mungkin belum rezekinya aja,”

“Kalau ada beberapa proposal yang juga ditolak, aku bisa terima, Dek. Lha ini kok punya mas aja yang ditolak. Apa karena kedekatan, ya,?”

Saat itu saya sedang berdiskusi dengan istri saya yang baru dua bulan ini kami menikah. Begitu menikah, kami memutuskan mendirikan usaha. Sesuai hobi saya dalam bidang desain grafis, saya mengajukan permodalan usaha untuk percetakan digital saat ada informasi ada bantuan sosial.

Tahap seleksi administrasi saya lolos. Tahap wawancara berhasil saya lewati dengan baik. Bahkan sudah tanda tangan untuk pencairan. Makanya saya optimis banget dapat modal usaha. Ibarat sudah di depan mata, modal usaha raib begitu saja.

Setelah dipikir-pikir, saya memang harus segera move on dari kasus ini. Mau Jadi Pengusaha? Jangan Cengeng! Kata Akbar Kaelola dalam bukunya.

Akhirnya saya pun bisa menerimanya. Ya bagaimanapun juga belum rezeki. Walaupun sesuatu itu sudah ada di tangan, tapi kalau belum rezeki, ya nggak akan kita miliki. Dunia bisnis memang penuh dinamika. Hal-hal yang tidak terduga sering terjadi. Seorang pebisnis harus paham dengan hal ini. Lalu saya belajar banyak hal dari kasus ini. Salah satunya adalah mental pejuang. Boleh jatuh, tapi harus bangkit lagi.

Sebagai pasangan keluarga baru, setelah menikah, hal yang juga dipikirkan adalah mendapatkan penghasilan. Sebulan sesudah menikah, saya dan istri tinggal sendiri, pisah dari orang tua. Kami mulai dari nol.

Mendirikan Bimbingan Belajar,

Ini Bisnis Pertama Saya

Usaha pertama kali yang kami rintis adalah mendirikan bimbingan belajar (bimbel). Kenapa kami pilih buka bimbel? Dulu di kampus saya ikut kuliah kewirausahaan. Pematerinya bilang bisnis yang nggak kenal waktu adalah bisnis pendidikan dan kesehatan. Ditambah, saya seorang guru, istri lulusan kampus keguruan (2 tahun setelah menikah, istri saya diterima sebagai dosen).

Ruangan di sebelah rumah kami jadikan kelas. Untungnya di perumahan kami banyak anak-anak, sehingga bisa menjadi pelanggan kami. Baru satu pekan launching, pekan pertama banyak yang daftar. Ada belasan siswa. Ada kenangannya nih dengan pendapatan bulanan pertama.

“Mas, ini ada gajian pertama. Mau diapakan, Mas?” tanya istri saya. Di rumah ini dia sebagai bendahara.

“Kira-kira kebutuhan kita apa, Dek?” saya malah balik bertanya.

“Kalau boleh, buat beli kulkas, Mas. Kalau beli sayuran kan nggak langsung habis. Kalau nggak ada kulkas, sayuran langsung layu. Kan jadinya mubazir. Kalau ada kulkas bisa disimpan, besok bisa dimasak lagi.”

“Kalau memang itu kebutuhan yang mendesak, ya nggak papa. Beliin kulkas aja,”

Bimbel sebagai usaha pertama kami

Cetak kaos sablonan & warung kelontong sebagai penghasilan keluarga

Kami berdua menempati rumah yang baru selesai dibangun. Jadi, isinya belum ada apa-apa. Perlengkapan rumah tidak ada. Seperti meja makan, kasur, gorden, kompor gas, dan lainnya.

Pertama kali datang kami beli perlengkapan yang sangat mendesak. Sisanya dilengkapi dari penghasilan usaha. Berbulan kemudian usaha bimbel ini maju. Sampai kemudian muncul sedikit permasalahan.

Istri saya hamil. Dia tidak bisa banyak membantu mengajar bimbel seperti biasanya. Akhirnya saya sendiri yang mengelola.

Selain bimbel, saya juga mengajar di sekolah swasta. Satu tahun mengajar, saya diangkat menjadi pegawai tetap yayasan (PTY). Lalu ada kebijakan bahwa PTY harus memiliki minimal 24 jam mengajar. Jadi, kalaupun tidak mengajar, PTY harus ada di sekolah.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya bimbel kami tutup. Karena terlalu capek, setelah seharian di sekolah. Dengan berat hati, sih. Kepana? Sebab bimbel inilah yang menopang keluarga di awal-awal berumah tangga dulu. Banyak perlengkapan rumah pun dibeli berkat bimbel ini.

Sempat nyesel lho dengan keputusan ini. Apalagi setelah tutup, pemasukan berkurang drastis. Paling minimal bimbel menjadi salah satu penyokong kebutuhan keluarga.

Membuka Warung Kelontong, Agar Pengeluaran Keluarga Tertolong

Suatu hari, datang seorang saudara.

“Dek, mau enggak buka warung?” tanyanya.

“Buka warung gimana, Mas Mansur?”

“Di rumah ada warung. Ini aku mau pindah. Nah, warungku ini nggak mungkin dibuka di tempat yang baru. Lagian sayang lho di sini satu-satunya warung. Gimana kalau warungnya dipindah ke kamu,” tawarnya.

Kami pikir, sekalian buat usaha sampingan istri. Daripada di rumah saja lebih baik sambal buka warung. Akhirnya pindahlah warung itu ke rumah. Warung kami menjual berbagai keperluan keluarga seperti beras, air galon, sayuran, makanan ringan, pulsa dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Prosesnya, saya mengambil barang-barang di agen, dan menjualnya dengan selisih harga sebagai untungnya.

Ternyata punya warung nggak kalah repotnya. Apalagi saat itu kami sedang punya anak kecil. Repotnya begini, kalau sedang mau menidurkan anak, datang pelanggan manggil-manggil. Mau dijawab, anak pasti terganggu dan terbangun. Nggak jadi tidur.

Tapi kalau nggak dijawab, pelanggan manggil terus. Sering terjadi begini. Kalau dipikir-pikir sebetulnya margin untung dari barang-barangnya nggak besar. Jalau jajanan, misalnya untungnya Rp 200 sampai Rp 500 per item. Nah, kalau anak minta jajan, ya habis untungnya. Nggak ada untungnya. Untungnya udah terambil sama jajanan tadi.

Bisnis memang mencari untung. Tapi selain itu, kami juga mempertimbangkan kenyamanan keluarga.

Carilah bisnis yang nyaman buat keluarga, yang untung dan menghasilkan.

Banyak yang minder jualan karena alasan gengsi. Benar? Gengsi? Ini nggak berlaku buat saya. Ke sekolah saya pernah nyambi jualan donat, susu kedelai, dan bakpao. Istri yang membuatnya, saya yang menjajakan ke sekolah. Lumayan menambah pemasukan. jualan disiapkan sejak sore, malam atau pagi dinii hari. Lalu paginya saya bawa ke sekolah.

Jadi saya ke sekolah itu sambil bawa jualan. Saya nggak malu bawanya. Gengsi? Nggaklah. Ngapain gengsi. Gengsi nggak bisa untuk kasih makan anak istri.

Tapi akhirnya jualan ini nggak dilanjutkan. Pertama, saya tidak enak ke pimpinan sekolah. Saya kuatir tak fokus mengajar dan mengurangi hak-hak siswa. Kedua, kehamilan istri saya semakin besar, kasihan kalau harus menyiapkan sampai malam atau bahkan dini hari. Kami harus mempertimbangkan kesehatan kandungannya. Akhirnya jualan itupun berhenti.

Ada baiknya saya ceritakan kenapa saya harus mencari tambahan penghasilan. Penyebab utamanya adalah gaji sebagai guru honorer tak mencukupi kebutuhan keluarga.

Nominalnya? Kalau dibanding penghasilan saat sebelum keluarga, jauh banget, hanya seperempatnya. Inikan njomplang.

Gimana nggak njomplang, sebelum menikah gaji besar, eh malah sesudah menikah turun drastis. Sebelum punya tanggungan gaji mencukupi, sesudah punya tanggungan kok malah kecil.

Belum lagi nanti kalau saya sudah punya anak, atau ngirimi keluarga. Nah, inilah yang membuat saya berjibaku untuk bisnis apa saja.

Bahkan bisa dibilang pengusaha palu gada. Apa yang lu mau gua ada.

Bisnis Toko Plastik

Di tahun 2017 kami mencoba bisnis toko plastik.

“Sekarang kan usaha makanan lagi rame nih, Mas. Mereka kan perlu tuh bungkus dan lain-lainnya. Kayaknya kalau kita jualan plastik dan pembungkus bagus juga,”

“Oke juga. Tapi kalau bisa oke tapi kita harus selesai lapangan dulu ya. Banyak atau enggak yang jualan makanan.

“Iya, Mas. Kita bisa survei sambal jalan-jalan,”

Setelah melihat-lihat toko makanan atau jajanan-jajanan kami sepakat untuk membuka bisnis toko plastik. Kami juga menyewa tempat yang sewanya lumayan karena memang terletak di dekat pasar.

Sehingga modal yang dikeluarkan untuk toko plastik ini cukup besar. Tapi, memang sebanding dengan pemasukannya.

Untuk pengelolaan toko, kami mengangkat pegawai. Kalau Anda menebak bisnis kami tutup, Anda benar. Toko plastik ini berjalan sampai beberapa bulan lamanya. Hehe…

Sampai di sini, semoga pembaca nggak buru-buru mengatakan kami pembosan dan sering berganti bisnis ya?

