Merengkuh Mimpi

Menjadi Guru Berprestasi

di Bidang Literasi

Bersama ASUS VivoBook 15 A516

Saya sudah 5 kali mengirim opini ke Republika, tapi belum satupun diterima redaksi. Saya kirim lagi, kali ini berjenis cerpen. Eh, langsung diterima. Dari sini saya belajar bahwa, cepat atau lambat, impian akan terwujud. Mungkin waktu dan bentuknya saja yang berbeda.

Begitulah pengalaman saya tembus media nasional. Kalau di media lokal, sudah puluhan tulisan saya dimuat. Kebanyakan jenis opini. Pengalaman di media nasional ini memang agak mengherankan.

Gimana nggak mengherankan coba?

Sebelumnya, tulisan-tulisan saya yang dimuat di koran berjenis opini. Maka, ketika mengirimkan tulisan ke media nasional itu berjenis opini pula. Sampai 5 kali mengirim tidak satu pun dimuat.

Berharap tetap dimuat. Maka, 5 tulisan, menunggunya sampai 5 bulan. Lalu saya banting setir, mengirim cerpen. Hal yang sebetulnya nggak gue banget. Eh, tak disangka, 2 hari sejak berkirim surat elektronik, dikabari redaksi cerpen saya akan dimuat.

Saat jadi mahasiswa baru di tahun 2006 lalu, saya pernah ikut pelatihan. Salah satu materinya adalah pentingnya menulis impian. Impian nggak hanya dipikirkan atau diingat di pikiran. Tapi, harus dituliskan. Maka, kelak kita akan terkejut, karena satu per satu impian itu akan terwujud.

Saya pun menuruti perintah pemateri. Menuliskan impian-impian saya. Tapi nggak sampai seratus impian. Salah satu impian yang saya tuliskan adalah ‘Tulisan dimuat di media nasional’. Impian itu terwujud setelah 14 tahun kemudian. Tepatnya cerpen saya dimuat pada Februari 2020.

 

 

Impian Detail, Terwujud Sempurna

Nah, pembaca, ada beberapa impian yang saya tulis dan benar-benar terwujud. Bahkan ada yang sangat detil, lho. Saya pernah menuliskan ‘Naik pesawat terbang dengan biaya negara’. Eits, jangan ketawa dulu ya. Hehe… Sebagai anak kampung di pelosok Jambi, saking pelosoknya sering orang bilang ‘nggak ada di peta’, naik pesawat terbang merupakan hal yang mewah.

Impian itu saya tulis pada 2006, terwujud pada 2011. Berapa lama waktunya? 5 tahun berselang. Benar-benar dibiayai negara. Waktu itu saya masih merantau di Pasaman Barat, Sumatera Barat. Saya mendapatkan pelatihan di Bandung. Pergi ke Bandung pakai pesawat, dengan biaya negara. Saya tak keluar uang, malah dapat uang saku. Impian yang detail saya tuliskan benar-benar tercapai.

Tentang Kuliah S2

Saya juga menuliskan ‘Kuliah S2’. Setelah wisuda di tahun 2011, rupanya saya tidak punya cukup biaya untuk kuliah lagi. Lalu tahun 2013, saya menikah. Setelah menikah, saya merantau lagi. Kali ini nyeberang laut. Saya pindah ke Rangkasbitung, Banten.

Sejak itu, perlahan saya mengubur impian kuliah S2. Impian itu terkubur makin dalam saat sudah punya anak. Kebutuhan makin besar. Makin besar pula pengeluaran untuk keluarga dan anak.

Eh, tak disangka, justru istri saya mendorong saya untuk kuliah S2 lagi.

 

“Kita udah punya anak, Dek. Penghasilan Mas kan buat keluarga dan anak,”

Istri saya menjawab, “Justru saat ini anak-anak masih kecil, belum butuh biaya yang besar. Mas ambil kesempatan untuk kuliah S2.”

Di tahun 2017, saya kemudian mendaftar kuliah S2. Saya pikir, saya harus lulus tepat waktu agar tidak banyak lagi biaya yang dikeluarkan. Dua tahun kemudian, saya mendapatkan gelar magister. Satu impian yang telah saya tulis dulu, lalu terkubur, kemudian terwujud. Saya semakin yakin lagi bahwa impian akan terwujud, hanya masalah waktu.

