Aisyah, wanita cerdas sepanjang zaman

Aisyah, wanita cerdas sepanjang zaman

Belakangan, lagu tentang Ummul Mukminin Aisyah ra menjadi viral. Tidak tanggung-tanggung, belasan cover lagu semua menjadi trending. Bahkan ada yang mencapai 33 juta kali ditonton. Meskipun begitu, lagu ini menjadi perbincangan dengan pro dan kontra.

Salah satu alasan yang menyayangkan lagu ini karena liriknya yang hanya mengedepankan fisik beliau semata. Sehingga dikhawatirkan hanya hal duniawi saja yang diambil dari sisi beliau. Bahkan kesannya kurang sopan. Lantas, seorang tokoh pun menganjurkan agar liriknya diubah. 

KLirik Aisyah pun beragam bahasa. Tetap menjadi trending. Bahkan ulasan tentang cover lagu pun menjadi trending. Nah, buku ini setidaknya menjawab kekurangan yang disandingkan pada lagu tersebut.

 

Buku ini merupakan bagian ketiga dari serial Wanita Mulia Di Sisi Rasulullah. Review sederhana ini bukan pula bermaksud menandingi keberadaan lagu Aisyah, hanya sekadar menambah pengetahuan tentang sosok wanita mulia isteri Rasulullah. Dan, penggambaran sosok beliau dalam review ini juga hanyalah secuil dari keluasan karakter beliau. 

Buku ini merupakan karya Syekh Sayyid Sulaiman an-Nadawi, ulama terkemuka di Universitas Nadwatul Ulama’. Menjadi sebuah anugerah bagi khasanah keilmuan bagi sejarah Islam. Keistimewaannya terhadap pada studi akademis dan historis atas kehidupan Ummul Mukminin.

Buku ini sekaligus sebagai cermin bagi setiap wanita muslim untuk melihat dirinya dan menyandarkannya pada sifat sifat dan karakter dari Aisyah. Merupakan terjemahan dari buku yang ditulis Sayyid Sulaiman yang merupakan tokoh Islam dari India. Syekh Sulaiman an-Nadawi sendiri telah berpulang ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala pada 22 November 1953 Masehi. 

Banyak literatur yang menyatakan perbedaan kelahiran Aisyah. Menurut buku ini, versi yang paling benar adalah bahwa Aisyah lahir pada bulan Syawal akhir tahun ke-5 Hijriyah, 8 tahun sebelum peristiwa hijrah bertepatan dengan bulan Juli tahun 614 M. 

Tidak banyak literatur tentang Aisyah. Sehingga karya ini bisa menjadi sumber yang sangat mumpuni tentang Aisyah. Aisyah menjadi sosok yang sangat mengetahui rahasia-rahasia pribadi Rasulullah Saw. Sehingga banyak hal yang dilakukan dan diucapkan Aisyah bersandar dari pengalamannya bersama Rasulullah Saw.

Buku ini juga mengupas posisi strategis kehidupan Aisyah dalam bidang ilmu pengetahuan terutama hadist. Seperti diketahui, banyak hadis yang yang diriwayatkan oleh beliau bahkan beliau juga menjadi perantara turunnya sebab turunnya Alquran.

Aisyah Banyak Meriwayatkan Hadits

Aisyah Wanita Tercerdas Dalam Sejarah Ummat

Mengapa Rasulullah sangat mencintai Aisyah? Banyak orang mengira bahwa Rasulullah sangat mencintai Aisyah lantaran kecantikannya semata. Pendapat ini tidak benar, karena banyak istri beliau yang lain seperti Zainab, Juwairiyah dan Shafiyah memiliki wajah yang juga elok dipandang. 

Dari literatur-literatur hadist serta sejarah terdapat penjelasan yang melimpah tentang kecantikan istri-istri nabi tersebut. Tetapi hanya ada satu atau dua riwayat yang menyebutkan kecantikan Aisyah.

Tetapi mengapa posisi Aisyah lebih istimewa di hati Rasulullah sebuah posisi yang tidak bisa dicapai oleh istri-istri orang lain? 

