Let’s Read dan Pengalaman Membaca Menyenangkan

oleh | Literasi | 78 Komentar

Anak sulung saya ketika usianya 5 tahun telah bisa membaca dengan lancar. Bahkan, saat membaca dia tidak perlu mengeja huruf per huruf, tapi bisa langsung kata per kata. Lancarnya anak kami membaca bisa dilihat dari video berikut.

Orangtua mana yang tidak senang saat anaknya mahir membaca? Ah, rasanya semua orangtua sangat mendambakan anaknya gemar membaca. Kalau bisa, sejak kecil sudah bisa membaca. Bahkan ada orangtua yang demi anaknya bisa membaca, orangtua memberikan les kepada anaknya.

Bagaimana membuat anak bisa lancar membaca? Mudah-mudahan pengalaman kami bisa memberikan manfaat kepada para pembaca.

1. Sejak Dini Mendekatkan Dengan Buku

Ya, kami mendekatkan anak dengan buku sejak bayi. Mendekatkan dengan arti sesungguhnya. Mendekatkan secara fisik saja. Hal ini dilakukan sejak Jundi umur 6 bulan atau setengah tahun.

Seingat saya, pertama kali beli buku, setelah berkeluarga, sewaktu ada pameran di dekat rumah. Saat itu beli enam buku. Sampai di rumah, buku itu didekatkan ke Jundi.

Semacam melakukan ritual, semoga ini anak besok gede dekat dengan buku, cinta dengan ilmu. Hehe… Ini bisa dibilang tidak masuk akal. Tapi emang benar itu yang kami lakukan.

2. Belajar Mengenal Huruf dan Mengeja Kata

Jundi mulai mengenal huruf dan kata dengan bantuan laptop. Sering nonton animasi atau film kartun yang isinya belajar huruf atau kata. Tokoh animasi Diva yang menjadi kesukaannya dulu.

Sedikit demi sedikit Jundi mengenal huruf. Sampai umur 3 tahun dia sudah mengenal 26 huruf latin dan 28 huruf Hijaiyah. Kami masih menggunakan cara konvensional dalam mengajari kata.

Istri saya yang dengan telaten mengajari. Satu huruf konsonan digabung dengan satu huruf vokal. Lalu huruf vokalnya diganti-ganti dengan huruf vokal lainnya.
Jadi pakai metode B+a, B+i, B+u, B+e, dan B+o.

Lalu huruf konsonan itu diganti dengan huruf konsonan lainnya. Begitu seterusnya. Kedua metode ini saling memengaruhi. Entah mana yang paling kuat, tapi semuanya memberikan pengaruh yang besar.

Untuk mendukung proses belajar ini, di rumah harus ada sarana pendukungnya. Di rumah kami ada dua whiteboard untuk menulis-nulis, tepatnya coret mencoret. Hehe… Lalu anak dibelikan papan tulis mainan yang pakai sistem magnet itu. Jadi di sana dia coret-coret huruf yang sudah dipelajarinya.

Sebetulnya tiga alat itu pun tidak cukup. Dia juga sering mencoret-coret dinding rumah, pintu rumah, atau pintu kamar mandi. Padahal, sudah sering dikasih tahu, kalau coret-coret di papan tulis saja. Tapi ya namanya anak, kadang dia belum paham benar. Kita yang jadi orangtua harus sabar saja mengjadapinya. Biarlah rumah tercoret-coret asal anak semakin meningkat kemampuannya.

Jangan sampai memarahi kalau dia mencoret-coret ya. Sebab, dinding bisa dicat kembali, bersih kembali. Tapi trauma, jika dimarahi, bakal sulit hilangnya.

3. Tiga Pojok Baca

Di rumah kami ada 3 tempat meletakkan buku, kami namai pojok baca. Ada di rak buku utama di ruang tamu, di rak buku kamar tidur, dan di rak buku meja belajar.

Supaya di manapun tempatnya selalu lihat buku. Lama-lama, buku menjadi benda yang sangat familiar. Sering dilihat.

Saya yakin menempatkan buku di banyak tempat juga berpengaruh pada minat baca, lho. Sebab, kadang malas baca buku, karena malas ambil buku. Yah, walaupun tidak jauh-jauh amat buku, tapi entah kenapa tetap saja malas untuk melangkah kaki mengambil buku.

