4 Cara Membuat Kalimat Pembuka yang Efektif

4 Cara Membuat Kalimat Pembuka yang Efektif

Saya kaget sekaligus salut saat tahu bahwa di BP ada kewajiban menulis. Mungkin karena foundernya seorang penulis atau memang sistem BP menyakini bahwa menulis merupakan salah satu sarana efektif untuk marketing. Ya, saat ini copywriting merupakan salah satu andalan dalam marketing sebuah produk.

Mungkin setiap kita awalnya merasa berat untuk menulis. Merasa tidak bisa. Tapi karena dipaksa akhirnya bisa. Padahal saya lihat tulisan bapak dan ibu keren-keren, lho. Bener. Tinggal dibiasakan dan terus diasah saja.

Menulis itu sama dengan berdagang. Keduanya merupakan skill. Artinya, supaya bisa, harus dilatih. Waktu mulai berdagang awalnya mungkin terasa berat. Tapi, kalau dilatih maka akan terbiasa berdagang. Begitu juga dengan menulis.

Bagian yang paling sulit saat menggarap sebuah tulisan ada dua. Pertama, niat. Kedua, kalimat pembuka. Dan biasanya membuat kalimat pembuka itu memang lebih lama daripada kalimat lanjutannya yang biasanya mengalir begitu saja.

Kalimat pembuka memiliki kekuatan yang sangat penting untuk menentukan pembaca meneruskan membaca kalimat selanjutnya atau berhenti di kalimat pertama. Dalam sebuah tulisan biasanya kalimat pembuka ini dinamakan leading.

Ada beberapa cara mengakali kesulitan menentukan kalimat pembuka.

Pertama, awali dengan sebuah pertanyaan. Tentu pertanyaan yang sesuai dengan topik yang dibahas.

Ya, pembaca perlu dipancing dengan pertanyaan yang akan membuat 1001 jawaban disepanjang tulisan.

Contohnya:

Apa bisnis yang bisa tetap eksis di saat pandemi?

Lalu di kalimat selanjutnya.

Saat ini kita sedang dilanda pandemi akibat virus covid-19. Banyak usaha yang turun pemasukannya atau bahkan gulung tikar. Sementara itu, pengeluaran tetap ada bahkan naik.

Maka kita harus punya bisnis yang tetap eksis di saat pandemi. Memangnya ada bisnis yang tetap eksis saat pandemi?

dan seterusnya….

Kedua, ajukan suatu fakta berdasarkan sumber terpercaya.

Contoh:

 BPS merilis ada 1,3 juta orang miskin baru di Indonesia akibat pandemi covid-19.

Lalu dilanjutkan:

Wow. Angka 1,3 juta orang itu bukan jumlah yang sedikit. Apakah kita termasuk di dalamnya?

Dan seterusnya. Atau kalimat lain:

Majalah Forbes mengatakan 10 orang terkaya di Indonesia adalah …….

Ketiga, awali dengan kalimat yang mengajak pembaca untuk ikut membuka pikiran. Dengan cara ini pembaca terpancing rasa penasarannya untuk membaca tulisan selanjutnya.

Contoh:

Pernahkah Anda bayangkan anda tetap mendapatkan pemasukan yang besar meskipun bekerja dari rumah saja?

Atau:

Aadakah diantara kalian yang ingin sukses berbisnis tanpa meninggalkan keluarga?

Dan seterusnya….

malKeempat, menjelaskan latar belakang masalah.

Kalimat pembuka ini ini paling sering digunakan oleh banyak penulis. Jadi menghadirkan latar belakang masalah, lalu dilanjutkan dengan kalimat-kalimat penjelasan dan solusi-solusi.

Contoh:

Saat ini kebutuhan keluarga semakin naik. Harga barang-barang semakin melangit sementara itu…..

Demikian tips untuk memilih kalimat efektif pada kalimat pembuka agar tulisan menarik untuk dibaca. Selamat mencoba.

“Menulis itu bukan masalah bakat tetapi kemauan untuk mencoba dan terus berproses”.

Hadiah Lomba Blog yang Menggiurkan

Hadiah Lomba Blog yang Menggiurkan

Siang ini grup lomba blog PGRI memanas. Rame. Apa pasal? Om Jay memposting hadiah lomba blog PGRI. Hadiahnya adalah Samsung Galaxy A 01 Core. Wow….

“Buatku aja Om Jay.”

“Ngalah sama yg tua yaaa hihihiiiii…”

“Keren Hadiahnya..tetap semangat.”

Tapi ada pula nada lain. “Peluang sama untuk semua peserta, selamat utk yang mendapatkan nya…”

Alhamdulilah siapapun pemenangnya ,perlu di apresiasi, semoga kedepannya kita semua bisa mendapatkannya,aamiin

Padahal, ini bukanlah satu-satunya hadiah. Lomba yang diadakan dalam rangka memperingati bulan bahasa dan sumpah pemuda ini bertabur hadiah. Penyelenggaranya KGSN dan Kogtik.

Di laman www.gurupenggerakindonesia.com Om Jay bilang akan ada hadiah uang, piala, hadiah barang dari Epson, hadiah buku dari penerbit Andi Yogyakarta, dan kejutan hadiah lainnya dari sponsor. Pemenang lomba juga akan mendapatkan Voucher kartu Kipin Pintar Mandiri selama 6 bulan gratis.

Lomba blog bertema “Peran teknologi terkini dalam membuat Pembelajaran Daring dan Luring Menjadi Semakin Menyenangkan” ini tentu saja disambut antusias para guru blogger tanah air.

Pendaftaran sendiri ditutup pada 28 Oktober lalu. Om Jay mengabarkan bahwa nama-nama peserta blog ada di link berikut. https://terbitkanbukugratis.id/wijaya/10/2020/peserta-lomba-blog-sumpah-pemuda-dan-bulan-bahasa/

Pengumuman akan dilakukan pada 10 November mendatang. Siapakah guru keren yang menjadi pemenang lomba ini? Yuk kita nantikan tanggal mainnya.