 

 

Impian lainnya yang juga terwujud adalah menjadi pembicara tingkat nasional, punya buku solo, juara lomba menulis, mendaftar haji, berkurban di Iduladha, dan lainnya.

Saat ini impian saya adalah menjadi guru berprestasi di bidang literasi. Mengapa literasi? Karena literasi itu banyak manfaatnya. Dan manfaat itulah yang hendak saya sebarkan. Oh iya, ada 6 jenis literasi dasar. Yang saya maksud literasi dalam impian saya dan dalam tulisan ini adalah literasi baca dan tulis.

 

Dalam ranah pendidikan, dengan memiliki budaya berliterasi, siswa memiliki budaya baca dan tulis yang ini banyak manfaatnya. Siswa menjadi gemar membaca. Membaca ini kan merupakan kunci membuka ilmu pengetahuan. Kebayang ya kalau siswa suka baca? Pasti banyak pengetahuan yang didapat. Selain itu, manfaat literasi adalah sebagai berikut.

Menguatkan literasi bisa menjadi solusi bagi permasalahan di dunia pendidikan yaitu kenapa siswa seperti tidak mendapatkan apa-apa dari sekolahnya? Tidak lain karena hanya mengandalkan hafalan saja.

Menghafalkan materi saja tanpa tahu maknanya. Mereka baca tapi tidak ada bekasnya, tidak ada ilmu yang bisa diambil dari bacaannya.

Eh, jangan-jangan itu terjadi pada kita juga? Iya, kita. Ini punya yang menyebabkan negara kita nggak maju-maju. Karena output pendidikan tidak seperti yang diharapkan. Sekolah tidak mampu mentransformasi peserta didik menjadi manusia yang berpengetahuan.

Nah, usaha saya ini setidaknya mengurangi hal di atas. Memang sih tahapnya baru di sekolah atau lingkungan saya saja. Tapi saya yakin tidak sendiri. Ada banyak pula orang-orang yang sepemikiran dengan saya.

Lalu, bagaimana langkah-langkah mewujudkan impian itu. Nah, bagian ini yang tidak kalah penting. Yup, kita jangan cuma bermimpi tapi yang tidak kalah penting adalah langkah mewujudkannya. Semakin nyata langkahnya, semakin besar pula impian itu bisa kita rengkuh.

1. Aktif Menulis di Koran dan Media Digital

Menulis sudah menjadi kebiasaan saya. Pertama kali tulisan dimuat di tahun 2009. Setelah itu, agak lama menulis lagi. Lalu di tahun 2011 mulai aktif menulis lagi hingga sekarang. Puluhan tulisan saya dimuat di koran. Ya, zaman dulu saya sering menulis di koran. Lama kelamaan, banyak koran yang gulung tikar atau mengurangi kolom opini. Malah ada koran yang menutup kolom opini. Semakin hari persaingan makin ketat. Semakin sulit menembus opini. Saya memang jarang nongol di koran, tapi saya tetap menulis di media online. Baik daerah maupun nasional. Saya harus jeli mencari dan memanfaatkan media digital yang menerima tulisan. Kalau ada kesempatan, saya mengirimkan tulisan ke sana.

Saya juga memanfaatkan platform kepenulisan seperti Kompasiana, Retizen, gurusiana. Ini lebih longgar persaingannya. Yang penting patuhi peraturan platformnya. Sampai sekarang saya masih aktif menulis tema pendidikan, olahraga, sosial, dan lifestyle.

 

 

Beberapa dokumentasi tulisan saya yang dimuat di koran.

2. Aktif Mengelola Blog dan Bergabung di Komunitas Blogger

Blog menjadi pilihan untuk aktif menulis. Karena kita jadi redaksinya, apapun tulisannya bisa dimuat. Hehe .. Saya mulai aktif menulis blog di tahun 2017. Saya belajar banyak saat memutuskan ngeblog. Kenapa? Bahasa blog itu biasanya lebih cair. Bahkan sering menggunakan bahasa tak baku atau bahasa percakapan.

Lumayan berbeda dengan kebiasaan saya yang menulis opini. Kalau opini itu kan sering menggunakan bahasa baku. Sehingga, saat aktif ngeblog, saya harus menyesuaikan.

