Sudah 9 tahun jadi guru, baru kali ini ada pertanyaan yang membuat saya termangu.

“Seberapa Penting Seorang Guru Terlatih
Pengajarannya?”

Sekian lama menjalani profesi guru membuat saya rumasa bisa dan biasa menghadapi siswa. Mengajar dengan 'senjata' yang sama. Saya menganggap sudah berpengalaman melakukan pembelajaran. Dimulai dengan nawaitu maka refleksi dan inovasi tak lagi perlu.

Padahal, siswa tidak selalu bisa dihadapi dengan 'senjata' yang sama. Sebab beda suasana beda pula masalahnya. Beda generasi beda tantangannya. " 

"Seberapa Penting Seorang Guru Terlatih Pengajarannya?" Pertanyaan itu adalah pertanyaan give away yang diadakan oleh HAFECS di akun instagram-nya. Give away itu diadakan pada 11 September 2020 lalu. Saya sudah follow akun instagram HAFECS sebelum tanggal tersebut.

Untuk menjawab give away itu saya tak langsung mengetik jawaban baik di laptop atau handphone. Saya berpikir dan merenung. "Iya ya. Sudah selama ini jadi guru, apa aku sudah jadi guru terlatih? Kalau iya apa ukurannya? Kata kita sudah terlatih, apa kata orang juga sama? Jangan-jangan beda."

Sekadar berbagi, begini jawaban saya di give away HAFECS. Jawaban ini terpilih dalam 3 pemenang give away yang diadakan Hafecs pada September lalu. Pengumuman disampaikan oleh Ahmad Afriyan atau Mas Riyan sebagai moderator.

Durasi pembelajaran di kelas itu lama. Kalau guru terlatih, dia akan menggunakan waktu dengan efektif, tidak terburu-buru menghabiskan waktu atau tidak sia-sia menggunakannya dengan obrolan atau pembelajaran yang tidak bermanfaat. Guru terlatih akan lancar mengisi pembelajaran. Membuat suasana kelas menjadi menyenangkan dan siswa aktif mengikuti pembelajaran. Karena terlatih itulah guru mampu mengatur kelasnya dengan baik.” Yuk jadi guru terlatih

“Gelar Pak Padil kok bukan S.Pd ya?” begitu kata teman di MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) saat bertemu sebelum negara api menyerang pandemi.

“Iya, Bu. Saya kuliah fisika murni dulu.”

“Oh, pantesan. Kok beda gitu ya.”

Memang, banyak guru yang bukan basic-nya pendidikan. Dan saya salah satunya.

Tidak satu dua orang yang heran dengan gelar saya. Saya seorang guru fisika. Tapi basic ku bukan keguruan. Saya kuliah di jurusan ilmu murni. Dulu sempat pengen jadi ilmuwan. Pas kuliah saya nyambi kerja ngajar bimbel. Lumayan buat nambah uang jajan, beli pulsa, dan bayar kos.  

Di sanalah saya ngerasa enak dan menyenangkan ngajar. Biasanya fisika ini kan mata pelajaran yang ditakuti siswa. Nah, saat itu muncul semangat jadi guru agar ‘bisa membuat pelajaran jadi menyenangkan. Kalau nggak bisa membuat pelajaran jadi menyenangkan paling tidak membuat suasana belajar menyenangkan’.  

Ternyata jadi guru sekolah nggak sesederhana yang saya  bayangkan. Sangat berbeda dengan guru bimbel. Guru itu tugasnya banyak pake banget. Nggak cuma ngajar atau nyampaikan materi tapi punya tugas administrasi, tugas fungsional, dan tugas mendidik. 

Tugas administrasi guru membuat pusing. Saya buta banget dengan yang namanya perangkat pembelajaran seperti RPP, silabus, KKM, dan lainnya. Juga tentang empat kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan lainnya. Istilahnya saja baru denger. Apalagi isinya.