Tips Menulis Ala Asma Nadia. Sederhana dan Memotivasi

Tips Menulis Ala Asma Nadia. Sederhana dan Memotivasi

Menulis adalah Wisata Hati

Asma Nadia

3 Tips Menulis

  1. Menulis setiap hari. Menulis untuk diselesaikan, bergabanglah dalam komunitas kepenulisan. Karya yang baik adalah karya yang diselesaikan.
  2. Menulis itu berjuang dan perjuangan yang tidak pernah selesai
  3. Menulis akan menuai apa yang ditulis. Maka, jangan menulis yang membuat kita menyesal dengan tulisan kita.

Rupanya Asma Nadia ini sangat gencar dan bersemangat menebarkan racun. Meracuni orang Indonesia (OI) untuk menulis. Sepak terjangnya di dunia kepenulisan sudah tidak diragukan lagi. ratusan bukunya menghiasai jagat literasi Indonesia. Bahkan beberapa karyanya di filmkan. Terakhir adalah Surga yang Tak Dirindukan. Walaupun sampai saat ini saya belum nonton film eh sinetron itu. 

Mbak Asma yang kini aktif mengelola platform kepenulisan Komunitas Bisa Menulis (KBM) sempat meracuni para guru Indonesia khususnya peserta MembaTIK sebagai program Pusdatin-Kemdikbud. Nah, berikut ini beberapa catatannya.

Menulis merupakan kerja sekali dapatnya dua kali. Dimuat dan dibukukan. Tulisan yang dimuat di media bisa dikumpulkan trus dibukukan. Sudah dapat honor dari media massa (kalau ada, sebab beberapa media tidak memberikan honor), dapat pula royalti dari buku yang dijual.

Carilah alasan untuk menulis. Bisa karena agar berkarya. Agar bisa berbagi kebaikan. Sebagai terapi. Ingin membuat orang tua bangga. Dan lainnya. 

Selalu ada ruang untuk yang berusaha, menekuni aktivitasnya. Latihan menulis lewat status di media sosial. Terlalu banyak hal negatif di sekeling kita. Kita butuh orang-orang yang menebarkan hal positif.

 Menulis bagi Asma Nadia:

  1. Bukan sekadar ide bagus
  2. Berawal dari keresahan
  3. Buku sebagai kebutuhan bukan hiburan waktu luang
  4. Latihan menulis termudah adalah menulis berdasarkan pengalaman. Yang paling berkesan, menyedihkan, menyakitkan, tak terlupakan.

    Kunci tulisan menarik :

    1. Ide, sesuatu yang baru, belum pernah diangkat atau jarang diangkat. Topiknya/idenya dekat    dengan pembaca.

    2. Teknik penyajian; judulnya wajib menarik.

    3. Konfliknya kuat.

Nah, untuk buku best seller, kuncinya adalah:

  1. Gagasan dan isi buku menarik
  2. Segmentasi jelas
  3. Pembaca perempuan
  4. Sosok buku (tokoh kali ya)
  5. Dibutuhkan
  6. Waktu tepat
  7. Promo
  8. Sosial media
  9. Pesan

 Tidak ada penulis yang tidak suka baca. Kualitas penulis terlihat dari bacaannya. Penulis kelihatan suka baca atau tidak dari tulisan.

Mereka Adalah Cahaya Kehidupan

Mereka Adalah Cahaya Kehidupan

Engkau tidak bisa disebut gagal selama engkau terus mencoba. Engkau hanya gagal jika engkau berhenti

Engkau tidak bisa disebut gagal selama engkau terus mencoba engkau hanya gagal jika engkau berhenti (halaman 45).

“Kalau semuanya beralasan soal tanggung jawab Guru PAI itu berat, bisa jadi tidak ada guru PAI di negeri ini (halaman 71).

Laeli Fadilah merupakan salah satu orang yang tidak pernah menjadikan profesi guru sebagai cita-citanya. Namun, sekarang dia telah menikmati menjadi seorang pendidik. Menikmati setiap bertemu dengan siswanya. Merasakan kenyamanan di dalam mengajar.

Laeli kecil bercita-cita menjadi seorang penulis. Sejak SMA suka membaca, kuliah dia mengambil jurusan sastra agar dapat memahami dasar ilmu dan menerapkannya.  Namun hingga tahun kedua dia belum bisa menghasilkan suatu karya pun. Keraguan muncul. Benarkah sastra merupakan pilihan terbaiknya? Tanpa satu karya di bangku kuliah membuatnya mempertanyakan keputusan awalnya dulu.  Lalu dia berniat untuk pindah kuliah. Dia mendaftar di dua kampus favorit. Dia lolos seleksi. Bahagialah dia. Akan kuliah di kampus yang menurutnya lebih baik.

Dia telah sampai pada antrian di bank untuk membayar pendaftaran. Hanya tinggal dua antrian lagi sampai di petugas pembayaran, dia membatalkan niatnya. Meskipun tak urung dia masih ragu apakah itu keputusan terbaik atau bukan. Namun, jika diingat harapan orang tuanya, maka dikuburnya dalam-dalam lagi keinginannya itu.

Meskipun menyetujui dengan langkahnya kali ini, orang tuanya masih berat hati melepaskannya. Akhirnya dia kembali meneruskan kuliah di kampus lamanya. Meskipun tidak begitu aktif pada aktivitas kegiatan di kampus, hanya kuliah pulang, mengerjakan tugas, dia sempat mengikuti seminar atau workshop yang diadakan di kampus. Terutama kegiatan yang tidak berbayar.

Suatu waktu, dia mengikuti seminar dengan pembicaranya masih seumuran dengannya.  Namun prestasi dan pengalamannya sudah banyak. Dari sana dia kemudian tersadar untuk berdamai dengan diri sendiri. Dia tidak bisa terus-menerus menyalahkan orang lain atau juga menyalahkan keadaan. Sejak saat itu dia berubah. Mengubah pemikirannya dan aktivitasnya. Dengan berani dia pamit pada orang tua agar tidak lagi membiayai kuliah, uang jajan atau kebutuhan lainnya. Dia bertekad untuk mandiri.

Kala itu 2014. Dia memiliki tabungan Rp. 500 ribu yang harus digunakan untuk berbagai keperluan di kampus, transportasi, pulsa,  maupun keperluan pribadi lainnya.Bagaimana caranya untuk mencukupi semua keperluan itu? Dia berjualan pulsa, menjual roti, dan menjual kentang ulir goreng.Usahanya lancar bahkan sudah mulai mempekerjakan pegawai. Namun tidak berlangsung lama. Usahanya ditutup seiring dengan diberhentikannya pegawai.Karena pertimbangan kesibukan dan kelelahan maka orang tua tidak mengizinkan untuk berdagang. Lalu bagaimana caranya untuk mendapatkan pemasukan untuk membiayai kuliahnya?