Saya juga bergabung dalam komunitas blog agar lebih mantap ilmu ngeblognya. Ada blog guru PGRI, Lagerunal (Cakrawala  Blogger Guru Nasional), BWA, dan KSGN (komunitas sejuta guru ngeblog). Dari ngeblog pun bisa menulis buku. Bahan-bahannya dari aktivitas di komunitas blog pun bisa. Misalnya ada program Selasa dan Kamis menulis, menulis review, atau tantangan satu bulan full menulis.

3. Bergabung di Komunitas Menulis

Sekarang ini kalau mau berkembang, harus mau gabung ke komunitas. Di komunitas itulah kita bisa tukar informasi, berbagi ilmu, menambah relasi, bertukar pikiran, atau saling memotivasi. Ya, zaman now, waktunya berkolaborasi, kurangi kompetisi. Bahkan tidak aktif di komunitas pun biasanya akan dampak positifnya. Ya, dengan sendirinya kita termovitasi kalau lihat anggota komunitas yang aktif, ‘pamer’ karya, atau ngasih informasi prestasi.

Di komunitas itulah sarana untuk saling belajar, saling membantu, saling mengoreksi, tak kenal lelah blog walking atau blog hunter bahkan suatu ketika saya diminta berbagi tips tentang blog. Saya dengan senang hati. Bahkan ketika tanpa imbalan. Bagaimana mungkin saya meminta imbalan untuk komunitas yang sudah membesarkan saya.

4. Rajin Mengikuti Kegiatan Literasi

Saya selalu berusaha ikut kegiatan literasi supaya terus bertambah wawasan tentang literasi. Misalnya seminar literasi, pelatihan menulis, dan semisalnya. Karena itu, kalau ada informasi seperti ini, saya antusias mengikutinya. Pertama, ilmunya untuk saya sendiri. Kedua, agar ilmunya bisa dibagi lagi. Dibagi untuk keluarga juga siswa di sekolah.

Sebelum pandemi, saya sering berburu kegiatan ini. Kalau ada seminar, saya usahakan datang.

Apalagi jika pematerinya penulis terkenal. Wah, saya bela-belain datang. Karena mendengarkan ilmu dari penulis langsung sangat terasa pengaruhnya.

Lantas, saat pandemi begini, apa masih bisa mengikuti seminar serupa? Tentu bisa. Bahkan sangat bisa. Ya, selama pandemi ini saya berpuluh kali mengikuti webinar baik itu webinar tentang literasi, pendidikan, maupun bisnis. Bahkan bisa sampai berhari-hari lho webinarnya.

5. Menulis dan Menerbitkan Buku

Sejauh ini saya baru punya 1 buku solo dan 7 buku antologi. Di sekolah kami, rutin setiap tahun menerbitkan buku. Baik itu buku siswa maupun buku guru. Manajemen sekolah sangat mendukung kegiatan literasi bahkan selalu mendorong agar setiap tahun menerbitkan buku.

Terakhir sekolah kami menerbitkan buku adalah tahun 2020. Buku yang ditulis oleh kelas XII sebagai kenang-kenangan terakhir mereka terhadap sekolah. Baru di tahun 2021 ini sekolah kami tidak menerbitkan buku. Hm, apakah karena pandemi? Bisa jadi. Doakan ya semoga tahun depan sekolah kami kembali menerbitkan buku. Aamiin.

5 Hal Tentang Menulis

Banyak sekali yang mengeluh atau bingung tentang menulis. Hal ini wajar. Saya juga dulu mengalaminya. Nah, beberapa hal yang bisa saya bagikan tentang menulis.

Pertama, menulis bukan karena punya bakat atau. Tapi, bisa menulis atau tidak, lebih disebabkan mau atau tidak.

Banyak penulis keren berawal dari keberanian menulis. Mereka dulu merasa tidak punya bakat. Tapi karena sering latihan atau praktik menulis, akhirnya mereka pun bisa menulis. Bahkan punya buku best seller atau menjadi penulis terkenal.

Kedua, jangan beranggapan bahwa kalau menulis itu harus menulis yang keren. Banyak lho penulis hebat menulis hal sederhana. Misalnya Asma Nadia. Novelnya sering menyoroti hal yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Seperti Surga yang tak Dirindukan, Rumah Tanpa Jendela, dan lainnya. Itu kan tema sederhana. Yang terpenting adalah tulisan kita mengandung kebaikan. Nggak peduli sedehana atau rumit, pastikan tulisan kita punya nilai-nilai kebaikan.