Aisyah sendiri memiliki keistimewaan dibandingkan istri-istri Nabi yang lain dalam hal keluasan dan kematangan ilmunya di bidang agama termasuk Alquran, tafsir, hadits dan fiqih. Ia juga memiliki kemampuan ijtihad yang mengagumkan, pemahaman yang mendalam tentang persoalan-persoalan agama, dan serta kemampuan merumuskan hukum untuk situasi situasi baru. (halaman 49)

 

Aisyah banyak meriwayatkan hadist. Menjadi orang keempat yang paling banyak meriwayatkan hadist.

Aisyah lahir ketika kedua orang tuanya telah memeluk agama Islam. Tidak ada satupun keluarga Muslim yang mampu menyamai perjuangan dan pengorbanan keluarga Abu Bakar dalam penyebaran agama Islam. Rumahnya diberkahi dan penuh dengan kemuliaan, kebahagiaan, dan keagungan terpancar terang. 

Sembilan Keutamaan Aisyah   

“Aisyah ra berkata, “Aku memiliki sembilan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh wanita manapun sebelum ini. Aku katakan bukan dengan tujuan menyombongkan diri atas istri Rasulullah SAW yang lain. Pertama, Rasulullah SAW pernah didatangi oleh malaikat yang menyerupai diriku. Kedua, Rasulullah menikahi saat aku berusia 7 tahun. Ketiga, beliau mengajakku hidup bersama di bawah satu atap saat aku masih berusia 9 tahun. Keempat, Rasulullah menikahiku saat aku masih perawan, dan tidak ada wanita lain yang beliau nikahi dalam keadaan seperti itu. Kelima, wahyu pertama turun ketika Rasulullah sedang bersamaku di dalam satu selimut. Keenam, aku termasuk salah seorang yang paling beliau cintai. Ketujuh, ada beberapa ayat dalam Alquran yang diturunkan karena diriku, sementara umat Islam nyaris binasa karenanya. Kedelapan, aku pernah melihat Jibril dengan mata kepalaku sendiri, dan itu tidak pernah dialami oleh istri-istri nabi yang lain. Kesembilan, Rasulullah Saw. pernah didatangi malaikat dalam sebuah rumah di mana tidak ada orang lain di sana kecuali diriku sendiri. HR Hakim Thabrani dan Ibnu Abi Syaibah).

Maka, adalah wajar, tentu saja jika Rasulullah mencintainya melebihi rasa cinta beliau kepada istri-istri yang lain. Buku ini merupakan salah satu dari sekian banyak karya Sayyid Sulaiman terdapat 11 buku sudah ditulis oleh Sayyid Sulaiman.

 Aisyah Sang Dermawan

Aisyah beruntung dilahirkan pada keluarga yang memiliki akhlak mulia. Ditambah bimbingan dari Rasulullah Saw. maka Aisyah menjadi pribadi yang sangat luhur akhlaknya memiliki spiritual dan makna ilmiah yang terpuji memiliki sifat zuhud dan wara’ serta berhati-hati menjalankan ajaran agama. tidak terhitung potret sifat-sifat terpuji di dalam kepribadiannya yang agung.

Suatu hari Muawiyah pernah menghadiahkan uang sebesar 100.000 dirham kepada Aisyah. Aisyah segera menyedekahkan seluruh uang tersebut tanpa menyisakan untuk dirinya. Ketika ia ditanya, “Engkau sedang berpuasa. Mengapa tidak kau sisakan satu dirham saja untuk membeli daging?” Aisyah menjawab, “Andai aku ingat, aku pasti melakukannya.” (HR Hakim.)

 

“Aisyah tidak pernah hamil dan tidak memiliki keturunan. Tetapi ia tidak merasa sedih dengan kenyataan itu. Ia menerimanya dengan ikhlas dan rela. Sepanjang hidupnya, Aisyah tidak pernah mengeluh.” (halaman 206)

Aisyah kemudian mengadopsi Abdullah bin Zubair yang dicintainya seperti anaknya sendiri. Demikian pula, Abdullah mencintai Aisyah lebih daripada ia mencintai ibu kandungnya. Aisyah juga mengasuh beberapa anak yatim.

