Rawat Bumi, Cegah Pandemi Datang Lagi

Rawat Bumi, Cegah Pandemi Datang Lagi

Rawat Bumi, Cegah Pandemi Datang Lagi

Sudah satu tahun Pandemi COVID-19 melanda dunia. Di Indonesia, jutaan orang terpapar dan puluhan ribu orang meninggal. Covid-19 menyerang berbagai daerah di Indonesia. Tapi, tidak satu pun warga Suku Baduy yang terkonfirmasi positif. Padahal, wilayah terdekatnya banyak kasus positif Covid-19. Apa rahasianya Suku Baduy hingga bisa nol kasus Covid-19?

Sumber foto : www.republika.co.id

Suku Baduy merupakan suku yang masih memegang teguh kepercayaan dan adat dari para leluhurnya. Suku Baduy mendiami wilayah pegunungan Kendeng, desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten.

Aktivitas utama Suku Baduy adalah bercocok tanam dan bertenun. Mereka membuat kerajinan tangan seperti kain tenun, gelang handam, tas kepek, tas koja, dan lainnya. Suku Baduy dikenal dengan kesederhanaannya dengan melarang penggunaan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari bahan-bahan modern. Sehingga semuanya dibuat dengan bahan-bahan alami yang di dapatkan dari hutan di sekitar tempat mereka tinggal.

Suku Baduy memang menyimpan keunikan tersendiri. Saya beberapa kali mengunjunginya menjadi saksi betapa hebatnya budaya Suku Baduy. Kawasan mereka begitu asri, sejuk, dan segar. Tidak terlihat sampah berserakan seperti di daerah lain. Sebab mereka begitu menjaga lingkungan.

Lihat saja filosofi agung mereka: “Gunung teu meunang dilebur; Lebak teu meunang diruksak; Pendek teu meunang disambung; Lojong teu meunang dipotong. Artinya: Gunung Tidak Boleh Dihancurkan. Lebak jangan dirusak. Pendek tidak boleh disambung. Panjang tidak boleh dipotong.

Ketika Covid-19 menyerang dan memakan korban di berbagai daerah, di Suku Baduy masih nol kasus. Padahal, daerah-daerah di sekitarnya banyak terkonformasi. Hingga 10 April 2021 terdapat 3203 Orang dan 57 Orang meninggal di kabupaten Lebak, Banten yang tersebar di 28 kecamatan.

Dengan berbagai kemungkinan cara mereka menangkal Covid-19, filosofi merekalah yang paling menentukan. Masyarakat Suku Baduy konsisten menjaga dan melestarikan alam.

Lingkungan memberikan imbal balik sepadan kepada manusia. Lingkungan yang terjaga dengan baik akan memberikan manfaat kepada manusia berupa ketersediaan air, udara, bahan makanan, dan lainnya. Sebaliknya, lingkungan yang dirusak akan memberikan reaksi merusak pula.

Banjir bandang yang melanda Lebak di tahun 2020 lalu (foto : dokumen pribadi)

Sebagai contoh, di awal Januari 2020 lalu terjadi banjir di berbagai tempat di Indonesia. Salah satunya adalah di kabupaten Lebak. Banjir meluas hingga 18 kecamatan. Anehnya, banjir juga melanda sejumlah daerah yang selama puluhan tahun tidak pernah dilanda banjir.

Banyak orang mengatakan bahwa banjir terjadi akibat aktivitas tambang emas ilegal. Memang, di beberapa bukit di daerah terdampak banjir, terdapat penggalian tambang emas. Lubang-lubang tambang emas banyak terdapat di sana. Dan, banjir seperti seperti hendak membalas ulah tangan manusia tidak bertanggungjawab.

Kita tidak menyalahkan pihak mana pun. Kita harus introspeksi diri. Bisa jadi kita terlibat dalam perusakan alam yang memberikan dampak pada kita juga.

Dalam hidup ini berlaku hukum aksi reaksi. Hukum aksi reaksi ini juga berlaku pada lingkungan. Eksplorasi kekayaan alam tanpa batas dan tidak mengindahkan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan akan memberikan dampak kepada manusia itu sendiri.

Saya ambil contoh di daerah saya. Sekitar 15 kilometer dari tempat tinggal terdapat lokasi penggalian pasir. Sungai dikeruk. Berton-ton pasirnya diangkut puluhan truk. Selain itu, bukit berpasir juga dipapas. Tanah yang semula berbukit, menjadi rata dengan tanah di sekitarnya.

Aktivitas pembangunan memang memberikan sejumlah pemasukan untuk masyarakat sekitar, pemilik truk, dan pengusaha. Tapi dampaknya tidak kalah besar. Akibat over tonase truk, jalanan rusak. Meskipun sudah berkali-kali diperbaiki, kerusakan tak bisa dihindari. Jalan aspal hancur. Lalu jalan dicor. Kerusakan jalan menular di jalan aspal lainnya.