Setiap kali ingin menyerah maka saya ingat-ingat kembali motivasi menjadi guru. Seketika semangatku menggebu. Saya nggak mau menyerah dengan masalah. Kuncinya adalah mau belajar. Asalkan mau belajar, apapun bisa dikuasai. Sampai nggak kerasa di bulan September ini saya hampir satu dekade menjadi profesi sebagai seorang pendidik.

 1. Guru Pembelajar

Saya ngajar di Islamic boarding school. Sekolah berasrama. Jadi, selain jadi guru saya harus bisa jadi pembina, pengasuh, pelatih, bahkan jadi seorang ustadz. Salah satu program di sekolahku adalah hafalan Al Qur’an atau tahfidz. Waktu itu saya nerima setoran hafalan masih lihat Al Qur’an. Jadi, siswa ada yang hafal 3-15 juz, saya sendiri satu juz pun belum ada.

Idealnya guru tahfidz itu hafal Al-Qur’an sih. Tapi karena kekurangan tenaga guru, mau nggak mau saya diperbantukan.

Awal jadi guru saya mengajar matematika dan IPA di SMP selama 2 tahun. Kemudian pindah mengajar fisika dan matematika di SMA. Sekolahku masih kekurangan guru. Pergantian dan perpindahanku itu pun karena diminta kepala sekolah.

“Memang nggak ada yang lain Pak?”

“Untuk saat ini belum ada. Makanya minta Pak Padil mengisi. Kalau sudah ada guru aslinya bisa dipertimbangkan.”

“Lha berarti saya ini guru palsu ya Pak? Hehe..” candsaya

“Ya nggak juga. Pak Padil guru benarnya. Hehe..”

Bismillah. Dengan niat membantu sekolah, membayangkan siswa yang terancam nggak belajar karena nggak ada gurunya, dan semangat belajar akhirnya saya terima tantangan itu.

Saya terus belajar menjadi seorang guru yang semakin maju. Saya banyak bertanya pada sesama guru, banyak baca buku, berselancar di internet sambil cari ilmu, atau ikut berbagai pelatihan.

Saya nggak mau jadi guru biasa-biasa aja. Ada kegiatan untuk pengembangan diri saya mengikuti. Asalkan memang bisa dikejar dan tidak mengganggu tugas sebagai guru.

Motivasi untuk terus belajar –menjadi guru pembelajar- pula yang alasanku membuat blog dengan nama  guru pembelajar. Saya mem-branding diri sebagai guru pembelajar. Ini sebagai motivasi kalau ada ilmu atau kebijakan baru saya harus bisa mengikutinya.

Kalau suatu saat saya kesulitan atau emoh menguasainya sering-sering saya bilang ke diri sendiri ‘bukannya kamu guru pembelajar? Ayo dong.. belajar menguasainya. Usaha menaklukkannya.”

Omong-omong tentang guru belajar, di sekolah saya punya program Sekolah Guru. Kegiatannya bisa seminar, pelatihan, workshop, outbond, bedah buku, dan sejenisnya.

Mungkin mirip dengan sekolah lain yang juga punya kegiatan serupa. Tapi sekolah kami menamakan Sekolah Guru agar guru senantiasa diingatkan bahwa meskipun sudah jadi guru harus terus belajar. ‘Mengosongkan gelas’ pada siapa pun. Seperti kata Ki Hadjar Dewantara “Setiap orang adalah guru. Setiap rumah adalah sekolah.”

Guru merupakan sosok pembelajar. Guru yang berhenti belajar harus berhenti mengajar.

2. Guru Menulis

Jangan mau jadi guru yang biasa saja. Guru harus punya keterampilan selain mengajar. Salah satunya menjadi guru menulis. Banyak lho manfaat menjadi guru penulis.

Banyak media yang bisa digunakan untuk menulis. Salah satunya lewat blog. Saya sebetulnya sudah lama punya blog. Sejak 2009 lalu. Tapi kurang serius. Tidak dirawat. Blogku pun penuh sarang laba-laba. Hehe.. Saya mulai serius mengurus blog di 2018 lalu saat ada lomba blog yang diadakan salah seorang blogger atau narablog langganan juara lomba blog yaitu Bang Adhi Nugroho. Salah satu jurinya adalah Bang Joe Candra. Ehm,..