Pilihannya adalah dia membuka bimbel. Ini menjadi pilihan yang tepat karena sejalur dengan jurusan kuliahnya. Ini juga bisa menjadi media latihan untuk berbicara di depan banyak orang. Memberikan pengalaman agar tidak grogi untuk presentasi saat seminar proposal nantinya.

Bagaimana dia membangun bimbel hingga sukses kuliah? Buku ini memberikan gambaran tentang sebuah lika-liku membuka usaha sambil kuliah.

Setelah lulus, gilirannya membantu menyekolahkan adik. Perjuangan adiknya tak kalah dramatis. Saat akan kuliah, adiknya telah mendaftar hingga sepuluh perguruan tinggi namun hasilnya nihil. Hal ini berakibat pada psikologisnya. Kehilangan semangat, murung, dan mulai menyalahkan dirinya sendiri. Lalu kepada adiknya dia menceritakan pengalaman pahit yang pernah dialaminya. Tidak hanya kegetiran saat kuliah tapi juga saat di sekolah dulu.

Usahanya membuahkan hasil. Perlahan adiknya bangkit termotivasi. Kembali mengikuti berbagai tes masuk perguruan tinggi ada. Ada lima universitas yang di cobanya lagi. Hingga akhirnya dia diterima di sebuah kampus ternama di Indonesia.

Dalam hidup ini ada banyak sosok yang menjadi cahaya kehidupan bagi oranglain. Laeli bisa jadi merupakan cahaya kehidupan bagi adiknya. Sementara, Laeli pun mendapatkan cahaya kehidupan dari sekitarnya. Sengaja atau tidak cahaya itu sampai padanya.

Seperti halnya Evita Nur Apriliana yang tengah terpuruk saat ditinggal ibunya. Meninggalnya sang ibu memberikan dampak kehilangan. Berhari-hari dia dilanda kesedihan kemudian muncul cahaya dalam kehidupannya. Siapakah cahaya itu? Dia adalah pak Jumain. Guru Pendidikan Agama Islam di sekolahnya.

Pada suatu kesempatan Pak Jumain menawarkan untuk mengikuti lomba menulis cerita islami. Awalnya dia ragu. Tapi gurunya berhasil meyakinkannya. Dia pun ikut lomba itu. Meskipun pada akhirnya Evita kalah namun ia banyak mendapatkan banyak ilmu dan hikmah.

Saat ada lomba lagi, dia kembali ikut. Kali ini dia berhasil menjadi penulis terbaik. Karyanya menjadi juara 1 di lomba tingkat kabupaten.

Saat kuliah dia mengambil jurusan keagamaan. Meskipun awalnya dia ragu. “Kalau semuanya beralasan soal tanggung jawab Guru PAI itu berat, bisa jadi tidak ada guru PAI di negeri ini (halaman 71).

Suntikan semangat dari gurunya kemudian memantapkannya untuk kuliah sekaligus mondok di pesantren menjadi santriwati di Ma’had Al Jami’ah UIN Walisongo. Motivasi gurunya itu pulalah yang mendapatkan gelar sarjana.

Pengetahuan dunia dan akhirat di dapatnya. Banyak ilmu dan pesan yang didapat dari kyainya. “Meskipun kita lemah, bodoh, miskin, dan tak punya kekuasaan kita harus tetap berperan dalam mengukir sejarah di NKRI, bukan hanya numpang tidur” (halaman 76).

Profesi guru PAI mulia. Karena selain membekali siswa dengan pengetahuan, juga memberikan kontribusi dengan mengubah nilai-nilai negatif yang terjadi di lingkungan. Ya, guru PAI kerap menjadi panutan di lingkungan sekitar dengan akhlaknya yang terjaga. Memang diyakininya bahwa menjadi guru itu berat karena harus menjadi role model bagi siswa.

Buku ini merupakan antologi dari 11 penulis yang merupakan insan literasi. Dengan berbagai latar belakang pendidikan, pekerjaan, dan pengalaman berbeda diramu dalam satu buku sehingga kita bisa mendapatkan rasa yang beragam. Kaya pengalaman berharga. Pengalaman merupakan guru terbaik. Pelajaran itu bisa didapat dari pengalaman diri maupun orang lain. Buku ini membuka cakrawala berpikir bahwa setiap orang yang terlihat  sukses pasti ada kepahitan dan perjuangan hidupnya.

Begitulah. Kehidupan seringkali tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Dalam lingkungan kita, berapa banyak orang yang pada akhirnya tak mampu mendapatkan apa yang diimpikannya? Berapa banyak orang yang pada akhirnya bekerja tidak sesuai dengan pengalaman pengetahuannya?

Dalam mencapai impian, banyak sekali  badai gelombang tantangan yang harus dihadapi. Manusia hanya harus berusaha untuk menghadapi berbagai tantangan dan dilengkapi dengan doa dan sabar. Selalu ada pasti hikmah yang bisa dipetik dari  kegagalan demi kegagalan. Kesabaran akan terasa sebagai sebuah usaha manis saat kita melihatnya dari puncak kesuksesan.

Bersabar bukan berarti diam saja tetapi terus bergerak sambil mengupayakan agar hasil bisa maksimal. Ada doa setelah berikhtiar menyerahkan hasilnya kepada sang pencipta.

Tri Nurhayati mengingat untuk jadi diri sendiri. Percayalah bahwa masing-masing orang memiliki waktu kesuksesan yang berbeda-beda (halaman 140).

Langkah bahagia adalah dengan mencintai diri kita sendiri dengan cara menjadi diri sendiri, mencintai passion, mencari inspirasi dari banyak sumber, selalu bersyukur, dan sering memberi yang terbaik. Kebahagiaan tidak harus selalu dalam bentuk uang dan materi. Namun bisa juga inspirasi hidup. Berbagi inspirasi semakin mudah. Lewat media sosial berbagai pengetahuan bisa diunggah. Bahkan kita bisa berbagi lewat senyuman. Karena senyuman bisa memutuskan atau permusuhan. Buku ini sarat pelajaran mencintai hidup.

