Rahasia Belajar Menyenangkan Saat PJJ

Rahasia Belajar Menyenangkan Saat PJJ

Peneliti mengatakan 77 persen siswa tidak bahagia melakukan PJJ. Penyebabnya dominan guru yang membosankan. Nah, tema sore ini tentu menarik bagi para guru di Indonesia. Beruntung saya menjadi salah satu guru yang ikut dalam webinar Rahasia Mengajar Menyenangkan Era PJJ yang diisi oleh Munif Chatib, M.Pd. Beliau adalah direktur Model School of Human.

 

Acara ini diadakan oleh AISEi, sebuah Perkumpulan Pendidik Sekolah Internasional Indonesia. AISEI memiliki misi yaitu memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia mulai dari akar permasalahannya, memperkenalkan sistem pendidikan asing, meningkatkan profesionalisme serta mengembangkan kompetensi pendidik.

Logo AISEI

Pak Munif mengatakan bahwa secara fisik otak ada 3 yaitu otak reptile (suasana), limbic (emosi), dan neocortex (berpikir). Dan ketiganya harus dipenuhi agar mampu sampai pada neocortex-otak untuk berpikir.

 Otak reptil yang mengatakan bahwa seseorang memutuskan tetap berada di suasana pembelajaran atau pergi dari sana.

Kalau otak reptile dipuaskan, maka ilmu yang diberikan guru akan ditangkap dengan baik pula oleh limbic dan neocortex pula.

Pokoknya anak nggak boleh stress. Nah, berikut ini yang bisa dilakukan guru untuk memuaskan otak reptile.

Rahasia memuaskan otak reptile adalah anak dibuat menyenangkan, bisa tertawa, dan lainnya. Hal ini bisa dilakukan dengan 4 cara yaitu:

  1. Joyfull Learning dengan menggunakan warna, gambar, atau ice breaking. Kalau guru mengajar menggunakan powerpoint maka banyakin warna, gambar, dan ice breaking.
  2. Apersepsi ini adalah memberikan pengalaman atau pengantar sebelum belajar

Scene setting : memberikan pengalaman atau pengantar sebelum belajar yang berhubungan dengan materi

Motivasi : pengantar sebelum belajar yang tidak berhubungan dengan materi

 

  1. Student center learning

Dengan melakukan engagement, do it, dan feedback.

Kalau guru memberikan materi lalu siswa melakukan do it, maka hasilnya direkam, publikasi, dan apresiasi. Hal ini sangat mudah dilakukan oleh siswa karena mereka mayoritas sangat menguasai teknologi. Publikasi bisa dilakukan di medsos siswa atau sekolah. Guru juga jangan pelit mengapresiasi. Guru juga bisa meminta siswa saling mengapresiasi. Bahkan orang tua juga bisa mengapresiasi.

Percayalah bahwa anak butuh pengakuan. Dia akan sangat senang kalau dia apresiasi.

Menggunakan Alpha Zone

Ini rahasia untuk membuka pembelajaran agar bisa menyenangkan. Bisa dilakukan di awal atau tengah-tengah materi. Asal siswa tertawa, itu sudah alpha zone. (Lalu Pak Munif memberikan contoh beberapa alpha zone berupa tebak-tebakan).

Mengajarkan kejujuran bukanlah dengan mengajarkan bahwa kejujuran adalah… bentuk-bentuk kejujuran adalah… nggak seperti itu.

Video motivasi juga bisa untuk apersepsi. Di internet banyak sekali. Kalau guru kreatif, bisa menemukan banyak apersepsi untuk pembelajaran.

Apersepsi atau ice breaking untuk memuaskan otak reptile, pintu pertama pemahaman ilmu. Kalau guru kreatif, bisa jadi bagian inilah yang sangat ditunggu oleh siswa. Bisa juga untuk Ice breaking ini dibagi-bagi siswa. Siswa membuat ice breaking yang kemudian ditampilkan saat pembelajaran.

Jangan ragu untuk mencoba ice breaking. Lakukan saja dulu. Selain itu, Ice breaking ngak selalu, nggak itu-itu. Agar siswa tidak bosan.

Student Center Learning

Nah, rahasia ini dilakukan oleh siswa. Ya, agar siswa juga aktif, maka siswa harus dilibatkan. Bahkan apapun strateginya, sebaiknya siswa dilibatkan. Baik itu melakukan atau membuat sesuatu atau makes something.

Nah, kalau siswa dilibatkan biasanya pembelajaran sangat menyenangkan.

Contohnya bisa dilakukan dengan parodi. Jadi materi pembelajaran diringkas oleh siswa dengan lagu tertentu. Di sini Pak Munif juga memberikan contoh.

 

Mind Map

Siswa membuat mind map dari materi pembelajar. Hasil mind map didokumentasikan, publikasikan, dan diapresiasi. Mulai dari sekarang, ayo coba membuat mind map dari pembelajaran. 

Lakukan Refleksi, Itu Pasti

Refleksi penting dilakukan untuk menyimpulkan pembelajaran yang dilakukan. Tidak global, tapi bagian terbanyak. Guru bertanya ke siswa bagian mana yang sudah dipahami, dan bagian mana yang belum dipahami.