Karena kurang serius maka hasilnya bisa dipastikan. Saya berada di urutan 72 dari 438 peserta. Alhamdulillah. Meskipun tidak menang di kompetisi tersebut, tapi itulah titik tolak saya serius menekuni dunia menulis terutama blog. Bisa kenal dengan juri dan narablog yang kece-kece.  Dapat ilmu banyak dari blog-blog mereka. lalu, menganut ilmu ATM (amati, tiru, dan modifikasi), berguru pada para ‘suhu’, dan terus mengasah diri akhirnya ada kemajuan.

l

Juara 2

Lomba Menulis Artikel Jurnalistik kategori Guru yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018

l

Juara 3

Lomba Menulis Blog yang diadakan oleh sawitbaik.id, 2019

l

Juara Harapan 1

Lomba menulis yang diadakan MUI Banten, 2019

l

Juara 2

Lomba Menulis Artikel Kerelawanan yang Sekolah Relawan, 2020

l

Juara 1

Lomba Menulis Artikel Pandemi: Kebutuhan Pokok vs Kebutuhan Rokok, 2020

Banyak guru setuju bahwa menulis itu penting. Tahu kalau menulis itu banyak manfaatnya. Salah satunya bisa dipakai untuk kenaikan pangkat, bagi guru PNS. Tapi tidak semua mau menulis. Banyak yang mengeluh kalau menulis itu sulit. Beberapa alasan lainnya seperti “Saya bukan guru bahasa Indonesia.” atau “Nggak tau mulainya dari mana. Bingung!” atau “Nggak ada waktu. Saya sibuk.” Banyak sih kalau mau nyari-nyari alasan. Pada prinsipnya, kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak bisa?

Padahal, kunci dari menulis adalah praktik. Menulis, menulis, dan menulis. Terus menulis saja. Nanti bakal tahu ilmunya sambil jalan. Semuanya juga butuh proses. Mulai lah menulis dari hal yang paling dekat dengan kehidupan kita. Misalnya kita guru, maka tulislah tema tentang pendidikan atau pengalaman seputar jadi guru. Selain itu, bergabung dengan komunitas menulis. Sekarang ini banyak platform kepenulisan yang dapat meningkatkan skill menulis. Malah, banyak yang tidak berbayar atau gratis lho.

3. Menjadi Guru Inovatif

#1.  Mengapa Harus Menjadi Guru Inovatif?

Mengapa sih seorang guru harus menjadi sosok inovatif? Mengapa guru harus melakukan inovasi? Mengapa guru harus melakukan terobosan?

Caranya menjawabnya gampang.  Coba deh lakukan refleksi. Posisikan diri kita sebagai siswa. Lalu kita diajar guru yang nggak inovatif. Mengajarnya begitu-begitu aja. Bosan kan? Di dalam kelas kita ngikuti pelajaran dengan malas, tak semangat, ngantuk dan pengen cepet istirahat. Atau paling tidak sibuk ngobrol dengan teman. 

Sebaliknya, kalau kelas diajar oleh guru inovatif pasti akan seru karena gurunya selalu menghadirkan hal yang baru. Suasana kelas jadi hidup, siswanya bahagia, dan naik prestasinya. Orangtua tidak merasa sia-sia dengan biaya yang sudah dikeluarkan. 

Jangan buru-buru marah. Ada baiknya perbaiki diri kita. Salah satunya harus bisa menjadi sosok guru inovatif.

Pendidikan merupakan hal utama bagi manusia. Banyak orangtua yang rela berkorban demi pendidikan anaknya. Ada yang rela berutang atau menjual harta berharga asalkan anaknya bisa sekolah.

Di kampung saya dulu ada semboyan orangtua “Mau saya menjual seng rumah asal anak tetap sekolah.”