Memaknai Profesi Dokter

Memaknai Profesi Dokter

Memaknai Profesi Dokter

Memaknai Profesi Dokter [Review Buku] Pembaca yang baik hati hehe… Kali ini aku mau bikin review buku. Buku tentang profesi dokter. Ah, profesi ini emang selalu jadi idaman banyak orang. Bahkan, untuk jadi dokter banyak yang rela merogoh kocek dalam-dalam. Ada juga yang sampai jual ladang atau rumah untuk biaya kuliah. 

Biasanya orang bercita-cita menjadi dokter dengan alasan jaminan hidup, gengsi yang tinggi, berseragam keren, dan mudahnya mendapatkan uang. Melalui buku ini kita disadarkan bahwa cita-cita itu semua terlalu dangkal. Dokter merupakan profesi yang akan membuat manusia merasa lemah karena ilmu manusia terbatas dan betapa hebatnya kuasa Allah. Profesi yang membuat bersyukur atas segala kesempatan hidup. Bahkan jika itu hanya sekadar tambahan nafas saja. Nah, makanya, jangan main-main deh dengan profesi dokter.

Kisah yang disajikan dalam buku ini penuh dengan peran dokter yang sungguh besar dan memberikan kontribusi kemanusiaan. Ada dua sisi pemaknaannya. Ini dia bukunya. Sebenarnya terbit ulang sih. Tapi aku baru dapatkan bukunya belum lama ini.

Dengan profesinya, dia bisa membunuh manusia ketika menjalankan tugasnya dengan asal-asalan dan tidak amanah. jauh dari pemaknaan profesi dokter.

Namun, dia juga bisa ‘menghidupkan’ nyawa, ‘memberikan hidup’ pada seseorang dengan pemaknaan profesinya. Bahkan, tanpa banyak hal yang dilakukan oleh seorang dokter.

Pada kisah Rani misalnya. Seorang gadis yang harus menderita gegar otak, paru-paru kotor, jantung bermasalah dan tiga belas akar gigi harus dicabut. Bermula dari seorang dokter yang tanpa menyentuh, hanya melihat dan mendekat lantas memberikan berbagai obat.

Vonis yang diterima saat datang lagi sakit di bagian kepala. Sedemikan banyaknya. Namun bertemu dengan dokter dengan senyum yang tak lekang dan mata bersinar ramah mampu menghidupkan harapan menghadapi sekian banyak vonis tadi. Keramahan itu menjelma menjadi seolah paman dan keponakan. Begitu juga dengan dokter-dokter lainnya.

 

Bertemu dokter dengan keramahan dan kesabaran serta kehebatan cara mengambil hati anak-anak membuatnya bahkan bisa sampai bertahun-tahun menjalani perawatan. Dokter yang bahkan hafal ulangtahun si pasien. Ikut pula merayakan ulangtahunnya. Rani kecil bisa bertahan dalam hidupnya, berprestasi di sekolah, bahkan menjadi penulis terkenal.

Bukan hanya hebatnya resep obat atau kecanggihan alat yang bisa membuat pasien menjadi sembuh dan sehat. Wajah-wajah ramah, dedikasi, dan cinta yang tersemat dari balik jas putih, terasa seperti pahlawan. Lewat mereka, Allah mengabarkan harapan akan hari kesembuhan.

Dokter selalu siap menghadapi pasien dengan berbagai kondisi. Ada pasien yang telah berkali-kali melakukan aborsi namun saat konsultasi seakan tanpa beban, tanpa merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Sampai pada satu titik dokter memberikan resep sederhana agar dia sadar.

Menjadi dokter juga menyalakan kehidupan bagi orang lain walaupun kadang dia sendiri harus kehilangan nyawanya. Khairunnas merupakan anak tunggal. Dia magang di salah satu rumah sakit di Pahang. Lulusan pendidikan kedokteran Indonesia ini Dia punya kekurangan. Kurang percaya diri dihadapan orang meskipun bekerja bersama orang-orang yang profesional. Dia merasa konsentrasi. Pernah salah membawa sampel darah yang mengakibatkan dokter Samuel kesal. ( Di sini aku mulai mikir, ah biasanya dokter kan pinter-pinter ya secara kognitif. Eh kenapa dokter Nas ini kok pelupa, ingatannya lemah, dan fisiknya pun rentan. Ada apakah?)

Di sana dia semakin kurus. Pipinya cekung. Pernah jatuh pingsan sewaktu di kamar operasi. Saat banjir, Khairunnas terjebak di rumah sakit dengan kondisi yang serba minim. Tidur dilantai tanpa alas, bantal dan selimut. Di posko pemeriksaan kesehatan, dia berjibaku merawat dan menolong warga yang membutuhkan.

Ketika melintasi di satu tempat dia terkena paku berkarat yang mengakibatkan demam hingga tumbang.
Rupanya yang terjadi sungguh diluar dugaan.  Adanya gagal ginjal serta tekanan darah yang tidak stabil. Kondisinya semakin berat dari waktu ke waktu.

Ternyata ada tumor otak di dalam otak. Harga mahal yang harus dibayar oleh seorang dokter muda. Namun kematian Khairunnas memberikan dampak besar dalam kehidupan teman-temannya.  Kegigihannya membantu korban banjir menjadi inspirasi bagi teman-teman seperjuangan lain (hlm 47).

Bayangkan ya.. Ada anak muda yang sedang magang, dia anak tunggal, pergi ke tempat magang akhirnya meninggal di sana. Ibaratnya ya, belum ‘panen’. Tinggal sebentar lagi dia menuai jerih payahnya selama ini. Dia pengen membahagiakan ibunya yang sudah seorang diri. Demi membahagiakan ibunya itu, dia harus ke negeri jiran. Dan siapa sangka, ajalnya ada di sana. Tragis sih ya. Baper lah kata orang jaman now.

Let’s Read dan Pengalaman  Membaca Menyenangkan

Let’s Read dan Pengalaman Membaca Menyenangkan

Anak sulung saya ketika usianya 5 tahun telah bisa membaca dengan lancar. Bahkan, saat membaca dia tidak perlu mengeja huruf per huruf, tapi bisa langsung kata per kata. Lancarnya anak kami membaca bisa dilihat dari video berikut.