Bagian terbanyak yang belum dipahami bisa dijadikan warmer untuk pembelajaran selanjutnya.

Nah, demikian resume acara yang saya buat. Tentu saja jauh dari sempurna. Webinar yang lengkap dapat Anda simak di akun Youtube AISEI.

 

Dokumentasi webinar Munif Chatib

Dokumentasi webinar bersama Munif Chatib

#AISEI #InspirAction #RahasiaMengajarMenyenangkan #MunifChatib

Begini Aturan Pakaian Seragam dan Atribut di Sekolah Negeri

Begini Aturan Pakaian Seragam dan Atribut di Sekolah Negeri

Pemerintah Terbitkan Keputusan Bersama Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan pada Sekolah Negeri

Jakarta, 3 Februari 2021 — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Kementerian Agama (Kemenag), menerbitkan Keputusan Bersama tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan di Lingkungan Sekolah yang Diselenggarakan Pemerintah Daerah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Keputusan ini merupakan wujud konkret komitmen pemerintah dalam menegakkan “Bhinneka Tunggal Ika”, membangun karakter tolerasi di masyarakat dan menindak tegas praktik-praktik pada sektor pendidikan yang melanggar semangat kebangsaan tersebut.

Dalam peluncuran yang diselenggarakan secara daring pada Rabu (3/2) di Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menguraikan tiga hal penting yang menjadi pertimbangan dalam menyusun SKB tiga Menteri ini. Pertama, bahwa sekolah memiliki peran penting dan tanggung jawab dalam menjaga eksistensi ideologi dan konsensus dasar bernegara, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika; serta membangun dan memperkuat moderasi beragama dan toleransi atas keragaman agama yang dianut peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.

“Kedua, sekolah berfungsi untuk membangun wawasan, sikap, dan karakter peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan untuk memelihara persatuan dan kesatuan bangsa. Serta membina dan memperkuat kerukunan antar umat beragama,” terang Mendikbud Nadiem.

Yang ketiga, pakaian seragam dan atribut bagi peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di lingkungan sekolah yang diselenggarakan pemerintah daerah merupakan salah satu bentuk perwujudan moderasi beragama dan toleransi atas keragaman agama, tambah Mendikbud.

Enam keputusan utama dari aturan ini di antaranya adalah 1) keputusan bersama ini mengatur sekolah negeri yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah (Pemda); 2) peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan berhak memilih antara: a) seragam dan atribut tanpa kekhususan agama, atau b) seragam dan atribut dengan kekhususan agama.

“Hak untuk memakai atribut keagamaan adanya di individu. Individu itu adalah guru, murid, dan tentunya orang tua, bukan keputusan sekolah negeri tersebut,” imbuhnya.

Selanjutnya, 3) Pemda dan sekolah tidak boleh mewajibkan ataupun melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama; 4) Pemda dan kepala sekolah wajib mencabut aturan yang mewajibkan atau melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak keputusan bersama ini ditetapkan.

“Implikasinya, kalau ada peraturan yang dilaksanakan baik sekolah maupun oleh Pemda yang bertentangan dengan aturan ini, dalam waktu 30 hari maka aturan tersebut harus dicabut,” tegas Mendikbud.

Kemudian, 5) jika terjadi pelanggaran terhadap keputusan bersama ini, maka sanksi yang akan diberikan kepada pihak yang melanggar yaitu: a) Pemda memberikan sanksi kepada kepala sekolah, pendidik, dan/atau tenaga kependidikan, b) gubernur memberikan sanksi kepada bupati/walikota, c) Kemendagri memberikan sanksi kepada gubernur, d) Kemendikbud memberikan sanksi kepada sekolah terkait BOS dan bantuan pemerintah lainnya.

“Tindak lanjut atas pelanggaran akan dilaksanakan sesuai dengan mekanisme dan perundang-undangan yang berlaku. Ada sanksi yang jelas bagi pihak yang melanggar,” lanjut Mendikbud.

Terakhir, 6) peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan beragama Islam di Provinsi Aceh dikecualikan dari ketentuan keputusan bersama ini sesuai kekhususan Aceh berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait pemerintahan Aceh.

Keputusan Bersama Tiga Menteri ini dirancang untuk dapat menegakkan keputusan-keputusan terkait yang telah ditetapkan sebelumnya serta melindungi hak dan kewajiban warga masyarakat Indonesia terutama peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan di sekolah negeri.

Mencintai Keberagaman Sejak Dini

Dalam paparannya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan, dunia pendidikan harus menjadi lingkungan yang menyenangkan. Kunci keberhasilan suatu bangsa terletak kualitas SDM yang bersifat komprehensif. Tidak hanya terletak pada penguasaan hal teknis tapi juga moralitas dan integritas, salah satunya adalah toleransi dalam keberagaman.

“Sekolah sejatinya juga mempunyai potensi dalam membangun sikap dna karakter peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan untuk menyemai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Toleransi dan menjunjung tinggi sikap menghormati perbedaan latar belakang agama dan budaya suatu keniscayaan dan realitas bagi bangsa kita,” terang Mendagri Tito Karnavian.