Belum lagi debu akibat jalan yang dilewati truk-truk pasir yang bisa menimbulkan radang pernapasan. Tidak sedikit warga yang menderita sakit gangguan saluran pernapasan. Belum lagi kebisingan yang ditimbulkan lalu lalang truk-truk pasir.

Tidak kalah miris jika kita dengar banyaknya masyarakat yang melakukan praktik tambang liar. Selain merusak lingkungan, tambang liar bisa juga menelan korban jiwa. Sebab pada umumnya tambang liar dilakukan tanpa prosedur keamanan yang memadai. Mereka menggunakan alat seadanya dengan tingkat keamanan yang rendah. Begitu mahal harga yang harus dibayar.

Rusaknya Lingkungan Akibat Peti

dan Uang Panas Yang Tak Pernah Puas

Salah satu kegiatan manusia yang mengarah pada perusakan lingkungan adalah pertambangan tanpa izin alias peti. Saya menjadi saksi hidup betapa peti ini sangat merusak lingkungan. Pada umumnya masyarakat menginginkan hasil yang instan. Peti memang cepat menghasilkan.

Beberapa tahun belakangan di daerah kampung saya marak peti. Tergiur hasil yang besar dalam waktu cepat, lading-ladang sawit ditambang. Ada pula masyarakat yang menyewakan. Banyak pula yang menjualnya. Toke yang berduit berani membeli lahan sawit dengan harga di atas normal.

Kalau normal harga lahan sawit antara Rp. 150 juta hingga Rp. 300 juta, toke berani membeli lahan dengan harga Rp. 500 juta untuk lahan potensial. Masyarakat yang tergiur dengan sejumlah uang pun tak pikir panjang untuk menjualnya.

Akibatnya pun fatal. Tanah di lahan sawit tak lagi subur. Tanahnya semakin gersang dan panas. Koral, batu, dan pasir naik ke permukaan. Begitulah dampak peti. Penggunaan merkuri untuk mengumpulkan emas juga merusak kesuburan tanah. Beberapa sawit tumbang. Setelah peti, lahan sawit kelihatan seperti padang batu.

Kerusakan Lingkungan, Manusia Bisa Jadi Korban

Sungai-sungai menjadi keruh. Airnya penuh lumpur. Bahkan mau cuci tangan saja tak tega rasanya. Sebab terlalu keruh tadi.

Ekosistem pun menjadi rusak. Cacing-cacing yang bermanfaat menjaga kesuburan tanah pergi dan mati. Hewan-hewan kecil juga tak bisa bertahan di lahan seperti itu. Rerumputan pun binasa. Lahan sawit semakin gersang.

Tidak gampang untuk menghentikan peti. Walaupun berkali-kali razia oleh pihak berwajib, pelaku peti masih lolos juga.

“Wah, peti mah nggak akan bisa dibasmi,” kata seorang teman yang kebetulan mampir ke rumah.

“Kenapa gitu?”

“Wes, pokok e angel, susah!”

Saya punya cerita sedih dengan kegiatan peti ini. Teman saya ikut dalam kegiatan peti. Sampai beberapa bulan lamanya. Badannya hitam legam karena sering berpanas-panasan. Tapi bukan itu yang membuat sedih.

Suatu hari saya dengar kabar bahwa teman saya meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Umurnya masih muda. Tapi sudah takdirnya mendahului saya.

Kabar mengatakan dia masuk angin duduk dalam bahasa orang-orang di kampung kami. Mungkin akibat terlalu sering berendam atau beraktivitas di dalam air.

Kerusakan lingkungan berdampak pada lingkungan dan manusia. Banjir bisa merusak permukiman, lahan pertanian, bahkan menelan korban jiwa. 

Virus Corona, Akibat Ulah Manusia

“Nggak kerasa ya, Covid-19 berulang tahun,”

“Maksudnya apa, Dek?” tanya saya pada istri di sore itu.

“Maksudnya, Covid-19 udah lewat satu tahun. Kita di rumah aja sudah setahun juga.”

“Oh iya ya. Sudah sekian lama juga Mas ngajar dari rumah. Enak nggak enak sih. Tapi lebih ribet kalau ngajar daring.”

Ngajar daring itu penuh dinamika. Ngajarnya mah cuma setengah jam, persiapannya berjam-jam. Tapi bukan itu saja, efektivitas pembelajaran lebih dipertimbangkan. Bagaimanapun belajar daring tidak sama kualitasnya dengan pembelajaran tatap muka. Jadi, kalau bisa memilih, saya memilih belajar tatap muka. Tapi, sering kali hidup bukan pilihan.

Seperti kondisi pandemi saat ini, mau tidak mau sudah dihadapkan dengan kondisi ini.

