Dana bantuan sosial (bansos) senilai puluhan juta yang sudah di depan mata akhirnya melayang. Penyebabnya apa? Entahlah. Saya pun bingung. Proposal yang lain cair tapi kenapa saya tidak? Padahal, proposal usaha saya tak kalah menarik. Semua proposal jadi didanai kecuali saya. Saya sempat sakit hati. Tapi kemudian sadar bahwa jadi pengusaha nggak boleh cengen. Harus kuat dan tahan banting.

“Udahlah, Mas. Mungkin belum rezekinya aja,”

“Kalau ada beberapa proposal yang juga ditolak, aku bisa terima, Dek. Lha ini kok punya mas aja yang ditolak. Apa karena kedekatan, ya,?”

Saat itu saya sedang berdiskusi dengan istri saya yang baru dua bulan ini kami menikah. Begitu menikah, kami memutuskan mendirikan usaha. Sesuai hobi saya dalam bidang desain grafis, saya mengajukan permodalan usaha untuk percetakan digital saat ada informasi ada bantuan sosial.

Tahap seleksi administrasi saya lolos. Tahap wawancara berhasil saya lewati dengan baik. Bahkan sudah tanda tangan untuk pencairan. Makanya saya optimis banget dapat modal usaha. Ibarat sudah di depan mata, modal usaha raib begitu saja.

Setelah dipikir-pikir, saya memang harus segera move on dari kasus ini. Mau Jadi Pengusaha? Jangan Cengeng! Kata Akbar Kaelola dalam bukunya.

Akhirnya saya pun bisa menerimanya. Ya bagaimanapun juga belum rezeki. Walaupun sesuatu itu sudah ada di tangan, tapi kalau belum rezeki, ya nggak akan kita miliki. Dunia bisnis memang penuh dinamika. Hal-hal yang tidak terduga sering terjadi. Seorang pebisnis harus paham dengan hal ini. Lalu saya belajar banyak hal dari kasus ini. Salah satunya adalah mental pejuang. Boleh jatuh, tapi harus bangkit lagi.

Sebagai pasangan keluarga baru, setelah menikah, hal yang juga dipikirkan adalah mendapatkan penghasilan. Sebulan sesudah menikah, saya dan istri tinggal sendiri, pisah dari orang tua. Kami mulai dari nol.

Mendirikan Bimbingan Belajar,

Ini Bisnis Pertama Saya

Usaha pertama kali yang kami rintis adalah mendirikan bimbingan belajar (bimbel). Kenapa kami pilih buka bimbel? Dulu di kampus saya ikut kuliah kewirausahaan. Pematerinya bilang bisnis yang nggak kenal waktu adalah bisnis pendidikan dan kesehatan. Ditambah, saya seorang guru, istri lulusan kampus keguruan (2 tahun setelah menikah, istri saya diterima sebagai dosen).

Ruangan di sebelah rumah kami jadikan kelas. Untungnya di perumahan kami banyak anak-anak, sehingga bisa menjadi pelanggan kami. Baru satu pekan launching, pekan pertama banyak yang daftar. Ada belasan siswa. Ada kenangannya nih dengan pendapatan bulanan pertama.

“Mas, ini ada gajian pertama. Mau diapakan, Mas?” tanya istri saya. Di rumah ini dia sebagai bendahara.

“Kira-kira kebutuhan kita apa, Dek?” saya malah balik bertanya.

“Kalau boleh, buat beli kulkas, Mas. Kalau beli sayuran kan nggak langsung habis. Kalau nggak ada kulkas, sayuran langsung layu. Kan jadinya mubazir. Kalau ada kulkas bisa disimpan, besok bisa dimasak lagi.”

“Kalau memang itu kebutuhan yang mendesak, ya nggak papa. Beliin kulkas aja,”

Bimbel sebagai usaha pertama kami

Cetak kaos sablonan & warung kelontong sebagai penghasilan keluarga

Kami berdua menempati rumah yang baru selesai dibangun. Jadi, isinya belum ada apa-apa. Perlengkapan rumah tidak ada. Seperti meja makan, kasur, gorden, kompor gas, dan lainnya.

