13+ Tragedi Yang Terjadi Saat Membawa Anak Ke Mushala

13+ Tragedi Yang Terjadi Saat Membawa Anak Ke Mushala

13+ Tragedi Yang Terjadi Saat Membawa Anak Ke Mushala

 

Kejadian di malam itu…

Gedebuk!. Si bungsu jatuh. Nangis. Tadinya saya pikir, ah udah bisa jatuh. Paling nggak kenapa-napa. Paling banter lecet. Jadi, saya yang saat itu sedang shalat, meneruskan shalat. Eh, tapi tangisnya makin keras. Saat si bungsu mendekat, saya gendong, sambil shalat. Pas digendong itu, sekilas saya lihat ada darah. Malahan darah yang keluar dari hidung itu sudah sampai ke mulut. Wah, kalau sampai mulut, berarti parah nih. Langsung saya membatalkan shalat, dan langsung pulang.

Kejadiannya tadi malam. Saat shalat Isya. Si sulung sudah kecapekan, jadi tidur duluan. Tapi nggak si bungsu yang ikut ke musola. Seperti biasa, saat saya shalat dia main. Entah kejar-kejaran, main mobilan, atau lainnya. Tadi malam itu dia jatuh. Sampai mimisan. Darahnya lumayan banyak. Sampai ke mulut, dan saat saya gendong, baju saya pun kena darah di pundak kanan dan kiri. Tujuan utama membawa anak ke mushala itu adalah untuk mengajari. Sejak kecil belajar shalat, sejak dini belajar ibadah. Meskipun belum jatuh kewajiban bagi si anak. Kan ada lagunya tuh. “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Belajar sesudah dewasa laksana mengukir diatas air”.

Ternyata, tak hanya terjadi tragedi seperti di atas saja yang bisa terjadi saat mengajak anak ke mushala. Baik itu kejadian yang menyenangkan ataupun menjengkelkan. Berikut ini pengalaman saya, dengan dua anak yang kini berumur 6 tahun dan 3 tahun, saya telah mengalami berbagai hal itu.

  1. Sedang Sujud, Anak Naik Di Punggung

Mungkin semua bapak-bapak yang punya kebiasaan membawa anaknya ke mushala mengalami ini. Eh sebetulnya waktu shalat di rumah pun bisa terjadi hal ini. Dan mungkin ini moment yang paling indah bagi orangtua; saat shalatnya ‘diganggu’ si anak.

Pas merasakan ini, membayangkan saat Rasulullah dulu juga dibuat mainan sama cucu-cucu beliau yaitu Hasan dan Husein. Kejadian Rasulullah ini pula yang jadi landasan kalau nggak papa ngajak anak ke tempat ibadah, dan nggak papa anak-anak ‘mengganggu’ orangtua saat shalat. Nggak batal shalatnya. Lanjutkan aja.

  1. Semangat Ngajak ke Mushala, Malah Main sampai Di Sana

Benar. Beberapa kali anak-anak semangat ngajak shalat. Azan belum berkumandang sudah ribut ngajakin. Ayo shalat…ayo shalat. Malah sudah bawa-bawa sajadah segala. Eh ternyata sampai di sana hanya mau main sama temannya, nggak jadi shalat.

  1. Shalat Sambil Ngobrol

Pernahkan ya anak shalat sambil ngobrol? Lalu apa yang kita lakukan? Jangan buru-buru marah ya. Ngaca deh. Dulu waktu kecil, kita juga begitukan? Tapi nggak juga membiarkan. Tetap lakukan edukasi. Meskipun, satu dua kali dia masih mengulangi. Tak apa. Tetap ajak ke Mushala ya.