 

Judul               : Aisyah Kekasih yang Terindah

Penulis            : Sulaiman an-Nadawi

Penerjemah   : Ghozi Mubarok

Penerbit         : Republika Penerbit

Tebal               : x+381 halaman

Cetakan          : Januari 2018

ISBN                : 978-602-082-276-1

Peresensi        : Supadilah

Teguh Di Jalan Agama

Teguh Di Jalan Agama

Dalam Mihrab Cinta

Karya Kang Abik selalu memukau. Novel beliau memberikan banyak motivasi. Seusai membacanya, banyak jiwa yang tadinya redup menjadi menyala kembali.

Dalam Mihrab Cinta

Salah satu novel yang juga menginspirasi adalah novel Dalam Mihrab Cinta. Merupakan kumpulan dari tiga novelet. Saya sudah baca satu novelet di awal. Makanya saya tidak membaca dan mereview-nya. Saya langsung ke dua novelet selanjutnya. Nah, berikut ini review sederhana saya.

 

Syamsul Hadi diseret oleh beberapa orang santri. Meskipun santri berambut gondrong itu sudah mengaduh dan minta ampun serta berulang kali mengatakan bahwa bukan dia pelakunya, selalu bogem mentah melayang ke wajahnya. Dia pingsan, dan dimasukkan ke gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya diikat. Air matanya meleleh, meratapi nasibnya. Rasanya kematian telah berada di depan mata.

ak Kyai datang interogasi. Lalu dihadirkan saksi kunci peristiwa tersebut. Syamsul berharap Burhan dapat menyelamatkan Samsul dari tuduhan itu. Namun, dusta semakin memberatkan hukumannya. Syamsul dihukum gundul, dan dikeluarkan dari pesantren. Orang tuanya yang merupakan pengusaha batik sukses di Pekalongan sangat malu atas kejadian tersebut. Sungguh malang, keluarga Samsul juga percaya atas tuduhan pondok. Di rumah tidak ada lagi yang peduli dengannya. Hanya Nadia, adiknya, yang sedikit memberikan perhatian padanya.

 Merasa tak ada lagi yang mempercayai, Syamsul minggat. Berniat hidup mandiri. Namun kenyataan hidup tak seindah yang dibayangkan. Bekal uang pinjaman dari Nadia habis. Sementara, dia tak kunjung dapat pekerjaan. Berpikir pendek, dia mencopet. Naas, ketahuan. Selain dihajar, diapun dibawa ke penjara. Masuk berita di koran. Hal ini semakin menegaskan bahwa Syamsul sebagai seorang pencuri memang benar adanya.

Pak Kyai datang interogasi. Lalu dihadirkan saksi kunci peristiwa tersebut. Syamsul berharap Burhan dapat menyelamatkan Samsul dari tuduhan itu. Namun, dusta semakin memberatkan hukumannya. Syamsul dihukum gundul, dan dikeluarkan dari pesantren. Orang tuanya yang merupakan pengusaha batik sukses di Pekalongan sangat malu atas kejadian tersebut. Sungguh malang, keluarga Samsul juga percaya atas tuduhan pondok. Di rumah tidak ada lagi yang peduli dengannya. Hanya Nadia, adiknya, yang sedikit memberikan perhatian padanya.

Merasa tak ada lagi yang mempercayai, Syamsul minggat. Berniat hidup mandiri. Namun kenyataan hidup tak seindah yang dibayangkan. Bekal uang pinjaman dari Nadia habis. Sementara, dia tak kunjung dapat pekerjaan. Berpikir pendek, dia mencopet. Naas, ketahuan. Selain dihajar, diapun dibawa ke penjara. Masuk berita di koran. Hal ini semakin menegaskan bahwa Syamsul sebagai seorang pencuri memang benar adanya.

Di penjara, dia belajar banyak cara melakukan kejahatan dari napi lainnya. Dia bebas setelah Nadia datang membebaskan. Saat diajak pulang ke rumah oleh Nadia, Syamsul tidak mau karena merasa orang tuanya tidak akan Sudi melihat mukamu.

Dia pun pergi ke Jakarta mencari pekerjaan. Nasib belum berpihak padanya. Ia mengamalkan ilmu yang didapat saat dipenjara. Kali ini dia berhasil mencopet beberapa dompet.