Sebab, di perjalanan bisnis kami akhirnya memberikan kesimpulan bisnis yang ideal, adalah bisnis yang bisa dilakukan di rumah, tidak mengganggu keluarga, dan memiliki profit yang besar. Ah, kalau yang terakhir mah semuanya pada pengen begitu ya. Hehe..

Berbeda dengan bisnis yang sebelumnya, saat toko plastik ini tutup, kami rugi yang cukup besar. Tapi gimana lagi. Mungkin sudah jadi bagian dari perjalanan bisnis kami. Untung dan rugi merupakan hal yang biasa dalam bisnis.

Di dalam bisnis, kata pakar nih ya, hampir tidak ada yang namanya rugi. Kalaupun rugi atau ditipu sebetulnya itu merupakan pembelajaran. Nah, biaya kerugian itulah biaya pembelajarannya. Keren juga cara pandang seperti ini.

Tapi ada satu bisnis yang sejak awal hingga sekarang masih saya jalankan. Penasaran? Baik, saya kasih tau. Bisnis yang saya ceritakan di awal tadi, lho. Ya, benar. Percetakan digital. Setelah gagal mendapatkan dana bansos, saya memutar otak bagaimana tetap punya percetakan digital. Ini yang dinamakan hobi yang menghasilkan. Kan kata orang begitu ya, kalau mau bisnis, bisnislah dari hobi yang digaji. Hehe…

Kenapa saya ngotot menjalankan usaha ini? Karena saya suka desain. Tapi, untuk membuat percetakan digital tentu dibutuhkan modal yang sangat besar. Mesinnya aja bisa Rp. 300 juta, Catridge-nya Rp. 15 juta. Padahal Catridge-nya ada 6 buah. Tintanya satu botol bisa Rp. 5- 10 juta. Untuk bikin percetakan digital memang butuh modal yang besar.

Tapi saya punya strategi. Saya datang ke percetakan, minta selisih harga kalau cetak di sana. Saya bilang punya percetakan juga. Untungnya disambut baik. Ya, saya akhirnya mendapatkan selisih harga yang lumayan bagus. Kesampaian juga impian saya punya percetakan digital walaupun tanpa punya mesinnya. Sudah 7 tahun lebih saya mengelola percetakan yang saya namai Delta Grafika ini.

Lalu saya bekerja sama dengan dengan Percetakan Simetris Digital. Dapat harga Rp. 18.000 per meter. Saya menjual ke konsumen dengan harga Rp. 30.000 per meter. Jadi selisihnya Rp. 12.000.

Kan lumayan juga untungnya. Di tahun ajaran baru sekolah yang lalu saya berhasil mendapat pesanan sampai dengan 20 meter. Total keuntungan dapat Rp. 240.000.

 

Dari sebuah partai politik dapat pesanan 40 meter. Jadi saya dapat keuntungan Rp. 480.000. Pernah juga saya dapat pesanan 2 meter. Jadi keuntungannya Rp. 24.000. Sedikit atau banyak tetap diambil. Namanya juga rezeki. Harus disyukuri.

Untuk membuat spanduk saya menggunakan CorelDraw X7. Biasanya percetakan meminta file mentahan dalam bentuk cdr atau JPG. Dulu saya belajar CorelDraw secara otodidak. Dari internet dan bertanya ke teman. Bahkan saat ke percetakan digital dikasih tahu hal-hal seputar spanduk digital seperti format CMYK, ukuran file, skala desain, dan lainnya.

Kalau sudah langganan mereka akan percaya sama kita. Bahkan cukup dikirim via email saja. Jadi ke percetakannya saat ambil sanduk jadinya saja. Cepat kok jadinya. Kadang bisa setengah jam sudah selesai.

Tapi, saat pandemi begini, percetakan agak lesu. Sebab biasanya saya mengandalkan pesanan instansi yang mengadakan kegiatan-kegiatan. Sementara, saat pandemi ini kan jarang sekali kegiatan offline. Kebanyakan dilakukan online.

Gerai Fasih. Bisnis Keluarga Selanjutnya

Salah satu keuntungan menjadi pengusaha adalah karakter yang selalu berkembang. Benar, pengusaha yang diam, bakal nggak maju-maju.

Seorang pengusaha selalu mikir peluang, peluang, dan peluang. Kalau satu bisnis tertutup, coba bisnis lainnya. Otak jadi semakin terasah karena harus mikir bisnis apa, peluang apa lagi.

Nah, begitu tutup satu bisnis, maka kami pun memikirkan peluang bisnis lainnya. Lalu, atas ide istri, kami sepakat membuat Gerai. Gerai ini sejak 2017 berdiri dan masih ada sampai sekarang. Jadi, jangan mikir tutup juga, ya. Hehe..

Gerai ini kami kasih nama GERAI FASIH. Awal dibuka menjual pakaian pria dan wanita. Lalu bertambah menjual makanan dan minuman kesehatan, buah beku, frozen, dan lainnya. Ada juga kaos bola. Nah, kebetulan saya suka bola juga. Jadi saya nitip majang kaos bola di gerai. Kami promosi juga secara online dengan memanfaatkan internet.

Bisa dibilang Gerai ini merupakan bisnis paling awet juga. Sejak 2017 hingga sekarang masih berdiri. Dulu kami kerjakan sendiri pengelolaannya. Tapi sejak 2019 lalu kami mulai mengangkat pegawai untuk pengelolaannya.

Pemasukannya? Ya mirip gelombang laut. Kadang pasang, kadang turun. Mungkin semua bisnis juga begitu. Kadang penjualan tinggi, kadang juga rendah.

Termasuk memasuki tahun 2020, saat kita mengalami pandemi akibat Covid-19, pemasukan gerai benar-benar menurun drastis. Tapi mungkin ini terjadi di banyak bisnis ya. Saya yakin banyak pelaku usaha mengalaminya. Pandemi membuat ekonomi lesu. Bahkan banyak bisnis yang gulung tikar.

Tapi di masa pandemi inilah kami mendapatkan satu bisnis yang tepat untuk keluarga kami. Di bisnis ini bukan hanya tentang keuntungan yang diberikan tapi juga banyak pengetahuan tentang agama, teknologi, parenting, dan lainnya. Ringkasnya, bisnis ini paling ideal. Penasaran bisnis apa? Jawabnya adalah Bisnis British Propolis. Kenapa ideal?

Akhirnya, Kami Ketemu Bisnis yang Bikin Optimis

“Mas, tadi ada tawaran bisnis,”

“Dari siapa, Dek?”

Lalu istri menyebut nama temennya. Dan saya kenal banget dengan orangnya. Tanpa pikir panjang, saya menyetujui gabung bisnis itu. Saya kenal betul kredibilitas teman tadi. BISA DIPERCAYA. Selama ini dia nggak pernah bermasalah dengan urusan bisnis dan organisasi lainnya. Ya, kami juga berinteraksi di organisasi Dan hampir tidak ada cela. Urusan beres semua sama dia.

Tapi, tetap saja, dong kita harus cari tau banyak hal lagi tentang bisnis ini. Kami pun ngobrol. Hasilnya, kami semakin percaya. Karena beberapa hal ini.

Pertama, Founder-nya amanah. Terpercaya. Tau siapa foundernya? Ippho Santosa. Di dunia pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) atau motivasi, beliau dikenal pakar otak kanan. Beliau penulis buku Mega Best Seller 7 Keajaiban Rezeki,Magnet Rezeki, dan lainnya.

Ipho Santosa, Founder British Propolis (BP)

Kedua, komunitasnya orang-orang dikenal baik. Ini yang membuat kami semakin yakin. Nggak mungkinlah orang baik mau menipu. Selama ini juga dikenal public figur yang adem ayem. Mereka adalah Oki Septiana Dewi, Dude Herlino, Ustadz Wijayanto, Ade Rai, bahkan pelatih timnas Indra Sjafri. banyak lagi tokoh dan artis yang bergabung di bisnis ini. Gimana nggak percaya, coba?

Ipho Santosa, The founder British Propolis bersama para tokoh seperti Adrian Maulana, Indra Sjafri, dan Ade Rai

Bersiang packing British Propolis

Dan enaknya bisnis ini, bisa dikerjakan dari rumah. Tidak harus meninggalkan keluarga karena penjualannya pun bisa online. Bahkan, bisnis ini tahan pandemi. Justru, di masa pandemi ini bisnis BP semakin melesat, penghasilan pun semakin meningkat. Di bisnis ini pula saya menyadari, bahkan tetap bisa berpenghasilan dengan sarungan. Hehe…

Ketiga, selalu ada pembinaan. Ya, jadi mitra yang bergabung akan terus dibina. Nggak dilepas begitu saja. Setiap pekan ada pembinaan. Kadang pagi, siang, atau sore. Bahkan, ada pembinaan dini hari, lho. Sekitar jam 3 pagi. Pesertanya diwajibkan shalat tahajud dulu. Biar fresh. 

Sebentar, jangan mengira ini MLM ya. Foundernya tegas bilang bukan MLM.

“Saya nggak anti MLM, kalau ada di luar sana MLM, silakan aja. Tapi saya tegaskan BP bukan MLM.”

Bersiap distribusikan BP

Mengantar pesanan BP kepada mitra dan pelanggan

Kami bergabung di bisnis BP ini sejak Agustus 2020. Sampai sekarang, omzet kami sudah Rp. 200 juta lebih. Pencatatannya rapi. Setiap barang yang disorder selalu dicatat. Setiap mitra punya grup WhatsApp sendiri. 