Orangtua mana yang tidak senang saat anaknya mahir membaca? Ah, rasanya semua orangtua sangat mendambakan anaknya gemar membaca. Kalau bisa, sejak kecil sudah bisa membaca. Bahkan ada orangtua yang demi anaknya bisa membaca, orangtua memberikan les kepada anaknya.

Bagaimana membuat anak bisa lancar membaca? Mudah-mudahan pengalaman kami bisa memberikan manfaat kepada para pembaca.

1. Sejak Dini Mendekatkan Dengan Buku

Ya, kami mendekatkan anak dengan buku sejak bayi. Mendekatkan dengan arti sesungguhnya. Mendekatkan secara fisik saja. Hal ini dilakukan sejak Jundi umur 6 bulan atau setengah tahun.

Seingat saya, pertama kali beli buku, setelah berkeluarga, sewaktu ada pameran di dekat rumah. Saat itu beli enam buku. Sampai di rumah, buku itu didekatkan ke Jundi.

Semacam melakukan ritual, semoga ini anak besok gede dekat dengan buku, cinta dengan ilmu. Hehe… Ini bisa dibilang tidak masuk akal. Tapi emang benar itu yang kami lakukan.

2. Belajar Mengenal Huruf dan Mengeja Kata

Jundi mulai mengenal huruf dan kata dengan bantuan laptop. Sering nonton animasi atau film kartun yang isinya belajar huruf atau kata. Tokoh animasi Diva yang menjadi kesukaannya dulu.

Sedikit demi sedikit Jundi mengenal huruf. Sampai umur 3 tahun dia sudah mengenal 26 huruf latin dan 28 huruf Hijaiyah. Kami masih menggunakan cara konvensional dalam mengajari kata.

Istri saya yang dengan telaten mengajari. Satu huruf konsonan digabung dengan satu huruf vokal. Lalu huruf vokalnya diganti-ganti dengan huruf vokal lainnya.
Jadi pakai metode B+a, B+i, B+u, B+e, dan B+o.

Lalu huruf konsonan itu diganti dengan huruf konsonan lainnya. Begitu seterusnya. Kedua metode ini saling memengaruhi. Entah mana yang paling kuat, tapi semuanya memberikan pengaruh yang besar.

Untuk mendukung proses belajar ini, di rumah harus ada sarana pendukungnya. Di rumah kami ada dua whiteboard untuk menulis-nulis, tepatnya coret mencoret. Hehe… Lalu anak dibelikan papan tulis mainan yang pakai sistem magnet itu. Jadi di sana dia coret-coret huruf yang sudah dipelajarinya.

Sebetulnya tiga alat itu pun tidak cukup. Dia juga sering mencoret-coret dinding rumah, pintu rumah, atau pintu kamar mandi. Padahal, sudah sering dikasih tahu, kalau coret-coret di papan tulis saja. Tapi ya namanya anak, kadang dia belum paham benar. Kita yang jadi orangtua harus sabar saja mengjadapinya. Biarlah rumah tercoret-coret asal anak semakin meningkat kemampuannya.

Jangan sampai memarahi kalau dia mencoret-coret ya. Sebab, dinding bisa dicat kembali, bersih kembali. Tapi trauma, jika dimarahi, bakal sulit hilangnya.

3. Tiga Pojok Baca

Di rumah kami ada 3 tempat meletakkan buku, kami namai pojok baca. Ada di rak buku utama di ruang tamu, di rak buku kamar tidur, dan di rak buku meja belajar.

Supaya di manapun tempatnya selalu lihat buku. Lama-lama, buku menjadi benda yang sangat familiar. Sering dilihat.

Saya yakin menempatkan buku di banyak tempat juga berpengaruh pada minat baca, lho. Sebab, kadang malas baca buku, karena malas ambil buku. Yah, walaupun tidak jauh-jauh amat buku, tapi entah kenapa tetap saja malas untuk melangkah kaki mengambil buku.

Nah, dengan menempatkan buku di banyak tempat, bisa sewaktu-waktu ambil buku dengan mudahnya, jika mood baca buku tiba-tiba muncul. Saat sedang di ruang tamu, bisa langsung ambil buku.

Perhatian juga susunan bukunya. Sebaiknya, buku anak diletakkan di bagian bawah. Supaya anak bisa menjangkaunya dengan mudah. Jadi, kalau dia ingin mengambil buku, bisa mengambil sendiri.

Di rumah kami, di rak buku ruang tamu, buku anak diletakkan di dua baris bagian bawah. Anak-anak jadi gampang ambilnya. Dengan tubuh mereka yang kecil pun bisa menjangkau.

 

4. Mengunjungi  Pameran Buku

Pameran buku sangat penting untuk menumbuhkan minat baca, untuk menguatkan cinta buku. Dalam beberapa kesempatan, kami juga sering mengajak anak-anak ke pameran buku.

Yang tak pernah absen adalah pameran buku pada Islamic Book Fair, yang digelar di Senayan, beberapa tahun ini pindah di Jakarta Convention Center.

Si sulung terhitung empat kali ke IBF, Jakarta. Di tahun 2017, 2018, 2019, dan 2020. Pameran buku seperti ini banyak manfaatnya. Selain bisa membeli buku untuk menambah koleksi buku, mendatangi pameran buku ibarat mendatangi surga buku. Hehe… Saking banyaknya buku. Kita bisa dibuat kagum dengan banyaknya buku yang ada.

Baik buku remaja, orang tua, bahkan anak-anak. Jenis bukunya pun macam-macam. Banyak pula permainan berbasis buku atau lainnya yang juga menambah pengetahuan.

Pengunjungnya banyak. Ramai. Dipenuhi stan-stan penerbit. Buku-buku ditata enak dipandang. Jadi senang melihatnya.

Di sana si sulung menikmati surganya buku. Setiap mampir di stan penerbit, seperti mau dibeli semua bukunya.

Setiap ke IBF, kami selalu beli buku. Mumpung bisa ke pameran buku. Meskipun, ada juga buku dari IBF sebelumnya yang belum dibaca. Tapi, yang penting beli dulu. Pasti nanti ada masanya buku itu dibaca. Yang penting koleksi dulu.

