Berbeda dengan yang tinggal didaerah kota-kota besar yang dengan mudah mengenalkan daerahnya, bagi yang berdomisili di kota-kota kecil akan sulit mengenalkan daerah. Semakin terpencil daerah semakin sulit pulau mengenalkannya. Sebenarnya ini berlaku umum.

Hal ini pernah saya alami. Saya beberapa kali menemukan kesulitan menjelaskan di mana tempat tinggal saya. Saya tinggal di daerah di kabupaten Lebak, Banten. Saat ketemu teman di belahan kabupaten lain bahkan mereka perlu beberapa waktu untuk mencerna di mana keberadaan Lebak.

Berbeda halnya, jika saya menyebutkan ibukota provinsi kabupaten saya yaitu Rangkasbitung, mereka ngeh dengan cepat. Benar, walaupun tanpa penelitian yang mendalam, bahwa Rangkasbitung ketika populer daripada Lebak.

Saat pelatihan di kabupaten Tangerang, misalnya, saya bertemu dengan peserta lain, lalu kenalan. Saat itu saya sebutkan saya berasal dari Lebak, dia masih bertanya di mana sih Lebak itu? Padahal, kami itu masih dalam satu provinsi. Apalagi jika teman atau orang itu di luar provinsi kita.

Hal ini tidak satu dua kali saya alami. Saya membutuhkan beberapa kali untuk menjelaskan tentang Lebak. Nah, berikut ini beberapa acara saya menunjukkan atau mengenalkan Lebak dengan beberapa ciri khasnya.

1. Lebak Punya Suku Baduy

Pertama, menyebutkan suku Baduy. Tidak dimungkiri inilah senjata andalan untuk mengenalkan Lebak. Suku Baduy merupakan suku pedalaman asli kabupaten Lebak. Memang sangat masyhur dan menjadi andalan bagi pemerintahan daerah untuk promosi wisatanya.

Setiap tahun ada kegiatan Seba Baduy yang merupakan satu upacara suku Baduy menyerahkan hasil bumi kepada Ibu Gede atau Bapak Gede. Di saat tertentu, Suku Baduy datang menghadapa kepada pemerintahan daerah kabupaten dan provinsi. Uniknya, mereka berjalan kaki dari daerahnya. Terutama Suku Baduy Dalam.

Biasanya kalau ada acara Seba Baduy, selalu ramai dengan pengunjung. Bahkan bisa menjadi wisata budaya nasional. Pemerintah daerah bekerja sama dengan pemerintah pusat lewat platform Indonesiana telah secara rutin mengadakan kegiatan kebudayaan.

Apa yang menjadi menarik dari suku Baduy ini? Tidak lain keteguhan mereka menjaga tradisi turun-temurun dan tetap bertahan dengan kearifan lokalnya di tengah arus globalisasi yang kencang.

Ringkasnya mereka bertahan dengan tidak menggunakan teknologi. Suku Baduy terdiri dari dua kelompok yaitu Baduy dalam dan Baduy luar. Nah, Baduy dalam inilah yang masih teguh dengan prinsip tidak mau menggunakan teknologi tadi. Sementara Baduy luar lebih longgar dalam prinsip tadi.

2. Pantai Sawarna

Kedua, pantai Sawarna. Tempat-tempat wisata biasanya lebih terkenal di luar. nah ini pula yang sering saya katakan kepada teman-teman untuk mengenalkan teman pantai Sawarna ini terletak didaerah Selatan dari kabupaten Lebak. Terkenal di kalangan wisatawan. Baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara.

Apa yang menarik dari pantai Sawarna? Selain ombaknya memanjakan mata pantai Sawarna memiliki pasir putih sehingga lokasinya bersih. Pantai Sawarna bisa dikatakan sebagai Surga tersembunyi di Selatan Jawa. Memiliki pemandangan alam yang masih sangat murni dengan banyaknya hamparan karang. Bahkan di sana ada karang merah.

 Tidak hanya pantai Sawarna tetapi juga ada pantai Tanjung Layar, Pantai Karang Taraje, goa lalay. Keempat tempat tersebut sudah pernah saya datangi. Dalam setiap event pergantian tahun biasanya selalu ramai dan macet

3. Sejarah Multatuli

Ketiga, Multatuli. Bagi generasi milenial, nama Multatuli mungkin masih familiar yang di dibaca dalam buku sejarah sewaktu sekolah. Atau lebih dikenal dengan Eduard Douwes Dekker. Dia menjadi asisten residen Lebak yang bertempat di Rangkasbitung. Selama di sana, dia banyak menulis. Karyanya yang terkenal adalah max Havelaar yang menceritakan kesewenangan pemerintah terhadap rakyat.

