Pilih Laman

Digital Marketing Ampuh Naikkan Omzet Usaha Keluarga

Setelah menikah, saya dan istri segera memutar otak mencari  peluang usaha untuk menambah pendapatan keluarga. Berbagai peluang usaha di-list. Kesimpulannya, istri membuka warung; saya mengajar,  buka les privat dan jualan ke sekolah.

Seperti warung pada umumnya, warung kami menjual kebutuhan sehari-hari seperti beras, gas, air galon, makanan ringan, air minum mineral, dan lainnya. Ada sekitar 2000-an item. Barang-barang dibeli dari warung agen dan didrop oleh suplier.  Sebetulnya keuntungannya sedikit kalau keuntungan per-itemnya. Tapi menjadi lumayan kalau secara keseluruhan. Cukuplah untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.

Bagaimana dengan saya? Saya ‘kan seorang guru. Maka, sambil ke sekolah saya bawa jualan. Istri membuat makanan dan minuman lalu saya bawa ke sekolah. Jadi sambil ngajar saya jualan. Ada susu kedelai, bakpao, risoles, dan lainnya.

Pernah kepikiran gengsi masa iya guru jualan. Tapi kemudian saya ingat, buat apa gengsi. Emangnya istri dan anak dikasih makan gengsi? Akhirnya dengan menguatkan hati membulatkan hati saya ke sekolah sambil jualan.

“Namanya lagi merintis, kudu merih dulu, ya Mas?”

“Bener, Dek. Ini yang disebut perjuangan.”

Nggak cukup dengan itu, sepulang sekolah sore harinya ngasih saya les privat. Ada beberapa anak tetangga yang minta les privat hasilnya cukup lumayan. Waktu itu nama les privat dikasih nama KHANSA COURSE. Dari hasil les privat saya bisa membeli perlengkapan rumah seperti kulkas, meja, kursi, dan perabotan rumah lainnya. Sebandinglah dengan capeknya.

Les privat semakin berkembang. Tiap bulan ada saja yang mendaftar. Tapi saya pun tak mau terlalu banyak siswanya. Biar tetap kondusif belajarnya. Sampai-sampai ada siswa -dengan berat hati- saya tolak.

Warung pun semaki bertambah omzetnya. Meskipun saat itu masih dikerjakan dengan konvensional. Warung kami semakin maju dan membesar berapa barang semakin bertambah kami juga menjual oke jenis makanan lainnya. Salah satunya adalah menjual es krim suntik. Prosesnya pembuatannya cukup simple/ tidak memerlukan tenaga ektra. Selain dijual di warung rumah, saya juga dibawa ke sekolah.  

Di tahun 2014-2015 kami masih belum terlalu mengenal bisnis digital termasuk media sosial. Waktu itu kami baru menggunakan Facebook dan BlackBerry Messenger sebagai pendukung jualan offline.

Sampai di sana usaha kami belum menemukan hambatan yang berarti. Tapi, ibarat dalam sebuah perjalanan, bisa jadi selalu ada rintangan. Dan kali ini, kami sedang ketemu rintangan itu.

Ketika Rintangan Mulai Muncul…

Kalau saya mau jualan ke sekolah, istri menyiapkan sore atau malamnya. Misalnya mau buat risoles. Adonan harus sudah disiapkan malamnya. Kapan menggorengnya? Pagi buta! Seringnya habis Subuh. Kadang sebelum subuh. Begitu juga kalau mau bikin susu kedelai. Nah, saat kehamilan istri semakin membesar, dia kerepotan kalau harus menyiapkan jualan. Selain itu kami mempertimbangkan masalah kesehatannya. Khawatir kenapa-napa sama kandungannya. Kata orang, kehamilan pertama itu rawan.

Setelah dipikir masak-masak akhirnya jualan ke sekolah dihentikan. Padahal untungnya cukup lumayan. Biasanya jualan yang dibawa ke sekolah selalu habis lho. Praktis kami mengandalkan les privat dan warung untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Setelah lahiran, masalah kembali muncul. Kali ini istri kerepotan mengelola warung saat anak masih bayi. Seringkali sedang asyik-asyiknya mengasuh atau menidurkan bayi, terganggu dengan kedatangan pelanggan. Apalagi saat saya sedang di sekolah, ada yang beli air galon. Bingung mengantarnya.

