Pilih Laman

Guru Terdidik vs Guru Terlatih

“Semoga bapak ibu bisa menjadi pendidik yang terlatih”. Demikian penutup pada postingan sebuah akun Instagram. Sekian lama jadi guru, baru kali ini kepikiran jadi guru terlatih. Lha biasanya kan jadi guru berprestasi, guru inspiratif, guru berdedikasi, dan lainnya. Hemm, jadi guru terlatih?

Langsung aja aku teringat pelajaran ekonomi sewaktu sekolah dulu. Entah waktu SMP atau SMA gitu. Seingatku pernah ngafalin pokoknyalah.

Waktu itu materi perbedaan tenaga terdidik vs tenaga terlatih. Karena udah lupa pengertian lengkapnya, trus aku searching perbedaannya. Ini dia hasilnya.

Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memiliki suatu keahlian atau kemahiran dalam bidang tertentu dengan cara sekolah atau pendidikan formal dan nonformal.

Tenaga kerja terlatih adalah tenaga kerja yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu dengan melalui pengalaman kerja.

Lha kalau guru terdidik, artinya guru yang mendapat ilmu mendidik dengan mengikuti jenjang kependidikan. Lalu guru yang terlatih karena mendapatkan pengalamannya. Lalu, baik mana antara guru terdidik atau guru terlatih?

Guru Terdidik Tapi Tidak Terlatih

Adakah guru terdidik tapi tidak terlatih? Jawabnya ada. Misalnya dia fresh graduate atau lulusan baru dari sebuah kampus. Lalu dia mengajar. Kan belum pengalaman. Maka dia disebut guru terdidik. Sebelumnya dia tidak mendapatkan pengalaman mengajar baik berupa simulasi mengajar, pengabdian sewaktu KKN, atau ngajar bimbel misalnya.

Atau seseorang yang lulusan kampus pendidikan, trus kerja di sebuah kantor. Lalu pas ada lowongan CPNS dia daftar sebagai guru. Ternyata lulus. Trus dia ngajar. Nah, bisa dibilang guru terdidik nih.

Guru Terlatih Tapi Tidak Terdidik

Bisakah guru terlatih tapi tidak terdidik? Kalau zaman doeloe mungkin banyak ya. Dulu banyak sekali yang jadi guru tanpa gelar sarjana kependidikan. Hal ini karena tuntutan kondisi. Misalnya di satu daerah kekurangan guru. Lalu ada orang yang dipandang bisa, mengajar jadi guru di sekolah itu. Lama kelamaan dia mendapatkan pengalaman dalam mengajar. Akhirnya dia terlatih dalam mengajar. Keterusan jadi guru.

Zaman sekarang mah sudah jarang yang begitu. Karena di mana-mana kalau jadi guru syarat mutlaknya ya mendapatkan sertifikasi sebagai guru. Dalam hal ini memiliki ijazah sebagai sarjana kependidikan.

Atau, kalau bukan sarjana kependidikan, minimal dia pernah mengenyam kuliah. Sehingga sedikit banyak tentu punya modal pengetahuan dalam hal pendidikan.

Tidak Terdidik dan Tidak Terlatih

Wah, ya janganlah ya. Jadi guru itu kan mendidik anak. Ada tanggungjawabnya. Lha kalau tidak terdidik dan tidak terlatih juga, mau dikasih apa siswa? Profesi guru tanggungjawabnya tidak hanya saat siswa selesai di kelas tau lulus dari sekolah. Apa yang diajarkan oleh guru akan dibawa sepanjang hidup siswa.

Saya pernah ditegur guru ketika mau izin keluar kelas, saya ditanya mau kemana. Lantas saya jawab, “Mau ke toilet, Pak.” Menurut guru saya, jawaban itu kurang sopan. Karena berbicara dengan guru, sebaiknya pilih kata yang paling sopan. Maka, gantinya adalah, “boleh izin ke belakang, Pak?” Pengalaman ini sudah berlangsung lama tapi masih saja saya ingat. Dalam hal ini nilai kebaikan yang diajarkan guru. Begitu pula jika ada kekeliruan atau kesalahan yang diajarkan guru bisa juga teringat sepanjang hidup anak.

Terdidik dan Terlatih

nah, kalau ini ideal banget lah ya. Dan memang sebaiknya guru pun begitu. Selain terdidik dia harus terlatih. Selain sarjana pendidikan atau gelar lainnya guru harus punya kualifikasi terlatih dalam menjalankan profesinya. Tambahan, kalau terlatih bisa didapat dari supervisi. Sebab biasanya kalau mau supervisi itu guru sangat mempersiapkan diri dalam mengajar. Benar-benar memperhitungkan waktu, strategi, dan metode pembelajaran agar dapat menyelesaikan supervisi dengan maksimal. Bukan menjadi sempurna sih. Tapi memang harusnya guru menjadi pendidik yang terdidik dan terlatih.