Pertama kali datang kami beli perlengkapan yang sangat mendesak. Sisanya dilengkapi dari penghasilan usaha. Berbulan kemudian usaha bimbel ini maju. Sampai kemudian muncul sedikit permasalahan.

Istri saya hamil. Dia tidak bisa banyak membantu mengajar bimbel seperti biasanya. Akhirnya saya sendiri yang mengelola.

Selain bimbel, saya juga mengajar di sekolah swasta. Satu tahun mengajar, saya diangkat menjadi pegawai tetap yayasan (PTY). Lalu ada kebijakan bahwa PTY harus memiliki minimal 24 jam mengajar. Jadi, kalaupun tidak mengajar, PTY harus ada di sekolah.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya bimbel kami tutup. Karena terlalu capek, setelah seharian di sekolah. Dengan berat hati, sih. Kepana? Sebab bimbel inilah yang menopang keluarga di awal-awal berumah tangga dulu. Banyak perlengkapan rumah pun dibeli berkat bimbel ini.

Sempat nyesel lho dengan keputusan ini. Apalagi setelah tutup, pemasukan berkurang drastis. Paling minimal bimbel menjadi salah satu penyokong kebutuhan keluarga.

Membuka Warung Kelontong, Agar Pengeluaran Keluarga Tertolong

Suatu hari, datang seorang saudara.

“Dek, mau enggak buka warung?” tanyanya.

“Buka warung gimana, Mas Mansur?”

“Di rumah ada warung. Ini aku mau pindah. Nah, warungku ini nggak mungkin dibuka di tempat yang baru. Lagian sayang lho di sini satu-satunya warung. Gimana kalau warungnya dipindah ke kamu,” tawarnya.

Kami pikir, sekalian buat usaha sampingan istri. Daripada di rumah saja lebih baik sambal buka warung. Akhirnya pindahlah warung itu ke rumah. Warung kami menjual berbagai keperluan keluarga seperti beras, air galon, sayuran, makanan ringan, pulsa dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Prosesnya, saya mengambil barang-barang di agen, dan menjualnya dengan selisih harga sebagai untungnya.

Ternyata punya warung nggak kalah repotnya. Apalagi saat itu kami sedang punya anak kecil. Repotnya begini, kalau sedang mau menidurkan anak, datang pelanggan manggil-manggil. Mau dijawab, anak pasti terganggu dan terbangun. Nggak jadi tidur.

Tapi kalau nggak dijawab, pelanggan manggil terus. Sering terjadi begini. Kalau dipikir-pikir sebetulnya margin untung dari barang-barangnya nggak besar. Jalau jajanan, misalnya untungnya Rp 200 sampai Rp 500 per item. Nah, kalau anak minta jajan, ya habis untungnya. Nggak ada untungnya. Untungnya udah terambil sama jajanan tadi.

Bisnis memang mencari untung. Tapi selain itu, kami juga mempertimbangkan kenyamanan keluarga.

Carilah bisnis yang nyaman buat keluarga, yang untung dan menghasilkan.

Banyak yang minder jualan karena alasan gengsi. Benar? Gengsi? Ini nggak berlaku buat saya. Ke sekolah saya pernah nyambi jualan donat, susu kedelai, dan bakpao. Istri yang membuatnya, saya yang menjajakan ke sekolah. Lumayan menambah pemasukan. jualan disiapkan sejak sore, malam atau pagi dinii hari. Lalu paginya saya bawa ke sekolah.

Jadi saya ke sekolah itu sambil bawa jualan. Saya nggak malu bawanya. Gengsi? Nggaklah. Ngapain gengsi. Gengsi nggak bisa untuk kasih makan anak istri.