Senengnya di bisnis ini, nggak melulu jualan saja. Bahkan ada pengembangan diri lho. maksudnya gimana? Mitra BP diwajibkan menguasai WhatsApp marketing, copy writing, mengelola feed IG, desain grafis pakai Canva, menguasai public speaking, bisa IG live, jualan via tik tok, dan lainnya. Wah, bagus ya. Jadi nggak sekadar bisnis asal jualan tapi ada ilmunya. Ini pula yang semakin membuat kami yakin dengan bisnis ini.

Tiap pekan ada bimbingan. Berhubung masih pandemi, pembinaan dilakukan secara daring. Lewat zoom meeting. Satu pekan bisa 3 kali. Satu kali pembinaan 2 – 3 jam. Dan kerennya nih, saat pembinaan, di zoom WAJIB menghidupkan video. Bagi yang nggak hidupin video bakal dikeluarkan dari zoom.

“Sebagai salah satu adab menuntut ilmu, harus menghargai guru. Saat zoom, guru kita ya pembicara,” kata founder. Dan aneh bin ajaib, kapasitas 1000 peserta di zoom full. Setengah jam dari jadwal, sudah nggak kebagian. Yang nggak kebagian memang bisa menyimak lewat Youtube. Tapi taste-nya beda.

Nah, demikian cerita tentang perjalanan bisnis kami. Cukup banyak gonta-ganti bisnis. Tapi banyak kan pengusaha sukses yang juga berawal dari gonta ganti bisnis. Ibarat menemukan pasangan hidup lah ya hehe.. kita menyeleksi sampai benar-benar pas.

Apapun bisnisnya kalau punya ilmunya akan maju dan sukses. Selain itu, didukung pula dengan perlengkapan yang mumpuni sebagai alat tempur. Seperti apa ‘alat tempur’ yang mumpuni dan diyakini membuat bisnis eksis dan profit naik drastis? Ini dia ‘alat tempurnya’.

Ayo kita kulik satu persatu kehebatan fitur ASUS ExpertCenter D300TA.  Emang banyak ya? Ya, Banyak. Ada 7 kehebatan fitur dari PC bisnis yang istimewa ini. Sayang banget kalau dilewatkan. Yuk kita kulik…

 

1. Kinerja Cepat, Bikin Bisnis Melesat

Saya masih ingat pesan mertua,

“Kalau bisa, ke pelanggan nggak cuma memuaskan. Bikin pelanggan terkesan,” katanya.

Ringkasnya kalau mau membuat pelanggan terkesan, jangan Cuma kasih pelayanan yang biasa saja. Harus yang luar biasa. Termasuk dalam hal cepat meresponnya.

Nah, urusan cepat ini juga harus ada lho dalam kinerja peralatan kita.

Tapi jangan kuatir, temans. Kenapa? ASUS ExpertCenter D3 Tower ditenagai oleh prosesor Intel® Core™ Generasi ke-10 yang mutakhir dengan RAM DDR4 terbaru. Prosesor Intel® Core™ Generasi ke-10 ini memberi respon cepat untuk menyelesaikan lebih banyak hal.

Jadi apapun tugasnya, ASUS ExpertCenter D3 Tower akan menyelesaikan tugas dengan cepat.

Pekerjaan kelar dengan cepat, omset pun meningkat, serta bisnis melesat.

Oh iya, selain ditenagai prosesor Intel® Core™ Generasi ke-10 yang mutakhir, GPU diskrit NVIDIA akan menjadi layanan terbaik bagi kita yang menginginkan kinerja grafis visual yang maksimal.

Pas banget dengan saya yang hobi mendesain yang membutuhkan tampilan visual yang maksimal. Ya, saat mendesain saya harus benar-benar memastikan warna yang dipilih merupakan warna yang pas. Jadi apapun pesanan pelanggan baik itu spanduk, flyer, brosur, e-sertifikat, dan lainnya bakalan dirampungkan dengan hasil memuaskan.

2. Daya Penyimpanan Besar,

Banyak Pilihan Konektivitas

ASUS ExpertCenter D3 Tower ini merupakan PC desktop terjangkau dan upgradable. Memiliki DDR4 RAM, bisa ditingkatkan hingga 8GB serta daya penyimpanan hingga 2TB + 512GB (HDD + SSD).

 Juga didesain untuk memudahkan pekerjaan apapun yang berhubungan dengan bisnis. Dan salah satu kemudahannya adalah kemudahan colok sana colok sini (hehe) berbagai periferal bisnis, ASUS ExpertCenter D3 Tower menyediakan berbagai port serial dan paralel yang fleksibel pada sasis. Tersedia lebih banyak slot PCI Express tersedia untuk peningkatan tambahan.

3. Kualitas Andal, Daya Tahan Luar Biasa

Selama berbisnis, sudah berapa kali ganti komputer? Komputer tak berumur panjang? Dan sekarang masih bingung cari komputer yang bisa hemat?

Kabar baiknya, ASUS ExpertCenter memang tepat untuk berbisnis. ASUS ExpertCenter  didesain untuk meminimalisir Total Cost of Ownership (TCO) untuk bisnis Anda, ASUS ExpertCenter dirancang dengan slot ekspansi maksimum untuk apa pun kebutuhan kita. Komponen terdepan di dunia. Memberikan kualitas yang dapat diandalkan dan daya tahan yang luar biasa dengan 100% jaminan jangka panjang.

4. Konstruksi Kokoh, Keamanan Terjamin

Untuk mendapatkan penyegaran ruangan, sering kali kami mengubah posisi dan tata letak barang-barang. Termasuk meja kasir. Pernah diletakkan di dekat pintu, di tengah ruangan, dan sudut ruangan. Kalau Anda bagaimana? Seringkah mengubah posisi ruangan kerja Anda? Kalau iya, kudu hati-hati ya memindahkan benda-benda. Termasuk dalam hal ini PC bisnis. Karena kalau tidak hati-hati bisa menimbulkan kerusakan jika jatuh atau tertabrak benda lain.

Tapi, kekhawatiran ini nggak perlu ada kalau kita pakai ASUS ExpertCenter. Ya, PC seri Expert begitu istimewa karena dibuat dengan kokoh. ASUS  ExpertCenter ini sudah melalui uji standar militer AS MIL-STD-810G dan pengujian internal ASUS yang ketat, lho. Sehingga, jika ada guncangan kecil yang tak terhindarkan dan kecelakaan kerja sehari-hari tidak akan membahayakan data berharga Anda.

5. Fitur Keamanan Lengkap

Tentu saja masalah keamanan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam bisnis. Secanggih apapun peralatan bisnis, tentang harus ada jaminan keamanan yang menjadi garda terdepannya. Semakin kuat keamanan depannya, semakin yakin pula kita memakainya. Bener atau bener banget?

Nah, untuk kebutuhan keamanan ini, desktop ExpertCenter mendukung bisnis dengan fitur keamanan lengkap untuk menjaga bisnis Anda, dan masa depannya, tetap aman. Pokoknya, makin kepincut deh dengan PC bisnis ini.

6. Fitur Memudahkan Kontrol Bisnis

Apa fitur lain dari ASUS ExpertCenter yang bisa menjadi solusi bisnis kita? Setidaknya ada 2 fitur yang sangat andal.

1. ASUS Control Center

ASUS Control Center yaitu rangkaian manajemen IT terpusat yang mampu melakukan manajemen jarak jauh, pemantauan perangkat keras dan perangkat lunak, dan penjadwalan tugas melalui antarmuka berbasis web yang ramah pengguna, memungkinkan administrator sistem untuk mengelola asetperusahaan dengan mudah melalui satu portal.

2. ASUS Business Manager

ASUS Business Manager adalah platform berbasis PC yang memfasilitas pengelolaan PC individu. Dengan fitur ini kita dapat melakukan kontrol pergerakan data Pemblokir USB, jalur belakang sistem untuk memulihkan sistem ke status optimal, dan partisi virtual terenkipsi untuk menyimpan data penting.

7. Hemat Energi, Efisiensi Tinggi

Pengen PC yang hemat energi supaya nggak makan daya besar? Tentu saja. Sebab kita juga harus mempertimbangkan biaya operasional perangkat. Kalau biaya listrik membengkak, bisa tekor juga untuk menutupi biaya listrik tadi.

Tapi tenang saja.  ASUS ExpertCenter D3 Tower menggunakan kapasitor kelas atas. Catu daya ini memiliki sertifikasi 80 PLUS® Perunggu yang menunjukkan energi terbuang minimum, yang menghasilkan lebih sedikit panas dan penghematan biaya jangka panjang.

Hal ini sekaligus bentuk kepedulian ASUS terhadap penggunaan berkelanjutan. Kesadaran menggunakan energi dengan hemat dan efisien semakin digalakkan.

Catu daya  bersertifikasi 80 PLUS® Perunggu ini membuat ASUS ExpertCenter D3  sedikit membuang energi dalam bentuk panas. Jadi input energi demikian maksimal digukanan untuk proses PC.

Penutup

Kami selalu dimotivasi agar menjadi pebisnis yang andal. Bukan pebisnis yang cengeng. Jadi pebisnis itu banyak manfaatnya. Bukan hanya menambah penghasilan dan menghidupi keluarga tetapi juga bisa bermanfaat untuk oranglain.

Misalnya dari bisnis kita itu bisa mengangkat satu orang pegawai. Ternyata dia punya keluarga. Secara otomatis kita juga membantu menghidupi keluarga itu. Nah, itu baru satu pegawai, lho. Bayangkan kalau ada 5, 10, atau 100 pegawai.