Samsul mendapat tawaran mengajar privat ngaji. Dari sana dia mulai menata hidupnya tidak perlu lagi mencopet mungkin dia berjanji akan mengembalikan dompet ke alamat nya masing-masing. Cara mengajar ngajinya bagus dan menyenangkan. Dia mendapat kesempatan membuka kedok Burhan sekaligus menyelamatkan keluarga Pak Broto dari tipu Burhan. Rupanya Burhan merupakan merupakan tunangan Silvie, korban pencopetannya.

Sementara itu tu terjadi terkuaklah sebuah kebenaran di pondok. Rupanya Burhanlah pelaku pencurian selama ini. Samsul mendapatkan kesempatan mengisi pengajian di sebuah stasiun televisi. Semakin membaik kehidupannya.

Novel Dalam mihrab Cinta ini terinspirasi dari faman ya’mal misqala dzarratin khairan yarah wa man ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah. Dalam Mihrab Cinta terdiri dari tiga novelet yaitu Takbir Cinta Zahrana, Dalam Mihrab Cinta, dan Mahkota Cinta.

Satu benang merah dalam ketiga novel ini adalah keteguhan dalam memegang agama akan membawa dalam kebahagiaan. Kunci kesuksesan hidup adalah kerja keras diiringi dengan ridho atas takdir Allah. Menjalankan kehidupan dengan berlandaskan aturan agama.

Mahkota Cinta menceritakan kisah Zul yang merantau ke Batam ke Malaysia. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan Mari yang menjadi penolongnya di negeri Jiran. Mari menyimpan liku hidup yang tidak kalah pedih. Di Kuala lumpur, Marni tidak sendiri tetapi ada Linda, Reni, Iin dan Sumiati. Mereka dihadapkan pada kesulitan hidup. Bahkan, Linda terpaksa memilih kehidupan bebas yang dengan cepat mendatangkan uang.

Zul bertemu dengan Pak Rusli, Sugeng, Yahya, dan Pak Muslim. Oleh teman-temannya Zul dimotivasi untuk bisa kuliah sambil bekerja. Dari sosok Yahya, Zul banyak mendapatkan motivasi hidup. “Intinya, tidak boleh malu tidak boleh menyerah dan harus terus bergerak” (hlm 181)

Saat mengunjungi Mari, Zul menyelamatkan Mar yang hendak diperkosa mantan suaminya. Di saat itu juga muncul benih-benih cinta pada Mari. Hal ini mengubah hidupnya. Zul menjadi malas-malasan bekerja dan kuliah. Kondisi ini berlangsung sampai tiga bulan lamanya. Hidupnya kacau. Padahal dia harus mencari nafkah untuk membayar flat, kuliah, dan biaya hidupnya. Pak Muslim menganggap perlu untuk menentukan dan memperbaiki perkara kondisi Zul. Dia memberikan tiga pilihan yaitu meneruskan kuliahnya dan melupakan mari, menikahi Mari dengan konsekuensinya, atau keluar dari rumah kontrakannya karena dapat membawa pengaruh buruk bagi yang lainnya.

Zul memilih yang kedua. Saat dia mendatangi rumah Mari, ditemukan bahwa rumah itu dalam penyitaan karena di dalamnya untuk maksiat. Mari juga diciduk. Beritanya muncul di surat kabar. Zul terpukul. Dia pun membatalkan niatnya itu.

Kini dia fokus bekerja dan kuliah S2. Saat tersiar lowongan dosen di UNY yang sesuai dengan bidangnya, Zul menemui Pak Muslim yang lebih dulu kembali ke tanah air. Saat itu Zul ditawarkan untuk menikah dengan sahabat istri dari Pak Muslim. Namun sosok Agustin atau Asma Maulida itu justru membuatnya terkejut.

Ada banyak kesulitan hidup. Namun jika hidup kita sandarkan pada ketentuan agama, bakal selamatlah hidup kita. Takdir hidup juga misteri. Tidak bisa diterka. Dengan menyandarkan pada ketentuan agama, kita akan menjalaninya dengan lebih tenang dan optimis.

 

 

Meriahnya IBF 2020 Dari Temu Penulis Hingga Book Signing.

Meriahnya IBF 2020 Dari Temu Penulis Hingga Book Signing.

Meriahnya IBF 2020

Dari Temu Penulis Hingga Book Signing.