“Kabarnya Covid-19 ini ditularkan dari kelelawar ya Mas? Mas kan guru nih. Mungkin tahu informasinya,”

“Yang Mas baca gitu sih, Dek. Virus Covid-19 ini ditularkan dari kelelawar,” jawab saya.

Ternyata banyak penyakit yang muncul akibat ulah manusia. Bahkan, virus corona pun muncul akibat ulah manusia.

Matthew Burton, Direktur Kantor Lingkungan Hidup USAID Indonesia mengatakan satwa liar menjadi sumber penyakit menular baru (Emerging Infectious Disease/ EID) terbanyak. Publikasi ilmiah menyebutkan 60 persen EID berasal dari hewan dan 70 persen EID berasal dari satwa liar. Sebagai contoh, HIV diketahui berasal dari simpanse.

Di rumah, kami sering gregetan. Sebab peti semakin tidak terhentikan. Lalu, apa yang kami lakukan?

“Minimal, kita sendiri, nggak ikut-ikutan, Dek”

“Benar, Mas. Kalau nggak bisa mengubah orang lain, ya kita ubah diri kita sendiri,”

Untungnya kami tidak tergiur dengan ikut-ikutan menyewakan lahan sawit atau menjualnya. Padahal, lokasi lahan sawit kami letaknya dekat sungai. Biasanya, lahan seperti itu potensial dan dipastikan banyak emas.

Lahan kami pun sudah ditawar oleh banyak orang. Satu dua orang yang bertanya mau dijual apa tidak. Tapi kami menggeleng tegas. Orangtua kami pun begitu. nggak mau menyewakan atau menjualnya.

“Biarlah untung sedikit demi sedikit. Asal berkah. Merusak lingkungan itu nggak bagus,” tegas bapak kami.

Untungnya pula, bapak lebih paham daripada kami.

Tidak semua masyarakat yang berpikiran sempit dengan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan mengorbankan lingkungan. Masih banyak yang tegas merawat lingkungan, menghindarkan dari kerusakan. Dan kami termasuk di dalamnya.

Kalau banyak orang tidak peduli dengan lingkungan ya sebisa mungkin kami lakukan pendekatan. Mudah-mudahan mereka meniru apa yang kami lakukan.

Mudahnya Ikut Serta Menjaga Bumi Dari Rumah

Beberapa tanaman sayuran di halaman depan rumah

Pekarangan rumah yang dilantai paving block atau ubin memang terlihat rapi dan bersih. Tidak ada rumput kelihatan menyembul di sana-sini. Tapi sesungguhnya rumah seperti ini kurang ramah lingkungan. Tidak ada penghijauan di sana. Rumah seperti ini minim kontribusi oksigen. Selain itu, tidak ada resapan air atau biopori di sana.

Kebetulan kami suka dengan yang hijau-hijau. Nah, kami membiarkan halaman rumah agar tetap hijau, tidak melantainya dengan paving block atau ubin. Rumput tumbuh dengan subur. Udara menjadi segar. Banyak juga ditanami bunga, tanaman obat keluarga (toga), dan tanaman buah lainnya.

Keuntungannya banyak lho. Misalnya kami tidak perlu lagi beli cabai, jahe bisa untuk membuat minuman alami yang sehat, atau kenikir yang bisa dibuat sebagai lalapan. Aroma dan rasa dari sayuran yang langsung metik dari tempatnya sangat berbeda. Rasanya lebih segar dibanding beli. Pekarangan yang dimanfaatkan dengan ditanami sayuran juga bisa mengurangi pengeluaran keluarga.

Rawat Bumi, Cegah Pandemi Datang Lagi

“Nyari yang haram aja susah, apalagi yang halal.” Pernah saya dengar kalimat terlontar begitu pada pelaku peti.

Kata dia, untuk mendapatkan hasil dari usahanya, mereka harus bekerja dengan sembunyi-sembunyi. Seringkali mereka beroperasi malam hari.

“Kalau siang, takut razia apparat,”

Dari sana sebetulnya mereka tahu kalau perbuatan mereka salah. Tapi kenapa terus dilakukan?

Ada 2 hal penyebabnya. Pertama, cemas terhadap rezeki. Kedua, nafsu mendapatkan uang yang banyak.

Padahal, Tuhan pasti memberikan rezeki untuk makhluk yang ada di bumi ini. Jangankan manusia yang punya akal dan alat gerak yang bisa dipakai untuk berusaha. Hewan melata saja sudah dijamin rezekinya. Yakinlah rezeki pasti akan datang. Seperti yakinnya seekor burung pergi dari sarang dengan perut kosong. Lalu pulang ke sarangnya dengan membawa makanan. Bukan hanya untuk dirinya tapi untuk keluarganya.