Nah, dengan menempatkan buku di banyak tempat, bisa sewaktu-waktu ambil buku dengan mudahnya, jika mood baca buku tiba-tiba muncul. Saat sedang di ruang tamu, bisa langsung ambil buku.

Perhatian juga susunan bukunya. Sebaiknya, buku anak diletakkan di bagian bawah. Supaya anak bisa menjangkaunya dengan mudah. Jadi, kalau dia ingin mengambil buku, bisa mengambil sendiri.

Di rumah kami, di rak buku ruang tamu, buku anak diletakkan di dua baris bagian bawah. Anak-anak jadi gampang ambilnya. Dengan tubuh mereka yang kecil pun bisa menjangkau.

 

4. Mengunjungi  Pameran Buku

Pameran buku sangat penting untuk menumbuhkan minat baca, untuk menguatkan cinta buku. Dalam beberapa kesempatan, kami juga sering mengajak anak-anak ke pameran buku.

Yang tak pernah absen adalah pameran buku pada Islamic Book Fair, yang digelar di Senayan, beberapa tahun ini pindah di Jakarta Convention Center.

Si sulung terhitung empat kali ke IBF, Jakarta. Di tahun 2017, 2018, 2019, dan 2020. Pameran buku seperti ini banyak manfaatnya. Selain bisa membeli buku untuk menambah koleksi buku, mendatangi pameran buku ibarat mendatangi surga buku. Hehe… Saking banyaknya buku. Kita bisa dibuat kagum dengan banyaknya buku yang ada.

Baik buku remaja, orang tua, bahkan anak-anak. Jenis bukunya pun macam-macam. Banyak pula permainan berbasis buku atau lainnya yang juga menambah pengetahuan.

Pengunjungnya banyak. Ramai. Dipenuhi stan-stan penerbit. Buku-buku ditata enak dipandang. Jadi senang melihatnya.

Di sana si sulung menikmati surganya buku. Setiap mampir di stan penerbit, seperti mau dibeli semua bukunya.

Setiap ke IBF, kami selalu beli buku. Mumpung bisa ke pameran buku. Meskipun, ada juga buku dari IBF sebelumnya yang belum dibaca. Tapi, yang penting beli dulu. Pasti nanti ada masanya buku itu dibaca. Yang penting koleksi dulu.

Pulang dari pameran, bawa buku. Baca buku lagi, deh.

Pernah IBF di tahun 2017 lalu, karena tertarik dengan satu paket buku yang isinya tentang penguatan karakter, kami nekat beli satu paket buku tersebut. Harganya lumayan.
Lebih dari gaji saya sebulan.

Sebetulnya, kami tidak langsung sepakat beli buku. Sempat diskusi lama. Penjaga stan masih terus mengompori di sela-sela diskusi.  Untungnya, anak-anak sedang sibuk main dengan buku dan mainan di stan itu.

Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya kami mencapai kata sepakat. Saya dan istri patungan. Separo dari gaji saya, separonya lagi dari gaji istri.

Karena buku itu sifatnya investasi seumur hidup. Eh bahkan sampai kita mati. Jika isi buku itu bisa diterapkan, bisa mewarnai karakter anak, harga yang mahal tidak sebanding dengan manfaatnya.

Sebetulnya, kami rutin beli buku juga di tiap bulannya. Tapi tetap saja, kami rutin ke IBF. Sebab di pameran buku akan lebih lengkap bukunya. Selain itu, kami bisa mendapatkan pengalaman untuk menguatkan bonding dengan anggota keluarga lainnya.

Di kesempatan lain, kalau sedang main ke car free day, kami sempatkan mampir di lesehan taman baca atau taman baca masyarakat.

Walaupun sekadar baca satu dua buku anak-anak. Melihat gambar-gambar yang menarik buat anak meskipun beberapa menit saja.

Eh, selain itu, kalau kita mampir ke lesehan itu, kita bisa nyenengin yang punya lapak, lho. Pasti mereka senang jika ada yang mampir di lapaknya. Apalagi jika ada yang membaca bukunya. Kan itu juga maksud mereka buka lapak itu. Makanya, tidak ada salahnya nyenengin mereka.

5. Pohon Literasi Bikin Semangat Mengisi

Untuk menyemangati, kami buatkan pohon literasi. Setiap habis membaca satu buku, kami tuliskan di pohon literasi itu judul buku yang sudah dibaca.