Tapi akhirnya jualan ini nggak dilanjutkan. Pertama, saya tidak enak ke pimpinan sekolah. Saya kuatir tak fokus mengajar dan mengurangi hak-hak siswa. Kedua, kehamilan istri saya semakin besar, kasihan kalau harus menyiapkan sampai malam atau bahkan dini hari. Kami harus mempertimbangkan kesehatan kandungannya. Akhirnya jualan itupun berhenti.

Ada baiknya saya ceritakan kenapa saya harus mencari tambahan penghasilan. Penyebab utamanya adalah gaji sebagai guru honorer tak mencukupi kebutuhan keluarga.

Nominalnya? Kalau dibanding penghasilan saat sebelum keluarga, jauh banget, hanya seperempatnya. Inikan njomplang.

Gimana nggak njomplang, sebelum menikah gaji besar, eh malah sesudah menikah turun drastis. Sebelum punya tanggungan gaji mencukupi, sesudah punya tanggungan kok malah kecil.

Belum lagi nanti kalau saya sudah punya anak, atau ngirimi keluarga. Nah, inilah yang membuat saya berjibaku untuk bisnis apa saja.

Bahkan bisa dibilang pengusaha palu gada. Apa yang lu mau gua ada.

Bisnis Toko Plastik

Di tahun 2017 kami mencoba bisnis toko plastik.

“Sekarang kan usaha makanan lagi rame nih, Mas. Mereka kan perlu tuh bungkus dan lain-lainnya. Kayaknya kalau kita jualan plastik dan pembungkus bagus juga,”

“Oke juga. Tapi kalau bisa oke tapi kita harus selesai lapangan dulu ya. Banyak atau enggak yang jualan makanan.

“Iya, Mas. Kita bisa survei sambal jalan-jalan,”

Setelah melihat-lihat toko makanan atau jajanan-jajanan kami sepakat untuk membuka bisnis toko plastik. Kami juga menyewa tempat yang sewanya lumayan karena memang terletak di dekat pasar.

Sehingga modal yang dikeluarkan untuk toko plastik ini cukup besar. Tapi, memang sebanding dengan pemasukannya.

Untuk pengelolaan toko, kami mengangkat pegawai. Kalau Anda menebak bisnis kami tutup, Anda benar. Toko plastik ini berjalan sampai beberapa bulan lamanya. Hehe…

Sampai di sini, semoga pembaca nggak buru-buru mengatakan kami pembosan dan sering berganti bisnis ya?

Sebab, di perjalanan bisnis kami akhirnya memberikan kesimpulan bisnis yang ideal, adalah bisnis yang bisa dilakukan di rumah, tidak mengganggu keluarga, dan memiliki profit yang besar. Ah, kalau yang terakhir mah semuanya pada pengen begitu ya. Hehe..

Berbeda dengan bisnis yang sebelumnya, saat toko plastik ini tutup, kami rugi yang cukup besar. Tapi gimana lagi. Mungkin sudah jadi bagian dari perjalanan bisnis kami. Untung dan rugi merupakan hal yang biasa dalam bisnis.

Di dalam bisnis, kata pakar nih ya, hampir tidak ada yang namanya rugi. Kalaupun rugi atau ditipu sebetulnya itu merupakan pembelajaran. Nah, biaya kerugian itulah biaya pembelajarannya. Keren juga cara pandang seperti ini.

Tapi ada satu bisnis yang sejak awal hingga sekarang masih saya jalankan. Penasaran? Baik, saya kasih tau. Bisnis yang saya ceritakan di awal tadi, lho. Ya, benar. Percetakan digital. Setelah gagal mendapatkan dana bansos, saya memutar otak bagaimana tetap punya percetakan digital. Ini yang dinamakan hobi yang menghasilkan. Kan kata orang begitu ya, kalau mau bisnis, bisnislah dari hobi yang digaji. Hehe…

Kenapa saya ngotot menjalankan usaha ini? Karena saya suka desain. Tapi, untuk membuat percetakan digital tentu dibutuhkan modal yang sangat besar. Mesinnya aja bisa Rp. 300 juta, Catridge-nya Rp. 15 juta. Padahal Catridge-nya ada 6 buah. Tintanya satu botol bisa Rp. 5- 10 juta. Untuk bikin percetakan digital memang butuh modal yang besar.