Dipikir-pikir juga, keuntungan dari jualan makanan ringan tidak besar kalau dilihat per item-nya. Tapi kalau dilihat secara keseluruhan untungnya lumayan.  

Apalagi jika yang beli itu anak-anak.

“Bu..beli. Bu.. beli. Bu.. beli.” Nggak akan berhenti kalau yang punya warung belum keluar. Eh ternyata, pas keluar, cuma beli permen doang. Duh, padahal udah pakai drama ninggalin anak bayi.

“Waduh, aku agak capek mas kalau anak-anak yang datang. Kalau memanggil-manggil itu suaranya ribut. Padahal dedek kan mau bobok. Kalau ditinggal dia nangis. Kalau nggak ditinggal, anak-anak manggilin terus.

“Eh pas beli ternyata beli gopek aja. Bukannya nggak syukur sih, Mas. Tapi kok nggak sebanding dengan nangisnya dedek.”

Saya pun manggut-manggut mendengarnya. Kebayang sih repotnya. Dilema. Kalau terus nidurkan dedek, pembeli terus manggilin. Eh kalau ditinggal melayani pembeli, anak nggak jadi bobok, malahan bisa nangis. Kalau sedang senggang mah nggak apa-apa. Tapi kalau pas sedang mau menidurkan anak kan keganggu.

Saat Ujian Datang Menerpa

Seakan ingin menguji ketangguhan kami, suatu ketika ujian datang. Kami tertipu oleh supplier es suntik. Beberapa kali pesan ke suplier ini, masih lancar. Biasanya pesanan lancar saja. Tapi suatu kali pesanan macet.

Uang sudah ditransfer tapi paket kok nggak kunjung datang. Komunikasi kami lewat BBM lancar. Gelagatnya mulai terbaca. Ketika ditanya, sering ngeles. Katanya mah iya iya aja.

Diminta nomor resi, katanya sedang keluar kota. Diminta menunggu. Tapi dari sana sudah tercium aroma penipuan.

Dan akhirnya memang kekhawatiran kami terbukti. Dalam hitungan bulan paket yang dinanti tak juga sampai. Setelah itu kami nggak terlalu berharap lagi. Dan kami menghentikan produksi es suntik. Kapok iya, tapi capek juga menjadi pertimbangan lain.

Setelah dipikir masak-masak akhirnya warung kami tutup. Terhitung 2 tahun lamanya menjadi sandaran usaha keluarga. Untungnya ada tetangga yang mau mengalihkan warung itu. Meski dijual rugi karena di bawah harga yang seharusnya. Paling tidak kami nggak rugi banget. Satu-satunya pertimbangan kami adalah masalah KENYAMANAN. Memang harus ada yang dikorbankan.

Lalu kami putar haluan. Dengan modal yang terkumpul jual aset warung tadi istri membuka gerai.  Kami namai GERAI FASIH. Diisi dengan pakaian pria/wanita, obat-obatan herbal, dan frozen food. Di tahun yang sama pula kami mulai terbuka dengan perkembangan teknologi. Penjualan ditopang dengan digital marketing. Smartphone menjadi satu barang yang semakin mudah didapat. Harga smartphone semakin terjangkau. Paket data juga semakin ramah di kantong. Meskipun belum mahir benar, kami mulai menggunakan media sosial seperti facebook atau instagram.

Prinsipnya learning by doing. Ilmu bisa dipelajari sambil jalan. Tapi sebetulnya learning by doing, ibarat lari, nggak secepat mereka yang berlatih dengan pelatih lari, lho. Ibaratnya, dalam lomba lari, peluang menang pelari profesional lebih besar daripada pelari otodidak.

Sementara itu di sekolah ada kebijakan baru.  Ada kebijakan kalau guru honor tetap harus standby di sekolah walaupun tidak ada jam mengajar. Saya yang biasanya bisa pulang siang, sekarang ini harus pulang sore.

Ini tentu saja mengganggu jadwal les privat. Biasanya, kalau pulang siang, sorenya bisa istirahat. Malam bisa fit mengajar. Kalau pulang sore, saya nggak bisa istirahat, malamnya tidak maksimal ngajar. 