Tapi nggak harus sampai tamat, sih. Setengahnya atau kurang pun bisa dituliskan. Tapi, karena yang dibaca adalah buku anak, yang tidak terlalu tebal isinya, tentu cepat tamat.

Pohon literasi dibuat berwarna-warni supaya anak-anak tertarik. Anak senang menempel-nempel, mengisi pohon literasi. Supaya banyak yang ditempelkan, anak pun akan terpacu membaca banyak buku.

Ada dua pohon literasi di rumah kami. Anak pun semangat mengisinya. Malah, seringnya pengen ngisi tanpa baca buku. Sepertinya lebih suka menempel-nempelnya.

Untungnya, bisa dikondisikan. Jundi dipahamkan bahwa aturannya harus baca buku dulu. Dia paham. Dan mau mengikuti aturan mainnya. Tapi tetap saja, belum tamat sudah mau nempel. Tapi nggak papalah. Yang penting anak sudah semangat membaca.

6. Membaca Bersama Anak Bukan Membaca Dengan Anak

 Beda lho antara membaca bersama anak dan membaca dengan anak. Benar, kalau membaca bersama anak artinya ada interaksi atau pelibatan anak dengan bacaan atau dengan kita membacanya.

Sementara kalau membaca dengan anak itu si pembaca membaca buku, anak berada disamping kita, terserah dia sedang melakukan apa. Bisa jadi dia tidak mendengarkan apa yang dibacakan.

Agar anak merasa dilibatkan dengan bacaan itu, caranya kita bisa bertanya tentang bacaan. Bisa dengan bertanya siapa tokoh atau kesimpulan dari bacaan.

Misalnya pada cerita Teman Yang Baik, menceritakan persahabatan antara kacang panjang dengan tomat. Awalnya,  tomat merasa cemburu dengan kacang panjang karena diberikan terali atau lanjaran untuk rambatan.

Di akhir bacaan kita bisa bertanya kepada anak, “Kenapa tomat cemburu kepada kacang panjang?” atau “Apa yang dilakukan kacang panjang sehingga tomat tidak cemburu lagi?”.

 Atau pada bacaan Keajaiban Api yang menceritakan jenis-jenis warna api hingga yang paling tinggi suhunya, maka kita bisa bertanya kepada anak, “Warna api yang paling panas adalah?”

7. Istirahat Dulu Sejenak

 “Jangan lupa, sabar adalah kuncinya berbagai metode pengasuhan. Begitu juga dengan menumbuhkan minat baca.”

Saya tidak selalu mudah dan gampang mengajak membaca. Nggak selalu lancar lho. Pernah juga,saya kok merasa susah sekali mengajari. Kata orang, sedang tidak mood. Fokusnya sedang buyar. Padahal sebelumnya dia sudah hafal huruf apa itu. Tapi kok ya waktu itu, jangankan bisa membaca kata, mengingat hurufnya saja susah.

Apalagi, saat itu, saya sedang tidak mood juga. Saya kesal. Nada saya mulai meninggi. Dalam hati lupa berdoa. Sudah mau marah saja. Kesal, saya berhenti mengajarinya.

Eh dia mau nangis. Waktu Jundi tanya saya kenapa, saya diam saja. Sampai dia tanya beberapa kali, akhirnya saya bilang istirahat dulu.

Sekitar sepuluh menit saya istirahat. Saya biarkan Jundi main mainan dulu. Belasan menit kemudian, saya ajak dia baca lagi.

Weladah, rupanya yang tadi macet, sekarang jadi lancar. Ajaib sekali. Sampai saya heran-heran. Juga terharu. Hampir luruh air mata saya.

Tadinya, marah saya hampir meledak karena kesal, ternyata hanya karena kurang sabar. Padahal kalau mau sabar sedikit, dan tak langsung menuduh sulitnya fokus anak, keadaan bisa seperti yang diharapkan.

Kata per kata berikutnya anak saya lancar. Bahkan beberapa menit saja selesai membaca satu halaman, dengan hanya sedikit kesalahan.

Akhirnya saya dapat kuncinya. Sengaja tidak saya cerita ke istri. Benar saja, suatu waktu dia mengalami. Saat mendampingi anak yang kok kali ini beda amat dengan yang biasanya, istri saya sudah naik darah hehe akhirnya diserahkan ke saya.