Dengan diterbitkannya keputusan bersama ini, Pemda diharapkan dapat mengambil langkah-langkah penyesuaian. “Bagi yang tidak sesuai, mohon untuk segera menyesuaikan karena ada sanksi bagi yang tidak sesuai,” tegas Mendagri.

“Kemendagri memberi perhatian penuh terhadap kualitas pendidikan yang berkarakter sesuai nilai-nilai Pancasila agar tercipta karakter peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan yang menjunjung tinggi toleransi, sikap saling hormat-menghormati di tengah berbagai perbedaan latar belakang dan budaya,” imbuh Tito Karnavian memberi penekanan.

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengungkapkan, masih banyak sekolah yang memperlakukan anak didik dan tenaga pendidik yang tidak sesuai dengan Keputusan Bersama Tiga Menteri ini. Seyogyanya, agama bukan menjadi justifikasi untuk bersikap tidak adil kepada orang lain yang berbeda keyakinan.

“Lahirnya Keputusan Bersama Tiga Menteri ini sebagai upaya kita untuk mencari titik persamaan dari berbagai perbedaan yang ada di masyarakat kita. Bukan memaksakan supaya sama tapi masing-masing umat beragama memahami ajaran agama secara substantif bukan hanya simbolik,” terang Menag.

“Memaksakan atribut agama tertentu kepada yang berbeda agama, saya kira itu bagian dari pemahaman (agama) yang hanya simbolik, Kita ingin mendorong semua pihak memahami agama secara substantif,” tegasnya.

Salah satu indikator keberhasilan moderasi beragama dalam kehidupan masyarakat Indonesia dijelaskan Menag terletak pada toleransi, harmonisasi umat beragama melalui perlindungan hak sipil dan hak beragama, serta mengukuhkan kerukunan sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2020 tentang RPJMN 2020-2024. “Oleh karena itu, Kemenag terlibat aktif dalam penerbitan SKB ini,” katanya.

Adapun peran Kemenag dalam SKB Tiga Menteri ini adalah melakukan pendampingan dan penguatan pemahaman keagamaan dan praktik beragama yang moderat ke pemerintah daerah dan/atau sekolah yang tidak melaksanakan ketentuan dalam SKB Tiga Menteri. Kemenag juga dapat memberikan pertimbangan untuk pemberian dan penghentian sanksi kepada Kemendagri dan Kemendikbud terkait pemda dan/atau sekolah yang tidak melaksanakan ketentuan dalam SKB Tiga Menteri.

“Keputusan Bersama Tiga Menteri ini adalah kiat pemerintah dalam hal ini Kemendikbud, Kemendagri dan Kemenag untuk terus menerus mengupayakan kehidupan berbangsa dan bernegara untuk Indonesia yang lebih baik,” jelas Menag.

Acara pengumuman Keputusan Bersama Tiga Menteri dihadiri oleh perwakilan lembaga negara serta organisasi masyarakat. Turut hadir Hetifah Sjaifudian, Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI); Agus Sartono, Deputi bidang Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK); Rita Pranawati, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI); para pejabat dari Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Selain itu hadir perwakilan dari organisasi guru dan tenaga kependidikan, organisasi keagamaan, serta organisasi terkait kependidikan lainnya, di antaranya Arifin Junaidi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saur Hutabarat dari Badan Musyawarah Perguruan Swasta, Heny Supolo dari Yayasan Cahaya Guru, Eva Latifah dari Persatuan Guru Republik Indonesia, David Tjandra dari Perkumpulan Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia, Vinsensius Darmin Mbula dari Majelis Nasional Pendidikan Katolik, Fahrisa Marta dari Federasi Serikat Guru Indonesia, Hermin Tri Prasetyowati dari Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

Untuk aduan dan pelaporan terkait pelanggaran SKB, masyarakat dapat menghubungi Unit Layanan Terpadu (ULT), Gedung C, Lantai Dasar, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, 10270; atau menghubungi pusat panggilan: 177, Portal ULT: http://ult.kemdikbud.go.id/, email: pengaduan@kemdikbud.go.id, maupun Portal Lapor: http://kemdikbud.lapor.go.id

“Untuk memonitor pelaksanaan kebijakan ini, masyarakat harus terlibat didalamnya. Terkait pelanggaran, silakan mengadukan ke ULT, Pusat Panggilan 177, Portal ULT, Portal Lapor, dan platform lainnya. Di mana nanti secara terpusat akan kami monitor untuk memastikan pelanggaran ini tidak terjadi,” tutup Mendikbud.

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Laman: www.kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

Macam-macam Perpindahan Kalor

Macam-macam Perpindahan Kalor

  1. Konduksi

Konduksi adalah perpindahan panas melalui zat padat yang tidak ikut mengalami perpindahan. Artinya, perpindahan kalor pada suatu zat tersebut tidak disertai dengan perpindahan partikel-partikelnya.