Kehadiran pameran buku sangat baik untuk meningkatkan literasi masyarakat. Salah satu pameran buku yang layak diapresiasi adalah Islamic Book Fair (IBF). Hingga 2020 ini, IBF telah digelar sebanyak 19 kali.  IBF 2020 ini digelar selama lima hari 26 Februari-1 Maret.

IBF sangat efektif menumbuhkan minat baca. Banyaknya buku yang digelar menjadi magnet pengunjung untuk membelinya. Beli dulu, urusan baca belakangan. Kalau sudah punya, pasti tertarik membacanya. Atau, melihat teman beli buku, kita juga akan tertarik melakukan hal serupa.

Dari tahun ke tahun pelaksanaan IBF selalu meraih. Pengunjungnya semakin meningkat. Menurut saya hal ini disebabkan oleh dua hal yaitu meningkatnya budaya literasi dan kemasan acara yang menarik.

Sebelumnya, budaya literasi bangsa kita memang menjadi sorotan lantaran sangat rendah. Bahkan laporan PISA 2019 pada Desember lalu juga masih menempatkan Indonesia pada urutan ke-72 dari 77 negara.

Saya selalu hadir ke IBF dalam enam tahun terakhir. Meskipun tak selalu membeli buku. Sengaja membawa serta keluarga. Sebab di IBF tak hanya menyediakan buku tapi juga ada sarana main anak. Di sana anak bisa merasakan berbagai sarana bermain yang bisa meningkatkan motorik dan kemampuan berpikirnya.

Peran Sekolah/Pondok 

IBF menjadi semakin semarak dengan sekolah mengerahkan dan mengarahkan siswanya ke IBF. Banyak sekolah, pesantren, dan lembaga pendidikan Islam yang menjadikan IBF sebagai bagian agenda literasi sekolahnya. Hal ini sangat bagus untuk variasi kegiatan literasi. Terlebih bagi pondok pesantren yang memang akrab dengan literasi. Budaya literasi santri harus senantiasa terjaga. Lewat IBF salah satu sarananya. Santri diharapkan terus menumbuhkan tradisi literasi yang dinamis dan terbarukan.  Sebab ilmu pun semakin hari semakin berkembang.

Kehadiran penulis buku menjadi magnet bagi pengunjung. Penulis seperti Asma Nadia, Isa Alamsyah, Habiburrahman El Shirazy, Oki Setiana Dewi, dan lainnya. Mendengar langsung motivasi menulis dari para penulis kenamaan efektif memotivasi diri.

Banyak pula pesantren yang mengerahkan para santrinya untuk hadir di IBF. Bahkan ada pimpinan lembaganya yang juga melaunching bukunya. Pimpinan pondok pesantren La Tansa Lebak Banten, KH. Adrian Maftihullah melaunching bukunya Pangeran Tanpa Mahkota. Ratusan santri menghadirinya.

Ada baiknya kegiatan IBF ini dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Bisa jadi pelaksanaannya diadakan di awal bulan atau tanggal muda, saat itu keuangan masih sehat. Namun bisa jadi ini strategi agar kita benar-benar mampu memanajemen keuangannya supaya tetap bisa datang ke IBF.

 Isu kekhawatiran virus Corona juga ada. Dikatakan, wilayah Jakarta masuk sebagai daerah berpotensi tersebarnya virus tersebut. Namun hal ini tidak mengurangi antusiasme pengunjung untuk hadir. Di berbagai media sosial mengabarkan membludaknya pengunjung IBF setiap harinya.

IBF dan Pendidikan Karakter

Kunjungan ke IBF juga menjadi sarana pembelajaran bagi pengunjung untuk menerapkan prinsip persaudaraan. Saling berbagi dan membantu sesama pengunjung. Antrean yang saling berdesakan menjadi ujian ketertiban pengunjung. Sejauh mana mereka bisa menjaga nilai-nilai karakter baik dengan kondisi yang serba tidak enak.  Terutama saat mengantre mengambil wudhu yang untuk keluar masuk pintu menuju mushola sangat terbatas. Islamic Book Fair 2020 mengambil tema Literasi Islam Cahaya Untuk Negeri diramaikan sebanyak 343 stand yang diisi penerbit, media massa, biro perjalanan, properti syariah, instansi pemerintah, dan lainnya.