Saat sama saya, saya tawarkan dia untuk main dulu.

 “Emang boleh main dulu?”

 “Iya, boleh.” Jawab saya.

 Sampai kelihatan dia sudah puas bermain, saya panggil dia. Kali ini, pengalaman memang guru yang terbaik. Meskipun tak lancar sekali seperti sedang dalam bagus-bagusnya, tapi sangat lumayan dibanding saat dibimbing istri saya.

Oalah, itu kuncinya. Orang tua hanya perlu sedikit bersabar dengan kesulitan. Hanya butuh waktu untuk mengatasinya. Sabar.

8. Memberikan Keteladanan

Saya masih percaya bahwa keteladanan merupakan jurus yang ampuh untuk memberikan contoh pada anak, untuk membangun karakter anak untuk membentuk kebiasaan.

Begitu pula dalam proses menumbuhkan minat baca ini. Kalau ingin anak kita suka baca, maka kita juga harus suka baca.

Untungnya keluarga kami semua suka baca buku. Oh iya saya adalah guru. Mengajar mata pelajaran Fisika. Namun saya suka baca buku, berbagai genre buku. Isteri saya pun demikian. Meskipun dosen Matematika, dia suka baca buku. Bahkan, sudah punya beberapa buku antologi.

Saling sinergi satu sama lain akan mempermudah mencapai tujuan.

Saya mulai pindah ke Banten pada September 2013. Sampai sekarang, sudah ratusan buku ada di koleksi perpustakaan keluarga kami. Ratusan buku pula saya baca. Fiksi dan non fiksi semuanya dilahap. Malah, saya bikin resensi bukunya.

Dulu saya rutin mendata buku apa saja yang sudah dibaca. Untuk pendokumentasian nya saya menuliskannya di sebuah file. Tapi nggak semua yang ingat. Ini beberapa di antaranya.

Orangtua mana sih yang nggak senang jika anaknya sudah bisa baca? Namun, yang penting adalah anak jangan sampai dipaksa-paksa untuk bisa membaca. Sebab, membaca harusnya merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Antusias membaca lebih diutamakan daripada kemampuan membaca”. M. Fauizil Adhim (Penulis buku Agar Anak Gila Membaca)

Tak perlu iri dengan anak oranglain yang sudah bisa baca duluan. Lalu orangtua sibuk mengikutkan anak ke tempat les yang akhirnya mengurangi masa bermain anak. Ingat, ya, bermain bagi anak merupakan sebuah kebutuhan. Wajib dipenuhi. Mulai tumbuhkan minat baca dari rumah, dari orangtuanya sendiri.

Membaca Yang Semakin Menyenangkan Bersama Let’s Read

Saat ini, mendapatkan pengalaman membaca menjadi semakin mudah dan menyenangkan dengan kehadiran Let’s Read.  Let’s Read merupakan perpustakaan digital gratis untuk anak. Berisi ratusan cerita menarik dalam berbagai bahasa. Let’s Read ini diprakarsai oleh Lembaga Pembangunan Internasional Nirlaba, The Asia Foundation.

Aplikasi Let’s Read bisa diakses dengan gawai. Hal ini menjadikan anak semakin senang baca. Dengan memanfaatkan teknologi, aktivitas memang menjadi lebih seru. Dijamin, anak senang berlama-lama.

Anak saya suka sekali dengan cerita yang ada di aplikasi Let’s Read. Tentu saja, ada favoritnya. Apa cerita favoritnya? Ada dua bacaan.

Pertama, judulnya Semut dan Roti. Ceritanya, ada seekor semut yang menemukan roti. Roti itu ukurannya besar sekali. Si semut ini tidak bisa membawanya pulang ke sarang. Meskipun ia menarik dengan sekuat tenaga, roti itu tidak bergerak. Dia tidak menyerah. Lalu, dia memanggil teman-temannya. Dengan semangat kerja sama dan gotong royong, akhirnya roti tadi berhasil dibawa ke sarang mereka.

Kedua, cerita tentang virus Corona. Tentu saja, ini adalah tema yang sedang ramai dibicarakan. Mas Jundi pun tertarik dengan apa sih Corona itu. Dia baca berulang kami. Rupanya penasaran juga dia dengan virus Corona. Tingkat kesulitan bacaan di angka 2 membuatnya tidak sulit memahami bacaan.