Nah, sedemikian besar harapan dan pengorbanan orangtua untuk pendidikan anaknya. Maukah kita sebagai guru membalasnya dengan asal-asalan menjadi guru? Nggak kan? Karena itu jangan ‘seadanya’ jadi guru.

karena tanpa TEROBOSAN (baca: inovatif) siswa akan BOSAN

saya #2. Langkah Kreatif Menjadi Guru Inovatif

Setiap guru pasti ingin menjadi guru inovatif. Tapi mungkin bingung tentang langkah-langkah menjadi guru inovatif? Apalagi musim pandemi begini. Ke mana bisa mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan kualitas diri? 

‘Jatuh cinta pada pandangan pertama’. Berawal dari give away Hafecs yang diceritakan di awal tulisan, saya memutuskan mengikuti kegiatan-kegiatan Hafecs. Apalagi saat ada program AKM saya langsung mendaftar. Nggak perlu waktu lama buat ku yakin kalau Hafecs ini sebuah lembaga yang hebat.  

Ketika membaca pamflet tentang workshop AKM Hafecs saya segera mendaftar lewat kontak/narahubung. Lalu diinformasikan tata cara mendaftar, kemudian saya transfer ke rekening, lalu bergabung di grup WhatsApp-nya, ikut workshop, membuat akun di guruinovatif.id, kerjakan tugas, dan dapat sertifikat.

HAFECS ((Highly Functioning Education Consulting Services) ini lembaga training guru secara online yang sangat mumpuni untuk meningkatkan mutu guru.

Dr. (Cand) Zulfikar Alimuddin, B. Eng. MM merupakan coach yang mengayomi, sabar, dan kreatif. Menjawab melalui analogi-analogi yang bahkan menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya.

Begitu juga Pak Danang, yang mengisi program sertifikat AKM Literasi dan Numerasi. Ini sertifikat yang saya ikuti. Alhamdulillah penugasan untuk AKM sudah selesai.

Tugasnya tidak susah. Tapi juga tidak gampang. Kalaulah tugas yang diberikan ini terasa mudah, maka apa buktinya kita belajar? Begitu pesan tertera di GuruInovatif.id yang membikin kita akan termotivasi mengerjakan tugas dengan segera.

Jadi saya sudah mendapatkan gambaran tentang AKM yang akan dilaksanakan pada 2021. Hal ini atas bantuan coach Danang Bagus Yudistira, S.Si, M.Sc. sebagai pemateri pada workhsop yang saya ikuti.

 

Inilah Pengalamanku Belajar di GuruInovatif.id

Suatu hari kepala sekolahku meng-unggah pamflet workshop AKM yang diadakan Hafecs.

“Bapak-ibu wakasek dan walas harap ikuti workshop ini ya. Biayanya dibayarkan sekolah.”

Maka dengan bangga saya bilang. “Lha saya malah udah daftar, Pak.”

“Wah bagus, Pak Padil. Ayo yang lain segera daftar.”

 

Ranah pendidikan Indonesia akan memasuki babak baru. Pemerintah melalui Kemendikbud meluncurkan program Asesmen Nasional (AN) pada 2021 mendatang. Sekolah saya pun bersiap.

Para wali kelas dan wakil kepala sekolah diminta untuk kolektif kami mengikuti workshop di Hafecs. Maka saat ini kami insya Allah siap untuk menyongsong AKM mendatang.  

Dan kami sangat terkesan dengan mengikuti workshop bersama Hafecs. Ciri khas coach-nya adalah membimbing. Kalau ada yang tanya, coach-nya menuntun, mengarahkan, dan membantu sehingga si yang bertanya mendapatkan sendiri jawabannya. Keren euy.

Saya yakin dengan mengikuti GuruInovatif.id dapat meningkatkan mutu saya dalam mengajar dan mengelola kelas.