Pulang dari pameran, bawa buku. Baca buku lagi, deh.

Pernah IBF di tahun 2017 lalu, karena tertarik dengan satu paket buku yang isinya tentang penguatan karakter, kami nekat beli satu paket buku tersebut. Harganya lumayan.
Lebih dari gaji saya sebulan.

Sebetulnya, kami tidak langsung sepakat beli buku. Sempat diskusi lama. Penjaga stan masih terus mengompori di sela-sela diskusi.  Untungnya, anak-anak sedang sibuk main dengan buku dan mainan di stan itu.

Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya kami mencapai kata sepakat. Saya dan istri patungan. Separo dari gaji saya, separonya lagi dari gaji istri.

Karena buku itu sifatnya investasi seumur hidup. Eh bahkan sampai kita mati. Jika isi buku itu bisa diterapkan, bisa mewarnai karakter anak, harga yang mahal tidak sebanding dengan manfaatnya.

Sebetulnya, kami rutin beli buku juga di tiap bulannya. Tapi tetap saja, kami rutin ke IBF. Sebab di pameran buku akan lebih lengkap bukunya. Selain itu, kami bisa mendapatkan pengalaman untuk menguatkan bonding dengan anggota keluarga lainnya.

Di kesempatan lain, kalau sedang main ke car free day, kami sempatkan mampir di lesehan taman baca atau taman baca masyarakat.

Walaupun sekadar baca satu dua buku anak-anak. Melihat gambar-gambar yang menarik buat anak meskipun beberapa menit saja.

Eh, selain itu, kalau kita mampir ke lesehan itu, kita bisa nyenengin yang punya lapak, lho. Pasti mereka senang jika ada yang mampir di lapaknya. Apalagi jika ada yang membaca bukunya. Kan itu juga maksud mereka buka lapak itu. Makanya, tidak ada salahnya nyenengin mereka.

5. Pohon Literasi Bikin Semangat Mengisi

Untuk menyemangati, kami buatkan pohon literasi. Setiap habis membaca satu buku, kami tuliskan di pohon literasi itu judul buku yang sudah dibaca.

Tapi nggak harus sampai tamat, sih. Setengahnya atau kurang pun bisa dituliskan. Tapi, karena yang dibaca adalah buku anak, yang tidak terlalu tebal isinya, tentu cepat tamat.

Pohon literasi dibuat berwarna-warni supaya anak-anak tertarik. Anak senang menempel-nempel, mengisi pohon literasi. Supaya banyak yang ditempelkan, anak pun akan terpacu membaca banyak buku.

Ada dua pohon literasi di rumah kami. Anak pun semangat mengisinya. Malah, seringnya pengen ngisi tanpa baca buku. Sepertinya lebih suka menempel-nempelnya.

Untungnya, bisa dikondisikan. Jundi dipahamkan bahwa aturannya harus baca buku dulu. Dia paham. Dan mau mengikuti aturan mainnya. Tapi tetap saja, belum tamat sudah mau nempel. Tapi nggak papalah. Yang penting anak sudah semangat membaca.

6. Membaca Bersama Anak Bukan Membaca Dengan Anak

 Beda lho antara membaca bersama anak dan membaca dengan anak. Benar, kalau membaca bersama anak artinya ada interaksi atau pelibatan anak dengan bacaan atau dengan kita membacanya.

Sementara kalau membaca dengan anak itu si pembaca membaca buku, anak berada disamping kita, terserah dia sedang melakukan apa. Bisa jadi dia tidak mendengarkan apa yang dibacakan.

Agar anak merasa dilibatkan dengan bacaan itu, caranya kita bisa bertanya tentang bacaan. Bisa dengan bertanya siapa tokoh atau kesimpulan dari bacaan.

Misalnya pada cerita Teman Yang Baik, menceritakan persahabatan antara kacang panjang dengan tomat. Awalnya,  tomat merasa cemburu dengan kacang panjang karena diberikan terali atau lanjaran untuk rambatan.

Di akhir bacaan kita bisa bertanya kepada anak, “Kenapa tomat cemburu kepada kacang panjang?” atau “Apa yang dilakukan kacang panjang sehingga tomat tidak cemburu lagi?”.

 Atau pada bacaan Keajaiban Api yang menceritakan jenis-jenis warna api hingga yang paling tinggi suhunya, maka kita bisa bertanya kepada anak, “Warna api yang paling panas adalah?”

7. Istirahat Dulu Sejenak

 “Jangan lupa, sabar adalah kuncinya berbagai metode pengasuhan. Begitu juga dengan menumbuhkan minat baca.”

Saya tidak selalu mudah dan gampang mengajak membaca. Nggak selalu lancar lho. Pernah juga,saya kok merasa susah sekali mengajari. Kata orang, sedang tidak mood. Fokusnya sedang buyar. Padahal sebelumnya dia sudah hafal huruf apa itu. Tapi kok ya waktu itu, jangankan bisa membaca kata, mengingat hurufnya saja susah.

Apalagi, saat itu, saya sedang tidak mood juga. Saya kesal. Nada saya mulai meninggi. Dalam hati lupa berdoa. Sudah mau marah saja. Kesal, saya berhenti mengajarinya.

Eh dia mau nangis. Waktu Jundi tanya saya kenapa, saya diam saja. Sampai dia tanya beberapa kali, akhirnya saya bilang istirahat dulu.

Sekitar sepuluh menit saya istirahat. Saya biarkan Jundi main mainan dulu. Belasan menit kemudian, saya ajak dia baca lagi.

Weladah, rupanya yang tadi macet, sekarang jadi lancar. Ajaib sekali. Sampai saya heran-heran. Juga terharu. Hampir luruh air mata saya.

Tadinya, marah saya hampir meledak karena kesal, ternyata hanya karena kurang sabar. Padahal kalau mau sabar sedikit, dan tak langsung menuduh sulitnya fokus anak, keadaan bisa seperti yang diharapkan.

Kata per kata berikutnya anak saya lancar. Bahkan beberapa menit saja selesai membaca satu halaman, dengan hanya sedikit kesalahan.

Akhirnya saya dapat kuncinya. Sengaja tidak saya cerita ke istri. Benar saja, suatu waktu dia mengalami. Saat mendampingi anak yang kok kali ini beda amat dengan yang biasanya, istri saya sudah naik darah hehe akhirnya diserahkan ke saya.