Kemudian, kalau pertimbangan pengen dapat uang yang banyak, sampai seberapa banyak hingga bisa memuaskan hasrat manusia? Uang sebanyak-banyaknya pasti tetap kurang. Harta tidak ada habis-habisnya. Jadi, yang penting itu harta  yang berkah. Materi yang dapat memberikan rasa bahagia pada manusia.  Ayolah kawan, mari melihat arti lebih dalam segala hal. Hidup bukan sekadar tentang harta.

Dan percaya nggak percaya biasanya uang yang didapat dengan cepat, habisnya cepat pula. Ya, sering saya perhatikan teman-teman saya itu tidak kelihatan hasil dari pekerjaannya itu. Nyaris tidak berbekas. Sebab biasanya dipakai foya-foya pula.

Tidak ada yang tahu dengan pasti bahaya apa yang mengancam kehidupan manusia di masa mendatang. Namun, masa depan bisa ditentukan dengan apa yang kita lakukan saat ini.

Oh, iya, untuk menjaga dari berbagai hal yang bisa saja terjadi, ada baiknya kita menggunakan Asuransi Umum. Hm, sudah tahukan apa itu Asuransi Umum? Asuransi Umum adalah Asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda. Negeri kita sering dilanda bencana termasuk bencana alam. Tersebab Indonesia secara geografis terletak di wilayah ring of fire yang menyebabkan bencana alam terus mengintai Indonesia. Nah, tidak ada salahnya kan sedia payung sebelum hujan?

Menjaga Hutan, Menjaga Kehidupan

Hutan merupakan sumber kehidupan. Di dalamnya terdapat berbagai keanekaragaman hayati yang menunjang keberlangsungan kehidupan. Ada habitat biotik (makhluk hidup) dan abiotik (benda tak hidup) yang saling menyokong kehidupan.

Ekosistem membentuk rantai makanan. Jika satu rantai makanan terputus, akan mengganggu rantai makanan lainnya. Rusaknya rantai makanan akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Kalau ekosistem terganggu, pasti ada dampaknya terhadap lingkungan bahkan pada kehidupan manusia.

Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 1999 tentang Kehutananan menyatakan bahwa hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.

Hutan banyak fungsinya. Karena itu, sangat disayangkan jika hutan rusak, karena ini berarti rusaknya peradaban manusia juga.

“Aku pengen nanam-nanam, Mas. Bagusnya tanamin apa ya?”

“Apa saja bagus. Tapi sesuaikan aja dengan rumah kita. Kalau halaman kita sempit, tanaman produktif lebih cocok.”

“Produktif gimana, Mas?”

“Yang menghasilkan buah, Dek.”

“Oh, jadi dapat oksigennya, dapat hijaunya, dapat juga buahnya ya Mas?”

“Iya, bener, Dek.”

Deforestasi atau pengurangan hutan alam menjadi satu masalah yang kita hadapi.  Setiap tahun terjadi deforestasi yang semakin besar. Eh, sepertinya kecuali tahun ini. Mengapa begitu? Ya, masalah pandemi yang membuat manusia mengurangi aktivitasnya secara tidak langsung berdampak pula pada berkurangnya deforestasi.

Tentu ini sangat menggembirakan bukan? Tapi, tunggu dulu. Apa iya kita harus mengalami pandemi dulu baru menjaga lingkungan? Apa iya pengurangan hutan menunggu pandemi? Apa iya kita mau mengalami pandemi terus? Tentu tidak kan.

Salah satu bentuk kepedulian menjaga hutan ditunjukkan oleh MSIG Indonesia adalah dalam proyek reboisasi hutan Paliyan, Gunungkidul, Yogyakarta. Hutan Paliyan seluas 350 hektare ini semula lahan tandus. Pepohonan jarang. Binatang-binatang sulit terlihat. Namun, sekarang ini hutan Paliyan telah berubah menjadi kawasan yang dipenuhi pepohonan rindang. Beberapa hewan seperti monyet pun banyak dijumpai.

Hingga kini proyek pemulihan hutan Paliyan telah berjalan selama 15 tahun (sejak 2005 lalu). Hutan Paliyan kembali hijau dan dipenuhi berbagai satwa. Kondisi hutan yang tadinya hancur, kembali menghijau dan ekosistem kembali seperti semula. Ya, perlindungan terhadap keanekaragaman hayati menjadi salah satu konsentrasi MSIG Indonesia. Tentang kiprah MSIHG ini dapat kita lihat di https://www.msig.co.id/id/biodiversity. 

Inilah sebentuk bukti kontribusi MSIG Indonesia terhadap pelestarian lingkungan  di hutan Paliyan

 

Kontribusi Asuransi MSIG Indonesia, yang telah berdiri selama lebih dari 40 tahun berdiri ini memang tidak diragukan lagi. Bahkan, selama pandemi, banyak kontribusi yang dilakukan oleh MSIG Indonesia.