Karena itu, jangan ragu lagi berbisnis ya. Bisnis apa yang mau dijalankan? Bisnis aja saja deh. Bisnis yang paling baik itu bisnis yang dijalankan, bukan bisnis yang dipikirkan atau ditanya-tanyakan. Dan kalau mau ngikut bisnis saya, monggo (silakan) saja.

Abaikan beberapa mitos yang menghalangi jadi pengusaha. Emang ada? Ya. Ada beberapa mitos. Seperti, “Ah, aku nggak passion berbisnis”. Passion itu relatif. Biasanya, kalau belum kelihatan hasil dari bisnis, belum kerasa sebagai passion. Tapi kalau udah terasa hasilnya, udah terasa keuntungannya, masih bilang nggak passion? hehe…. Ada lagi mitos lainnya, “Aku kan nggak keturunan pengusaha. Nenek moyangku bukan pengusaha.” Lha, kalau mau ngikut keturunan atau nenek moyang, harusnya kita jadi pelaut. Lha wong ada lagunya “Nenek moyangku seorang pelaut….” Benar kan?

Indonesia masih kekurangan pengusaha, lho. Saat ini jumlah penguasaha baru sekitar 2 persen dari total penduduk. Negara maju umumnya memiliki 4 persen pengusaha. Baru negara itu maju. So, mau negara kita maju? Perbanyaklah jumlah pengusaha. Kita harus menjadi pengusaha. Jangan lupa, berbisnis perlu didukung perangkat yang mumpuni. Untuk bisnis, ya pakai PC bisnis. Pilihannya tentu saja ASUS ExpertCenter D300TA. Sepakat ya? (*)

Spesifikasi ASUS ExpertCenter D3 Tower (D300TA)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis yang diadakan oleh ASUS dengan tema “ASUS ExpertCenter – ExpertBook Built for Business”. Bahan tulisan dan foto bersumber dari laman resmi ASUS, pengalaman pribadi, dan pelatihan yang diikuti oleh penulis. Olah grafis dilakukan dengan aplikasi Canva.

Rawat Bumi, Cegah Pandemi Datang Lagi

Rawat Bumi, Cegah Pandemi Datang Lagi

Rawat Bumi, Cegah Pandemi Datang Lagi

Sudah satu tahun Pandemi COVID-19 melanda dunia. Di Indonesia, jutaan orang terpapar dan puluhan ribu orang meninggal. Covid-19 menyerang berbagai daerah di Indonesia. Tapi, tidak satu pun warga Suku Baduy yang terkonfirmasi positif. Padahal, wilayah terdekatnya banyak kasus positif Covid-19. Apa rahasianya Suku Baduy hingga bisa nol kasus Covid-19?

Sumber foto : www.republika.co.id

Suku Baduy merupakan suku yang masih memegang teguh kepercayaan dan adat dari para leluhurnya. Suku Baduy mendiami wilayah pegunungan Kendeng, desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten.

Aktivitas utama Suku Baduy adalah bercocok tanam dan bertenun. Mereka membuat kerajinan tangan seperti kain tenun, gelang handam, tas kepek, tas koja, dan lainnya. Suku Baduy dikenal dengan kesederhanaannya dengan melarang penggunaan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari bahan-bahan modern. Sehingga semuanya dibuat dengan bahan-bahan alami yang di dapatkan dari hutan di sekitar tempat mereka tinggal.

Suku Baduy memang menyimpan keunikan tersendiri. Saya beberapa kali mengunjunginya menjadi saksi betapa hebatnya budaya Suku Baduy. Kawasan mereka begitu asri, sejuk, dan segar. Tidak terlihat sampah berserakan seperti di daerah lain. Sebab mereka begitu menjaga lingkungan.

Lihat saja filosofi agung mereka: “Gunung teu meunang dilebur; Lebak teu meunang diruksak; Pendek teu meunang disambung; Lojong teu meunang dipotong. Artinya: Gunung Tidak Boleh Dihancurkan. Lebak jangan dirusak. Pendek tidak boleh disambung. Panjang tidak boleh dipotong.

Ketika Covid-19 menyerang dan memakan korban di berbagai daerah, di Suku Baduy masih nol kasus. Padahal, daerah-daerah di sekitarnya banyak terkonformasi. Hingga 10 April 2021 terdapat 3203 Orang dan 57 Orang meninggal di kabupaten Lebak, Banten yang tersebar di 28 kecamatan.

Dengan berbagai kemungkinan cara mereka menangkal Covid-19, filosofi merekalah yang paling menentukan. Masyarakat Suku Baduy konsisten menjaga dan melestarikan alam.

Lingkungan memberikan imbal balik sepadan kepada manusia. Lingkungan yang terjaga dengan baik akan memberikan manfaat kepada manusia berupa ketersediaan air, udara, bahan makanan, dan lainnya. Sebaliknya, lingkungan yang dirusak akan memberikan reaksi merusak pula.

Banjir bandang yang melanda Lebak di tahun 2020 lalu (foto : dokumen pribadi)

Sebagai contoh, di awal Januari 2020 lalu terjadi banjir di berbagai tempat di Indonesia. Salah satunya adalah di kabupaten Lebak. Banjir meluas hingga 18 kecamatan. Anehnya, banjir juga melanda sejumlah daerah yang selama puluhan tahun tidak pernah dilanda banjir.

Banyak orang mengatakan bahwa banjir terjadi akibat aktivitas tambang emas ilegal. Memang, di beberapa bukit di daerah terdampak banjir, terdapat penggalian tambang emas. Lubang-lubang tambang emas banyak terdapat di sana. Dan, banjir seperti seperti hendak membalas ulah tangan manusia tidak bertanggungjawab.

Kita tidak menyalahkan pihak mana pun. Kita harus introspeksi diri. Bisa jadi kita terlibat dalam perusakan alam yang memberikan dampak pada kita juga.

Dalam hidup ini berlaku hukum aksi reaksi. Hukum aksi reaksi ini juga berlaku pada lingkungan. Eksplorasi kekayaan alam tanpa batas dan tidak mengindahkan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan akan memberikan dampak kepada manusia itu sendiri.

Saya ambil contoh di daerah saya. Sekitar 15 kilometer dari tempat tinggal terdapat lokasi penggalian pasir. Sungai dikeruk. Berton-ton pasirnya diangkut puluhan truk. Selain itu, bukit berpasir juga dipapas. Tanah yang semula berbukit, menjadi rata dengan tanah di sekitarnya.

Aktivitas pembangunan memang memberikan sejumlah pemasukan untuk masyarakat sekitar, pemilik truk, dan pengusaha. Tapi dampaknya tidak kalah besar. Akibat over tonase truk, jalanan rusak. Meskipun sudah berkali-kali diperbaiki, kerusakan tak bisa dihindari. Jalan aspal hancur. Lalu jalan dicor. Kerusakan jalan menular di jalan aspal lainnya.

Belum lagi debu akibat jalan yang dilewati truk-truk pasir yang bisa menimbulkan radang pernapasan. Tidak sedikit warga yang menderita sakit gangguan saluran pernapasan. Belum lagi kebisingan yang ditimbulkan lalu lalang truk-truk pasir.

Tidak kalah miris jika kita dengar banyaknya masyarakat yang melakukan praktik tambang liar. Selain merusak lingkungan, tambang liar bisa juga menelan korban jiwa. Sebab pada umumnya tambang liar dilakukan tanpa prosedur keamanan yang memadai. Mereka menggunakan alat seadanya dengan tingkat keamanan yang rendah. Begitu mahal harga yang harus dibayar.

Rusaknya Lingkungan Akibat Peti

dan Uang Panas Yang Tak Pernah Puas

Salah satu kegiatan manusia yang mengarah pada perusakan lingkungan adalah pertambangan tanpa izin alias peti. Saya menjadi saksi hidup betapa peti ini sangat merusak lingkungan. Pada umumnya masyarakat menginginkan hasil yang instan. Peti memang cepat menghasilkan.

Beberapa tahun belakangan di daerah kampung saya marak peti. Tergiur hasil yang besar dalam waktu cepat, lading-ladang sawit ditambang. Ada pula masyarakat yang menyewakan. Banyak pula yang menjualnya. Toke yang berduit berani membeli lahan sawit dengan harga di atas normal.

Kalau normal harga lahan sawit antara Rp. 150 juta hingga Rp. 300 juta, toke berani membeli lahan dengan harga Rp. 500 juta untuk lahan potensial. Masyarakat yang tergiur dengan sejumlah uang pun tak pikir panjang untuk menjualnya.

Akibatnya pun fatal. Tanah di lahan sawit tak lagi subur. Tanahnya semakin gersang dan panas. Koral, batu, dan pasir naik ke permukaan. Begitulah dampak peti. Penggunaan merkuri untuk mengumpulkan emas juga merusak kesuburan tanah. Beberapa sawit tumbang. Setelah peti, lahan sawit kelihatan seperti padang batu.

Kerusakan Lingkungan, Manusia Bisa Jadi Korban

Sungai-sungai menjadi keruh. Airnya penuh lumpur. Bahkan mau cuci tangan saja tak tega rasanya. Sebab terlalu keruh tadi.

Ekosistem pun menjadi rusak. Cacing-cacing yang bermanfaat menjaga kesuburan tanah pergi dan mati. Hewan-hewan kecil juga tak bisa bertahan di lahan seperti itu. Rerumputan pun binasa. Lahan sawit semakin gersang.

Tidak gampang untuk menghentikan peti. Walaupun berkali-kali razia oleh pihak berwajib, pelaku peti masih lolos juga.

“Wah, peti mah nggak akan bisa dibasmi,” kata seorang teman yang kebetulan mampir ke rumah.