Contoh:

  • Benda yang terbuat dari logam akan terasa hangat atau panas jika ujung benda dipanaskan, misalnya ketika memegang kembang api yang sedang dibakar.
  • Knalpot motor menjadi panas saat mesin dihidupkan.
  • Tutup panci menjadi panas saat dipakai untuk menutup rebusan air.
  • Mentega yang dipanaskan di wajan menjadi meleleh karena panas.
Contoh Peristiwa Konduksi

2) Konveksi

Konveksi adalah perpindahan panas melalui aliran yang zat perantaranya ikut berpindah. Jika partikel berpindah dan mengakibatkan kalor merambat, terjadilah konveksi. Konveksi terjadi pada zat cair dan gas (udara/angin).

Contoh:

  • Gerakan naik dan turun air ketika dipanaskan.
  • Gerakan naik dan turun kacang hijau, kedelai dan lainnya ketika dipanaskan.
  • Terjadinya angin darat dan angin laut.
  • Gerakan balon udara.
  • Asap cerobong pabrik yang membumbung tinggi.
Contoh konveksi (sumber: wonderfulengineering.com)

3) Radiasi

Perpindahan kalor tanpa zat perantara merupakan radiasi. Radiasi adalah perpindahan panas tanpa zat perantara. Radiasi biasanya disertai cahaya.

Contoh radiasi:

  • Panas matahari sampai ke bumi walau melalui ruang hampa.
  • Tubuh terasa hangat ketika berada di dekat sumber api.
  • Menetaskan telur unggas dengan lampu.
  • Pakaian menjadi kering ketika dijemur di bawah terik matahari.
Contoh radiasi (sumber: cuacajateng.com)
Materi Relasi dan Fungsi matematika Kelas X SMA

Materi Relasi dan Fungsi matematika Kelas X SMA

Pengertian Relasi dan Fungsi

Relasi adalah suatu aturan yang memasangkan anggota himpunan satu ke himpunan lain. (Satu anggota himpunan A bisa memiliki dua atau lebih pasangan di himpunan B).

Sedangkan Fungsi adalah setiap anggota himpunan daerah asal memiliki pasangan dan hanya tepat satu dipasangkan dengan daerah kawannya.

Kesimpulannya, setiap relasi belum tentu fungsi, namun setiap fungsi pasti merupakan relasi.

Kesimpulannya, setiap relasi belum tentu fungsi, namun setiap fungsi pasti merupakan relasi.

Relasi bisa digambarkan dalam beberapa bentuk yaitu:

(Gambar 1 : Cara-cara menggambarkan relasi)

Mengenal Domain (Df), Kodomain (Kf), dan Range (R).

Domain (Df) adalah daerah asal. Dari gambar di atas, Domain (Df) adalah (0,1,2,5)

Kodomain (Kf) adalah daerah kawan. Dari gambar di atas, Kodomain (Kf) adalah (1,2,3,4,6)

Range (R) adalah daerah hasil. Dari gambar di atas, Range (Rf) (1,2,3,6)

 

Narman, Pemuda Suku Baduy Meneroka Keterbatasan Berkontribusi untuk Keluarga dan Lingkungan

Narman, Pemuda Suku Baduy Meneroka Keterbatasan Berkontribusi untuk Keluarga dan Lingkungan

Narman, Pemuda Suku Baduy

Meneroka Keterbatasan Berkontribusi untuk Keluarga dan Lingkungan

Internet telah berkembang pesat. Dengan menggunakan internet, usaha maju melesat. Suku Baduy menolak penggunaan teknologi dalam kehidupannya. Lalu, bagaimana Narman memanfaatkan internet untuk memajukan usaha kerajinan Suku Baduy? Bagaimana pula perjuangan Narman menaklukkan akses jalan yang sulit?

Suku Baduy merupakan suku yang masih memegang teguh kepercayaan dan adat dari para leluhurnya. Mereka memiliki kebudayaan yang sulit terkontaminasi dunia luar. Mereka sulit menerima pembaruan dan kemajuan teknologi. Termasuk perkembangan internet.

Suku Baduy mendiami wilayah pegunungan Kendeng, desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Mereka dibedakan menjadi suku Baduy Dalam dan suku Baduy Luar. Ciri khas Suku Baduy Dalam relatif menggunakan pakaian yang didominasi warna putih. Ikat kepala juga warna putih. Mereka hidup tanpa listrik, elektronik dan internet.

Sedangkan suku Baduy Luar menggunakan pakaian serba hitam atau biru donker. Mereka sudah hidup berdampingan dengan listrik, elektronik dan internet.

Aktivitas utama Suku Baduy adalah bercocok tanam dan bertenun. Mereka membuat kerajinan tangan seperti kain tenun, gelang handam, tas kepek, tas koja, dan lainnya. Suku Baduy dikenal dengan kesederhanaannya dengan melarang penggunaan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari bahan-bahan modern. Sehingga semuanya dibuat dengan bahan-bahan alami yang di dapatkan dari hutan di sekitar tempat mereka tinggal.