Satu dua minggu kemudian saya memutuskan mengurangi jadwal les privat. Satu bulan kemudian dengan berat hati les saya menutup les privat. Episode Khansa Course cukup sampai di sini. Sebetulnya ada bagusnya. Saya jadi lebih fokus mengajar. Atau…malah mencoba bisnis baru. Besok-besok, saya merasa ini adalah keputusan yang tepat.

Lalu dengan senjata yang ada dalam mulai beraksi mengembangkan usaha. Gencar promosi di media sosial, belajar di internet, dan ikut berbagai pelatihan digital marketing.

Satu hal yang patut disyukuri bahwa dengan usaha ini pemasukan keluarga semakin bertambah. Lalu, istri semakin punya banyak waktu untuk mengurus anak dan pekerjaan rumah. Sementara, saya sendiri, lebih santai dan tak terlaluu ngoyo. Alhasil, kinerja di sekolah –sebagai guru- semakin membaik. Dan lagi, muruah saya sebagai guru semakin terjaga. Maksud saya, kadang guru tidak lagi objektif dalam menilai siswa karena ada unsur balas budi –jika dagangannya dibeli. Alhamdulillah saya dapat terhindar dari sana.

Tidak terasa usaha kami sudah berjalan 6 tahun. Gerai Fasih semakin maju. Bahkan sudah ikut pula pada bazar-bazar yang diadakan di daerah kami. Termasuk mampu menjadi sponsor kegiatan! Ah, dulu bahkan nggak kepikiran bisa jadi sponsor –mengeluarkan biaya untuk membiayai sebuah kegiatan.

Omset semakin meningkat. Lalu merambah ke usaha lain seperti itu buah beku, produk kecantikan dan obat-obatan herbal. Saat ini bahkan kami bisa merekrut satu karyawan untuk mengelola gerai.

Digital marketing sangat membantu perekonomian keluarga. Usaha berkembang, omzet naik. Tapi ada satu hal yang saya sadari, bahwa usaha ini kan kami jalani dengan otodidak.

Otodidak begini saja sudah cukup meroket. Apalagi kalau dijalankan secara profesional. Pastinya bakal meroket lagi.

Kelebihan Menjalankan Usaha dengan Digital Marketing:

Z

Biaya promosi lebih terjangkau

Z

Tidak memerlukan biaya sewa tempat

Z

Harga Smartphone makin terjangkau

Z

Biaya paket data internet semakin murah

Z

Waktu promosi yang semakin fleksibel. Bisa dilakukan kapan saja

Z

Semakin kreatif mengelola usaha

Z

Dinamika semakin terasa

Z

Bisa dilakukan di rumah atau tempat kerja

Z

Makin punya banyak waktu luang buat keluarga

Z

Mendukung untuk kerja multitasking.

 Peluang Menjanjikan Dunia Digital

Kehidupan kita begitu dekat dengan dunia digital. Salah satunya pada penggunaan media sosial. Saya belum nemu tuh ada orang yang nggak punya media sosial. Yang ada malah satu orang itu punya lebih dari satu akun media sosial. Rata-rata begitu. Punya Facebook, Instagram, WhatsApp, dan YouTube. Itu standarnya. Kalau Anda punya berapa?

Begitu pula dengan smartphone. Sekarang ini bukan barang mewah. Setiap orang punya.

Kenapa sih perlu punya banyak media sosial? Tentu jawabannya subjektif. Tergantung kebutuhan orangnya. Kadang untuk sekadar eksis, bisnis, pendidikan, hobi, dakwah dan lainnya. Sekali lagi tergantung kebutuhan orangnya. Nah, tanpa mengajukan data, sudah jelas bahwa digital marketing itu penting. Peluangnya besar.

DUMET School = Lembaga Kursus Berpengalaman

Kalau kamu nyari lembaga kursus yang bisa banget membantu majuin usaha, DUMET School pilihan tepat.Telah berpengalaman. Didirikan pada 2013 lalu, DUMET School saat ini sudah punya 5 cabang yang berlokasi di Kelapa Gading, Grogol, Tebet, Srengseng, dan Depok.

Lantas, gimana buat yang jauh dari lokasi DUMET School?Tenang aja. DUMET School menyediakan pilihan kursus yang bisa diikuti secara off-line maupun online. Bahkan jadwal kursusnya bisa kita tentukan sendiri. Malahan, pelayanan DUMET School benar-benar maksimal dengan  sistem 1 Murid 1 Instruktur.