  1. Shalat Pakai Celana Pendek

Mood anak hilang timbul. Pas lagi semangat, mau aja dia pakai peci dan sarung serta bawa sajadah. Tapi pas lagi malas, seenaknya aja ke mushala. Semaunya mengerjakan shalat. Pas tiba masuk waktu shalat, pengen ke mushala dengan perlengkapan seadanya. Kadang bisa dibilangin, suruh ganti. Tapi kadang juga nggak mau disuruh ganti. Pakai apa yang saat itu dipakainya. Termasuk pakai celana pendek. Jadilah dia shalat dengan bercelana pendek. Hehe…

  1. Pipis atau BAB

Terutama si kecil yang belum bisa diomongin. Maunya ikut ke mushola tapi tidak mau dikondisikan; diajak pipis dulu ke kamar mandi nggak mau. Mm….ditatur ya namanya. Hehe…  Sementara, saat itu sudah nggak pakai Pampers. Eh sedang asyik shalat tiba-tiba si kecil yang sedang main di mushola tadi pipis. Saya beberapa kali mengalami. Pernah sewaktu si kecil di teras Mushala. Jadilah saya mengepelnya. Pernah pula di dalam mushola tapi saat itu pakai celana dalam, meskipun merembes sampai ke celana luarnya tapi tidak sampai di celana bagian bawahnya. Dan saya memastikan lantainya tidak lembab atau basah. Kalau basah, repot mengepel. Apalagi kalau pipisnya di karpet. Wah, mau tidak mau harus mengepelnya. Karena itu kalau bisa sebelum ke mushola, dipaksa aja ke kamar mandi dulu. Supaya aman.

  1. Terlambat, Nggak Mau Shalat

Karena sesuatu hal, sering saya terlambat ke mushala. Pernah suatu ketika, karena terlambat, si sulung nggak mau shalat. Padahal masih ada satu atau dua rakaat. Tapi mungkin sedang tidak mood, jadinya dia memilih duduk aja di dalam mushala. hadewuh

  1. Ikut Shalat Subuh, Minta Gendong, Sampai di Mushala Tidak Shalat

Pernah suatu ketika si sulung pesan, Subuh besok dibangunkan. Tentunya saya senang. Anak mau ikut shalat subuh. Subuhnya, dibangunkan susah. Malas-malasan. Malah katanya minta gendong. Ladalah…. Tapi demi dia mau shalat, mau saja saya menggendong.

Untung tidak jauh Mushalanya. Meskipun, cukup berat juga. Mana pagi buta. Sudah keluar tenaga.

Sudah capek-capek, eh malah sampai di mushola nggak mau shalat. Masih ngantuk katanya. Akhirnya

  1. Dapat Kosa kata Tidak Bagus

Pulang dari Mushala, si sulung bawa oleh-oleh yang membuat saya terkejut dalam hati. Karena bisa disembunyikan. Sesuatu kata yang tidak bagus artinya.

Lantas saya tanya dia dapat dari mana. Jawabannya dari si anu. Hm…

Dalam pergaulan emang tidak bisa dihindarkan dari pengaruh buruk lingkungan. Cepat atau lambat sesuatu yang buruk itu akan memapar anak. Asalkan dalam batas kewajaran, tidak perlu disikapi berlebihan. Jelaskan saja bahwa itu tidak bagus.

Sekali lagi, cerminkan pada kita. Toh, dulu juga begitukan? Yang penting diedukasi juga bahwa itu tidak bagus.

Kita tidak bisa menjadikan anak kita steril (dari pengaruh buruk), tapi kita bisa jadikan dia imun (tahan terhadap hal buruk).

  1. Jatuh Sampai Berdarah

Saya lirik, dia menoleh ke saya. Masih dalam kondisi shalat, dengan kode tangan, saya ngasih isyarat untuk mendekat.

 ikir saya, dalam kondisi darurat, tak mengapa membuat gerakan selain gerakan shalat. Setidaknya itu yang saya dapat dari selama ini mengaji. Boleh saja dan tetap lanjut shalat. Si bungsu pun mendekat.

Masih dengan tangis yang semakin keras. Saya raih dan saya gendong. Eh rupanya dihidungnya mengalir darah. Dari hidung sampai mulutnya. Wah, kalau sampai mulut begini, pasti darah mengalir, dan tidak sedikit nih. Langsung saja saya batalkan shalat. Balik kanan dan pulang.

  1. Berantem Dengan Temannya

Sekali dua kali sambil shalat, becanda dengan temannya. Pernah becandaan mereka kelewatan. Sambil pukul memukul gitu. Akhirnya ada yang marah lalu sampai menangis. Namanya anak laki-laki. Tidak jauh dari emosi tinggi. Selama itu wajar, nggak papa. Biarkan itu jadi pengalaman.