Ketiga, menulis harus langsung jadi. Untuk penulis andal, mungkin tak masalah menulis langsung selesai menjadi satu tulisan utuh. Tapi, menulis itu kan gampang-gampang susah. Nah, bagi pemula, nggak papa kok kalau nggak langsung selesai tulisannya. Tulis semampunya. Kalau mentok, boleh berhenti. Lanjutkan lagi kalau sudah punya ide lanjutannya. Jadi, nggak harus sekali duduk langsung selesai itu tulisan. Bisa saja dua, tiga, atau lima hari. Bahkan satu Minggu atau satu bulan baru selesai tulisannya, juga nggak masalah.

Keempat, menulis harus di depan laptop. Nggak harus juga kok. Bahkan ada baiknya saat menulis tidak langsung di depan laptop. Kenapa? Biasanya kalau di depan laptop, ide yang tadinya sudah terkumpul, jadi buyar. Rancangan tulisan yang sudah disiapkan, hilang entah ke mana.

Meskipun, nggak semua orang mengalami masalah ini. Ada orang yang enjoy aja langsung menulis di depan laptop.

Nah, bagi yang kesulitan menulis langsung di depan laptop, bisa juga dengan menulis di smartphone dulu. Bisa menggunakan fitur catatan yang biasanya ada di setiap smartphone.

Kelima, siapapun berhak dan bisa menjadi penulis. Apapun latar belakangnya. Tak peduli Anda kuliah jurusan apa. Saya kuliah jurusan fisika, lho. Anda kenal Taufik Ismail? Beliau itu dokter hewan. Tapi beliau menjadi seorang penulis legendaris, tokoh literasi Indonesia, dan budayawan.

ASUS Bantu Saya Wujudkan Impian

Saya sudah bertemu dan foto bareng dengan 2 menteri pendidikan dan kebudayaan yaitu Prof. M. Nuh dan Prof. Muhadjir Effendy. Yang saya impikan saat ini adalah bertemu dan foto bareng dengan presiden. Bukan cuma bertemu saja tetapi karena berprestasi. Ya, karena berprestasi di bidang literasi, saya diundang Presiden dan diajak makan bareng di istana merdeka. Waktunya kapan? Saya targetkan di 2025 sudah terwujud impian ini.

Impian saya menjadi guru literasi semakin berkobar saat di tahun 2018, saya menjadi juara 2 lomba artikel dan karya jurnalistik pendidikan dan kebudayaan kategori guru. Hadiahnya lumayan. Bisa buat beli laptop.

Kebetulan waktu itu saya masih pakai laptop inventaris dari sekolah. Maka, sewaktu dapat hadiah, saya langsung beli laptop. Emang sih apa-apa kalau punya sendiri lebih enak. Pilihan saya waktu itu laptop ASUS X441U. kenapa? Karena sebelumnya ASUS X441U inilah inventaris yang saya pakai.

Dari sini saya juga belajar bahwa impian semakin hidup ketika diapresiasi. Meskipun, apresiasi  bukan cuma materi saja tapi bisa lewat pujian atau motivasi juga termasuk apresiasi. Namun, sekarang, impian saya bukan lagi hanya prestasi pribadi, tapi agar orang lain berprestasi juga.

Tak lagi hanya memikirkan diri sendiri tapi memajukan orang lain. Kesuksesan saya adalah ketika mampu menyukseskan orang lain. Begitu pun dalam aktivitas saya di grup kepenulisan atau guru blogger. Dan alhamdulillah, karena sering melihat tulisan saya dimuat di koran, saya sering mengajak untuk menulis, beberapa guru berhasil ‘terprovokasi’. Guru, Kepala sekolah, ketua yayasan, kepala dapur, bahkan tata usaha pernah nulis di koran.

Di sekolah, karena sering menulis, saya diberikan amanah menjadi koordinator literasi di sekolah. Tugasnya apa? Menumbuhkan minat literasi siswa, membimbing siswa lomba di bidang literasi, menerbitkan buku siswa dan guru, serta menumbuhkan budaya menulis di kalangan guru.

Selain menjadi koordinator literasi, selain mengajar, saya juga guru desain grafis. Beberapa tahun ini, siswa bimbingan saya berhasil meraih prestasi di ajang festival dan lomba seni siswa nasional atau FLS2N.