Saat sama saya, saya tawarkan dia untuk main dulu.

 “Emang boleh main dulu?”

 “Iya, boleh.” Jawab saya.

 Sampai kelihatan dia sudah puas bermain, saya panggil dia. Kali ini, pengalaman memang guru yang terbaik. Meskipun tak lancar sekali seperti sedang dalam bagus-bagusnya, tapi sangat lumayan dibanding saat dibimbing istri saya.

Oalah, itu kuncinya. Orang tua hanya perlu sedikit bersabar dengan kesulitan. Hanya butuh waktu untuk mengatasinya. Sabar.

8. Memberikan Keteladanan

Saya masih percaya bahwa keteladanan merupakan jurus yang ampuh untuk memberikan contoh pada anak, untuk membangun karakter anak untuk membentuk kebiasaan.

Begitu pula dalam proses menumbuhkan minat baca ini. Kalau ingin anak kita suka baca, maka kita juga harus suka baca.

Untungnya keluarga kami semua suka baca buku. Oh iya saya adalah guru. Mengajar mata pelajaran Fisika. Namun saya suka baca buku, berbagai genre buku. Isteri saya pun demikian. Meskipun dosen Matematika, dia suka baca buku. Bahkan, sudah punya beberapa buku antologi.

Saling sinergi satu sama lain akan mempermudah mencapai tujuan.

Saya mulai pindah ke Banten pada September 2013. Sampai sekarang, sudah ratusan buku ada di koleksi perpustakaan keluarga kami. Ratusan buku pula saya baca. Fiksi dan non fiksi semuanya dilahap. Malah, saya bikin resensi bukunya.

Dulu saya rutin mendata buku apa saja yang sudah dibaca. Untuk pendokumentasian nya saya menuliskannya di sebuah file. Tapi nggak semua yang ingat. Ini beberapa di antaranya.

Orangtua mana sih yang nggak senang jika anaknya sudah bisa baca? Namun, yang penting adalah anak jangan sampai dipaksa-paksa untuk bisa membaca. Sebab, membaca harusnya merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Antusias membaca lebih diutamakan daripada kemampuan membaca”. M. Fauizil Adhim (Penulis buku Agar Anak Gila Membaca)

Tak perlu iri dengan anak oranglain yang sudah bisa baca duluan. Lalu orangtua sibuk mengikutkan anak ke tempat les yang akhirnya mengurangi masa bermain anak. Ingat, ya, bermain bagi anak merupakan sebuah kebutuhan. Wajib dipenuhi. Mulai tumbuhkan minat baca dari rumah, dari orangtuanya sendiri.

Membaca Yang Semakin Menyenangkan Bersama Let’s Read

Saat ini, mendapatkan pengalaman membaca menjadi semakin mudah dan menyenangkan dengan kehadiran Let’s Read.  Let’s Read merupakan perpustakaan digital gratis untuk anak. Berisi ratusan cerita menarik dalam berbagai bahasa. Let’s Read ini diprakarsai oleh Lembaga Pembangunan Internasional Nirlaba, The Asia Foundation.

Aplikasi Let’s Read bisa diakses dengan gawai. Hal ini menjadikan anak semakin senang baca. Dengan memanfaatkan teknologi, aktivitas memang menjadi lebih seru. Dijamin, anak senang berlama-lama.

Anak saya suka sekali dengan cerita yang ada di aplikasi Let’s Read. Tentu saja, ada favoritnya. Apa cerita favoritnya? Ada dua bacaan.

Pertama, judulnya Semut dan Roti. Ceritanya, ada seekor semut yang menemukan roti. Roti itu ukurannya besar sekali. Si semut ini tidak bisa membawanya pulang ke sarang. Meskipun ia menarik dengan sekuat tenaga, roti itu tidak bergerak. Dia tidak menyerah. Lalu, dia memanggil teman-temannya. Dengan semangat kerja sama dan gotong royong, akhirnya roti tadi berhasil dibawa ke sarang mereka.

Kedua, cerita tentang virus Corona. Tentu saja, ini adalah tema yang sedang ramai dibicarakan. Mas Jundi pun tertarik dengan apa sih Corona itu. Dia baca berulang kami. Rupanya penasaran juga dia dengan virus Corona. Tingkat kesulitan bacaan di angka 2 membuatnya tidak sulit memahami bacaan.

Ini dia pengalaman anak saya membaca menyenangkan bersama Let’s Read.

 

Ada level-level kesulitan pada bacaan-bacaannya. Urutannya tingkat kesulitan 1, 2, 3, 4, dan 5. Paling sulit di angka 5. Maka sesuaikan dengan umur anak untuk memilih bacaannya. Kita juga bisa atur atau pilih jenis bahasa, level bacaan, tema, dan hurufnya.

 Untuk menggunakan Let’s Read, kita tinggal mengunduhnya di alamat berikut. Unduh Let’s Read di sini ya : (https://bit.ly/downloadLR)

Let’s Read ini diprakarsai oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017.

Beberapa cerita di aplikasi Let’s Read

Misi Let’s Read:

Membudayakan kegemaran membaca pada anak Indonesia sejak dini melalui:

  1. Digitalisasi cerita bergambar,
  2. Pengembangan cerita rakyat yang kaya kearifan lokal,
  3. Penerjemahan buku cerita anak berkualitas terbitan dalam dan luar negeri ke dalam bahasa nasional dan ibu.

Di Let’s Read ada juga bahasa daerah, lho. Pas banget nih buat mengenalkan dan mengajarkan anak bahasa daerah atau bahasa ibu.

Salah satunya cerita berjudul Pangeran jo Inyiak atau kalau diterjemahkan Pangeran dan Harimau. Cerita ini berbahasa Minangkabau. Ada bahasa Inggrisnya juga.

Cerita ini ditulis oleh Wulan Mulya Pratiwi. Cerita ini bagus. Sekalian mengajarkan tentang karakter baik untuk anak. Mengajarkan karakter saling menolong dan saling menghormati.

Bahwa manusia dan binatang bisa hidup rukun saling berdampingan dan menjaga sehingga lingkungan pun akan damai

Momen-momen Mengejutkan

 “Ayah, lihat ini Mas Jundi punya eksperimen” katanya sambil memamerkan mainan dari kado yang didapatnya dari hadiah gurunya. Oh iya, anak saya saat ini TK A.