Narman (30) merupakan sosok pemuda suku Baduy Luar yang memandang pentingnya untuk menggunakan internet. Bukan hanya untuk menopang aktivitas ekonomi tetapi juga mengenalkan kebudayaan suku Baduy kepada masyarakat luas hingga ke negara lain.

Lalu, bagaimana Narman belajar internet? Padahal, dia ‘kan tidak mendapatkan pendidikan formal lewat sekolah?

Merupakan Sosok Pembelajar

Belajar Internet Secara Otodidak

 

Narman belajar banyak hal tentang internet. Mulai dari pemanfaatan media sosial seperti facebook, instagram, website, marketplace, atau toko online. Narman pun belajar tentang algoritma pencarian, SEO, keyword, dan lainnya. Dia belajar secara otodidak.

Selain itu, dia bergabung dalam komunitas jualan online. “Ini membantu kita supaya untuk menambah ilmu, bertukar wawasan dan berdiskusi tentang digital marketing” katanya.

Narman memanfaatkan instagram untuk lapaknya berjualan dengan akun @baduycraft, memanfaatkan website www.baduycraft.com. Ya, ini Baduy Craft menjadi branding-nya.

Untuk memasarkan secara online, dia butuh akses internet. Padahal di rumahnya tidak ada akses internet. Nah, untuk mendatkannya, Narman harus berjalan sejauh 3 kilometer dari tempat tinggalnya ke daerah Ciboleger. Daerah ‘terdekat’ yang mendapat akses internet.

Dan perjalanan itu ditempuh dengan berjalan kaki selama satu jam. Sampai di tujuan, kadang ada pesanan, kadang tidak ada. Kalaupun ada pesanan, tugas Narman selanjutnya tak kalah berat.

Narman harus kembali ke Kanekes untuk menyiapkan pesanan itu. Jadi, untuk pulang pergi, total jarak yang dia tempuh adalah 6 kilometer atau dua jam lamanya.

Belum lagi dia harus ke jasa pengiriman. Perjalanan sekitar satu jam lamanya. Selain jauh, akses jalannya juga cukup sulit. Tapi itu dijalaninya dengan telaten.

 “Narman membangun Baduy Craft bukan hanya untuk jualan. Tapi juga mengenalkan budaya Suku Baduy. Tentang konsep hidup sederhana dan menjaga keseimbangan alam” ujarnya mantap.

Hal itu juga memotivasi berbuat lebih banyak untuk keluarga dan lingkungan.

Narman juga sering mengikuti berbagai pameran baik yang diadakan di Banten maupun di luar Banten. Pameran yang diadakan oleh swasta, BUMN, atau kementerian. Semakin banyak iven diikuti semakin banyak pula ilmu dan pengalaman yang didapatnya.

“Pameran merupakan kesempatan untuk mengenalkan budaya Suku Baduy kepada pengunjung. Di beberapa pameran bahkan ada demo membuat kain tenun Baduy” terangnya.

Berbicara di depan juri SATU Indonesia Award (sumber: IG baduycraft)

Mengikuti pameran kerajinan seni budaya  di Jakarta Convention Center (sumber: IG baduycraft)

Aksi penenun cilik suku Baduy di Summarecon Mall, Serpong (sumber: IG baduycraft)

Mengikuti pameran di Auditorium Adhiyana (sumber: IG baduycraft)

Perjalanan Meraih Penghargaan

SATU Indonesia Awards

Apa yang dilakukan Narman memang bukan hal yang umum untuk suku Baduy. Namun hal ini diyakininya agar menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga dan masyarakat di lingkungannya pula.

Menggunakan internet bagi orang umum mungkin tidak sulit. Namun, bagi Narman itu merupakan hal yang baru. Baginya itu tidak mudah.

“Pada awal 2016 lalu mulai merintis dari marketplace. Ada Suku Baduy tapi pakai internet atau toko online untuk memasarkan kerajinannya itu dianggap unik.” 

“Saat pameran di Jakarta Convention Center ada seorang wartawan yang menawarkan untuk ikut SATU Indonesia Awards, program CSR-nya ASTRA. Tertarik sih. Tapi nggak ngerti bagaimana ikutnya. Akhirnya dibantu oleh wartawan tadi. Dulu mengisi formulir dan submit pendaftaran saja cukup bingung.”

Dengan berbagai kesulitan yang dihadapi akhirnya Narman sampai juga di Menara ASTRA untuk mengikuti rangkaian Satu Indonesia Awards.

Yang paling mendebarkan adalah sesi presentasi. Narman presentasi di hadapan para juri seperti yaitu Prof. Emil Salim, Prof. Fasli Jalal, dan Onno W. Purbo, Ph.D.

“Senang sekali bisa bertemu dengan tokoh-tokoh besar. Semua juri membuat saya terkesan. Termasuk bertemu Onno W. Purbo sebagai bapak internet Indonesia.”

Berbagai pertanyaan diajukan oleh juri pada saat itu dijawab dengan lugas oleh Narman. Pada akhirnya Narman menjadi juara pada ajang SATU Indonesia Awards 2018 yang diadakan oleh PT Astra International Tbk. Untuk untuk kategori kewirausahaan.