“Kenapa gitu?”

“Wes, pokok e angel, susah!”

Saya punya cerita sedih dengan kegiatan peti ini. Teman saya ikut dalam kegiatan peti. Sampai beberapa bulan lamanya. Badannya hitam legam karena sering berpanas-panasan. Tapi bukan itu yang membuat sedih.

Suatu hari saya dengar kabar bahwa teman saya meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Umurnya masih muda. Tapi sudah takdirnya mendahului saya.

Kabar mengatakan dia masuk angin duduk dalam bahasa orang-orang di kampung kami. Mungkin akibat terlalu sering berendam atau beraktivitas di dalam air.

Kerusakan lingkungan berdampak pada lingkungan dan manusia. Banjir bisa merusak permukiman, lahan pertanian, bahkan menelan korban jiwa. 

Virus Corona, Akibat Ulah Manusia

“Nggak kerasa ya, Covid-19 berulang tahun,”

“Maksudnya apa, Dek?” tanya saya pada istri di sore itu.

“Maksudnya, Covid-19 udah lewat satu tahun. Kita di rumah aja sudah setahun juga.”

“Oh iya ya. Sudah sekian lama juga Mas ngajar dari rumah. Enak nggak enak sih. Tapi lebih ribet kalau ngajar daring.”

Ngajar daring itu penuh dinamika. Ngajarnya mah cuma setengah jam, persiapannya berjam-jam. Tapi bukan itu saja, efektivitas pembelajaran lebih dipertimbangkan. Bagaimanapun belajar daring tidak sama kualitasnya dengan pembelajaran tatap muka. Jadi, kalau bisa memilih, saya memilih belajar tatap muka. Tapi, sering kali hidup bukan pilihan.

Seperti kondisi pandemi saat ini, mau tidak mau sudah dihadapkan dengan kondisi ini.

“Kabarnya Covid-19 ini ditularkan dari kelelawar ya Mas? Mas kan guru nih. Mungkin tahu informasinya,”

“Yang Mas baca gitu sih, Dek. Virus Covid-19 ini ditularkan dari kelelawar,” jawab saya.

Ternyata banyak penyakit yang muncul akibat ulah manusia. Bahkan, virus corona pun muncul akibat ulah manusia.

Matthew Burton, Direktur Kantor Lingkungan Hidup USAID Indonesia mengatakan satwa liar menjadi sumber penyakit menular baru (Emerging Infectious Disease/ EID) terbanyak. Publikasi ilmiah menyebutkan 60 persen EID berasal dari hewan dan 70 persen EID berasal dari satwa liar. Sebagai contoh, HIV diketahui berasal dari simpanse.

Di rumah, kami sering gregetan. Sebab peti semakin tidak terhentikan. Lalu, apa yang kami lakukan?

“Minimal, kita sendiri, nggak ikut-ikutan, Dek”

“Benar, Mas. Kalau nggak bisa mengubah orang lain, ya kita ubah diri kita sendiri,”

Untungnya kami tidak tergiur dengan ikut-ikutan menyewakan lahan sawit atau menjualnya. Padahal, lokasi lahan sawit kami letaknya dekat sungai. Biasanya, lahan seperti itu potensial dan dipastikan banyak emas.

Lahan kami pun sudah ditawar oleh banyak orang. Satu dua orang yang bertanya mau dijual apa tidak. Tapi kami menggeleng tegas. Orangtua kami pun begitu. nggak mau menyewakan atau menjualnya.

“Biarlah untung sedikit demi sedikit. Asal berkah. Merusak lingkungan itu nggak bagus,” tegas bapak kami.

Untungnya pula, bapak lebih paham daripada kami.

Tidak semua masyarakat yang berpikiran sempit dengan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan mengorbankan lingkungan. Masih banyak yang tegas merawat lingkungan, menghindarkan dari kerusakan. Dan kami termasuk di dalamnya.

Kalau banyak orang tidak peduli dengan lingkungan ya sebisa mungkin kami lakukan pendekatan. Mudah-mudahan mereka meniru apa yang kami lakukan.

Mudahnya Ikut Serta Menjaga Bumi Dari Rumah

Beberapa tanaman sayuran di halaman depan rumah

Pekarangan rumah yang dilantai paving block atau ubin memang terlihat rapi dan bersih. Tidak ada rumput kelihatan menyembul di sana-sini. Tapi sesungguhnya rumah seperti ini kurang ramah lingkungan. Tidak ada penghijauan di sana. Rumah seperti ini minim kontribusi oksigen. Selain itu, tidak ada resapan air atau biopori di sana.

Kebetulan kami suka dengan yang hijau-hijau. Nah, kami membiarkan halaman rumah agar tetap hijau, tidak melantainya dengan paving block atau ubin. Rumput tumbuh dengan subur. Udara menjadi segar. Banyak juga ditanami bunga, tanaman obat keluarga (toga), dan tanaman buah lainnya.

Keuntungannya banyak lho. Misalnya kami tidak perlu lagi beli cabai, jahe bisa untuk membuat minuman alami yang sehat, atau kenikir yang bisa dibuat sebagai lalapan. Aroma dan rasa dari sayuran yang langsung metik dari tempatnya sangat berbeda. Rasanya lebih segar dibanding beli. Pekarangan yang dimanfaatkan dengan ditanami sayuran juga bisa mengurangi pengeluaran keluarga.

Rawat Bumi, Cegah Pandemi Datang Lagi

“Nyari yang haram aja susah, apalagi yang halal.” Pernah saya dengar kalimat terlontar begitu pada pelaku peti.

Kata dia, untuk mendapatkan hasil dari usahanya, mereka harus bekerja dengan sembunyi-sembunyi. Seringkali mereka beroperasi malam hari.

“Kalau siang, takut razia apparat,”

Dari sana sebetulnya mereka tahu kalau perbuatan mereka salah. Tapi kenapa terus dilakukan?

Ada 2 hal penyebabnya. Pertama, cemas terhadap rezeki. Kedua, nafsu mendapatkan uang yang banyak.

Padahal, Tuhan pasti memberikan rezeki untuk makhluk yang ada di bumi ini. Jangankan manusia yang punya akal dan alat gerak yang bisa dipakai untuk berusaha. Hewan melata saja sudah dijamin rezekinya. Yakinlah rezeki pasti akan datang. Seperti yakinnya seekor burung pergi dari sarang dengan perut kosong. Lalu pulang ke sarangnya dengan membawa makanan. Bukan hanya untuk dirinya tapi untuk keluarganya.

Kemudian, kalau pertimbangan pengen dapat uang yang banyak, sampai seberapa banyak hingga bisa memuaskan hasrat manusia? Uang sebanyak-banyaknya pasti tetap kurang. Harta tidak ada habis-habisnya. Jadi, yang penting itu harta  yang berkah. Materi yang dapat memberikan rasa bahagia pada manusia.  Ayolah kawan, mari melihat arti lebih dalam segala hal. Hidup bukan sekadar tentang harta.

Dan percaya nggak percaya biasanya uang yang didapat dengan cepat, habisnya cepat pula. Ya, sering saya perhatikan teman-teman saya itu tidak kelihatan hasil dari pekerjaannya itu. Nyaris tidak berbekas. Sebab biasanya dipakai foya-foya pula.

Tidak ada yang tahu dengan pasti bahaya apa yang mengancam kehidupan manusia di masa mendatang. Namun, masa depan bisa ditentukan dengan apa yang kita lakukan saat ini.

Oh, iya, untuk menjaga dari berbagai hal yang bisa saja terjadi, ada baiknya kita menggunakan Asuransi Umum. Hm, sudah tahukan apa itu Asuransi Umum? Asuransi Umum adalah Asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda. Negeri kita sering dilanda bencana termasuk bencana alam. Tersebab Indonesia secara geografis terletak di wilayah ring of fire yang menyebabkan bencana alam terus mengintai Indonesia. Nah, tidak ada salahnya kan sedia payung sebelum hujan?

Menjaga Hutan, Menjaga Kehidupan

Hutan merupakan sumber kehidupan. Di dalamnya terdapat berbagai keanekaragaman hayati yang menunjang keberlangsungan kehidupan. Ada habitat biotik (makhluk hidup) dan abiotik (benda tak hidup) yang saling menyokong kehidupan.

Ekosistem membentuk rantai makanan. Jika satu rantai makanan terputus, akan mengganggu rantai makanan lainnya. Rusaknya rantai makanan akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Kalau ekosistem terganggu, pasti ada dampaknya terhadap lingkungan bahkan pada kehidupan manusia.

Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 1999 tentang Kehutananan menyatakan bahwa hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.

Hutan banyak fungsinya. Karena itu, sangat disayangkan jika hutan rusak, karena ini berarti rusaknya peradaban manusia juga.

“Aku pengen nanam-nanam, Mas. Bagusnya tanamin apa ya?”

“Apa saja bagus. Tapi sesuaikan aja dengan rumah kita. Kalau halaman kita sempit, tanaman produktif lebih cocok.”

“Produktif gimana, Mas?”

“Yang menghasilkan buah, Dek.”

“Oh, jadi dapat oksigennya, dapat hijaunya, dapat juga buahnya ya Mas?”

“Iya, bener, Dek.”

Deforestasi atau pengurangan hutan alam menjadi satu masalah yang kita hadapi.  Setiap tahun terjadi deforestasi yang semakin besar. Eh, sepertinya kecuali tahun ini. Mengapa begitu? Ya, masalah pandemi yang membuat manusia mengurangi aktivitasnya secara tidak langsung berdampak pula pada berkurangnya deforestasi.