Tapi saya punya strategi. Saya datang ke percetakan, minta selisih harga kalau cetak di sana. Saya bilang punya percetakan juga. Untungnya disambut baik. Ya, saya akhirnya mendapatkan selisih harga yang lumayan bagus. Kesampaian juga impian saya punya percetakan digital walaupun tanpa punya mesinnya. Sudah 7 tahun lebih saya mengelola percetakan yang saya namai Delta Grafika ini.

Lalu saya bekerja sama dengan dengan Percetakan Simetris Digital. Dapat harga Rp. 18.000 per meter. Saya menjual ke konsumen dengan harga Rp. 30.000 per meter. Jadi selisihnya Rp. 12.000.

Kan lumayan juga untungnya. Di tahun ajaran baru sekolah yang lalu saya berhasil mendapat pesanan sampai dengan 20 meter. Total keuntungan dapat Rp. 240.000.

 

Dari sebuah partai politik dapat pesanan 40 meter. Jadi saya dapat keuntungan Rp. 480.000. Pernah juga saya dapat pesanan 2 meter. Jadi keuntungannya Rp. 24.000. Sedikit atau banyak tetap diambil. Namanya juga rezeki. Harus disyukuri.

Untuk membuat spanduk saya menggunakan CorelDraw X7. Biasanya percetakan meminta file mentahan dalam bentuk cdr atau JPG. Dulu saya belajar CorelDraw secara otodidak. Dari internet dan bertanya ke teman. Bahkan saat ke percetakan digital dikasih tahu hal-hal seputar spanduk digital seperti format CMYK, ukuran file, skala desain, dan lainnya.

Kalau sudah langganan mereka akan percaya sama kita. Bahkan cukup dikirim via email saja. Jadi ke percetakannya saat ambil sanduk jadinya saja. Cepat kok jadinya. Kadang bisa setengah jam sudah selesai.

Tapi, saat pandemi begini, percetakan agak lesu. Sebab biasanya saya mengandalkan pesanan instansi yang mengadakan kegiatan-kegiatan. Sementara, saat pandemi ini kan jarang sekali kegiatan offline. Kebanyakan dilakukan online.

Gerai Fasih. Bisnis Keluarga Selanjutnya

Salah satu keuntungan menjadi pengusaha adalah karakter yang selalu berkembang. Benar, pengusaha yang diam, bakal nggak maju-maju.

Seorang pengusaha selalu mikir peluang, peluang, dan peluang. Kalau satu bisnis tertutup, coba bisnis lainnya. Otak jadi semakin terasah karena harus mikir bisnis apa, peluang apa lagi.

Nah, begitu tutup satu bisnis, maka kami pun memikirkan peluang bisnis lainnya. Lalu, atas ide istri, kami sepakat membuat Gerai. Gerai ini sejak 2017 berdiri dan masih ada sampai sekarang. Jadi, jangan mikir tutup juga, ya. Hehe..

Gerai ini kami kasih nama GERAI FASIH. Awal dibuka menjual pakaian pria dan wanita. Lalu bertambah menjual makanan dan minuman kesehatan, buah beku, frozen, dan lainnya. Ada juga kaos bola. Nah, kebetulan saya suka bola juga. Jadi saya nitip majang kaos bola di gerai. Kami promosi juga secara online dengan memanfaatkan internet.

Bisa dibilang Gerai ini merupakan bisnis paling awet juga. Sejak 2017 hingga sekarang masih berdiri. Dulu kami kerjakan sendiri pengelolaannya. Tapi sejak 2019 lalu kami mulai mengangkat pegawai untuk pengelolaannya.

Pemasukannya? Ya mirip gelombang laut. Kadang pasang, kadang turun. Mungkin semua bisnis juga begitu. Kadang penjualan tinggi, kadang juga rendah.