Foto: dokumentasi Narman

 

“Adat Baduy adalah menjaga keseimbangan. Adat Baduy ini sangat penting agar dikenal oleh orang luar. Karena itu saya memanfaatkan internet untuk mengenalkan Budaya Baduy.”

Setelah mendapatkan SATU Indonesia Awards, apa pengaruhnya penghargaan itu bagi Narman?

“Rasa percaya diri meningkat. Sosok yang banyak kekurangan ini diakui di pentas nasional. Saya jadi semakin bangga dan bersemangat mengenalkan budaya Baduy ke masyarakat luas. Harapan saya meningkat pula perekonomian masyarakat di sini.”

Penghargaan itu semakin memotivasinya untuk terus berkarya.

“Banyak yang tertarik. Ada yang mendatangi saya untuk sharing digital marketing, ada pula saya yang mendatangi. Berbagi.”

“Bukan hanya mengenalkan budaya Baduy saja tetapi memajukan lingkungan dan bangsa. Karena dengan menjaga dan memajukan lingkungan, dengan sendirinya memajukan bangsa” terangnya.

 “Acara di sana sangat besar-besaran. Pas banget untuk anak muda-lah” kenangnya. Sejumlah uang penghargaan yang diterimanya digunakan untuk memajukan usahanya.

Setelah acara dari sana, bukan berarti sudah selesai. Ya, Narman dan penerima SATU Indonesia Awards lainnya masih mendapatkan pembinaan.

“Ada grup WhatsApp penerima  SATU Indonesia Awards. Semua dari tahun ke tahun ada di sana. Masih ada pembinaan. Kalau ASTRA ada acara, semisal kampung berseri ASTRA, kami para masih diajak untuk dilibatkan” jelasnya.

Dari sana cakrawala pemikirannya semakin terbuka. Ada banyak ilmu pengetahuan yang bisa digunakan untuk memajukan kehidupan manusia dan mendukung pelestarian budaya.

“Penghargaan ini nggak ada artinya kalau saya tak bisa memberikan apa-apa untuk lingkungan. Harapan saya akan banyak lagi anak bangsa yang peduli dengan budaya, alam, dan lingkungannya,” tegasnya.

Diakuinya, lewat komunitas itu semakin berkembang dan meluas pengetahuannya. Ada banyak sharing informasi berbagai gebrakan yang dilakukan penerima SATU Indonesia Awards lainnya.

Menilik berbagai kerajinan yang dipasarkan ada banyak produk milik masyarakat Baduy yang dibeli langsung atau sistem konsinyasi. Motivasinya adalah menggerakkan dan meningkatkan perekonomian masyarakat Baduy utamanya lingkungan terdekat dengannya.

Tenun baduy memiliki nilai-nilai dan prinsip hidup sederhana, kesederhanaan itu di percaya akan membawa kita pada kenyamanan, kedamaian dan kesejukan hati.

6 Fakta tentang Sosok Narman

1. Narman tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Narman mengikuti ujian paket B, penyetaraan ijazah SMP

2. Narman telah memenangi 20-an lomba lari. Ya, Narman memang menyukai lari. Berbagai ajang lari telah diikuti baik di Banten maupun provinsi lainnya.

3. Narman pernah menjadi pembicara di depan mahasiswa di sebuah kampus. Berbagi ilmu dengan para mahasiswa yang secara pendidikan lebih tinggi darinya.

4. Sejak kecil rajin mendengar siaran radio Elshinta. Ini pula yang mempengaruhi pengetahuannya.

5. Kutu buku. Narman sejak kecil suka membaca buku apa saja. Bisa dibilang kutu buku. Banyak ilmu pengetahuan yang didapatnya dari membaca. Misalnya siklus hujan yang dipahaminya sebagai proses alam. Di rumahnya ada perpustakaan keluarga.

Sebentar, kira-kira pembaca kebayang nggak lokasi Suku Baduy ini? Supaya kebayang, ini dia rute dan jarak menuju ke sana. Asumsi perjalanan pakai mobil ya.

Jakarta-Serang : 88 Km (1 jam 23 menit.)
Serang – Rangkasbitung : 38 Km 1 jam 10 menit
Rangkasbitung-Ciboleger : 41 km (1 jam 12 menit).

6. Pembelajar otodidak. Berbagai skill dan prestasinya itu didapat secara otodidak.

7. Sekolah di rumah. Meskipun tak mengenal pendidikan formal di sekolah, Narman sekolah di rumah. Ya, bagi suku Baduy, sekolah mereka berada di rumah. Orangtua dan masyarakatlah yang menjadi gurunya.

8. Narman menguasai publik speaking dengan baik. Saat berbicara penuh percaya diri.

Bersama Prof. Emil Salim, salah satu juri SATU Indonesia Awards. Foto: Narman

Berkat menjual secara online itulah pasar semakin meluas. Banyak pesanan dari berbagai daerah yang memang meminati kerajinan khas Baduy.

“Pemesannya paling jauh dari Papua. Tas koja suku Baduy juga sampai bertualang ke Jepang,” terang bapak dari dua anak ini.