Tentu ini sangat menggembirakan bukan? Tapi, tunggu dulu. Apa iya kita harus mengalami pandemi dulu baru menjaga lingkungan? Apa iya pengurangan hutan menunggu pandemi? Apa iya kita mau mengalami pandemi terus? Tentu tidak kan.

Salah satu bentuk kepedulian menjaga hutan ditunjukkan oleh MSIG Indonesia adalah dalam proyek reboisasi hutan Paliyan, Gunungkidul, Yogyakarta. Hutan Paliyan seluas 350 hektare ini semula lahan tandus. Pepohonan jarang. Binatang-binatang sulit terlihat. Namun, sekarang ini hutan Paliyan telah berubah menjadi kawasan yang dipenuhi pepohonan rindang. Beberapa hewan seperti monyet pun banyak dijumpai.

Hingga kini proyek pemulihan hutan Paliyan telah berjalan selama 15 tahun (sejak 2005 lalu). Hutan Paliyan kembali hijau dan dipenuhi berbagai satwa. Kondisi hutan yang tadinya hancur, kembali menghijau dan ekosistem kembali seperti semula. Ya, perlindungan terhadap keanekaragaman hayati menjadi salah satu konsentrasi MSIG Indonesia. Tentang kiprah MSIHG ini dapat kita lihat di https://www.msig.co.id/id/biodiversity. 

Inilah sebentuk bukti kontribusi MSIG Indonesia terhadap pelestarian lingkungan  di hutan Paliyan

 

Kontribusi Asuransi MSIG Indonesia, yang telah berdiri selama lebih dari 40 tahun berdiri ini memang tidak diragukan lagi. Bahkan, selama pandemi, banyak kontribusi yang dilakukan oleh MSIG Indonesia.

MSIG Indonesia mendonasikan 3.150 masker, sabun cuci tangan, hand sanititizer, disinfectant, sprayer, gun thermometer, sticker, poster dan banner edukasi protokol kesehatan COVID-19. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kontribusi MSIG Indonesia dalam mencegah penularan COVID-19 di Indonesia, khususnya di komunitas sekolah dasar. 

Ayo Ambil Peran dalam Pelestarian Lingkungan

Peran apa yang bisa kita lakukan dalam pelestarian lingkungan? Sebenarnya banyak lho ya. Tergantung profesi kitalah. Misalnya saya seorang guru nih. Ya saya manfaatkan profesi saya untuk menanamkan bukti kepedulian pelestarian lingkungan.

Sering di depan kelas saya katakan kepada siswa agar punya andil dalam menjaga lingkungan.

“Sekarang ini sudah banyak orang yang merusak lingkungan. Ada yang dengan tambang ilegal, pengerukan pasir yang nggak habis-habisnya, atau penebangan hutan.”

“Terus, apa yang bisa kita lakukan, Pak?” tanya Haydar, salah seorang siswa saya.

“Kalau saat ini, yang bisa kalian lakukan, ya menahan diri supaya nggak ikut-ikutan merusak lingkungan. Tanamkan dalam diri kalian, kelak kalau jadi pemimpin, harus berani memberantas perusak lingkungan. Berani?”

“Ya, Pak. Berani….”

Itulah yang sangat bisa saya lakukan dengan profesi guru. Benar, edukasi tentang merawat bumi harus dilakukan oleh banyak pihak. Tak hanya pemerintah saja. Tapi harus didukung masyarakat juga.

 

Marilah kita pahami bahwa usaha menjaga lingkungan bukan semata-mata untuk kita yang saja. Tapi untuk generasi mendatang dan demi masa depan berkelanjutan.

Mari kita jaga bumi dengan mengurangi aktivitas yang dapat merusak lingkungan. Mari jaga bumi agar ekosistem tetap terjaga dan pandemi tidak muncul lagi selamanya.

 

Langit Biru dan Pentingnya Menggunakan BBM Ramah Lingkungan

Langit Biru dan Pentingnya Menggunakan BBM Ramah Lingkungan

Langit Biru

dan Pentingnya Menggunakan BBM Ramah Lingkungan

Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah sangat lekat dalam kehidupan saya. Di sanalah saya dibesarkan. Di sana pula saya mengalami berbagai kisah suka dan duka. Berbagai hal yang saya alami tak menyurutkan kecintaan saya padanya. Pada 2015 lalu, warga Jambi mengalami ujian berupa kabut asap. Semua terkena dampaknya. Tidak terkecuali keluarga saya.

Sudah sebulan lebih tidak ada jadwal penerbangan di bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi. Penyebabnya karena kabut asap yang pekat sehingga menghalangi jarak pandang. Sudah dua bulan lebih sekolah pun diliburkan. 

Saat itu saya dan keluarga terpisah. Saya sudah ke Banten untuk kerja. Sudah 2 bulan saya tidak bertemu keluarga. Sudah kangen sekali rasanya. 

Maka, saat ada kabar akan ada penerbangan, kami pun senang sekali karena bisa bertemu kembali. Istri dan anak saya sudah berada di bandara Sultan Thaha Sayifuddin Jambi. Mereka sudah memegang boarding pass. Ternyata, lima menit di sana, ada pengumuman penerbangan batal. Cuaca kembali memburuk. Penerbangan pasih tidak memungkinkan. Istri dan anak saya yang sudah chek-in tadi pun keluar bandara lagi.

Kuatir kalau lebih lama di Jambi akan mempengaruhi kesehatan, keluarga menyuruh isteri dan anak saya naik bus saja dari Jambi ke Banten. Perjalanan akan ditempuh sekitar sehari semalam.

Baru berjalan setengah jam, bus mengalami kecelakaan. Karena jarak pandang terbatas, bus tidak melihat truk yang berhenti di pinggir jalan. Bus menabrak truk itu. Bagian depan bus ringsek. Meskipun tidak ada korban jiwa, para penumpangnya shock dan trauma. Para penumpang pun berganti bus.

Itulah tragedy yang dialami keluarga saya pada 2015. Akibat kebakaran hutan yang melanda Riau dan Pekan Baru wilayah Jambi dilanda kabut asap. Itulah kisah pencemaran udara yang sempat ramai dulu.

Saat ini, Jambi memang tak sedang ada pencemaran udara akibat kabut asap. Tapi bukan berarti bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah sudah bebas dari ancaman pencemaran udara. Ada ancaman yang tak kalah besar menanti di depan. Sebetulnya bukan hanya melanda Jambi saja tapi semua daerah di Indonesia. Ancaman itu adalah pencemaran udara akibat gas buang sarana transportasi baik itu sepeda motor, mobil, truk, dan lainnya.

Sebagai anak pedalaman, saya merasakan betul perubahan lingkungan di Jambi. Keluarga saya ikut program transmigrasi tahun 1975. Saat itu rumah-rumah masih sangat jarang. Jarak satu rumah ke rumah bisa ratusan meter. Satu hektare tanah ada satu rumah saja. Hutan-hutan masih banyak. Begitu pun pohon-pohon. Masih banyak binatang-binatang di dekat rumah. Bahkan binatang buas atau hama seperti babi hutan sekalipun. Masih ada. Sungai dan rawa masih banyak. Lubuk dan rasau juga dengan mudah dijumpai.

Hanya segelintir orang yang punya motor. Hanya orang yang terpandang saja. Dalam satu dusun bisa 2 atau 3 orang saja yang punya motor. Dalam satu kelurahan bisa dihitung dengan jari orang yang punya mobil. Ada dua atau tiga angkutan rute ke ibukota kabupaten Bangko. Angkutan ini berangkat pagi dan pulang sore harinya.

Lalu, bagaimana dengan sekarang?

Jambi sekarang sudah berubah. Jambi semakin bersolek, semakin molek. Perubahan itu juga terjadi di dusun terpencil kami. Sungai semakin dangkal. Rawa sudah banyak yang hilang. Lubuk dan rasau selalu keruh airnya. Rumah-rumah semakin rapat. Satu lokasi bisa diisi dua atau tiga rumah. Setiap rumah punya motor bahkan ada satu rumah punya 4 motor padahal penghuninya 3 orang. Sudah banyak orang punya kendaraan roda empat. Bahkan satu rumah bisa punya 2 atau 3 mobil. Truk-truk semakin banyak.

Di satu sisi perubahan ini membawa kemajuan bagi kami. Akses ke kota atau ke daerah-daerah manapun semakin lancar. Orang dengan mudah bepergian ke mana pun. Tansportasi semakin maju dan mobilitas masyarakat makin lancar. 

Tapi di sisi lain terjadi perubahan lingkungan. Udara semakin panas dan gersang. Bisa jadi karena hutan semakin habis atau karena banyaknya kendaraan juga. Tentu saja. Sebab semakin banyak kendaraan, akan semakin besar pula pencemaran udara.

Dulu memang tidak banyak yang menyadarinya bahwa asap kendaraan ini bisa membuat pencemaran udara.

Padahal, daerah Jambi memiliki tantangan yang besar oleh ancaman memburuknya kualitas udara. Mengapa demikian?

 

Sebagian daerah Jambi merupakan jalur lintas Sumatera menuju Padang, Riau, Bengkulu, Medan dan Aceh. Di jalur itu pasti banyak kendaraan berukuran kecil maupun besar dalam volume yang besar. Banyaknya kendaraan melintas sebanding dengan pencemaran udara akibat emisi gas buang kendaraan.