  1. Berangkat Bareng, Pulang Duluan

Dengan semangat 45, kami bertiga ke mushala. Sebelumnya si kecil ogah-ogahan berangkat sebab sedang makan. Tapi lihat kakaknya yang sudah siap sedia, dia pun bergegas juga. Waktu itu shalat Maghrib. Sampai di mushola, langsung shalat karena sudah mulai shalatnya. Satu dua menit masih terdengar suara si bungsu. Eh lama-lama kok nggak terdengar lagi.

Begitu selesai shalat, dia sudah tak ada. Sandalnya pun nihil. Sesampainya di rumah, pintu yang berangkat tadi sudah terbuka. Lalu istri bilang, kok adek ulang duluan? Kok nggak bareng? Lha saya terus jawab, “adek nggak pamit kok. Main kabur aja. Emang kenapa ya? Mau pipis atau mau apa?” Rupanya dia mau meneruskan makannya. Oalah…berani dia menembus malam, berani pulang sendiri, demi meneruskan makannya tadi. Hehe…

  1. Berangkat Bareng, Pulang Tak Bareng, Langsung Main

Ini yang paling sering terjadi. Tidak setiap saat anak boleh main. Hanya waktu tertentu. Nah, saat ke mushala, itu kesempatan anak untuk main sama temannya. Makanya, sering habis shalat si sulung keluar dulu lalu main sama temannya. Terutama di Zuhur dan ashar. Kalau maghrib, harus pulang dulu, ngaji baru boleh main.

Kadang aman-aman aja mainnya. Kadang ada aja yang terjadi. Baik jatuh, nangis, main sampai ke tetangga jauh, sampai kecelakaan. Ya, kecelakaan.

  1. Keserempet Mobil

Nah, di suatu ashar itulah, kejadiannya. Habis shalat nggak langsung pulang. Main dulu sama temannya. Karena udah biasa, ya saya izinkan. Saya pulang duluan. Saat sedang santai di rumah eh tiba-tiba si sulung datang sambil nangis, diantar temannya. Katanya keserempet mobil. Saya panik, segera memeriksa badannya. Apa yang kena apa yang sakit. Dia bilang kakinya. Benar saja. Saya lihat sandalnya bekas tergores apa gitu.

Tapi tidak kelihatan ada bekas apa di kakinya. Saya periksa sampai teliti. Khawatir sakitnya lebam di dalam yang tidak kelihatan. Dia masih nangis. Akhirnya dibalur dengan minyak but but. Begitulah risiko di jalanan. Mulai dari jatuh, main batu, badan kotor hingga kecelakaan. Kita harus siap dengan berbagai kemungkinannya.

Begitulah, banyak cerita dari kebersamaan dengan anak-anak. Bahkan setiap hari ada cerita. Apa yang saya tulis mungkin belum apa-apa dibandingkan cerita yang dialami pembaca yang jauh lebih heroik.

Meskipun banyak cerita seperti di atas, banyak pula cerita bahagia dan sukanya. Menjadi sebuah kenangan dan kebanggaan bagi orangtua.

  1. Berani iqomat

Di rumah sudah belajar iqomat. Lalu beberapa kali ditawari untuk iqomat di mushoal, masih belum berani. Sampai beberapa pekan kemudian si sulung berani iqomat. Sungguh bahagianya saya waktu itu. Alhamdulillah sampai sekarang semangat tuh kalau disuruh iqomat.

  1. Abi, shalat Khusyuk

Dia dapat ilmu dari sekolahnya. Kalau shalat itu harus khusyuk. Menjelang berangkat shalat dia bilang, “Abi, mas Jundi mau shalat khusyuklah. Biar dapat pahala.” “O gitu ya… Ya. Abi doakan mas Jundi shalat khusyuk ya.” Kami shalat berdampingan. Shalat dijalankan dengan khidmat. Setelah salam, mas Jundi menghadapkan wajahnya ke saya,

“Abi, khusyuk!” Saya acungkan jempol. Dua sekaligus. Tanpa ngomong sebab sedang zikir.