Termasuk memasuki tahun 2020, saat kita mengalami pandemi akibat Covid-19, pemasukan gerai benar-benar menurun drastis. Tapi mungkin ini terjadi di banyak bisnis ya. Saya yakin banyak pelaku usaha mengalaminya. Pandemi membuat ekonomi lesu. Bahkan banyak bisnis yang gulung tikar.

Tapi di masa pandemi inilah kami mendapatkan satu bisnis yang tepat untuk keluarga kami. Di bisnis ini bukan hanya tentang keuntungan yang diberikan tapi juga banyak pengetahuan tentang agama, teknologi, parenting, dan lainnya. Ringkasnya, bisnis ini paling ideal. Penasaran bisnis apa? Jawabnya adalah Bisnis British Propolis. Kenapa ideal?

Akhirnya, Kami Ketemu Bisnis yang Bikin Optimis

“Mas, tadi ada tawaran bisnis,”

“Dari siapa, Dek?”

Lalu istri menyebut nama temennya. Dan saya kenal banget dengan orangnya. Tanpa pikir panjang, saya menyetujui gabung bisnis itu. Saya kenal betul kredibilitas teman tadi. BISA DIPERCAYA. Selama ini dia nggak pernah bermasalah dengan urusan bisnis dan organisasi lainnya. Ya, kami juga berinteraksi di organisasi Dan hampir tidak ada cela. Urusan beres semua sama dia.

Tapi, tetap saja, dong kita harus cari tau banyak hal lagi tentang bisnis ini. Kami pun ngobrol. Hasilnya, kami semakin percaya. Karena beberapa hal ini.

Pertama, Founder-nya amanah. Terpercaya. Tau siapa foundernya? Ippho Santosa. Di dunia pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) atau motivasi, beliau dikenal pakar otak kanan. Beliau penulis buku Mega Best Seller 7 Keajaiban Rezeki,Magnet Rezeki, dan lainnya.

Ipho Santosa, Founder British Propolis (BP)

Kedua, komunitasnya orang-orang dikenal baik. Ini yang membuat kami semakin yakin. Nggak mungkinlah orang baik mau menipu. Selama ini juga dikenal public figur yang adem ayem. Mereka adalah Oki Septiana Dewi, Dude Herlino, Ustadz Wijayanto, Ade Rai, bahkan pelatih timnas Indra Sjafri. banyak lagi tokoh dan artis yang bergabung di bisnis ini. Gimana nggak percaya, coba?

Ipho Santosa, The founder British Propolis bersama para tokoh seperti Adrian Maulana, Indra Sjafri, dan Ade Rai

Bersiang packing British Propolis

Dan enaknya bisnis ini, bisa dikerjakan dari rumah. Tidak harus meninggalkan keluarga karena penjualannya pun bisa online. Bahkan, bisnis ini tahan pandemi. Justru, di masa pandemi ini bisnis BP semakin melesat, penghasilan pun semakin meningkat. Di bisnis ini pula saya menyadari, bahkan tetap bisa berpenghasilan dengan sarungan. Hehe…

Ketiga, selalu ada pembinaan. Ya, jadi mitra yang bergabung akan terus dibina. Nggak dilepas begitu saja. Setiap pekan ada pembinaan. Kadang pagi, siang, atau sore. Bahkan, ada pembinaan dini hari, lho. Sekitar jam 3 pagi. Pesertanya diwajibkan shalat tahajud dulu. Biar fresh. 

Sebentar, jangan mengira ini MLM ya. Foundernya tegas bilang bukan MLM.

“Saya nggak anti MLM, kalau ada di luar sana MLM, silakan aja. Tapi saya tegaskan BP bukan MLM.”

Bersiap distribusikan BP

Mengantar pesanan BP kepada mitra dan pelanggan

Kami bergabung di bisnis BP ini sejak Agustus 2020. Sampai sekarang, omzet kami sudah Rp. 200 juta lebih. Pencatatannya rapi. Setiap barang yang disorder selalu dicatat. Setiap mitra punya grup WhatsApp sendiri. 