Dengan laptop ASUS itulah saya membimbing siswa. Kadang, dia pakai laptop saya juga. Tapi lebih sering pakai laptop ASUS milik sekolah atau miliknya sendiri. Beberapa siswa yang berhasil saya antarkan meraih prestasi.

Fathir Al Haq

Meraih juara 3 lomba artikel Seba Baduy tingkat Provinsi Banten

Syifa Qolbiyah,

Juara 1 Cipta Puisi tingkat Nasional yang diadakan oleh penerbit Erlangga

Aisya Latifadinar

25 besar lomba fotografi tingkat nasional yang diadakan oleh Republika Online, 2020.

Cika Azzahra

10 besar lomba menulis resensinovel, Festival Literasi Provinsi Banten, 2019

Syifa Qolbiyah dan Orangtuanya

Anugerah Keluarga Hebat, yang diadakan oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan tahun 2019.

Musfiroh Nabilah Hakim

Berturut-turut menjadi juara 1 di tingkat kabupaten pada tahun 2018 dan 2019. Dan menjadi juara 2 tingkat provinsi di tahun 2018. Lomba desain grafis dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang diadakan oleh dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi Banten

Beberapa prestasi yang diraih siswa

Pembaca, mohon doa dan dukungan dari Anda semua. Saya, seorang guru biasa, guru honorer di sekolah swasta ini sedang bermimpi suatu waktu diundang presiden ke istana merdeka.

Sekilas, impian ini rasanya terlalu tinggi. Tapi, saya yakin saja kalau impian ini bakal terwujud.

Yang penting adalah berani membuat impian. Impian yang dipikirkan menjadi rencana. Rencana yang dikatakan menjadi komitmen. Komitmen yang dikerjakan secara terus menerus akan menjadi kenyataan.

Selain didukung dengan langkah-langkah di atas, tidak kalah penting adalah dukungan amunisi yang bisa membantu saya mewujudkan impian itu. Sebagai guru literasi, tentu membutuhkan perangkat andalan yaitu laptop yang andal pula.

Laptop apa yang pas? Tidak lain dan tidak bukan adalah ASUS VivoBook 15 A516. Baiklah, kenapa pula ASUS VivoBook 15 A516 ini amunisi yang pas buat mewujudkan impian saya bahkan Anda semua? Tentu bukan tanpa alasan mengapa ASUS VivoBook 15 A516 bisa kita andalkan. Berbagai keandalan ASUS VivoBook 15 A516 bisa disimak dalam penjelasan berikut.

1. Layar Luas dan Anti Silau

Bekerja atau Hiburan Semakin Nyaman

Sepakat kan kalau kerja akan semakin nyaman kalau didukung ‘alat tempur’ yang memadai? Kalau saya pengennya sih alat tempur yang layarnya luas. Kenapa? Supaya tulisan terlihat dengan jelas. Kalau bisa jangan ada typo atau salah tik, huruf yang kurang, atau salah penempatan kata. Supaya benar-benar maksimal tulisan yang dihasilkan.

Hm, termasuk ketika mengerjakan tugas saya sebagai guru seperti membuat soal, mengoreksi jawaban siswa, memberikan penilaian, atau mengisi nilai rapor. Sekarang ini kan masih belajar daring. Mengajar dan penilaian pun selalu melibatkan laptop.

Jangan sampai ada kesalahan yang bisa ‘menzolimi’ siswa. Jawaban siswa harus benar-benar terlihat, kemudian saya memberikan nilai yang sepatutnya diterima siswa. Lalu, saat memberi nilai rapor, jangan sampai ada salah angka atau kurang satu angka saja. Kalau hal ini sampai terjadi, wah, bisa fatal akibatnya.

Namun, kecemasan ini ini bisa dikurangi atau bahkan dihilangkan dengan ASUS VivoBook 15 A516. Layar NanoEdge dengan lapisan anti-glare menawarkan sudut pandang 178° memberi ASUS VivoBook 15 A516 area layar yang luas.

Seukuran 15 inchi tentunya sangat luas. Pilihan panel hingga resolusi Full HD dengan sudut pandang lebar memiliki lapisan anti-silau untuk mengurangi gangguan yang tidak diinginkan dari pantulan dan silau yang mengganggu. Jadi, sangat aman meskipun kita mantengin laptop dalam waktu yang lama. Kita benar-benar fokus pada apa yang ada di depan kita.