  1. Semangat ngajak ke Mushala

Entah apa motivasinya, yang jelas Mushala punya daya tarik. Tak bosan ngajak ke mushala. Sampai hujan pun kadang ngajak. Nggak tau saya sedang ngantuk atau capek. Nggak setiap waktu sih.

Semangatnya ke tempat ibadah tentu menjadi anugerah yang membuat bahagia. Memang, perjalanannya masih jauh. Tapi setidaknya dengan intensnya anak-anak dekat dengan tempat ibadah, menjadi dasar bagi aktivitas kehidupannya.

Saya teringat wakil rektor III kampus tempat saya menimba ilmu. Saat beliau kuliah di ITB dulu, sesudah kampus, tempat yang dicarinya adalah masjid. Masjid menjadi dasar pengembangan karakter dan keilmuannya.

Semoga anak-anak semakin dekat dengan tempat ibadah. Aamiin.

5 Cara Agar Anak Belajar Puasa

Orangtua berharap, dengan mengajari anak melakukan ibadah, agar anak terbiasa dengan ibadah tersebut. Begitupun dengan halnya puasa.

 Agar anak tak kaget jika sudah saatnya puasa menjadi wajib baginya. Anak diajarkan puasa sejak dini. Sejak usia berapa? Ya terserah orangtua.

Bahkan bisa sejak umur 4 tahun atau bisa lebih muda dari itu. Namun yang ditekankan bahwa pada usia tersebut, puasa belumlah menjadi kewajiban baginya.

Puasa menjadi latihan baginya. Agar ketika sudah menjadi sebuah kewajiban baginya, anak tidak lagi canggung atau berat melakukannya.

 

 Nah, berikut ini cara agar anak bisa berupaya belajar puasanya.

 

Pertama, soundingkan atau kondisikan anak sejak beberapa hari sebelum hari H puasa. Bisa dimulai satu pekan bahkan satu bulan sebelumnya.

Ceritakan apa itu puasa, bagaimana melakukannya, apa itu sahur, dan lainnya.

Kedua, ceritakan pahala yang akan didapat ketika berpuasa. Pahala dapat memotivasi orang untuk melakukan sesuatu. Begitu juga dengan puasa. Agar anak terbayang dengan besarnya pahala yang diterima jika ia melakukan puasa maka ceritakanlah berbagai pahala yang akan didapat dari puasa itu.

 

Ketiga berikan hadiah. Hadiah juga dapat memotivasi seseorang. Tidak mengapa menjanjikan hadiah walaupun berkaitan dengan keduniaan seperti dibelikan mainan. Ini untuk latihan juga.

 

Keempat, bimbing dia untuk menyelesaikan puasanya. beberapa waktu biasanya terasa berat bagi anak misalnya di pagi hari siang hari atau sore hari yang saat itu lapar sangat terasa pada saat itu bantu dia untuk bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa lapar itu misalkan dengan mengajak nonton laptop nonton TV. Tentu saja harus memperhatikan tontonannya agar tidak mengurangi pahala puasa.

 

 Kelima banyak melakukan aktivitas agar tidak terasa waktu berjalan cepat dengan banyak melakukan aktivitas waktu akan berjalan tidak terasa sehingga tahu-tahu tiba waktunya berbuka.

Enam Kegiatan Di Rumah Selama Work From Home

Enam Kegiatan Di Rumah Selama Work From Home

Kerja Dari Rumah

Mewabahnya Covid-19 membuat pemerintah memberikan kebijakan merumahkan sekolah. Juga beberapa instansi pemerintah. Diyakini bahwa virus yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO ini akan berkurang jika kita saling menjaga jarak atau sosial distancing.

Nah, selama dua pekan ini sekolah akan diliburkan. Tentunya libur di rumah tidak berarti rebahan saja. Mesti diisi banyak kegiatan biar tidak sia-sia liburan kita.

Banyak mengatakan bahwa ada banyak hikmah dalam kebijakan merumahkan ini. Salah satunya adalah menjadi kesempatan untuk meningkatkan kedekatan keluarga.