DUMET School adalah lembaga kursus yang bergerak di bidang pendidikan khususnya kursus website, digital marketing, dan desain grafis. Tahu berapa orang yang telah berhasil meningkatkan skillnya lewat DUMET School? Jadi DUMET School ini sudah meluluskan lebih dari 8000 orang. Mereka dari berbagai status dan profesi seperti pelajar sekolah, mahasiswa, guru, dosen, staff profesional, freelancer, dan lainnya. Mereka ini nggak hanya tinggal di Jakarta saja. Tapi banyak juga yang datang dari berbagai daerah di Indonesia

VISI DUMET School: Memberikan dampak positif dalam hidup orang banyak lewat Teknologi Informasi. Bisa membantu dalam membentuk SDM yang ahli dalam IT. Mewujudkan sistem pendidikan di Indonesia dan Dunia yang berkualitas pada bidang Teknologi Informasi.

MISI DUMET School: Membangun sistem pembelajaran IT yang mudah di terapkan. Mengembangkan metode dan materi belajar yang efektif dan efisien. Harus selalu menjadi yang terdepan dan No. 1

Keunggulan Kursus di DUMET School

PRIVAT

1 Murid 1 Instruktur. Kamu jadi bisa fokus kursus.

JADWAL FLEKSIBEL

Bebas memilih hari dan jam belajar

LIFETIME ACCES

Mendapatkan materi terupdate selamanya. Enak atau enang banget?

GRATIS KONSULTASI

Bisa konsultasi kapan saja. Bahkan setelah lulus.

Kursus Digital Marketing  di DUMET School buat Profit Makin Melejit

Zaman sekarang apa-apa segalanya digital. Termasuk bisnis. Dan kunci berkembangnya bisnis adalah dari kemampuan marketing. Maka penguasaan digital marketing jadi penting. Berbagai skill dalam menunjang digital marketing harus dikuasai.

Bingung dengan skill digital marketing? Skill apa aja yang harus dipunyai digital marketer? Tenang aja. DUMET School menyediakan kursus digital marketing. Privat 1 murid 1 instruktur. Kita bakalan lebih fokus saat kursus. DUMET School cocok banget buat pemula sekalipun.

Setelah mengikuti kursus, profit kita bakal meningkat drastis. Omzet pun semakin naik. Nggak bakalan boncos.

Intip yuk menu apa aja yang bakal didapat dari Kursus Digital Marketing di DUMET School ini.

8 kelas pembelajaran yaitu WordPress, SEO, Facebook Ads & Instagram Ads, Google Ads Search, Google Ads Display, Youtube Ads, Email Marketing, dan Landing Page.

Kelas online, privat, 1 murid 1 instruktur.

Akses ke iLab (sistem pembelajaran yang bisa anda akses dimanapun dan kapanpun)

Gratis mengikuti webinar mingguan selamanya

Disupport seumur hidup dan gratis konsultasi selamanya

Sertifikat dari Google dan DUMET School dengan nomor izin DIKNAS

Suatu sore kami bernostalgia. Mengenang masa-masa perjuangan dulu kala.

“Sekarang kita lebih santai, ya Mas. Nggak perlu sekeras dulu. Jualan apa-apa bisa makin santuy.”

Ujar isteri saya dengan santainya. Dia sedang nginjak-injak pedal. Bukan pedal gas tapi pedal jahitan. Ya, selain tambah santai dengan bisnis rumah, istri ada waktu untuk menyalurkan hobinya membuat baju. Belum jual produk sih. Hanya buat keluarga saja.

“Iya dek. Dulu jam segini stand by di warung. Sekarang bisa sambil ngeteh postang-posting jualan hehe…”.

Temans, digital marketing telah mengubah gaya jualan banyak usaha termasuk usaha rumahan keluarga kami. Hemat waktu, hemat tenaga, untung berlipat, dan menjanjikan. Meskipun begitu, saat terjun di dunia digital marketing harus siap mental dan skill. Bisa jadi kita terlambat untuk memulai. Tapi lebih baik terlambat memulai daripada tidak sama sekali. Dinamika dunia bisnis semakin bergeliat. Siapkan diri ikuti arusnya dengan ikuti kursus digital marketing bersama DUMET School. (*)

Gerai Fasih yang dibesarkan dengan Digital Marketing