Pilih Laman

Setiap orang punya kelemahan dan harus berdamai dengan kelemahannya itu. Setiap orang juga punya kelebihan. Ubahlah kelebihan itu menjadi prestasi. Sebagai seorang guru saya juga banyak kelemahan. Salah satunya adalah kurang percaya diri dalam hal berbicara di depan umum. Jadi kalau berbicara saya tidak lancar dan terbata-bata.

 Saya mengakui kekurangan dan kelemahan saya itu. Maka dalam beberapa kegiatan sekolah saya cenderung diam.

Mengakui kekurangan ini ada manfaatnya jadi saya. Saya jadi tidak menuntut siswa bisa semua hal. Saya bisa maklum terhadap siswa yang punya kelemahan. Justru saya harus membantu siswa menemukan keunggulannya. Lalu mengubahnya menjadi prestasi.

Guru juga punya kelemahan. Maka guru juga harus maklum kalau siswa punya kelemahan.

Suatu hari ada kegiatan di sekolah. Saya tidak ikut berbicara tetapi menyimak saja. Sambil menyimak saya juga mencatat. Mendokumentasi kegiatan lewat tulisan. Saya memang suka menulis. Menulis opini, resensi, rilis kegiatan, dan lainnya. Kegiatan saat itu saya tulis menjadi sebuah artikel dengan judul Ketika Guru Mendengar.

Iseng-iseng saya mengirimkannya ke koran. Bermodal berani. Kalau dimuat syukur, kalau tidak dimuat juga tidak masalah. Ternyata tulisan saya itu dimuat. Saya bawa koran itu kepada kepala sekolah dan guru-guru. Tujuannya untuk memotivasi mereka agar mau menulis juga. Ternyata mereka memberikan apresiasi yang sangat bagus.

“Saya bangga punya guru penulis,” puji kepala sekolah.

Hal ini membuat saya termotivasi untuk menulis lagi. Saya mengirimkan tulisan ke beberapa media. Saya juga mengajak siswa untuk menulis. Meskipun tidak banyak yang menulis tapi saya sudah bangga ketika siswa karya siswa saya ada yang dimuat di koran. Bahkan kepala sekolah juga ikut menulis dan mengirimkannya ke koran.

Artikel lengkapnya bisa Anda baca di www.satuguru.id

Penulis: Supadilah. Guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Banten. Guru fisika yang suka membaca buku genre apa saja.