Ya, banyak lho orang yang selama ini sulit mendapatkan kesempatan menumbuhkan kebersamaan. Faktor pekerjaan menjadi salah satu alasannya. Banyak lho di antara kita yang kerjanya pergi pagi pulang malam. Berangkat tak sempat pamitan ke anak lantaran masih tidur. Pun demikian, saat pulang, sudah larut malam. Hanya bisa menemui anak yang sudah terlelap.

Akhirnya, hanya punya waktu saat akhir pekan di hari Sabtu atau Minggu saja. Belum lagi, jika di akhir pekan itu ada kegiatan. Semakin berkurang pula kedekatan dengan keluarga.

Maka, momen work from home ini hendaknya dimanfaatkan betul untuk melakukan banyak kegiatan untuk meningkatkan bonding dengan keluarga.

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Nah, beberapa kegiatan yang saya lakukan di rumah saya dokumentasikan. Inilah beberapa kegiatan itu.

Pertama, mewarnai. 

Mungkin standar banget ya. Bisa jadi para pembaca pun melakukannya. Untuk mewarnai ini, saya tidak menyiapkan buku mewarnai. Pernah punya, tapi sudah penuh.

Mau beli lagi, tidak mungkin. Kan diimbau mengurangi keluar rumah. Akhirnya saya bikin dengan diprint saja. Cari gambarnya di internet. Cukup ketik “mewarnai anak ….”

Jangan kuatir salah ketik sebab internet ngasih kalimat yang benar walaupun kita salah ketik.

Saat saya memiliki 4 pilihan yaitu pesawat kereta api helikopter dan ulat di mana gambar-gambar tersebutlah yang diminati oleh kedua anak saya.

Gampang. Tinggal cari di internet, lalu print, kasih deh ke anak. Untungnya di rumah ada printer dan Mas beli masih punya krayonnya.

 Kedua, main keretaan.

Ini ya mainan ini tidak kalah kompaknya anak saya si sulung dan bungsu sama-sama suka main kereta apa aja bisa dibikin kereta lho aku tidak harus kereta beneran tapi kadang ular-ularan makan mobil yang disulap seakan-akan jadi kereta untungnya di rumah juga ada relnya yang bisa dipakai sebagai mainan.

Kadang aku kadang rebutan main keretaan ini sepertinya memang favoritnya. Cukuplah untuk menghabiskan waktu selingan kebosanan agenda lain.

Ketiga, bikin video seru-seruan. 

Dalam minggu work from home ini saya membikin beberapa video diantaranya ada video lucu, video tembak-tembakan dan juga mengedit video tausiyah ustad. Linknya bisa dilihat disini dan di sini juga.

Keempat, masak. 

Ini bisa sebagai alternatif kegiatan. Kalau saya masak yang ringan ringan seperti pisang goreng, mendoan atau goreng tempe atau merebus pisang.

Ya, saya cari makanan yang bisa dijadikan camilan tapi juga menyehatkan. Untuk masak ini kita bisa berkolaborasi dengan pasangan. Seperti saya kalau mau goreng pisang atau bikin mendoan minta istri menyiapkan bumbunya atau minimal menunjukkan apa saja yang harus saya kerjakan. Sepertinya camilan merupakan hal yang wajib ada dalam setiap harinya.

Kelima, baca buku. 

Kalau ini sepertinya mainstream ya. Hehe… Tapi memang itulah yang juga penting untuk dilakukan selama di rumah. karena meskipun di rumah jangan sampai otak kita nganggur atau pengetahuan kita tidak bertambah karena banyak mainnya.

Alhamdulillah di rumah banyak buku anak-anak tinggal milih walaupun kadang buku yang dipilihnya itu buku yang sudah lama ketimbang buku-buku yang baru datang di rumah.

Keenam, nonton laptop.

Nah ini sepertinya aktivitas yang paling lama dan paling banyak dilakukan anak di rumah supaya mereka betah di rumah aja sih.

saya pribadi saya lebih memilih memberikan anak laptop ketimbang HP karena kalau di laptop kita bisa mengatur konten yang bisa ditonton Nya sehingga kita juga bisa memilih konten yang bermanfaat dan sesuai dengan usia mereka seperti tontonan tentang kereta KRL Nusa Rara film kartun dan lainnya.