MSIG Indonesia mendonasikan 3.150 masker, sabun cuci tangan, hand sanititizer, disinfectant, sprayer, gun thermometer, sticker, poster dan banner edukasi protokol kesehatan COVID-19. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kontribusi MSIG Indonesia dalam mencegah penularan COVID-19 di Indonesia, khususnya di komunitas sekolah dasar. 

Ayo Ambil Peran dalam Pelestarian Lingkungan

Peran apa yang bisa kita lakukan dalam pelestarian lingkungan? Sebenarnya banyak lho ya. Tergantung profesi kitalah. Misalnya saya seorang guru nih. Ya saya manfaatkan profesi saya untuk menanamkan bukti kepedulian pelestarian lingkungan.

Sering di depan kelas saya katakan kepada siswa agar punya andil dalam menjaga lingkungan.

“Sekarang ini sudah banyak orang yang merusak lingkungan. Ada yang dengan tambang ilegal, pengerukan pasir yang nggak habis-habisnya, atau penebangan hutan.”

“Terus, apa yang bisa kita lakukan, Pak?” tanya Haydar, salah seorang siswa saya.

“Kalau saat ini, yang bisa kalian lakukan, ya menahan diri supaya nggak ikut-ikutan merusak lingkungan. Tanamkan dalam diri kalian, kelak kalau jadi pemimpin, harus berani memberantas perusak lingkungan. Berani?”

“Ya, Pak. Berani….”

Itulah yang sangat bisa saya lakukan dengan profesi guru. Benar, edukasi tentang merawat bumi harus dilakukan oleh banyak pihak. Tak hanya pemerintah saja. Tapi harus didukung masyarakat juga.

 

Marilah kita pahami bahwa usaha menjaga lingkungan bukan semata-mata untuk kita yang saja. Tapi untuk generasi mendatang dan demi masa depan berkelanjutan.

Mari kita jaga bumi dengan mengurangi aktivitas yang dapat merusak lingkungan. Mari jaga bumi agar ekosistem tetap terjaga dan pandemi tidak muncul lagi selamanya.

 

Langit Biru dan Pentingnya Menggunakan BBM Ramah Lingkungan

Langit Biru dan Pentingnya Menggunakan BBM Ramah Lingkungan

Langit Biru

dan Pentingnya Menggunakan BBM Ramah Lingkungan

Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah sangat lekat dalam kehidupan saya. Di sanalah saya dibesarkan. Di sana pula saya mengalami berbagai kisah suka dan duka. Berbagai hal yang saya alami tak menyurutkan kecintaan saya padanya. Pada 2015 lalu, warga Jambi mengalami ujian berupa kabut asap. Semua terkena dampaknya. Tidak terkecuali keluarga saya.

Sudah sebulan lebih tidak ada jadwal penerbangan di bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi. Penyebabnya karena kabut asap yang pekat sehingga menghalangi jarak pandang. Sudah dua bulan lebih sekolah pun diliburkan. 

Saat itu saya dan keluarga terpisah. Saya sudah ke Banten untuk kerja. Sudah 2 bulan saya tidak bertemu keluarga. Sudah kangen sekali rasanya. 

Maka, saat ada kabar akan ada penerbangan, kami pun senang sekali karena bisa bertemu kembali. Istri dan anak saya sudah berada di bandara Sultan Thaha Sayifuddin Jambi. Mereka sudah memegang boarding pass. Ternyata, lima menit di sana, ada pengumuman penerbangan batal. Cuaca kembali memburuk. Penerbangan pasih tidak memungkinkan. Istri dan anak saya yang sudah chek-in tadi pun keluar bandara lagi.

Kuatir kalau lebih lama di Jambi akan mempengaruhi kesehatan, keluarga menyuruh isteri dan anak saya naik bus saja dari Jambi ke Banten. Perjalanan akan ditempuh sekitar sehari semalam.

Baru berjalan setengah jam, bus mengalami kecelakaan. Karena jarak pandang terbatas, bus tidak melihat truk yang berhenti di pinggir jalan. Bus menabrak truk itu. Bagian depan bus ringsek. Meskipun tidak ada korban jiwa, para penumpangnya shock dan trauma. Para penumpang pun berganti bus.

Itulah tragedy yang dialami keluarga saya pada 2015. Akibat kebakaran hutan yang melanda Riau dan Pekan Baru wilayah Jambi dilanda kabut asap. Itulah kisah pencemaran udara yang sempat ramai dulu.

Saat ini, Jambi memang tak sedang ada pencemaran udara akibat kabut asap. Tapi bukan berarti bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah sudah bebas dari ancaman pencemaran udara. Ada ancaman yang tak kalah besar menanti di depan. Sebetulnya bukan hanya melanda Jambi saja tapi semua daerah di Indonesia. Ancaman itu adalah pencemaran udara akibat gas buang sarana transportasi baik itu sepeda motor, mobil, truk, dan lainnya.

