Bukankah sering kita dapati kenyataan tak seperti yang kita rencanakan. Begitukan? Sebab di sekolah kadang ada saja kegiatan mendadak, penting, dan sulit ditolak.

Misalnya sosialisasi bahaya narkoba, kenakalan remaja, informasi beasiswa, motivasi belajar, dan lainnya yang sayang jika dilewatkan.

Toh, itu juga merupakan ilmu, sumber belajar bisa didapat dari mana saja dan siapa saja. Apalagi jika sekolah sudah memandang seperti itu merupakan hal yang penting maka ada risiko bagi guru untuk selalu bisa fleksibel.

Kemarin (Senin,10/2/2020) saya mengalaminya. Ada punya kewajiban mengajar 3 jam di kelas X IPA. Saya mengampu Matematika Peminatan. Dari rumah saya sudah ingat materinya. Hari itu saya akan membahas vektor posisi.

Mendadak ada panggilan. Kepala sekolah menanya, kelas X putri pelajaran siapa. Katanya kelas X Putri mau dikumpulkan oleh kepada bidang pendidikan. Sebab ada hal urgen yang akan disampaikan.

Langsung saja saya putar otak. Saya tak bisa memaksakan membahas vektor. Materi vektor ini untuk kelas IPA saja. Sementara, kelas X putra ada IPA dan IPS-nya. Anak IPS bakal bengong jika mendapati pembahasan vektor.

Oh iya, sedikit saya terangkan sekolah saya. Pada setiap kelas ada 2 rombel (rombongan belajar). Mereka dipisah putra dan putri. Namun akan bergabung pada mata pelajaran penjurusan. Seperti matematika peminatan tadi yang untuk kelas X IPA. Sementara, kelas IPS-nya akan belajar Sosiologi. Begitu.

Akhirnya saya membahas hal lain. Ganti topik. Saya pindah haluan membahas menggambar pada koordinat Kartesius. Satu kekhawatiran saya dan mungkin para guru lainnya bahwa bisa jadi siswa lupa dengan pelajaran yang sudah mereka lewati. Seperti menggambar pada koordinat Kartesius tadi, materinya sudah ada di SD atau SMP. Namun bisa jadi siswa lupa atau belum paham.

Benar saja. Beberapa siswa masih kebingungan mengingat mana koordinat x atau y. Pada penulisannya, titik x dituliskan lebih dulu. Jadi misalnya tertulis titik A (7,-1) berarti x-nya 7 dan y-nya -1. Jadi mereka terbalik-balik. X dianggap y dan sebalinya.

Anggap saja ini mengulang kaji. Sesuatu yang jarang diulang bisa lupa. Minimal hari itu sebagai upaya mengingat-ingatnya. Bisa dibilang 10 %-lah yang sudah lupa. Alhamdulillah, banyak yang masih ingat.

Siswa saya ditugaskan menggambar koordinat di kertas HVS. Ada 4 soal yang diberikan. Cukuplah untuk menghabiskan 2 jam pelajaran, sekaligus memeriksanya. Anak-anak tidak protes karena dijelaskan dulu kondisinya.

Memang sih, kesannya guru akan dirugikan dengan agenda mendadak itu, karena tidak bisa menyampaikan materi yang harusnya disampaikan. Hal ini berpengaruh pada ketercapaian materi pembelajaran.

Hal ini harus dipahami oleh sekolah dan orangtua. Paradigmanya sama. Maksud saya, pasti anak kesannya tertinggal materi. Namun jika dipahami lebih mendalam, ada materi yang mereka dapatkan sebagai pengganti materi yang tidak tersampaikan tadi. Toh, mereka pun mendapatkan banyak ilmu dari yang tidak kalah penting dan berguna untuk kehidupan mereka. Sehingga orangtua tidak merasa rugi jika anaknya ketinggalan materi. Ada gantinya, itu tadi.