Kesulitan bisa diubah menjadi tantangan dan peluang. Ketiadaan internet bisa dicari atau diatasi. Jauhnya perjalanan bisa ditempuh. Sulitnya medan bisa ditaklukkan.

Narman telah membuktikan bahwa kemauan, kerja keras, dan optimisme bisa meneroka berbagai keterbatasan. Mengasah skill dengan otodidak, haus dengan ilmu, memanfaatkan komunitas, dan jeli melihat peluang.

Dengan itu dia berhasil menggapai impian-impiannya. Bahkan berbagai prestasi telah ditorehkannya. Semoga bangsa ini semakin banyak memiliki Narman-Narman lainnya agar bangsa ini semakin tumbuh dan maju. (*)

#SemangatMajukanIndonesia #KitaSATUIndonesia

Pentingnya Mendampingi Anak Dalam Pembelajaran Daring

Pentingnya Mendampingi Anak Dalam Pembelajaran Daring

Daring..dariing…daring. di masa pandemi akibat Covid-19 ini istilah daring jadi populer. Biasanya merujuk ke istilah pembelajaran daring. Ya, akibat covid-19 itu sekolah tidak ada pembelajaran tatap muka, tapi diganti dengan pembelajaran jarak jauh. Salah satu bentuknya adalah pembelajaran daring…

Siapa yang merasa kewalahan saat pembelajaran daring? Hayo… ngaku! Kalau nggak ngaku, biar saya yang ngaku aja lah. Hehe…

Ya, saya cukup kewalahan dengan pembelajaran daring. Apalagi saya mengajar matematika. Lha wong saat pembelajaran tatap muka saja saya susah mengajari anak. Apalagi pembelajaran daring yang susah juga memahamkan tentang materi.

 Nah, harus ada strategi dan pemahaman yang pas agar pembelajaran daring bisa lebih efektif. Bukan hanya untuk guru agar nyaman mengajar tapi juga agar siswa menjalani pembelajaran dengan senang hati dan gembira. Bisakah?

Ternyata bisa. Saya merasa yakin setelah mengikuti webinar yang diadakan sore ini, Sabtu (19/12/2020). Acara yang dimulai pukul 16.00 WIB ini diprakarsai oleh AISEI. AISEI (The Association for International minded School Education for Indonesia) adalah sebuah Komunitas Pendidik di Indonesia yang memiliki misi yaitu memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia mulai dari akar permasalahannya, memperkenalkan sistem pendidikan asing, meningkatkan profesionalisme serta mengembangkan kompetensi pendidik.

Hm, dilihat dari judul materinya, sudah memberikan kesan mendalam. Learning Support During Pandemic. Aha….ini yang saya cari-cari sejak dulu nih.

Sharing session keren ini diadakan oleh ASEI yang menghadirkan speaker Kurnia Mega, M.Psi. seorang psikolog yang telah melalang buana memberikan pendampingan di ranah pendidikan.

Menurut Bu Kurnia Mega, seorang guru harus memahami kondisi anak. Ada anak yang mengalami kesulitan belajar atau gangguan belajar. Kesulitan belajar dan gangguan belajar merupakan dua hal yang berbeda.

Kondisi saat ini:

(√) Pembelajaran dilakukan sebagai pembelajaran Jarak Jauh/PJJ online

(√) Orang tua menjadi guru di rumah

(√) Anak mulai bosan dan stress berada di rumah

(√) Orang tua bingung dan stress mendampingi belajar anak

(√) Guru berusaha mengubah pembelajaran dari tatap muka menjadi daring

(√) Mulai terlihat kesulitan kesulitan belajar yang ditunjukkan anak.

Ada banyak kasus kesulitan yang disebabkan oleh:

1. Kurangnya motivasi dan minat belajar

2. Sikap negatif terhadap guru atau pelajaran

3. Situasi belajar

4. Kebiasaan belajar yang salah

5. Atensi

Selama belajar daring ini ‘banyak’ atau ‘sangat banyak’ kesulitan? Hehe… Nah, kesulitan ini ternyata bisa disebabkan oleh beberapa hal ini.

 Kata Bu Kurnia Mega, penyebab munculnya kesulitan pelajar saat pandemi adalah:

(√) Durasi ketahanan anak di depan layar atau scan selama belajar

(√) Gaya belajar anak yang sebagian besar kinestetik dan visual auditori kinestetik taktil

(√) Situasi atau setting belajar di rumah yang berbeda dengan situasi belajar di sekolah

(√) Relationship dengan anak

Seorang guru perlu memilih dan memiliki teknik pembelajaran yang sesuai dengan modalitas dan gaya belajar anak. Hal ini akan membantu anak untuk lebih mudah dalam belajar dan meminimalkan kesulitan yang dihadapi saat belajar.

Karena materinya sangat pas dengan saya sebagai guru, pemaparan materinya sangat menarik dan membuat waktu tidak terasa cepat habis. Untungnya ada sesi tanya jawab. Jadi Bu Kurnia Mega bisa menambahkan hal-hal yang memang menjadi pertanyaan bahkan keluhan guru atau orang tua.

