Memaknai Profesi Dokter

Memaknai Profesi Dokter [Review Buku] Pembaca yang baik hati hehe… Kali ini aku mau bikin review buku. Buku tentang profesi dokter. Ah, profesi ini emang selalu jadi idaman banyak orang. Bahkan, untuk jadi dokter banyak yang rela merogoh kocek dalam-dalam. Ada juga yang sampai jual ladang atau rumah untuk biaya kuliah. 

Biasanya orang bercita-cita menjadi dokter dengan alasan jaminan hidup, gengsi yang tinggi, berseragam keren, dan mudahnya mendapatkan uang. Melalui buku ini kita disadarkan bahwa cita-cita itu semua terlalu dangkal. Dokter merupakan profesi yang akan membuat manusia merasa lemah karena ilmu manusia terbatas dan betapa hebatnya kuasa Allah. Profesi yang membuat bersyukur atas segala kesempatan hidup. Bahkan jika itu hanya sekadar tambahan nafas saja. Nah, makanya, jangan main-main deh dengan profesi dokter.

Kisah yang disajikan dalam buku ini penuh dengan peran dokter yang sungguh besar dan memberikan kontribusi kemanusiaan. Ada dua sisi pemaknaannya. Ini dia bukunya. Sebenarnya terbit ulang sih. Tapi aku baru dapatkan bukunya belum lama ini.

Dengan profesinya, dia bisa membunuh manusia ketika menjalankan tugasnya dengan asal-asalan dan tidak amanah. jauh dari pemaknaan profesi dokter.

Namun, dia juga bisa ‘menghidupkan’ nyawa, ‘memberikan hidup’ pada seseorang dengan pemaknaan profesinya. Bahkan, tanpa banyak hal yang dilakukan oleh seorang dokter.

Pada kisah Rani misalnya. Seorang gadis yang harus menderita gegar otak, paru-paru kotor, jantung bermasalah dan tiga belas akar gigi harus dicabut. Bermula dari seorang dokter yang tanpa menyentuh, hanya melihat dan mendekat lantas memberikan berbagai obat.

Vonis yang diterima saat datang lagi sakit di bagian kepala. Sedemikan banyaknya. Namun bertemu dengan dokter dengan senyum yang tak lekang dan mata bersinar ramah mampu menghidupkan harapan menghadapi sekian banyak vonis tadi. Keramahan itu menjelma menjadi seolah paman dan keponakan. Begitu juga dengan dokter-dokter lainnya.

 

Bertemu dokter dengan keramahan dan kesabaran serta kehebatan cara mengambil hati anak-anak membuatnya bahkan bisa sampai bertahun-tahun menjalani perawatan. Dokter yang bahkan hafal ulangtahun si pasien. Ikut pula merayakan ulangtahunnya. Rani kecil bisa bertahan dalam hidupnya, berprestasi di sekolah, bahkan menjadi penulis terkenal.

Bukan hanya hebatnya resep obat atau kecanggihan alat yang bisa membuat pasien menjadi sembuh dan sehat. Wajah-wajah ramah, dedikasi, dan cinta yang tersemat dari balik jas putih, terasa seperti pahlawan. Lewat mereka, Allah mengabarkan harapan akan hari kesembuhan.

Dokter selalu siap menghadapi pasien dengan berbagai kondisi. Ada pasien yang telah berkali-kali melakukan aborsi namun saat konsultasi seakan tanpa beban, tanpa merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Sampai pada satu titik dokter memberikan resep sederhana agar dia sadar.

Menjadi dokter juga menyalakan kehidupan bagi orang lain walaupun kadang dia sendiri harus kehilangan nyawanya. Khairunnas merupakan anak tunggal. Dia magang di salah satu rumah sakit di Pahang. Lulusan pendidikan kedokteran Indonesia ini Dia punya kekurangan. Kurang percaya diri dihadapan orang meskipun bekerja bersama orang-orang yang profesional. Dia merasa konsentrasi. Pernah salah membawa sampel darah yang mengakibatkan dokter Samuel kesal. ( Di sini aku mulai mikir, ah biasanya dokter kan pinter-pinter ya secara kognitif. Eh kenapa dokter Nas ini kok pelupa, ingatannya lemah, dan fisiknya pun rentan. Ada apakah?)

Di sana dia semakin kurus. Pipinya cekung. Pernah jatuh pingsan sewaktu di kamar operasi. Saat banjir, Khairunnas terjebak di rumah sakit dengan kondisi yang serba minim. Tidur dilantai tanpa alas, bantal dan selimut. Di posko pemeriksaan kesehatan, dia berjibaku merawat dan menolong warga yang membutuhkan.

Ketika melintasi di satu tempat dia terkena paku berkarat yang mengakibatkan demam hingga tumbang.
Rupanya yang terjadi sungguh diluar dugaan.  Adanya gagal ginjal serta tekanan darah yang tidak stabil. Kondisinya semakin berat dari waktu ke waktu.

Ternyata ada tumor otak di dalam otak. Harga mahal yang harus dibayar oleh seorang dokter muda. Namun kematian Khairunnas memberikan dampak besar dalam kehidupan teman-temannya.  Kegigihannya membantu korban banjir menjadi inspirasi bagi teman-teman seperjuangan lain (hlm 47).

Bayangkan ya.. Ada anak muda yang sedang magang, dia anak tunggal, pergi ke tempat magang akhirnya meninggal di sana. Ibaratnya ya, belum ‘panen’. Tinggal sebentar lagi dia menuai jerih payahnya selama ini. Dia pengen membahagiakan ibunya yang sudah seorang diri. Demi membahagiakan ibunya itu, dia harus ke negeri jiran. Dan siapa sangka, ajalnya ada di sana. Tragis sih ya. Baper lah kata orang jaman now.