Senengnya di bisnis ini, nggak melulu jualan saja. Bahkan ada pengembangan diri lho. maksudnya gimana? Mitra BP diwajibkan menguasai WhatsApp marketing, copy writing, mengelola feed IG, desain grafis pakai Canva, menguasai public speaking, bisa IG live, jualan via tik tok, dan lainnya. Wah, bagus ya. Jadi nggak sekadar bisnis asal jualan tapi ada ilmunya. Ini pula yang semakin membuat kami yakin dengan bisnis ini.

Tiap pekan ada bimbingan. Berhubung masih pandemi, pembinaan dilakukan secara daring. Lewat zoom meeting. Satu pekan bisa 3 kali. Satu kali pembinaan 2 – 3 jam. Dan kerennya nih, saat pembinaan, di zoom WAJIB menghidupkan video. Bagi yang nggak hidupin video bakal dikeluarkan dari zoom.

“Sebagai salah satu adab menuntut ilmu, harus menghargai guru. Saat zoom, guru kita ya pembicara,” kata founder. Dan aneh bin ajaib, kapasitas 1000 peserta di zoom full. Setengah jam dari jadwal, sudah nggak kebagian. Yang nggak kebagian memang bisa menyimak lewat Youtube. Tapi taste-nya beda.

Nah, demikian cerita tentang perjalanan bisnis kami. Cukup banyak gonta-ganti bisnis. Tapi banyak kan pengusaha sukses yang juga berawal dari gonta ganti bisnis. Ibarat menemukan pasangan hidup lah ya hehe.. kita menyeleksi sampai benar-benar pas.

Apapun bisnisnya kalau punya ilmunya akan maju dan sukses. Selain itu, didukung pula dengan perlengkapan yang mumpuni sebagai alat tempur. Seperti apa ‘alat tempur’ yang mumpuni dan diyakini membuat bisnis eksis dan profit naik drastis? Ini dia ‘alat tempurnya’.

Ayo kita kulik satu persatu kehebatan fitur ASUS ExpertCenter D300TA.  Emang banyak ya? Ya, Banyak. Ada 7 kehebatan fitur dari PC bisnis yang istimewa ini. Sayang banget kalau dilewatkan. Yuk kita kulik…

 

1. Kinerja Cepat, Bikin Bisnis Melesat

Saya masih ingat pesan mertua,

“Kalau bisa, ke pelanggan nggak cuma memuaskan. Bikin pelanggan terkesan,” katanya.

Ringkasnya kalau mau membuat pelanggan terkesan, jangan Cuma kasih pelayanan yang biasa saja. Harus yang luar biasa. Termasuk dalam hal cepat meresponnya.

Nah, urusan cepat ini juga harus ada lho dalam kinerja peralatan kita.

Tapi jangan kuatir, temans. Kenapa? ASUS ExpertCenter D3 Tower ditenagai oleh prosesor Intel® Core™ Generasi ke-10 yang mutakhir dengan RAM DDR4 terbaru. Prosesor Intel® Core™ Generasi ke-10 ini memberi respon cepat untuk menyelesaikan lebih banyak hal.

Jadi apapun tugasnya, ASUS ExpertCenter D3 Tower akan menyelesaikan tugas dengan cepat.

Pekerjaan kelar dengan cepat, omset pun meningkat, serta bisnis melesat.

Oh iya, selain ditenagai prosesor Intel® Core™ Generasi ke-10 yang mutakhir, GPU diskrit NVIDIA akan menjadi layanan terbaik bagi kita yang menginginkan kinerja grafis visual yang maksimal.

Pas banget dengan saya yang hobi mendesain yang membutuhkan tampilan visual yang maksimal. Ya, saat mendesain saya harus benar-benar memastikan warna yang dipilih merupakan warna yang pas. Jadi apapun pesanan pelanggan baik itu spanduk, flyer, brosur, e-sertifikat, dan lainnya bakalan dirampungkan dengan hasil memuaskan.