Sebagai anak pedalaman, saya merasakan betul perubahan lingkungan di Jambi. Keluarga saya ikut program transmigrasi tahun 1975. Saat itu rumah-rumah masih sangat jarang. Jarak satu rumah ke rumah bisa ratusan meter. Satu hektare tanah ada satu rumah saja. Hutan-hutan masih banyak. Begitu pun pohon-pohon. Masih banyak binatang-binatang di dekat rumah. Bahkan binatang buas atau hama seperti babi hutan sekalipun. Masih ada. Sungai dan rawa masih banyak. Lubuk dan rasau juga dengan mudah dijumpai.

Hanya segelintir orang yang punya motor. Hanya orang yang terpandang saja. Dalam satu dusun bisa 2 atau 3 orang saja yang punya motor. Dalam satu kelurahan bisa dihitung dengan jari orang yang punya mobil. Ada dua atau tiga angkutan rute ke ibukota kabupaten Bangko. Angkutan ini berangkat pagi dan pulang sore harinya.

Lalu, bagaimana dengan sekarang?

Jambi sekarang sudah berubah. Jambi semakin bersolek, semakin molek. Perubahan itu juga terjadi di dusun terpencil kami. Sungai semakin dangkal. Rawa sudah banyak yang hilang. Lubuk dan rasau selalu keruh airnya. Rumah-rumah semakin rapat. Satu lokasi bisa diisi dua atau tiga rumah. Setiap rumah punya motor bahkan ada satu rumah punya 4 motor padahal penghuninya 3 orang. Sudah banyak orang punya kendaraan roda empat. Bahkan satu rumah bisa punya 2 atau 3 mobil. Truk-truk semakin banyak.

Di satu sisi perubahan ini membawa kemajuan bagi kami. Akses ke kota atau ke daerah-daerah manapun semakin lancar. Orang dengan mudah bepergian ke mana pun. Tansportasi semakin maju dan mobilitas masyarakat makin lancar. 

Tapi di sisi lain terjadi perubahan lingkungan. Udara semakin panas dan gersang. Bisa jadi karena hutan semakin habis atau karena banyaknya kendaraan juga. Tentu saja. Sebab semakin banyak kendaraan, akan semakin besar pula pencemaran udara.

Dulu memang tidak banyak yang menyadarinya bahwa asap kendaraan ini bisa membuat pencemaran udara.

Padahal, daerah Jambi memiliki tantangan yang besar oleh ancaman memburuknya kualitas udara. Mengapa demikian?

 

Sebagian daerah Jambi merupakan jalur lintas Sumatera menuju Padang, Riau, Bengkulu, Medan dan Aceh. Di jalur itu pasti banyak kendaraan berukuran kecil maupun besar dalam volume yang besar. Banyaknya kendaraan melintas sebanding dengan pencemaran udara akibat emisi gas buang kendaraan.

Selain itu, beberapa daerah Jambi masih intens mobilitas truk-truk pengangkut batubara. Kendaraan itu bukan hanya berpotensi merusak jalan provinsi tetapi juga mengakibatkan pencemaran udara yang lebih besar. Truk pengangkut batubara itu kan menggunakan bahan bakar solar. Saya beberapa kali berada di belakang truk-truk itu. Melihat asapnya yang hitam pekat saja sudah bergidik ngeri. Pastilah asap hitam pekat itu penyumbang pencemaran udara yang berbahaya pula.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan KBR mengadakan Diskusi Publik Penggunaan BBM Ramah Lingkungan 25 Maret 2021 dengan tema Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru. Dari webinar itu kita tahu bahwa penggunaan BBM ramah lingkungan tidak mudah. Padahal program ini sangat penting sekali.

Pengen Hemat tapi Malah Boros

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menegaskan tentang dampak penggunaan bahan bakar bermutu rendah. “Kalau mobil tidak menggunakan BBM sesuai jenis mesinnya, akan ada knocking. Jika ini terjadi, pabrikan mobil biasanya tidak mau menanggung garansi lagi.”

Jadi, penggunaan BBM bukan hanya urusan mobil saja. Implikasinya luas. Penggunaan BBM berkualitas rendah menyebabkan berkontribusi pencemaran udara. Biaya ekonomi-sosial pencemaran udara jauh lebih mahal daripada penghematan yang diraih individu dengan menggunakan BBM berkualitas jauh lebih rendah.

Tidak dimungkiri kebijakan pengurangan atau penghapusan BBM berkualitas rendah dipengaruhi kebijakan pemerintah. Jadi, perlu ada keseriusan pemerintah tegas untuk mengurangi atau bahkan menghapus distribusi BBM ini. Nah, sebetulnya negara kita sudah mengarah ke sana.