Buku-buku yang tersedia sudah pasti asli. Bukan bajakan. Dengan sendirinya IBF mengedukasi masyarakat agar menghindari dari buku bajakan.

Islam memiliki kontribusi yang besar untuk kemajuan negeri. Lewat IBF kita bisa berharap banyak. Bukan hanya meningkatnya minat baca dan literasi bangsa tapi juga internalisasi karakter baik bagi generasi bangsa.

 Saya hadir dua kali di IBF 2020 ini. Kedatangan pertama bawa keluarga. Kedua kalinya sendirian.

Selain berburu buku, pengunjung ke IBF untuk bisa bertemu dengan penulis. Memang, ada acara yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk bertemu dengan penulis kenamaan. Ada bedah buku yang biasanya dibedah oleh penulisnya. Biasanya dilakukan di panggung utama.

 

 

 

Lalu, ada juga Book signing alias tanda tangan buku. Biasanya dilakukan di stan penerbit. Saya percaya, dengan bertemu penulis kita akan beroleh energi. Bukan hanya energi menulis, lho. Juga energi menghadapi hidup bahkan energi menjalankan pekerjaan kita.

Selain berburu buku, pengunjung ke IBF untuk bisa bertemu dengan penulis. Memang, ada acara yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk bertemu dengan penulis kenamaan. Ada bedah buku yang biasanya dibedah oleh penulisnya. Biasanya dilakukan di panggung utama.

Lalu, ada juga Book signing alias tanda tangan buku. Biasanya dilakukan di stan penerbit. Saya percaya, dengan bertemu penulis kita akan beroleh energi. Bukan hanya energi menulis, lho. Juga energi menghadapi hidup bahkan energi menjalankan pekerjaan kita.

Setidaknya itu yang saya rasakan dengan beberapa kali bertemu penulis. Di islamic book fair (IBF) kemarin saya bertemu empat orang penulis yaitu Habiburrahman El shirazy atau kang Abik, Solikhin Abu Izzudin, Ustadz Salim A Fillah, dan DR  Oni Sahroni.

Saya sempat ngobrol dengan kang Abik. Setelah beli bukunya, saya minta tanda tangan. Di sela- sela tandatangan itu saya meminta beliau memberikan suntikan motivasi agar saya terus rajin menulis. Kata beliau, “teruslah menulis. Ya, teruslah menulis”.

Saya sempat pula katakan bahwa pada 2 Februari kemarin cerpen saya dimuat di Republika. “Bagus itu,” kata beliau. Beliau meminta saya terus menulis. Setelah itu, saya jadi termotivasi untuk selalu menulis. Meski, entah jenis apa tulisannya.

[Resensi Buku] Si Anak Kuat

[Resensi Buku] Si Anak Kuat

M

Menjadi anak bungsu harusnya enak. Paling dimanja, paling disayang, dan dipenuhi kebutuhannya. Seharusnya begitu. Namun mengapa Amelia justru merasa tidak ingin menjadi anak bungsu? Ah, andai saja dia bisa membuat pilihan. Kiranya dilahirkan bukan sebagai anak bungsu. Meskipun juga bukan sebagai anak sulung. Pokoknya, asal bukan anak bungsu.

Ini tidak lain perlakuan Eliana, kakaknya yang selalu menyuruhnya mengerjakan banyak hal. Melakukan inilah, melakukan itulah. Padahal tidak begitu kepada kakaknya yang lain. Bahkan Mamaknya pun sama. Hampir tidak bisadia bermain atau ikut dalam kegiatan warga seperti menanam padi, ke ladang, atau lainnya.

Sampai kemudian dia mendapat rahasia dari Maya yang dapat membuat supayakakaknya tidak cerewet padanya. Namun nahas, rencana itu berantakan. Ketahuan. Kakaknya marah besar. Bahkan Mamak dan Bapaknya pun marah. Amelia dihukum oleh bapaknya; mengerjakan semua pekerjaan kakaknya.

Baru kemudian dia tersadar betapa lelahnya menjadi anak sulung. Lebih banyak lagi yang harus dikerjakan, lebih banyak lagi kewajiban yang wajib ditunaikan. Benar kata Nek Kiba, “Orang-orang yang melakukan kesalahan pasti hidupnya tidak tenang hingga dia mau bertobat” (hlm 51).