2. Daya Penyimpanan Besar,

Banyak Pilihan Konektivitas

ASUS ExpertCenter D3 Tower ini merupakan PC desktop terjangkau dan upgradable. Memiliki DDR4 RAM, bisa ditingkatkan hingga 8GB serta daya penyimpanan hingga 2TB + 512GB (HDD + SSD).

 Juga didesain untuk memudahkan pekerjaan apapun yang berhubungan dengan bisnis. Dan salah satu kemudahannya adalah kemudahan colok sana colok sini (hehe) berbagai periferal bisnis, ASUS ExpertCenter D3 Tower menyediakan berbagai port serial dan paralel yang fleksibel pada sasis. Tersedia lebih banyak slot PCI Express tersedia untuk peningkatan tambahan.

3. Kualitas Andal, Daya Tahan Luar Biasa

Selama berbisnis, sudah berapa kali ganti komputer? Komputer tak berumur panjang? Dan sekarang masih bingung cari komputer yang bisa hemat?

Kabar baiknya, ASUS ExpertCenter memang tepat untuk berbisnis. ASUS ExpertCenter  didesain untuk meminimalisir Total Cost of Ownership (TCO) untuk bisnis Anda, ASUS ExpertCenter dirancang dengan slot ekspansi maksimum untuk apa pun kebutuhan kita. Komponen terdepan di dunia. Memberikan kualitas yang dapat diandalkan dan daya tahan yang luar biasa dengan 100% jaminan jangka panjang.

4. Konstruksi Kokoh, Keamanan Terjamin

Untuk mendapatkan penyegaran ruangan, sering kali kami mengubah posisi dan tata letak barang-barang. Termasuk meja kasir. Pernah diletakkan di dekat pintu, di tengah ruangan, dan sudut ruangan. Kalau Anda bagaimana? Seringkah mengubah posisi ruangan kerja Anda? Kalau iya, kudu hati-hati ya memindahkan benda-benda. Termasuk dalam hal ini PC bisnis. Karena kalau tidak hati-hati bisa menimbulkan kerusakan jika jatuh atau tertabrak benda lain.

Tapi, kekhawatiran ini nggak perlu ada kalau kita pakai ASUS ExpertCenter. Ya, PC seri Expert begitu istimewa karena dibuat dengan kokoh. ASUS  ExpertCenter ini sudah melalui uji standar militer AS MIL-STD-810G dan pengujian internal ASUS yang ketat, lho. Sehingga, jika ada guncangan kecil yang tak terhindarkan dan kecelakaan kerja sehari-hari tidak akan membahayakan data berharga Anda.

5. Fitur Keamanan Lengkap

Tentu saja masalah keamanan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam bisnis. Secanggih apapun peralatan bisnis, tentang harus ada jaminan keamanan yang menjadi garda terdepannya. Semakin kuat keamanan depannya, semakin yakin pula kita memakainya. Bener atau bener banget?

Nah, untuk kebutuhan keamanan ini, desktop ExpertCenter mendukung bisnis dengan fitur keamanan lengkap untuk menjaga bisnis Anda, dan masa depannya, tetap aman. Pokoknya, makin kepincut deh dengan PC bisnis ini.

6. Fitur Memudahkan Kontrol Bisnis

Apa fitur lain dari ASUS ExpertCenter yang bisa menjadi solusi bisnis kita? Setidaknya ada 2 fitur yang sangat andal.

1. ASUS Control Center

ASUS Control Center yaitu rangkaian manajemen IT terpusat yang mampu melakukan manajemen jarak jauh, pemantauan perangkat keras dan perangkat lunak, dan penjadwalan tugas melalui antarmuka berbasis web yang ramah pengguna, memungkinkan administrator sistem untuk mengelola asetperusahaan dengan mudah melalui satu portal.