Membangun koneksi dan empati dengan anak. Guru harus rajin menyapa siswa, menanyakan kabarnya, dan sering mendengar siswa. “Anak seneng sekali lho didengarkan. Dengarkan perasaan mereka. Dampingi anak merasa diperhatikan.”

Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Jangan salah, dengan situasi yang fun dan playful membuat anak-anak belajar lebih mudah. Kasih game di sela-sela pembelajaran. Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Bahkan hal ini bisa dilakukan bukan hanya saat pandemi saja.”

Sesi foto bersama

Bu Dita, sang moderator sharing session

Bener-bener keren acara ini. Yang tak kalah kerennya, AISEI Care bilang akan memberikan handphone kepada siswa/guru yang membutuhkan handphone untuk menunjang belajar daring.

Terima kasih sudah silaturahim di blog saya ya. Semoga bermanfaat.

#AISEI #InspirAction #ABK #SpecialNeedStudent #KurniaMega

Ayo Jaga Diri Dari Pelecehan Siber

Ayo Jaga Diri Dari Pelecehan Siber

Ayo Jaga Diri Dari Pelecehan Siber

Gaya pacaran remaja saat ini banyak yang kebablasan. Ada istilah PAP. Sebetulnya, maksud PAP (Post A Picture) diminta menunjukkan gambar. Tapi  bergeser maknanya. Seorang cowok yang meminta cewek mengirimkan foto bagian terlarangnya. Biasanya dengan kalimat bujukan lalu ancaman putus pacaran. Si cewek yang takut diputusin lalu menuruti permintaan cowoknya.

Padahal ini sangat berbahaya. Karena rawan tersebar ke banyak orang. Baik secara disengaja atau tidak disengaja. Bisa jadi temannya yang menyebarkan foto tersebut.

Akhirnya anak perempuan yang malu karena fotonya tersebar. Padahal, kalau sudah tersebar susah dihapus. Jejak digital di dunia maya sulit dihapus atau bahkan tidak mungkin dihapus.

Saya seorang guru. Yang saya lakukan adalah mengedukasi siswa tentang bahaya ini. Saya katakan agar jangan pernah mau diminta foto tersebut oleh siapapun.

Ada istilah Revenge Porn yaitu menyebarkan konten seksual yang menampilkan korban. Biasanya dilakukan dengan motif balas dendam karena pelaku tidak terima diputuskan hubungannya.

Tidak ada jaminan hubungan pacaran itu akan lama atau dibawa sampai menikah. Bisa-bisa menyesal seumur hidup.

Ternyata, hal di atas merupakan salah satu bentuk kekerasan seksual, lho.

Menurut Maria Ulfah Anshor, salah satu pemateri Webinar 15 Anti Kekerasan Berbasis Gender yang diadakan oleh Cerdas Berkarakter Kemendikbud RI, mengatakan bahwa hal seperti itu bisa masuk pada pelecehan siber atau pornografi siber sebagai salah satu jenis Kekerasan Berbasis Gender Siber (KBGS).

Dari 97 aduan kekerasan terhadap perempuan dalam ranah siber yang diterima oleh Komnas Perempuan, respon merupakan kasus yang paling sering ditemui yaitu sebesar 33%. Hm, apalagi di masa pandemi begini yang makin sering menggunakan digital. Pasti lebih rawan.

Menyimak webinar itu jadi tahu bahwa dampak kekerasan seksual terhadap perempuan sangat besar. Korbannya mengalami trauma panjang, bisa seumur hidup mereka, dan mengalami stigma negatif dari masyarakat.

Dampaknya bukan hanya pada individu tetapi juga terhadap keluarga masyarakat negara. Jika korban tidak terpulihkan secara optimal dipastikan perempuan korban pun tidak akan maksimal berperan aktif dalam pembangunan nasional.

Tanggung Jawab Bersama

Orang tua harus memberikan penguatan pada anak agar bijaksana menggunakan internet. Generasi muda hendaknya memilih konten positif saat aktif di media sosial. Kalau Mas Indra Brasco, dia belum mengizinkan anaknya bermedia sosial sebelum umur 13 tahun. Sebelum umur tersebut masih harus dilakukan pendampingan.

Orang tua harus terus meng-up grade pengetahuan tentang pola asuh. Sadar bahaya media sosial dan kemampuan menyikapinya. Orangtua harus dekat dengan anak agar bisa terbuka. Saat ada masalah dia bisa curhat ke orangtua untuk menemukan solusi. Orangtua bisa membantu anak keluar dari masalahnya.

Sebagai seorang guru, saya terus memotivasi siswa agar bertanggung jawab dengan kemudahan teknologi. Tentu saja ada positif dan negatifnya. Tergantung bagaimana menggunakannya.

Saya mengajak siswa untuk menyibukkan diri dengan kegiatan positif. Saya katakan “Kalau kita sibuk dengan kegiatan positif, nggak akan ada waktu buat melakukan kegiatan negatif.”

“Kalian begitu berharga. Jangan rendahkan diri dengan melakukan hal negatif yang membuat kalian menyesal. Hal negatif itu senengnya sesaat tapi menyesalnya berkepanjangan.”