Sebetulnya walaupun itu film anak-anak, tetap harus ada pendampingan dari kita. Karena bisa jadi di sana ada yang tidak sesuai dengan usia mereka. Bahkan tidak jarang iklan juga tidak sesuai dengan usia mereka.

Ngajak Anak Ke Tempat Kerja? 5 Hal Ini Perlu Dilakukan

Ngajak Anak Ke Tempat Kerja? 5 Hal Ini Perlu Dilakukan

Ngajak Anak Ke Tempat Kerja? 5 Hal Ini Perlu Dilakukan

Tulisan ini merupakan pengalaman saya, sebagai bapak-bapak yang biasa abekerja di luar, lantas harus mengasuh anak, tanpa absen dari kerja. Memang, biasanya mengurus anak merupakan tugas isteri. Meskipun tidak mutlak pula. Artinya, ada juga suami yang mengurus anak, dalam hal ini kegiatan atau kerja isteri lebih dominan.
Namun adakalanya suami harus mengajak serta anak ke tempat kerja. Nah, jika suatu waktu harus bawa anak ke tempat kerja, beberapa hal ini perlu dilakukan. Ini berdasarkan pengalaman saya yang beberapa kali membawa anak ke tempat kerja.
 
Anak saya bawa beberapa mainan. Dimasukkannya ke kantong plastik yang dibawa sendiri. Kalau bisa memang anak bawa sendiri mainan itu sebagai pembelajaran tanggung jawab anak. Mereka belajar mengurus dan menjaga mainan sendiri.
Empat, lakukan sebuah komitmen. Misalnya tentang main gawai. Sedari rumah, bentuk komitmen bahwa nanti saat di tempat kerja jangan main gawai. Mungkin kita termasuk orang tua yang susah membatasi gawai pada anak? Banyak yang bilang pengondisian awal cukup efektif untuk mengatasi hal ini. Saya pribadi juga mengalami. 
Memang berbeda dengan perjanjian atau belumnya. Biasanya lebih bermanfaat adanya perjanjian. Kalau anak pengen main gawai tinggal ingatkan saja.
 Meskipun, kadang kita kalah juga. Anak rewel terus minta gawai akhirnya kita mengalah daripada repot dengan kerja kita. Hehe…
Biasanya saya bawa laptop juga. Saya pikir, mendingan anak-anak pakai laptop ketimbang gawai. Lebih bisa diarahkan dan kecenderungan kecanduan itu lebih kecil.  Namun kontennya juga pengaruh. Maksudnya, apa yang mereka tonton. Kalau game ya sama aja berbahaya.
 
Lima, bawa makanan. Jangan lupa ini. Khawatir anak kelaparan atau tiba-tiba pengen makan atau jajan. Nah daripada terganggu harus keluar untuk belikan makanan anak yang membuat harus meninggalkan tempat kerja, mending bawa dari rumah, deh. Kecuali tempat kerjanya dekat dengan warung. 
Bawa anak ke tempat kerja gampang-gampang susah. Biasanya akibat konsekuensi salah satu pasangan yang kerja. Meskipun kadang merepotkan, banyak lho manfaatnya.
Salah satunya adalah menumbuhkan kedekatan dengan anak. Apalagi jika biasanya orang tua tak punya banyak kebersamaan dengan anak. Nah, siapa tahu bisa menggantikan waktu yang hilang itu.
Semangat Belajar, Bukan Hanya Untuk Mengejar Gelar

Semangat Belajar, Bukan Hanya Untuk Mengejar Gelar

“Struktur tubuh anak itu besar kepalanya. Artinya daya pikirnya besar. Maka penuhi kebutuhan imajinasinya.”

Hari ini kami sekeluarga belajar lagi. Benar-benar sekeluarga. Saya, istri, dan kedua anak. Meskipun mungkin yang mendengarkan materi hanya saya dan isteri. Anak-anak asyik main dengan teman-temannya. Kebetulan datang pula teman-temannya.

Tidak hanya keluarga kami sendiri. Di sana kami bertemu dengan rekan-rekan yang sudah sangat familiar. Ketemu lagi, ketemu lagi. Hehe…

Kami belajar dengan bang Ical. Nama lengkapnya Achmad Ferzal. Beliau merupakan penggagas komunitas Pendidik Rumahan. Jika kita cari di google, beliau terkenal bukan hanya itu saja, banyak sekali.