2. ASUS Business Manager

ASUS Business Manager adalah platform berbasis PC yang memfasilitas pengelolaan PC individu. Dengan fitur ini kita dapat melakukan kontrol pergerakan data Pemblokir USB, jalur belakang sistem untuk memulihkan sistem ke status optimal, dan partisi virtual terenkipsi untuk menyimpan data penting.

7. Hemat Energi, Efisiensi Tinggi

Pengen PC yang hemat energi supaya nggak makan daya besar? Tentu saja. Sebab kita juga harus mempertimbangkan biaya operasional perangkat. Kalau biaya listrik membengkak, bisa tekor juga untuk menutupi biaya listrik tadi.

Tapi tenang saja.  ASUS ExpertCenter D3 Tower menggunakan kapasitor kelas atas. Catu daya ini memiliki sertifikasi 80 PLUS® Perunggu yang menunjukkan energi terbuang minimum, yang menghasilkan lebih sedikit panas dan penghematan biaya jangka panjang.

Hal ini sekaligus bentuk kepedulian ASUS terhadap penggunaan berkelanjutan. Kesadaran menggunakan energi dengan hemat dan efisien semakin digalakkan.

Catu daya  bersertifikasi 80 PLUS® Perunggu ini membuat ASUS ExpertCenter D3  sedikit membuang energi dalam bentuk panas. Jadi input energi demikian maksimal digukanan untuk proses PC.

Penutup

Kami selalu dimotivasi agar menjadi pebisnis yang andal. Bukan pebisnis yang cengeng. Jadi pebisnis itu banyak manfaatnya. Bukan hanya menambah penghasilan dan menghidupi keluarga tetapi juga bisa bermanfaat untuk oranglain.

Misalnya dari bisnis kita itu bisa mengangkat satu orang pegawai. Ternyata dia punya keluarga. Secara otomatis kita juga membantu menghidupi keluarga itu. Nah, itu baru satu pegawai, lho. Bayangkan kalau ada 5, 10, atau 100 pegawai.

Karena itu, jangan ragu lagi berbisnis ya. Bisnis apa yang mau dijalankan? Bisnis aja saja deh. Bisnis yang paling baik itu bisnis yang dijalankan, bukan bisnis yang dipikirkan atau ditanya-tanyakan. Dan kalau mau ngikut bisnis saya, monggo (silakan) saja.

Abaikan beberapa mitos yang menghalangi jadi pengusaha. Emang ada? Ya. Ada beberapa mitos. Seperti, “Ah, aku nggak passion berbisnis”. Passion itu relatif. Biasanya, kalau belum kelihatan hasil dari bisnis, belum kerasa sebagai passion. Tapi kalau udah terasa hasilnya, udah terasa keuntungannya, masih bilang nggak passion? hehe…. Ada lagi mitos lainnya, “Aku kan nggak keturunan pengusaha. Nenek moyangku bukan pengusaha.” Lha, kalau mau ngikut keturunan atau nenek moyang, harusnya kita jadi pelaut. Lha wong ada lagunya “Nenek moyangku seorang pelaut….” Benar kan?

Indonesia masih kekurangan pengusaha, lho. Saat ini jumlah penguasaha baru sekitar 2 persen dari total penduduk. Negara maju umumnya memiliki 4 persen pengusaha. Baru negara itu maju. So, mau negara kita maju? Perbanyaklah jumlah pengusaha. Kita harus menjadi pengusaha. Jangan lupa, berbisnis perlu didukung perangkat yang mumpuni. Untuk bisnis, ya pakai PC bisnis. Pilihannya tentu saja ASUS ExpertCenter D300TA. Sepakat ya? (*)

Spesifikasi ASUS ExpertCenter D3 Tower (D300TA)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis yang diadakan oleh ASUS dengan tema “ASUS ExpertCenter – ExpertBook Built for Business”. Bahan tulisan dan foto bersumber dari laman resmi ASUS, pengalaman pribadi, dan pelatihan yang diikuti oleh penulis. Olah grafis dilakukan dengan aplikasi Canva.