Perpres No 191 tahun 2014 mengatakan bahwa premium akan ditiadakan, tertentu, dan diawasi. Bahkan di 2015, premium tidak didistribusikan lagi di Jawa dan Bali. Tetapi di 2019 Perpres ini diganti kembali diubah, akhirnya Jawa dan Bali didistribusikan kembali.

Premium memiliki Research Octane Number (RON) 88. Padahal, BBM standar dipasaran harus sudah ber-RON 90. Semakin tinggi nilai oktannya, semakin sedikit residu pada mesin. Sehingga, kendaraan yang masih menggunakan premium lebih rawan mengalami kerusakan mesin karena pembakaran yang tidak sempurna pada mesinnya.

Apalagi untuk kendaraan dengan kompresi mesin yang tinggi, maka wajib hukumnya menggunakan BBM dengan nilai oktan tinggi. Setiap pabrikan mobil mengeluarkan produk dengan nilai minimum RON.

Saat ini mobil-mobil sudah menggunakan kompresi tinggi. Jadi kalau memilih BBM lebih rendah dari standar yang ditentukan akan menimbulkan residu pada mesin karena pembakaran yang tidak sempurna. Akibatnya, mesin akan cepat rusak. Pengennya menghemat BBM tapi malah membuat rusak mesin.

Emisi kendaraan bermotor mengandung gas karbonmonoksida (CO), nitrogen oksida (N)x), hidrokarbon (HC), dan partikulat lain (particulatte matter/PM) yang bisa berdampak negatif bagi jika melebihi ambang konsentrasi tertentu. 

Pasar negara ASEAN rata-rata sudah menerapkan Euro 4. Sementara, di Indonesia, penerapan standar Emisi Euro 4 Indonesia masih sedikit sekali. Bahkan secara nasional diundur ke April 2022 lantaran pandemi.

BBM Tidak Ramah Lingkungan Membuat Rugi

Di bidang Otomotif dan Industri

Dalam webinar itu, Direktur Pengendalian Pencemaran Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dasrul Chaniago mengatakan bahwa penggunaan bahan bakar tidak ramah lingkungan bisa berdampak pada dunia otomotif.

“Kalau kita bertahan di Uero 2, otomotif kita tidak akan berkembang. Negara lain sudah Euro 6” katanya.

Industri minyak pun akan kesulitan jika otomatif mati. Negara kita akan sulit mengekspor otomotif juga, lho. Kenapa? 

Negara lain sudah tidak membutuhkan otomotif berteknologi rendah. Sebab tidak ada lagi spare part yang sesuai dengan otomotif tersebut.

Karena banyak kendaraan yang tak lagi tersedia spare part-nya. Jadi kita tidak bisa bertahan dengan teknologi rendah saja.

Jadi jelas bahwa penggunaan bahan bakar tidak ramah lingkungan bukan hanya berdampak pada kerusakan lingkungan berupa pencemaran udara tetapi juga berdampak pada dunia otomotif dan industri minyak.

Program Langit Biru, Sebentuk Kepedulian
Menjaga Bumi Kita

 

Pada 6 Agustus 1996, Pemerintah Indonesia melalui kementerian Lingkungan Hidup telah membuat program Langit Biru. Tujuannya untuk mengurangi dan mengendalikan pencemaran udara. Jadi program Langit Biru ini sudah berumur 25 tahun. Sudah lama banget ya. Tapi bagaimana efektivitasnya? Apakah sudah berdampak pada masyarakat?

Mungkin banyak yang tidak tahu. Hal ini pun diakui oleh Kristo Embu, pimpinan redaksi Timor Ekspres Kupang bahwa masyarakat banyak yang tidak tahu dan tidak sadar dengan program. “Agar masyarakat lebih banyak yang tahu butuh proses lewat sosialisasi dan edukasi oleh stakeholder yang bertanggungjawab termasuk media,” katanya.

Faktor apa yang paling mempengaruhi kesadaran adalah kebiasaan. Kalau dipaksa atau dibiasakan maka mereka akan menerima. Makanya, program Langit Biru ini harus kita pahami dan aplikasikan serta digencarkan agar semakin banyak masyarakat yang tahu dan melakukan.

Memang sih Langit Biru ini masih perlu dikenalkan kepada masyarakat luas karena masih banyak yang belum ngeh dengan program keren ini. Diakui juga oleh Tommy Kaganangan yang diundang dalam webinar tersebut bahwa dia juga baru aja tahu tentang Langit Biru.

“Pernah denger tapi tidak tahu lebih. Program ini bagus banget karena mengurangi premium. Di Kalimantan Selatan pun masih banyak pelangsir-pelangsir premium.” Tommy juga bilang kalau premium bagusnya dikhususkan untuk angkutan umum tapi jangan untuk kendaraan pribadi.