 Beliau lulusan ITB, ayah dari lima anak, berpengalaman menjadi kepala sekolah serta kepala yayasan. Orangnya antara muda dan tua begitu. Casingnya sepuh tapi jiwanya muda. Hehe…

Bang Ical memulai dengan gebrakan analogi sederhana. Membuat kami berpikir keras. Namun ketawa keras setelah dijelaskan yang sebenarnya. Tentang Joni dan Susi (biarlah menjadi rahasia kami peserta, hehe…)

 Allah Maha Baik. Mempertemukan dengan orang yang semakin meneguhkan saya bagaimana seharusnya guru dan tentu saja orang tua, membersamai anak.

 

3 Kemampuan Dasar Manusia

 

Ada tiga kemampuan dasar manusia yaitu  1). Menyerap  2). Mengolah 3). Menyajikan

 Inilah yang hendaknya dioptimalkan oleh yang punya tanggung jawab dengan pendidikan anak, seperti yang saya tulis di atas yaitu guru dan orang tua. Lagi, kata Bang Ical (bukan pimpinan sebuah parpol, lho ya), pendidikan tidak selesai dengan sekolah saja. Justru pendidikan fondasinya ada di rumah. Bahkan di mana saja. Karena itu, beliau mengatakan adanya pendidikan rumahan, pendidikan parkiran, bahkan pendidikan jalanan.

Wah, klop banget nih dengan konsep pendidikan yang dicetuskan Ki Hadjar Dewantara, bahwa “setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru”. Sama gak ya? Hehe… Disamakan aja deh.

Selama ini, lanjut bang Ical, kalau ada masalah, yang disalahkan kan biasanya sekolah atau pendidikan.  Nah lho ..

 Bang Ical dengan semangat 45-nya berbagi kepada kami. Saya antusias dengan pemaparannya. Saat itu saya memilih duduk paling depan di barisan bapak-bapak. Walaupun, kemudian saya harus mengalah ditarik-tarik sama anak. Saya pun pindah tempat duduk.

 

 3 Cara memunculkan kemampuan menyerap dengan optimal.

 

#1. Munculkan keinginan bertanya.

Saat anak banyak bertanya, biarkan. Hal ini mendorong anak menyerap sebanyak mungkin informasi. Ini mengkayakan pengetahuannya.  Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Benar kan? Biasanya kalau bertanya, rentetan pertanyaannya tidak habis-habisnya.  Yang disiapkan orang tua adalah waktu dan sabar menghadapi pertanyaan anak.

 

#2 Menguatkan Kemampuan Mendengar

Anak juga memiliki kemampuan mendengar yang baik. Biarkan dia belajar dengan cara mendengar. Maka orang tua jangan bosan menjawab dan menerangkan banyak hal kepada anak.

 Anak punya imajinasi yang tinggi. Tugas orang tua membantu pertumbuhan imajinasinya. Bahkan dalam menjelaskan satu permasalahan sederhana, ada baiknya orang tua menjelaskan dengan memancing tumbuhnya imajinasi.

 Contoh saat anak bertanya tentang spidol. “Apa itu spidol, Yah?” Maka si ayah bisa menjawabnya dengan,

“Ini roket, kadang bisa terbang ke atas. Kadang melayang. Bisa turun kencang, dan seterusnya.”

 Bang Ical menekankan tiga itu tadi yang mestinya diperbaiki dalam sistem belajar kita. Khusus guru, penuhi tiga kebutuhan siswa ini. Berikan porsi yang cukup. “Struktur tubuh anak itu besar kepalanya. Artinya daya pikirnya besar. Maka penuhi kebutuhan imajinasinya.”

Anaknya Tak Sekolah, Tapi Berprestasi

 Bang Ical punya lima anak. Kalau tadi yang saya dengar, anak sulungnya, Malik, tak sekolah. Saat umur 15. Jadi pas SMP, lah. 

Padahal Bang Ical ini seorang kepala sekolah. Juga menjadi kepala yayasan. (Saya kurang tahu pasti kurun waktunya). 