Termasuk, saat webinar yang sering dilakukan saat sekarang ini. Akan semakin puas kalau pandangan laptop semakin luas. Pembicaranya terdengar jelas.

Atau pengalaman hiburan juga. Nonton dengan ASUS VivoBook 15 A516 bakal semakin berkesan. Apapun film yang Anda suka, pastinya semakin nyata dan maksimal. Bisa mengurangi kerinduan akan

nonton bioskop yang saat ini belum bisa kita lakukan akibat pandemi.

Ngomong-ngomong tentang nonton, tontonan favorit saya adalah Preman Pensiun yang saat ini sudah mencapai episode 5. Unsur kelucuan yang membuat saya begitu menggandrunginya. Tak seperti judulnya, justru unsur kekerasannya hampir tidak ada atau tidak terlihat.

Banyak hal yang didapat dari sinetron yang dibintangi Epi Kusnandar cs ini. Utamanya adalah rasa hormat kepada orang tua atau yang lebih tua. Mulai dari bahasa dan gerak tubuh harus hormat. Ya, bahkan seorang preman saja ‘tidak berdaya’ di hadapan orangtua. Hal yang jarang ditemui sekarang ini.

Kalau pembaca, apa tontonan favoritnya? Ah, apapun tontonannya, jangan lewatkan menontonnya dengan ASUS VivoBook 15 A516.

2. Ringan dan Mudah Dibawa Ke Mana Saja

ASUS VivoBook 15 A516

ASUS VivoBook 15 A516

 

 

 

 

 

 

 

 

Bobot ringan juga menjadi pertimbangan memiliki laptop. Biasanya kita kerja kan berpindah-pindah. Nggak hanya di satu ruangan. Atau karena kegiatan yang dilakukan di tempat berbeda dari kantor kita. Atau, bagi Anda yang seorang penulis, mungkin perlu menulis di tempat-tempat tertentu supaya mood menulisnya muncul.

Nah, dengan bobot keseluruhan hanya 1,8 kg, ASUS VivoBook 15 A516 yang tepat untuk seorang guru, siswa, mahasiswa, content creator, penulis, pengusaha, atau profesi apapun. Ya, dengan bobotnya yang ringan, kebutuhan tentang gaya hidup yang serba cepat pun bisa diimbangi dan diikuti dengan sukses.

Laptop ringan merupakan dambaan. Baik laki-laki maupun perempuan. Sekarang ini semuanya serba ringan mengikuti zaman. Agar bisa mengikuti apapun pekerjaan dan pergerakan, laptop ringan menjadi sebuah kebutuhan. ASUS VivoBook 15 A516 menjawab apa yang kita inginkan.

3.  Performa Hebat, Bekerja Cepat

Performa sebuah laptop merupakan hal yang juga menjadi pertimbangan. Siapa sih yang nggak pengen laptop dengan performa hebat dan bekerja cepat? Tentu kita pengen menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin ya. Baiklah, ASUS VivoBook 15 A516 ini paling bisa menjawab kebutuhan kita.

Ya, dengan prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-10 dan grafis diskrit NVIDIA® MX330, ASUS VivoBook 15 A516 menjamin performa yang hebat dan bekerja cepat. Sebagai perbandingan dengan laptop yang saya pakai ASUS X441 didukung oleh prosesor hingga Intel® Core™ i3 generasi ke-8, itu aja udah cepet. Apalagi, ASUS VivoBook 15 A516 yang ditenagai prosesor Intel® Core™ i5 generasi ke-10.

Jadi saya bisa membayangkan betapa wush, wush, wush-nya ASUS VivoBook 15 A516  ini. Pastinya banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan cepat dan efisien. Memulai menghidupkannya pun cepat. Ibaratnya nih kita nggak sempet ngaduk kopi udah siap kerja laptop kita. Beuh!

“Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern.”

“Nikmati semua manfaat dengan PC yang lengkap – PC sudah termasuk Office Home & Student 2019. Aplikasi Office versi lengkap (Word, Excel dan PowerPoint) memberikan semua fungsi yang dibutuhkan dan diharapkan oleh penggunanya. Penggunaan aplikasi Office seumur hidup dapat memastikan Anda untuk selalu memiliki akses ke fitur yang Anda kenal dan sukai. Dilengkapi dengan 100% aplikasi Office asli, software juga akan terus mendapatkan pembaruan keamanan yang rutin untuk melindungi perangkat, program dan data Anda.”