Selain itu, beberapa daerah Jambi masih intens mobilitas truk-truk pengangkut batubara. Kendaraan itu bukan hanya berpotensi merusak jalan provinsi tetapi juga mengakibatkan pencemaran udara yang lebih besar. Truk pengangkut batubara itu kan menggunakan bahan bakar solar. Saya beberapa kali berada di belakang truk-truk itu. Melihat asapnya yang hitam pekat saja sudah bergidik ngeri. Pastilah asap hitam pekat itu penyumbang pencemaran udara yang berbahaya pula.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan KBR mengadakan Diskusi Publik Penggunaan BBM Ramah Lingkungan 25 Maret 2021 dengan tema Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru. Dari webinar itu kita tahu bahwa penggunaan BBM ramah lingkungan tidak mudah. Padahal program ini sangat penting sekali.

Pengen Hemat tapi Malah Boros

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menegaskan tentang dampak penggunaan bahan bakar bermutu rendah. “Kalau mobil tidak menggunakan BBM sesuai jenis mesinnya, akan ada knocking. Jika ini terjadi, pabrikan mobil biasanya tidak mau menanggung garansi lagi.”

Jadi, penggunaan BBM bukan hanya urusan mobil saja. Implikasinya luas. Penggunaan BBM berkualitas rendah menyebabkan berkontribusi pencemaran udara. Biaya ekonomi-sosial pencemaran udara jauh lebih mahal daripada penghematan yang diraih individu dengan menggunakan BBM berkualitas jauh lebih rendah.

Tidak dimungkiri kebijakan pengurangan atau penghapusan BBM berkualitas rendah dipengaruhi kebijakan pemerintah. Jadi, perlu ada keseriusan pemerintah tegas untuk mengurangi atau bahkan menghapus distribusi BBM ini. Nah, sebetulnya negara kita sudah mengarah ke sana.

Perpres No 191 tahun 2014 mengatakan bahwa premium akan ditiadakan, tertentu, dan diawasi. Bahkan di 2015, premium tidak didistribusikan lagi di Jawa dan Bali. Tetapi di 2019 Perpres ini diganti kembali diubah, akhirnya Jawa dan Bali didistribusikan kembali.

Premium memiliki Research Octane Number (RON) 88. Padahal, BBM standar dipasaran harus sudah ber-RON 90. Semakin tinggi nilai oktannya, semakin sedikit residu pada mesin. Sehingga, kendaraan yang masih menggunakan premium lebih rawan mengalami kerusakan mesin karena pembakaran yang tidak sempurna pada mesinnya.

Apalagi untuk kendaraan dengan kompresi mesin yang tinggi, maka wajib hukumnya menggunakan BBM dengan nilai oktan tinggi. Setiap pabrikan mobil mengeluarkan produk dengan nilai minimum RON.

Saat ini mobil-mobil sudah menggunakan kompresi tinggi. Jadi kalau memilih BBM lebih rendah dari standar yang ditentukan akan menimbulkan residu pada mesin karena pembakaran yang tidak sempurna. Akibatnya, mesin akan cepat rusak. Pengennya menghemat BBM tapi malah membuat rusak mesin.

Emisi kendaraan bermotor mengandung gas karbonmonoksida (CO), nitrogen oksida (N)x), hidrokarbon (HC), dan partikulat lain (particulatte matter/PM) yang bisa berdampak negatif bagi jika melebihi ambang konsentrasi tertentu. 

Pasar negara ASEAN rata-rata sudah menerapkan Euro 4. Sementara, di Indonesia, penerapan standar Emisi Euro 4 Indonesia masih sedikit sekali. Bahkan secara nasional diundur ke April 2022 lantaran pandemi.

BBM Tidak Ramah Lingkungan Membuat Rugi

Di bidang Otomotif dan Industri

Dalam webinar itu, Direktur Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dasrul Chaniago mengatakan bahwa penggunaan bahan bakar tidak ramah lingkungan bisa berdampak pada dunia otomotif.

“Kalau kita bertahan di Uero 2, otomotif kita tidak akan berkembang. Negara lain sudah Euro 6” katanya.

Industri minyak pun akan kesulitan jika otomatif mati. Negara kita akan sulit mengekspor otomotif juga, lho. Kenapa? 

Negara lain sudah tidak membutuhkan otomotif berteknologi rendah. Sebab tidak ada lagi spare part yang sesuai dengan otomotif tersebut.

Karena banyak kendaraan yang tak lagi tersedia spare part-nya. Jadi kita tidak bisa bertahan dengan teknologi rendah saja.

Jadi jelas bahwa penggunaan bahan bakar tidak ramah lingkungan bukan hanya berdampak pada kerusakan lingkungan berupa pencemaran udara tetapi juga berdampak pada dunia otomotif dan industri minyak.

Program Langit Biru, Sebentuk Kepedulian
Menjaga Bumi Kita

 

Pada 6 Agustus 1996, Pemerintah Indonesia melalui kementerian Lingkungan Hidup telah membuat program Langit Biru. Tujuannya untuk mengurangi dan mengendalikan pencemaran udara. Jadi program Langit Biru ini sudah berumur 25 tahun. Sudah lama banget ya. Tapi bagaimana efektivitasnya? Apakah sudah berdampak pada masyarakat?

Mungkin banyak yang tidak tahu. Hal ini pun diakui oleh Kristo Embu, pimpinan redaksi Timor Ekspres Kupang bahwa masyarakat banyak yang tidak tahu dan tidak sadar dengan program. “Agar masyarakat lebih banyak yang tahu butuh proses lewat sosialisasi dan edukasi oleh stakeholder yang bertanggungjawab termasuk media,” katanya.

Faktor apa yang paling mempengaruhi kesadaran adalah kebiasaan. Kalau dipaksa atau dibiasakan maka mereka akan menerima. Makanya, program Langit Biru ini harus kita pahami dan aplikasikan serta digencarkan agar semakin banyak masyarakat yang tahu dan melakukan.

Memang sih Langit Biru ini masih perlu dikenalkan kepada masyarakat luas karena masih banyak yang belum ngeh dengan program keren ini. Diakui juga oleh Tommy Kaganangan yang diundang dalam webinar tersebut bahwa dia juga baru aja tahu tentang Langit Biru.

“Pernah denger tapi tidak tahu lebih. Program ini bagus banget karena mengurangi premium. Di Kalimantan Selatan pun masih banyak pelangsir-pelangsir premium.” Tommy juga bilang kalau premium bagusnya dikhususkan untuk angkutan umum tapi jangan untuk kendaraan pribadi.

 

Dimulai Dari Keluarga

untuk Sukseskan Program Langit Biru

 

Motor saya nggak bagus-bagus amat sih. Tapi dengan kesadaran menyayangi motor dan mendukung kesuksesan program Langit Biru, motor berplat daerah Jambi ini sudah lama tak menggunakan premium. Minimal pertalite. Biasanya ‘dikasih minum’ Pertamax.

Sambil berangkat kerja saya sempatkan ke SPBU yang tak pernah alpa menyediakan pertalite dan pertamax. Untuk kendaraan sendiri memang tidak ada kendala.

Yang nggak gampang itu ngajak saudara dan masyarakat sekitar. Tapi, prioritas keluarga sendiri saja dulu. Kalau lingkaran keluarga ini semakin membesar saya yakin masyarakat pun akan ikut melakukannya.

Saya dan motor yang setia menemani ke manapun saya kerja. Sebagai ganti, saya memberikan ‘minum’ terbaik untuknya

Program Langit Biru harus gencar dari hulu ke hilir. Seberapa besar iktikad pemerintah harus dibarengi kesadaran masyarakat. Program Langit Biru ini harus terus dimassifkan. Mungkin para petinggi lembaga negara kita sudah tahu dengan program ini. Bisa jadi karena regulasi pemerintah misalnya kendaraan-kendaraan dinas yang harus menggunakan pertalite atau pertamax.

Saya mengapresiasi gebrakan seperti webinar-webinar yang diadakan KBR bersama YLKI dan instansi terkait. Ke depan, pelibatan milenial harus ditingkatkan. Bisa juga dengan mengadakan lomba-lomba untuk milenial dengan melibatkan sosial media seperti facebook, twitter, hingga tik-tok. Saya rasa ini efektif sebab milenial lebih sering melek media sosial.

Mewariskan Bumi

untuk Generasi Mendatang

 

Berbagai dampai pencemaran lingkungan pasti sudah kita rasakan. Termasuk pencemaran udara juga sudah kita rasakan. Saya yang berdomisili di kampung nun pelosok saja sudah merasakannya. Apalagi mereka yang ada di kota bahkan kota besar.

Oh iya, kampung saya bernama Desa Lantak Seribu. Banyak orang berseloroh kalau kampung kami bahkan tak ada di peta. Hehe… Lokasi lengkapnya Dusun Ringin Anom, Desa Lantak Seribu, Kecamatan Renah Pamenang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Sebenarnya desa saya tak jauh dari jalur Lintas Sumatera. Sekitar setengah jam perjalanan kalau akses jalan lancar dan mulus. Tapi karena akses jalannya rusak dan sulit, perjalanan tadi semakin lama. 

Jika saya yang berada di desa sudah mengkhawatirkan hal ini, tentulah daerah di perkotaan seperti di Bangko (ibukota kabupaten Merangin) maupun Jambi (ibukota provinsi Jambi) tentu harus lebih waspada. Meskipun, menurut Dr. Ardi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi, secara umum  kualitas udara Kota Jambi masih baik dalam kategori Indeks Standar Pencemaran Udara bukan berarti kita merasa aman-aman saja.