Namun hukuman terbesarnya adalah menemani kakaknya mencari kayu bakar di hutan. Menemani sosok yang justru dibenci dan dihindarinya. Sampai kemudian sebuah musibah yang membuat pandangan Amelia terhadap kakaknya berubah. Sebuah musibah yang membuat kakaknya mempertaruhkan kesehatan dan dirinya. Peristiwa yang membuka mata Amelia, betapa sejak dulu kakaknya bukan hanya sayang dan melindunginya. Sejak saat itu, Amelia berharap dipanggil Eli. Sebagai sebuah kebanggaan terhadap sang kakak.

Amelia harus berhadapan dengan masalah teman sekelasnya yang nakal, usil, dan kurang bersahabat. Dia berjuang untuk mengalahkan dirinya sendiri.

Cara bapak menegur dan menghukum Amelia sungguh mujarab. Begitulah cara Bapak mendidik anak-anaknya. Tidak serta merta menghukum tapi dengan memberikan pemahaman terlebih dahulu.

Sungguh pun tidak mendapatkan pendidikan yang tinggi, namun Bapak memiliki cara mendidik anak-anaknya yang hebat. Menanamkan karakter positif pada setiap anaknya. Amelia, si anak kuat. Bukan kuat secara fisik, tapi hatinya yang kuat. Perasa dan mampu mengartikan banyak hal tentang kehidupan.

Melalui novel ini kita juga disadarkan pentingnya pendidikan. Lewat pak guru Bin anak-anak kampung disadarkan bahwa dengan pendidikan, kehidupan kita bisa maju dan meningkat. Ilmu membuat usaha pertanian dan perkebunan dilakukan dengan cara yang cerdas, termasuk dalam hal pemilihan bibit yang akan ditanam sehingga hasilnya pun lebih baik. Kepada anak-anak kampung itulah pak Bin berharap mereka dapat mengubah nasib penduduk kampung.

Kemiskinan dan keterbatasan bisa dilawan dengan pendidikan, ditambah kerja keras tentunya. Ilmu pengetahuan bisa membuat petani kampung kita bisa hidup lebih makmur dan berkecukupan (hlm 86).

Kisah-kisah yang disuguhkan dalam novel ini juga membangun kesadaran kita  bahwa persaudaraan adalah segalanya. Saling bantu dan kerja sama haruslah dibangun dalam keluarga. Kita disuguhkan pada potret kehidupan yang terjadi di pedalaman pulau Sumatera sana.

Kehidupan khasnya menyadap karet, menanam padi sistem huma, atau hutan yang masih asri. Kehidupan anak-anak di sana seperti  bermain di sungai, mencari jamur, mengumpulkan kayu bakar, atau mencuci piring dengan sabut kelapa mengembalikan nostalgia kita tentang kehidupan lampau. Banyak hikmah dalam novel keluarga ini. Selamat membaca

Jangan Berhenti Untuk Percaya

Siapa pula yang bisa menebak takdir. Bintang itu meredup dengan cepatnya. Ahmad, si ringkih yang hitam itu menyembunyikan sebuah keajaiban. Juga cerita kelam nasib keluarga. Di sekolah selalu menyendiri. Sekolah usia, dia segera pulang. Ada beban yang harus ditanggungnya. Membantingtulang hingga tak ada waktu untuk bermain seperti anak seusianya.

Potensi itu ditemukan secara tidak sengaja oleh Burlian. Ajakan bermain bola di suatu sore itu memupus kesan Ahmad selama ini. Dialah bintang lapangan. Bola dikakinya seakan lengket. Dialah Maradona kampung, yang juga menjadi idolanya.  Di lapangan dia seakan menari. Sebentar saja, namanya melambung. Bintang lapangan kampung itu semakin melejit namanya di turnamen sepakbola antar kampung. Setengah lusin gol disarangkan di pertandingan awal. Ahmad, si tonggos ringkih, yang terbiasa diolok-olok satu sekolahan itu, kini tak ada lagi yang memandangnya remeh. Tim mereka melaju ke final. Di suatu latihan itulah, sebuah bencana hadir. Dengan satu penyelamatan kecil, “Biar, biar aku saja yang ambil, Burlian”, Ahmad yang ringan tangan membantu ibunya itu meminjamkan hidupnya untuk Burlian. Final berlangsung sepi. Mereka kalah WO. Tak sanggup bertanding tanpa ada Ahmad.