Salah satu program Hafecs adalah GuruInovatif.id yang memiliki berbagai program yang meningkatkan mutu guru, agar guru bisa menjadi guru inovatif yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

Mencari program Sertifikasi Guru pun sangat pas di GuruInovatif.id. Karena GuruInovatif.id adalah Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru. Di sinilah Tempat Belajar Guru untuk membangun keterampilan mengajar dengan kursus, webinar, dan sertifikat.  

Banyak keuntungan Guru Belajar Mengajar di GuruInovatif.id. GuruInovatif.id menghadirkan berbagai pilihan program online baik kursus dan webinar untuk Guru Indonesia mengasah kemampuan mengajar meliputi online certification 32 JP, mini course 8/16 JP, Productivity Course, dan innovation School leaders dan teacher (ISLT)

Mengapa Guru Harus Belajar di GuruInovatif.id?

Berbagai pelatihan akan membuat kita semakin terlatih. Tapi, masa pandemi begini, kemana kita mau belajar? Ke mana kita mencari Pelatihan Guru yang berkualitas, menyenangkan, seru, dan berdampak? Tenang, pilihan tepat Pelatihan Guru ada di GuruInovatif.id. Banyak manfaat dan kemudahan yang didapatkan.

Ayo segera ikuti berbagai kursus online dari kursus gratis hingga premium di GuruInovatif.id

Berbagai kursus di GuruInovatif.id cocok untuk Anda sebagai:

Z

Guru

Z

Kepala sekolah

Z

Dosen

Z

Pegiat Pendidikan

Z

Praktisi Pendidikan

Z

Akademisi

Biaya Pelatihan

Online Certification.

Investasi mulai dari Rp. 65.000. Selain materi, kita juga bisa mendapatkan e-sertifikat kursus 32 JP, dan video berkualitas FHD

Mini Course.

Investasi mulai dari Rp. 25.000 saja. Selain materi, kita bisa mendapatkan e-sertifikat kursus 16 JP, dan video berkualitas FHD.

Productivity Course.

Kita bisa dapatkan kursus gratis plus e-sertifikat kursus 4 JP, materi belajar, dan video berkualitas FHD.

Kesimpulan Saya Setelah Belajar di GuruInovatif.id

Dalam sebuah pelatihan saya pernah dengar ada kalimat begini. Ada 3 jenis guru yaitu guru bayar, guru nyasar, atau guru sadar. Pertama, guru bayar adalah seorang guru yang mau mengajar hanya kalau dibayar. Kalau tak dibayar dia tak mau mengajar atau melakukan sesuatu untuk sekolah atau siswanya. Kedua, guru nyasar, yaitu guru yang tadinya bukan guru atau bukan dari keguruan tetapi nyemplung jadi guru. Ketiga, guru sadar adalah guru yang sepenuh hati menyadari bahwa tugasnya adalah sebagai pengajar dan pendidik maka dia mau melakukan banyak hal untuk kemajuan anak didiknya. Bahkan kerjanya tak sebatas jam kerja di sekolah saja.

Bisa jadi kita, guru, saat ini masuk dalam guru nyasar. Tapi nggak masalah. Yang penting jangan jadi guru bayar saja. Alangkah hebatnya kalau sudah bertransformasi menjadi guru sadar. Kalau belum, ayo segera berubah jadi guru sadar. Salah satunya belajar lewat GuruInovatif.id.

Setelah belajar di GuruInovatif.id kemarin aku merasa platform ini sangat keren untuk meningkatkan mutu guru. Eureka!  Inilah pelatihan online yang sangat pas buat guru yang mau maju. Sangat membantu guru mengajar daring selama pandemi ini.

Melihat apa yang disajikan di GuruInovatif.id saya yakin bukan hanya mutu guru saja yang akan ditingkatkan. Dengan sendirinya, kalau mutu guru meningkat, juga akan meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.

Guru akan siap mengajar dan menghadapi berbagai perubahan yang terjadi di ranah pendidikan. Termasuk siap untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Salam Guru Inovatif!

Bahan Tulisan:

1. Pengalaman pribadi

2. https://hafecs.id/

3. https://guruinovatif.id/

https://www.instagram.com/hafecs.id/