“Laptop dengan prosesor Intel® Core™ 10th Gen series ke atas didesain untuk performa dan mobilitas. Dengan efisiensi yang tinggi serta dimensi thin and light, laptop menawarkan peningkatan performa dan produktivitas untuk penggunanya. Konektivitas WiFi generasi terbaru juga memungkinkan transfer data 3x lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.”

4. Penyimpanan Ganda;

Kerja Data Supercepat, Penyimpanan Besar

 

Buat kaum sufi atau suka film, pasti pengen laptop dengan kapasitas penyimpanan yang besar. Eh, kayaknya semua orang deh yang pengen. Ya, kita pasti butuh menyimpan data-data dengan aman di laptop. Kalau bisa, kapasitasnya besar. Biar bisa menyimpan banyak data.

Nggak cuma film saja tapi juga foto-foto yang berukuran besar. Di sisi lain, kita nggak pengen kinerja laptop jadi lemot karena sudah banyak data di dalamnya. Tenang dan jangan khawatir. Kebutuhan ini juga bisa dipenuhi ASUS VivoBook 15 A516 yang memiliki desain ruang penyimpanan ganda.

Kita bisa meng-instal aplikasi di SSD untuk respons dan waktu load yang lebih cepat, dan gunakan HDD untuk menyimpan file besar seperti film, koleksi musik, dan album foto. Tersedia kapasitas SSD hingga 256 GB dan HDD hingga 1TB.  Mari rasakan pengalaman bekerja supercepat bersama ASUS VivoBook 15 A516.

5. Keyboard Backlit,

Tetap OKE Digunakan di Berbagai Ruangan

 

Sering kali asyik bekerja membuat kita lupa keadaan ruangan. Rupanya ruangan yang tadinya terang sekarang menjadi redup. Atau ketika tiba-tiba mati listrik. Ruangan pun gelap. Mau pindah kok kerasa mager (malas gerak). Atau, mau pindah, eh takut idenya hilang.

Untungnya, ASUS VivoBook 15 A516 punya keyboard backlit yang bisa diaajak kerja dengan sempurna di ruangan yang minim cahaya sekalipun. Konstruksinya kokoh. Jarak antar tombolnya pun ideal sejarak 1,4 mm sehingga kita bisa mengetik dengan nyaman tanpa takut jari kita kesrimpet atau nyangkut.

6. Akses Sangat Mudah dengan Finger Print

 

Bayangkan seberapa cepat dan mudahnya mengakses laptop dengan finger print? Ya, cukup dengan meletakkan jari di touchpad, kita bisa mengakses ASUS VivoBook 15 A516 seketika. Semakin mudah dan aman! Kita nggak perlu mengetikkan kata sandi setiap saat. Ganti dengan satu sentuhan saja. Kemudahan akses yang sama bisa juga dengan mengaktifkan fitur Windows Hello. Perangkat kita tidak bisa dipakai sembarang orang. Semakin aman dan privasi bukan?

7. Banyak Pilihan Konektivitas,

Terhubung Semakin Cepat

 

Kita menginginkan konektivitas yang cepat untuk berbagai keperluan seperti koneksi ke proyektor atau tranfer data. Di saat santai pun kita menginginkan kerja yang cepat. Apalagi saat mendesak. Nah, ASUS VivoBook 15 A516 dilengkapi dengan port USB-C® 3.2,

yang didesain dapat diputar balik yang membuat menghubungkan perangkat dengan sangah mudah. Bahkan kecepatan transfer datanya mencapai 10x lebih cepat dari koneksi USB 2.0 lho. Tersedia banyak pilihan konektivitas mencakup port USB 3.2 Tipe-A dan USB 2.0, output HDMI, dan microSD reader.

Kita pun bisa menghubungkan semua periferal, layar, dan proyektor Anda saat ini dengan mudah. Ada lagi, dengan konektivitas WiFi generasi terbaru juga memungkinkan transfer data 3x lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.

8. Keamanan dan Perlindungan Yang Maksimal

 

Saya pernah diingatkan sama teman, kalau membawa laptop di dalam tas, baiknya tas letakkan di depan dada. Hal ini kalau berkendara dengan menggunakan sepeda motor. Tas berisi laptop jangan digendong dibelakang. “Lebih rawan rusak karena terkena goncangan,” katanya.