 

Dimulai Dari Keluarga

untuk Sukseskan Program Langit Biru

 

Motor saya nggak bagus-bagus amat sih. Tapi dengan kesadaran menyayangi motor dan mendukung kesuksesan program Langit Biru, motor berplat daerah Jambi ini sudah lama tak menggunakan premium. Minimal pertalite. Biasanya ‘dikasih minum’ Pertamax.

Sambil berangkat kerja saya sempatkan ke SPBU yang tak pernah alpa menyediakan pertalite dan pertamax. Untuk kendaraan sendiri memang tidak ada kendala.

Yang nggak gampang itu ngajak saudara dan masyarakat sekitar. Tapi, prioritas keluarga sendiri saja dulu. Kalau lingkaran keluarga ini semakin membesar saya yakin masyarakat pun akan ikut melakukannya.

Saya dan motor yang setia menemani ke manapun saya kerja. Sebagai ganti, saya memberikan ‘minum’ terbaik untuknya

Program Langit Biru harus gencar dari hulu ke hilir. Seberapa besar iktikad pemerintah harus dibarengi kesadaran masyarakat. Program Langit Biru ini harus terus dimassifkan. Mungkin para petinggi lembaga negara kita sudah tahu dengan program ini. Bisa jadi karena regulasi pemerintah misalnya kendaraan-kendaraan dinas yang harus menggunakan pertalite atau pertamax.

Saya mengapresiasi gebrakan seperti webinar-webinar yang diadakan KBR bersama YLKI dan instansi terkait. Ke depan, pelibatan milenial harus ditingkatkan. Bisa juga dengan mengadakan lomba-lomba untuk milenial dengan melibatkan sosial media seperti facebook, twitter, hingga tik-tok. Saya rasa ini efektif sebab milenial lebih sering melek media sosial.

Mewariskan Bumi

untuk Generasi Mendatang

 

Berbagai dampai pencemaran lingkungan pasti sudah kita rasakan. Termasuk pencemaran udara juga sudah kita rasakan. Saya yang berdomisili di kampung nun pelosok saja sudah merasakannya. Apalagi mereka yang ada di kota bahkan kota besar.

Oh iya, kampung saya bernama Desa Lantak Seribu. Banyak orang berseloroh kalau kampung kami bahkan tak ada di peta. Hehe… Lokasi lengkapnya Dusun Ringin Anom, Desa Lantak Seribu, Kecamatan Renah Pamenang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Sebenarnya desa saya tak jauh dari jalur Lintas Sumatera. Sekitar setengah jam perjalanan kalau akses jalan lancar dan mulus. Tapi karena akses jalannya rusak dan sulit, perjalanan tadi semakin lama. 

Jika saya yang berada di desa sudah mengkhawatirkan hal ini, tentulah daerah di perkotaan seperti di Bangko (ibukota kabupaten Merangin) maupun Jambi (ibukota provinsi Jambi) tentu harus lebih waspada. Meskipun, menurut Dr. Ardi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi, secara umum  kualitas udara Kota Jambi masih baik dalam kategori Indeks Standar Pencemaran Udara bukan berarti kita merasa aman-aman saja.

Selama pandemi ini, mungkin banyak dari kita yang menyadari bahwa langit kita semakin bersih, jika dibanding sebelum pandemi. Kondisi ini tidak lain karena semakin berkurannya aktivitas manusia di luar rumah. Ya, untuk mengurangi penyebaran virus Covid-19 kita dianjurkan mengurangi aktivitas di luar. Orang pun semakin sedikit bepergian menggunakan kendaraan. Polusi udara pun semakin berkurang. Hasilnya, langit kita semakin biru.

Nah, semoga pandemi ini menjadi momentum menguatkan kesadaran kita bahwa semakin berkurang polusi udara, semakin bagus langit kita, semakin bagus kualitas udara kita.

Marilah kita pahami bahwa usaha menjaga lingkungan bukan semata-mata untuk kita yang saja. Tapi untuk generasi mendatang. Kita yakin bahwa pencemaran udara banyak disebabkan emisi gas buang dari kendaraan ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Berbagai penyakit pernapasan bisa timbul dari polusi udara termasuk dari kendaraan. Bahkan timbal yang dihasilkan dari emisi buang dapat mengurangi kecerdasan.

Kita tidak selamanya hidup di bumi ini. Lalu, apa yang hendak kita wariskan pada generasi mendatang? Apakah bumi yang semakin panas dan semakin rusak? Atau bumi yang semakin membaik dan aman ditinggali?

Kita berharap generasi mendatang akan semakin berkualitas. Badannya sehat, otaknya pintar. Mari kita jaga bumi dengan mengurangi aktivitas yang dapat merusak lingkungan. Mari gunakan BBM yang ramah lingkungan agar polusi udara bisa dikurangi atau dihindarkan. Ayo kita rawat lingkungan kita agar kelak generasi muda masih bisa mendiami bumi dengan aman dan nyaman. (*)