Selama pandemi ini, mungkin banyak dari kita yang menyadari bahwa langit kita semakin bersih, jika dibanding sebelum pandemi. Kondisi ini tidak lain karena semakin berkurannya aktivitas manusia di luar rumah. Ya, untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19 kita dianjurkan mengurangi aktivitas di luar. Orang pun semakin sedikit bepergian menggunakan kendaraan. Polusi udara pun semakin berkurang. Hasilnya, langit kita semakin biru.

Nah, semoga pandemi ini menjadi momentum menguatkan kesadaran kita bahwa semakin berkurang polusi udara, semakin bagus langit kita, semakin bagus kualitas udara kita.

Marilah kita pahami bahwa usaha menjaga lingkungan bukan semata-mata untuk kita yang saja. Tapi untuk generasi mendatang. Kita yakin bahwa pencemaran udara banyak disebabkan emisi gas buang dari kendaraan ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Berbagai penyakit pernapasan bisa timbul dari polusi udara termasuk dari kendaraan. Bahkan timbal yang dihasilkan dari emisi buang dapat mengurangi kecerdasan.

Kita tidak selamanya hidup di bumi ini. Lalu, apa yang hendak kita wariskan pada generasi mendatang? Apakah bumi yang semakin panas dan semakin rusak? Atau bumi yang semakin membaik dan aman ditinggali?

Kita berharap generasi mendatang akan semakin berkualitas. Badannya sehat, otaknya pintar. Mari kita jaga bumi dengan mengurangi aktivitas yang dapat merusak lingkungan. Mari gunakan BBM yang ramah lingkungan agar polusi udara bisa dikurangi atau dihindarkan. Ayo kita rawat lingkungan kita agar kelak generasi muda masih bisa mendiami bumi dengan aman dan nyaman. (*)

Belajar Membuat Media Pembelajaran dengan Canva Bersama GuruInovatif

Belajar Membuat Media Pembelajaran dengan Canva Bersama GuruInovatif

“Kami bener-bener ingin membimbing para bapak ibu guru agar memiliki skil baru,” Itulah yang dikatakan Mas Reezky pada belajar bersama Bu Naufanti Zulfah, S.Kom. Mau tau acaranya?

Nah, acaranya adalah Kreasi Media Pembelajaran Menggunakan Canva. Di acara itu peserta akan belajar tentang:

Pengenalan Canva

Pengenalan Tools dalam pembuatan presentasi

Membuat Kreasi presentasi menggunakan Canva

Membagikan atau mengunduh file yang sudah dibuat

Merekam presentasi atau tampil wajah pembicara sekaligus audio terekam.

Pelatihan ini diadakan pada Rabu 10 Maret 2021 pukul 13.00 WIB. Siang-siang biasanya kan jam rawan karena mengantuk. Tapi, di acara dengan durasi 90 menit ini saya sangat antusias mengikuti. Pas banget materi ini dibutuhkan saat pembelajaran daring.

Jadi, acara terdiri dari 60 menit materi dan 30 menit tanya jawab ini, peserta dapat memilih sebagai peserta fee yang akan mendapatkan sertifikat, atau peserta premium yang mendapatkan E-sertifikat senilai 4 JP, materi-materi, dan mendapatkan video webinar dengan hanya membayar Rp. 24.900.

pelatihan canva GuruInovatif

Ternyata, dengan Canva kita bisa membuat poster, presentasi, animasi, dan video lho. Dan salah satu kelebihan Canva, tidak memerlukan spesifikasi yang tinggi untuk menggunakannya. Yang penting adalah jaringan internet yang lancar.

Kegiatan ini sangat diminati guru terbukti dengan ada sejumlah 287 peserta di room zoom sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Sayangnya waktu tidak cukup bagi peserta untuk bertanya-tanya.

Kalau saya simak sih bagian menggunakan fitur rekaman yang paling diminati. Emang sih, keren banget merekam materi pembelajaran pakai slide yang dilengkapi video pembicara. Keren banget sih.

Harus banyak-banyak praktik biar bisa lebih master lagi.

Dan kerennya lagi, peserta mendapatkan link Canva yang bisa dipakai gratis selama satu tahun, sebagai program Canva untuk pendidikan. Keren apa keren banget nih…

Saya pengen banget ikut GuruInovatif Academy biar bisa makin master lagi. Didampingi saat praktik. Terima kasih GuruInovatif yang memberikan ilmu untuk para guru. Saya jadi pengen langsung praktik. Hehe…

Cara Menghemat Listrik. Sederhana Saja

Cara Menghemat Listrik. Sederhana Saja

Sebuah kampus di Pulau Sumatera memberikan imbauan tentang besarnya biaya listrik yang harus dikeluarkan kampus tersebut. Nominalnya cukup mencengangkan. Kampus tersebut harus membayar listrik lebih kurang Rp. 720 juta setiap bulan. Di akhir imbauan, terdapat tulisan “Mohon hemat listrik” yang ditulis dengan dengan background warna merah.

Kampus tersebut memang besar dan luas. Namun tetap saja jumlah uang hanya untuk membayar listrik itu sangat besar. Apatah lagi jika ditambah dengan biaya-biaya lainnya, kira-kira berapa miliarkah pengeluaran kampus tersebut? Dari sejumlah tagihan itu saya yakin banyak disebabkan pemakaian listrik yang kurang bijaksana. Perilaku yang dimaksud misalnya membiarkan lampu ruangan tetap hidup padahal tidak sedang digunakan, membiarkan pendingin ruangan tetap beroperasi padahal ruangan sedang kosong, atau penggunaan alat-alat listrik yang terlalu mubazir.

Pemandangan seperti itu jamak ditemui di berbagai tempat baik itu tempat umum, rumah-rumah, atau instansi pendidikan. Kesadaran untuk hemat listrik memang belum maksimal. Sebagai seorang guru, saya sering menemukan alat-alat listrik yang masih bekerja padahal tidak sedang digunakan seperti infocus, lampu, kipas angin, atau pendingin ruangan yang masih menyala padahal kelas tidak sedang ada penghuninya. Di luar karena faktor lupa sebagai penyebabnya, kesadaran untuk hemat listrik memang menjadi penyebab utamanya. Mungkin karena merasa tidak ikut mengeluarkan uang secara langsung sehingga tidak merasa perlu berhemat.

Pernah lho ada kejadian pada 4 Agustus 2019 dulu. Yaitu listrik padam total selama sepuluh jam saja telah membuat kehidupan kita kalangkabut. Kita tidak siap dengan ketiadaan listrik. Kesadaran kita lantas muncul.  Betapa kehadiran listrik sangat penting listrik dalam kehidupan sehari-hari. Listrik seakan menjadi simbol adanya kehidupan. Tidak ada listrik, tidak ada kehidupan. Berbagai berbagai aktivitas kita menjadi terkendala. Berbagai alat transportasi lumpuh, perekonomian tersendat, dan komunikasi terganggu. Kerugian akibat Pemadaman listrik di sekitar wilayah Jawa yang disebabkan adanya gangguan pada transmisi SUTET 500 kV ditaksir mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah.

Masalah ketersediaan energi menjadi tanggung jawab dari hulu ke hilir. Pemerintah melalui Perusahaan Listrik Negara (PLN) bertanggungjawab dalam pengadaan dan pemeliharaan, sementara masyarakat juga bertanggungjawab dalam hal hemat pemakaian agar energi listrik tidak lekas habis.

Penggunaan listrik prabayar sebetulnya menjadi alarm bagi kita untuk hemat energi. Agar kita menggunakan listrik dengan hati-hati dan perhitungan. Kiranya tagline dari PLN “yang penting matikan yang tidak penting” sudah gencar dikampanyekan. Sekali lagi sangat penting memunculkan kesadaran untuk menghemat energi listrik sekecil apapun. Langkah kecil yang dapat kita lakukan dalam menghemat energi listrik adalah menggunakan lampu LED yang lebih sedikit konsumsi energinya, menghidupkan alat listrik hanya saat digunakan, mematikan alat listrik atau mencabut steker listrik jika tidak digunakan, menghindari ‘TV menonton kita” dan mengajak keluarga serta orang terdekat untuk ikut serta dalam gerakan hemat energi listrik. Dibutuhkan kerelaan untuk berpayah-payah mengingatkan oranglain untuk hemat energi. Juga kesediaan meluangkan waktu dan tenaga untuk mematikan alat-alat listrik yang beroperasi tanpa penghuni. Memang ini sepertinya hal yang kecil. Namun langkah kecil ini bisa berefek besar jika dilakukan secara bersama-sama.

=

Gunakan lampu LED

LED memiliki segudang keunggulan seperti hemat energi, lebih terang, tidak panas, dan daya pakainya pun lebih panjang.

=

Gunakan AC hemat listrik

Pilih AC yang hemat listrik. Sekarang gampang untuk cari yang hemat listrik. Tinggal cari keterangannya berapa persen si AC itu menghemat listrik.

=

Cabut steker kabel jika tidak dipakai

steker yang tercolok itu tetap mengkonsumsi listrik lho meskipun tidak tersambung ke perangkat lain seperti televisi, hape, laptop dan lain sebagainya. Emang sih nggak besar dimakannya. Tapi kalau dalam waktu lama tentu ngaruh juga.

=

Matikan alat elektronik di malam hari

Istirahatkan alat listrik di malam hari. Alat yang terus bekerja sepanjang hari akan berkurang daya efisiensinya yang nanti bisa membuat alat semakin boros pada kebutuhan energinya.

=

Miliki Sensitivitas Hemat Listrik

Punya rasa eman, sayang, dan merasa mubazir kalau membuang energi listrik. Agak rewellah dengan alat-alay listrik yang terus dibiarkan menyala. Dengan begitu kita akan selalu fokus pada penghematan energi listrik.