Buku serial Mamak-Anak mengupas nilai-nilai kehidupan. Cerita ringan namun sarat makna. Makna yang saat ini semakin hilang ditelan zaman. Potret kehidupan yang terjadi di pulau Sumatera, dimana masyarakat hidup damai berdampingan dengan alam. Lalu satu persatu ‘gangguan’ kemajuan mulai menggerogoti nilai-nilai yang mengakar.

Masuknya aspal jalan yang menggantikan jalanan berbatu rusak, selain memberikan kemajuan untuk kampung, juga mengancam kebersamaan dan budaya gotong royong masyarakat kampung. Akses jalan yang lancar, memancing pemburu yang merusak kebijakan leluhur kampung. Bahkan, putri mandi pun mereka bunuh.

Begitu juga kehadiran SBSD. Judi terselubung itu juga menghancurkan tatanan kehidupan desa. Orang-orang jadi pemalas, pemimpi, dan lebih parahnya mereka percaya pada orang gila hingga kuburan. Burlian pun terseret impian kosong para pemasang SDSB. Beruntung, Mamaknya menyelamatkan sesat jalannya.

Lagi-lagi, Tere Liye selalu mampu menghadirkan pendidikan lewat kesederhanaan kisah. Tentang pahitnya hidup yang harus dihadapi dengan optimisme. Munjib, siswa kelas 5 SD, kelas paling krusial dan menentukan, sempat berhenti sekolah. Pak Bin dan Burlian berusaha keras membujuknya. Mental. Lewat Burlian, Pak Bin menitipkan energi lewat petuah bijak, jangan berhenti untuk percaya.

Munjib berhenti karena paksaan ayahnya. Tas, buku, dan seragamnya dibakar. Saat pelajaran sedang berlangsung, Munjib datang sambil menangis, diikuti ayahnya. Berkat kebijakan orang-orang kampung, Munjib kembali dapat bersekolah.

Sudah dua puluh lima tahun Pak Bin menjadi guru. Berbagai generasi diajarnya. Semua anak dikampung pasti pernah diajarnya. Tak berhenti bermimpi siswanya menjadi sesuatu. Bukan hanya jadi petani, tukang sadap karet, penangkap ikan di sungai, atau pencari rotan.

Setiap hari Pak Bin masuk sekolah. Tapi nasib Pak Bin belum berubah. Berkali-kali mendaftar PNS selalu gagal. Bahkan Pak Bin kalah dengan guru honor baru yang sekali dua kali masuk mengajar itu. Pada titik keputusannya, Pak Bin berhenti mengajar. Sekolah ramai karena Pak Bin tak ada. Padahal, Pak Bin satu-satunya guru tersisa. Kali ini, Burlian dan Munjib yang mendatangi Pak Bin. Petuah bijaknya pun termakan padanya.

Selama pengabdian itu, Pak Bin, sebagai guru honorer tak mendapat bayar dari pemerintah, tapi dibayar dengan pisang, kelapa, atau beras oleh orang tua yang menitipkan anaknya. Bahkan ada siswa yang tidak membayar apapun. Kisah Pak Bin merupakan potret semangat mendidik anak bangsa, sekaligus buramnya pendidikan kita. Dimana dan kapanpun, potret seperti ini masih selalu terjadi. Meskipun saat ini pendidikan kita lebih baik, namun nasib guru honorer masih juga belum tersentuh. Nasibnya membuat terenyeuh. Padahal pendidikan sangat menentukan maju atau tidaknya suatu bangsa. “Sekolah itu seperti menanam pohon, Burliah, Pukat” Bapak terseyum (hal 28). Bisa jadi hasil dari sekolah itu tidak langsung kentara. Kadang menunggu waktu yang lama. Namun buahnya akan terasa jika saat panen telah tiba.

 

Lewat motivasi positif Bapak dan Mamak, “Kau spesial, Burlian”, begitulah orangtua Burlian menumbuhkan percaya diri dan keyakinan. Menjadi pegangan penting dalam meraih cita-cita Burlian; keliling dunia dan sekolah dengan pustaka besar memuat banyak buku.