Wah, benar juga ya. Tapi sekarang ini kita nggak perlu khawatir. ASUS VivoBook 15 A516 sangat memberikan pelayanan yang maksimal untuk penggunanya. Dalam hak keamanan dan perlindungan produknya, ASUS VivoBook 15 A516 memiliki fitur peredam guncangan E-A-R® HDD untuk melindungi data Anda dari setiap benturan.

Sementara itu, sasis yang diperkuat meningkatkan pengetikan dan memungkinkan Anda untuk membuka dan menutup penutup dalam satu gerakan halus.

E-A-R® HDD Protection

Laptop dengan HDD biasanya lebih rentan dengan kerusakan fisik dibandingkan dengan SSD. HDD pada ASUS VivoBook 15 A516 dilengkapi dengan fitur peredam getaran HDD E-A-R® untuk melindungi data Anda dari setiap benturan. Perlindungan hard drive aktif secara otomatis mendeteksi getaran dan benturan di tiga sumbunya, untuk secara efektif mengurangi kemungkinan kerusakan HDD, jadi Anda tak perlu khawatir saat bekerja, meskipun sedang dalam kendaraan.

Reinforced chassis

Penahan logam di bawah keyboard memberikan platform yang jauh lebih stabil saat mengetik dan menggunakan touchpad. Selain memberikan kekakuan struktural, ini juga memperkuat engsel dan melindungi komponen internal.

 

Reinforced lid

Sisi tutupnya diperkuat dan berfungsi seperti pelindung benturan pada bagian sisi mobil. Ini memberikan dukungan struktural untuk cover, layar, dan engsel.

 

9. Dengan Fitur MyAsus, Semakin Mudah Mengakses

Berbagai Aplikasi dan Layanan ASUS

Dengan fitur MyASUS, kita dapat mengakses dengan mudah serangkaian aplikasi ASUS yang bisa memaksimalkan kinerja laptop kita. Selain itu, melalui MyASUS kita juga dapat mengunduh  aplikasi populer dan penawaran eksklusif lainnya dengan memuaskan.

10. Dilengkapi Dengan Microsoft Office Home & Student 2019

Untuk berbagai keperluan pekerjaan seperti siswa, mahasiswa, guru, dosen, content creator dan profesi lainnya, dukungan ASUS VivoBook 15 A516 dengan dilengkapi Microsoft Office Home & Student 2019. Jadi kita nggak perlu lagi beli atau instal Windows dan Office lagi karena sudah ada di bawaannya. Mengerjakan tugas, menyusun laporan, atau presentasi pun bisa dilakukan dengan mudah. Fasilitas ini bisa gunakan seumur hidup. Akan terus mendapatkan pembaruan demi melindungi perangkat, program dan data kita.

( Penutup)

Merengkuh Mimpi Di Masa Pandemi

Pandemi akibat Covid-19 banyak memberikan dampak di berbagai bidang. Ranah pendidikan pun terdampak. Sebagai guru, saya mengalami benar dampak itu. Mulai dari belajar daring, mengikuti banyak webinar, tak bisa bertemu dengan siswa, mengikuti kebijakan saat pandemi, atau berjibaku dengan tuntutan mengajar saat pandemi.

Saya banyak mengikuti kegiatan webinar atau workshop yang dilakukan secara daring.

Dengan biaya yang murah bahkan gratis. Padahal, kalau dilakukan secara tatap muka seperti sebelum pandemi, bisa mahal biayanya.

Saya ikut kegiatan itu bukan mengejar sertifikat semata.

Niat saya mengikuti kegiatan tersebut benar-benar untuk menambah pengetahuan. Mudah-mudahan bermanfaat saat mengajar siswa. Saya merasa harus punya banyak ilmu. Agar siswa tak bosan belajar dengan saya.

Saya harus menemukan inovasi atau terobosan agar bisa mengajar terbaik untuk siswa.

Untuk mencapai tujuan itu, perlu kesungguhan, kesabaran, dan dukungan. Dukungan dari keluarga, sekolah, dan ketersediaan perangkat yang mendukung. Dalam hal ini saya yakin ASUS VivoBook 15 A516 bisa menjadi alat tempur yang diandalkan untuk mewujudkan mimpi saya dan mimpi kita semua. (*)

ASUS yang siap sedia dan bisa diandalkan saat tugas sebagai pembicara dalam kegiatan bedah buku di sekolah

(sebelum pandemi)