Ini dia pengalaman anak saya membaca menyenangkan bersama Let’s Read.

 

Ada level-level kesulitan pada bacaan-bacaannya. Urutannya tingkat kesulitan 1, 2, 3, 4, dan 5. Paling sulit di angka 5. Maka sesuaikan dengan umur anak untuk memilih bacaannya. Kita juga bisa atur atau pilih jenis bahasa, level bacaan, tema, dan hurufnya.

 Untuk menggunakan Let’s Read, kita tinggal mengunduhnya di alamat berikut. Unduh Let’s Read di sini ya : (https://bit.ly/downloadLR)

Let’s Read ini diprakarsai oleh Books for Asia, yakni program literasi yang telah berlangsung sejak 1954. Program tersebut menerima U.S. Library of Congress Literacy Awards atas inovasi dalam promosi literasi pada Desember 2017.

Beberapa cerita di aplikasi Let’s Read

Misi Let’s Read:

Membudayakan kegemaran membaca pada anak Indonesia sejak dini melalui:

  1. Digitalisasi cerita bergambar,
  2. Pengembangan cerita rakyat yang kaya kearifan lokal,
  3. Penerjemahan buku cerita anak berkualitas terbitan dalam dan luar negeri ke dalam bahasa nasional dan ibu.

Di Let’s Read ada juga bahasa daerah, lho. Pas banget nih buat mengenalkan dan mengajarkan anak bahasa daerah atau bahasa ibu.

Salah satunya cerita berjudul Pangeran jo Inyiak atau kalau diterjemahkan Pangeran dan Harimau. Cerita ini berbahasa Minangkabau. Ada bahasa Inggrisnya juga.

Cerita ini ditulis oleh Wulan Mulya Pratiwi. Cerita ini bagus. Sekalian mengajarkan tentang karakter baik untuk anak. Mengajarkan karakter saling menolong dan saling menghormati.

Bahwa manusia dan binatang bisa hidup rukun saling berdampingan dan menjaga sehingga lingkungan pun akan damai

Momen-momen Mengejutkan

 “Ayah, lihat ini Mas Jundi punya eksperimen” katanya sambil memamerkan mainan dari kado yang didapatnya dari hadiah gurunya. Oh iya, anak saya saat ini TK A.

Kekagetan saya bukan pada kadonya. Tapi kata ‘eksperimen’-nya itu. Dari mana anak kecil itu dapat istilah eksperimen ya? Hehe.. 

Saya meyakini bahwa ini tidak lain karena rajin baca atau dengar cerita dari buku pula. Lain kali, dia mengejutkan dengan pertanyaannya.

 “Ayah, emang kalau batu digosok-gosok bisa keluar apinya?” tanya si sulung sewaktu kami ngabuburit, bakar-bakar koran bekas di depan rumah. 

Di sela-sela menunggu datangnya waktu berbuka, kami ngabuburit di depan rumah saja. Sebab masih dalam rangka isolasi mandiri untuk pencegahan Covid-19.

Untungnya saya lekas ingat. Mungkin si sulung nanya begini, karena ingat buku Rahasia Keajaiban Api. Rupanya masih ingat juga dia dengan isi buku. Namun, untuk mengetes ingatannya, saya uji dengan judul bukunya.

 “Oh, kayak yang dibuku Asal-Asul Api ya, Mas?”

 “Bukan..”, katanya bersemangat, “bukunya Rahasia Keajaiban Api. Kan ada orang yang tidak pakai baju gosok-gosok kayu di batu terus ada apinya.”

Maksudnya tidak pakai baju adalah manusia purba yang kala itu belum mengenal dan mengenakan baju. Syukurlah dia masih ingat.

Memberikan pengalaman langsung yang berkaitan dengan bacaan akan memberikan ingatan yang kuat pada bacaan. Kesimpulan saya, manfaat dari minat membaca adalah bertambahnya pengetahuan, dan bertambahnya kosa kata. Maka, jangan ragu-ragu untuk senantiasa membimbing dan mengupayakan buah hati agar memiliki minat membaca.

 

Pengalaman Membaca Haruslah Menjadi Pengalaman yang Menyenangkan, Bukan Menjadi Pengalaman Buruk Bagi Anak.