Kekagetan saya bukan pada kadonya. Tapi kata ‘eksperimen’-nya itu. Dari mana anak kecil itu dapat istilah eksperimen ya? Hehe.. 

Saya meyakini bahwa ini tidak lain karena rajin baca atau dengar cerita dari buku pula. Lain kali, dia mengejutkan dengan pertanyaannya.

 “Ayah, emang kalau batu digosok-gosok bisa keluar apinya?” tanya si sulung sewaktu kami ngabuburit, bakar-bakar koran bekas di depan rumah. 

Di sela-sela menunggu datangnya waktu berbuka, kami ngabuburit di depan rumah saja. Sebab masih dalam rangka isolasi mandiri untuk pencegahan Covid-19.

Untungnya saya lekas ingat. Mungkin si sulung nanya begini, karena ingat buku Rahasia Keajaiban Api. Rupanya masih ingat juga dia dengan isi buku. Namun, untuk mengetes ingatannya, saya uji dengan judul bukunya.

 “Oh, kayak yang dibuku Asal-Asul Api ya, Mas?”

 “Bukan..”, katanya bersemangat, “bukunya Rahasia Keajaiban Api. Kan ada orang yang tidak pakai baju gosok-gosok kayu di batu terus ada apinya.”

Maksudnya tidak pakai baju adalah manusia purba yang kala itu belum mengenal dan mengenakan baju. Syukurlah dia masih ingat.

Memberikan pengalaman langsung yang berkaitan dengan bacaan akan memberikan ingatan yang kuat pada bacaan. Kesimpulan saya, manfaat dari minat membaca adalah bertambahnya pengetahuan, dan bertambahnya kosa kata. Maka, jangan ragu-ragu untuk senantiasa membimbing dan mengupayakan buah hati agar memiliki minat membaca.

 

Pengalaman Membaca Haruslah Menjadi Pengalaman yang Menyenangkan, Bukan Menjadi Pengalaman Buruk Bagi Anak.

CERITA SEBELUM BERCERAI

CERITA SEBELUM BERCERAI

Salah satu kunci harmonisnya keluarga karena kesetiaan. Kesetiaan adalah keberanian untuk mempertanggungjawabkan perasaan-perasaan yang kita miliki (hlm 15).

Sebelum melangkah jauh, tulisan ini adalah resensi buku. Sebenarnya apa yang saya sampaikan di tulisan ini sangat sedikit, dibandingkan isi bukunya. Tapi tak apalah. Semoga sedikit mewakili.

Saat mencintai seseorang, kita mungkin punya perasaan lain seperti mencintai pasangan karena parasnya,  suaranya, gesturnya, atau apapun yang dia miliki. Setia bisa diartikan melindungi, takut, tidak mendua, dan bersyukur.

 

Dengan segala kekurangan pasangan kita, sebenarnya kita tidak bisa bandingkan dengan semua kelebihan-kelebihannya.

Dengan pengertian itu, Fahd mendefinisikan bahwa setia itu sulit. Maka, hanya mereka yang bersungguh-sungguh saja yang bisa setia. Ya, setia memang sulit. Tidak semua bisa melakukannya. Karena itu, orang yang setia itu istimewa.  Buku ini selesai ditulis tepat sepuluh tahun usia pernikahan Fahd. Tidak hanya kisah rumah tangga mereka, tapi juga keluarga besar mereka menggambarkan betapa cinta yang besar antar anggota keluarga.

Tak melulu ditulis oleh tapi juga ditulis oleh Rizqa sang istri. Dari curhat sang istri terlihat bahwa tidak semua pandangan orang luar itu benar adanya. Misalnya orang mengira Fahd sering memberikan romantis pada sang istri ternyata tidak selamanya begitu.

Bahkan dalam beberapa hal mereka dalam pandangan yang berbeda. Namun, hal yang terpenting adalah saling memahami bahwa apa yang dilakukan oleh pasangannya merupakan sesuatu hal baik karena itu keberadaannya adalah mendukung sang suami.

Sang istri menyakini bahwa pengorbanan yang dilakukan sang suami lebih dari yang bisa dilakukan. Dia meyakini bahwa ada yang lebih sulit dari menjadi seorang istri yang yaitu menjadi ibu bagi anak-anak

Memahami bahwa ketika menjadi pasangan akan ada banyak hal yang disesuaikan. Buku ini seakan curhat bagi kedua orang yang tengah berumah. Memuat bagaimana bersikap terhadap orang tua sendiri dan orang tua pasangan. Kata Fadh, selama kita belum bisa menganggap orang tua pasangan kita sebagai orang tua sendiri, di sana kadar cinta dan penghormatan kurang kadarnya.

Mereka menuliskan pandangannya tentang pasangan. Betapa tidak mudah memutuskan untuk menerima sebagai pasangan. Namun jauh lebih sulit untuk mempertahankan pilihan. Mungkin banyak keluarga yang begitu. Namun sedikit yang bisa memilih cara untuk mengungkapkan sebagaimana pasangan suami isteri ini.

Bagi Fahd, menikah ternyata lebih sulit dari keputusan untuk menikah itu sendiri. Berkeluarga  bukan hanya tentang romantisme seperti menjemur pakaian berdua, bercerita di teras, atau bersama menatap bintang di malam hari. Diakuinya bahkan sulit untuk menghabiskan dua ribu kata per hari. Komunikasi menjadi semakin sulit. Ditambah kehadiran anak-anak mereka yang semakin mengikis kesempatan untuk bermesraan.

Yang pasti ada kekurangan dalam diri kita. Mungkin kita bukanlah seperti sosok yang dikaguminya, namun berusaha membahagiakannya merupakan pilihan tetap untuk selalu berada dalam titian rumah tangga. Dalam buku ini, Fahd bercerita tentang keluarganya. Namun kentara sekali bahwa dia hendak berbagi kisah dan nasihat dengan menghindari menggurui. Berbagi kisah di dalamnya mungkin memiliki kesamaan dengan keluarga lain tapi bisa berbeda penyikapannya. Seperti buku pedoman membangun keluarga yang disajikan dengan bahasa lebih mengalir dan tidak kaku.