Malik punya hobi bersepeda. Dari hobinya itu dia telah banyak mengukir prestasi. Dia menjadi pesepeda profesional. Beberapa kali menjuarai iven lomba sepeda nasional. Meski dia belajar otodidak, prestasinya tidak diragukan. 

Selain itu Malik punya hobi memainkan musik perkusi dari barang-barang rongsokan.

Malik mampu membuktikan pada keluarganya bahwa keputusannya dapat dipenuhi dengan tanggung jawab. Di usia 26, dia menikah, isterinya berani memberi kepercayaan padanya, bahwa mereka dapat bertanggung jawab dengan keluarganya meskipun Malik tanpa gelar atau ijazah.

Provokasi Malik

Malik mengkritik orang yang terlalu mengagungkan ijazah. “Bukankah Allah menjamin rezeki setiap makhlukNya? Lalu mengapa kita khawatir nggak bisa hidup tanpa ijazah” kira-kira begitulah.

 Apa kita lebih beriman kepada ijazah ketimbang kepada Allah? Maka, tinggalkan sekolah. Tentu saja, Malik menyampaikannya dengan nada bercanda. Entah kalau dalam hatinya serius. Hehe…

 

Bang Ical pun bilang, bukan berarti yang  sekolah itu salah. Bukan berarti keliru dan tak penting itu sekolah. Hanya saja ada yang perlu diperbaiki. Terutama paradigma pendidikan.

Di sekolah banyak itu ilmu penting tapi belum tentu perlu.” Salah satu yang penting dilakukan di sekolah adalah membersamai siswa menemukan dan menghadapi simulasi kehidupan. #Tsaaah

 Kemudian, berikan 3 (Bang Ical sering amat menggunakan 3) hal kepada anak saat belajar. Satu, waktu (belajar-pen) yang tidak terbatas. Dua, biarkan anak salah. Dari sana dia belajar dari kesalahannya. Dan, tiga, apresiasi.

Ada 3 jenis masalah berdasarkan tingkatan kesulitan yaitu 1) masalah sederhana, 2) masalah rumit, dan 3) masalah kompleks. Mendidik anak merupakan masalah kompleks. Masalahnya bisa sederhana bisa rumit tetapi selalu ada dan membutuhkan keahlian.

Itu yang perlu dilakukan oleh guru dan sekolah serta orang tua. Apakah sudah dilakukan?  Nah, ketiga hal di atas justru dijumpai di banyak permainan game. Game tak mengenal waktu. Game punya banyak tingkatan yang kesulitannya pun berlevel. Game sering memberikan apresiasinya pula seperti bintang, level, dan lainnya.

Oh iya, pembaca yang budiman (jadul amat ya, it’s OK, lah),  acara tadi diadakan oleh sekolah ilalang pemimpinnya Pak Apriyadi, beliau HRD sekolah Al Qudwah. Sekolah ilalang ini mirip sekolah alam gitulah. 

Siapapun bisa berbeda menyimpulkan materi tadi. Tapi saya menyimpulkan, bahwa sekolah atau tidak, boleh saja menjadi pilihan kita. Terpenting adalah menjadi manusia berguna dan bermanfaat.

Bahkan kita harus menghargai pekerjaan apapun yang dipilih anak. Kata Bang Ical, bahkan pekerjaan petugas listrik tidak boleh kita pandang remeh. Coba bayangkan malam-malam mati listrik, lantas petugas listrik berjibaku mengupayakan hidup listrik, luar biasa mulianya.

 Bagi yang pilih sekolah (formal-pen), sah-sah saja. Namun yang perlu diubah adalah paradigma sekolah. Bahwa sekolah bukan hanya untuk mengejar ijazah. Sesuai judul tulisan saya di atas, kita harus punya semangat belajar di manapun tempatnya.  Semangat belajar, bukan hanya untuk mengejar gelar.

 

 Sekian dan terima kasih.

Catatan:

Catatan materi tadi sebetulnya lebih lengkap. Itu yang bisa saya tuliskan ulang. Apa yang saya tuliskan sangat sedikit, yang disampaikan jauh lebih banyak dan lebih jelas. Mohon maaf atas keterbatasan.

 

Rangkasbitung, 9 Februari 2020

Supadilah