 Untuk mengenang Multatuli, pemerintahan kabupaten dapat juga mengadakan iven Festival Multatuli yang diisi dengan tampilan budaya, lomba literasi, pemutaran film dokumenter, festival buah dan lainnya.

4. Negeri Di Atas Awan

Keempat, negeri di atas awan. Ketenarannya negeri di atas awan sangat melejit. Destinasi wisata yang telah dikunjungi ribuan orang sejak dibuka ini berada di Desa Citorek Kidul Kecamatan Cibeber. Masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGH).

Meskipun disebut gunung namun ketinggian gunung luhur hanya 901 meter di atas laut. Negeri di atas awan ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang pekerja yang tengah memperbaiki jalan provinsi yang menghubungkan Lebak Utara dan Lebak Selatan pada September 2018.

 Berkat media sosial, keberadaan negeri di atas awan semakin viral. Satu persatu pengunjung datang. Pemerintah provinsi mengebut pembangunannya agar maksimal dan menjadi tujuan wisata. Namun, negeri di atas awan kemudian ditutup untuk umum setelah terjadi banjir Lebak yang mengakibatkan akses ke sana terputus.

Negeri di atas awan telah viral bahkan sampai di provinsi lain. Beberapa teman saya dari Jawa Barat atau Jakarta telah lebih dahulu ke sana. Sementara, saya yang orang Lebak malah belum ke sana.

 Negeri di atas awan menjadi salah satu kekhasan lebat yang langka. Sebab jarang sekali daerah di Indonesia yang memiliki spot cantik dan unik ini. Keindahan negeri di atas awan Lebak tidak kalah dengan eksotisme Dieng yang mempesona itu. 

Kopi Legendaris Kopi Kupu-Kupu 

Kelima, kopi kupu-kupu. Kopi kupu-kupu merupakan kopi produksi Lebak yang khas. Bagi para pecinta kopi rasanya tidak melewatkan kopi kupu-kupu ini. Rasanya sangat khas walaupun tidak eksklusif dalam artian harganya murah tapi rasanya memang memiliki ciri sendiri.

Saya cukup terkejut ketika teman ketika akan kopi darat meminta dibawakan kopi kupu-kupu. Harganya murah. Satu pak bisa 8-1o ribuan. Dilihat dari harganya sebetulnya tidak seeksklusif kopi lainnya namun entah kenapa kopi ini diminati dan menjadi legenda bagi banyak orang.

Punya Bupati Nyentrik

Keenam, bupati yang nyentrik. Ya salah satu kepala daerah yang nyentrik adalah kepala daerah Lebak namanya Bupati Ovtaia Jayabaya.

Di Surabaya, kita mengenal Bu Risma yang nyentrik, berani memarahi pegawainya yang tidak beres kerjanya. Bu Risma juga akan ikut turun tangan membersihkan lingkungannya.

Bu Iti kurang lebih seperti itu. Mungkin di sosial media sudah banyak tahu ya tentang sepak terjang Bupati ini. Mulai dari manjat pohon duren, manjat jambu, naik dan memarahi truk besar yang memuat tanah, marah-marah di sekitar kawasan wisata Baduy, dan lainnya.

Memang, komunikasi seperti ini akan cepat viral. Sebagaimana prinsip berita bad news is good news. Namun, bisa jadi bukan itu pula tujuan orang melakukannya. Artinya, ya memang itu adalah karakter dia tanpa tujuan ingin terkenal.

Bupati yang terkenal nyerocos ini juga dekat dengan warganya. Baru-baru ini ini beliau menyapa dan membeli es cincau dari pedagang keliling. Tahukah kalian, di daerah kami ada penjual es cincau bernama Afgan. Ya jika di Jakarta sana Afgan adalah seorang artis di daerah kami akan berubah profesi menjadi penjual es cincau.

* * *

Nah itulah sekelumit cara saya mengenalkan daerah Lebak. Namun telisik ditelisik ternyata keterkenalan Rangkasbitung memang disebabkan oleh orang yang lebat yang lebih pede ngomong Rangkasbitung ketimbang Lebak.

 

Umur kabupaten Lebak saat ini 191 tahun. Setiap 2 Desember ditetapkan sebagai hari ulang tahun kabupaten Lebak. Umur ini lebih tua dari provinsi Banten yang saat ini berumur 19 tahun. Banten adalah pecahan dari provinsi Jawa Barat. Banten berdiri pada 4 Oktober 2000 silam. Bahkan usia Lebak jauh lebih tua dari usia republik.