Salah satu kunci harmonisnya keluarga karena kesetiaan. Kesetiaan adalah keberanian untuk mempertanggungjawabkan perasaan-perasaan yang kita miliki (hlm 15).

Sebelum melangkah jauh, tulisan ini adalah resensi buku. Sebenarnya apa yang saya sampaikan di tulisan ini sangat sedikit, dibandingkan isi bukunya. Tapi tak apalah. Semoga sedikit mewakili.

Saat mencintai seseorang, kita mungkin punya perasaan lain seperti mencintai pasangan karena parasnya,  suaranya, gesturnya, atau apapun yang dia miliki. Setia bisa diartikan melindungi, takut, tidak mendua, dan bersyukur.

 

Dengan segala kekurangan pasangan kita, sebenarnya kita tidak bisa bandingkan dengan semua kelebihan-kelebihannya.

Dengan pengertian itu, Fahd mendefinisikan bahwa setia itu sulit. Maka, hanya mereka yang bersungguh-sungguh saja yang bisa setia. Ya, setia memang sulit. Tidak semua bisa melakukannya. Karena itu, orang yang setia itu istimewa.  Buku ini selesai ditulis tepat sepuluh tahun usia pernikahan Fahd. Tidak hanya kisah rumah tangga mereka, tapi juga keluarga besar mereka menggambarkan betapa cinta yang besar antar anggota keluarga.

Tak melulu ditulis oleh tapi juga ditulis oleh Rizqa sang istri. Dari curhat sang istri terlihat bahwa tidak semua pandangan orang luar itu benar adanya. Misalnya orang mengira Fahd sering memberikan romantis pada sang istri ternyata tidak selamanya begitu.

Bahkan dalam beberapa hal mereka dalam pandangan yang berbeda. Namun, hal yang terpenting adalah saling memahami bahwa apa yang dilakukan oleh pasangannya merupakan sesuatu hal baik karena itu keberadaannya adalah mendukung sang suami.

Sang istri menyakini bahwa pengorbanan yang dilakukan sang suami lebih dari yang bisa dilakukan. Dia meyakini bahwa ada yang lebih sulit dari menjadi seorang istri yang yaitu menjadi ibu bagi anak-anak

Memahami bahwa ketika menjadi pasangan akan ada banyak hal yang disesuaikan. Buku ini seakan curhat bagi kedua orang yang tengah berumah. Memuat bagaimana bersikap terhadap orang tua sendiri dan orang tua pasangan. Kata Fadh, selama kita belum bisa menganggap orang tua pasangan kita sebagai orang tua sendiri, di sana kadar cinta dan penghormatan kurang kadarnya.

Mereka menuliskan pandangannya tentang pasangan. Betapa tidak mudah memutuskan untuk menerima sebagai pasangan. Namun jauh lebih sulit untuk mempertahankan pilihan. Mungkin banyak keluarga yang begitu. Namun sedikit yang bisa memilih cara untuk mengungkapkan sebagaimana pasangan suami isteri ini.

Bagi Fahd, menikah ternyata lebih sulit dari keputusan untuk menikah itu sendiri. Berkeluarga  bukan hanya tentang romantisme seperti menjemur pakaian berdua, bercerita di teras, atau bersama menatap bintang di malam hari. Diakuinya bahkan sulit untuk menghabiskan dua ribu kata per hari. Komunikasi menjadi semakin sulit. Ditambah kehadiran anak-anak mereka yang semakin mengikis kesempatan untuk bermesraan.

Yang pasti ada kekurangan dalam diri kita. Mungkin kita bukanlah seperti sosok yang dikaguminya, namun berusaha membahagiakannya merupakan pilihan tetap untuk selalu berada dalam titian rumah tangga. Dalam buku ini, Fahd bercerita tentang keluarganya. Namun kentara sekali bahwa dia hendak berbagi kisah dan nasihat dengan menghindari menggurui. Berbagi kisah di dalamnya mungkin memiliki kesamaan dengan keluarga lain tapi bisa berbeda penyikapannya. Seperti buku pedoman membangun keluarga yang disajikan dengan bahasa lebih mengalir dan tidak kaku.