Segala sesuatu yang bersifat dadakan akan membuat kerepotan. Yang susah itu membiasakan yang belum biasa, dan berhenti dari kebiasaan.

Wabah pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) mengubah pola kehidupan kita. Awalnya, dampak paling dirasakan akibat Covid-19 adalah di bidang kesehatan. Lalu ranah pendidikan, ekonomi, pariwisata dan lainnya yang juga terdampak.

Belajar dari rumah (BDR) di mulai Maret lalu. Karena mendadak, pembelajaran dilakukan dengan banyak kerepotan. Guru-guru dipaksa paham penggunaan aplikasi belajar daring seperti zoom, google suite, atau WhatsApp. Ada yang tidak mau repot lalu memanfaatkan platform belajar online atau video pembelajaran dari internet.

Satu dua pekan di pemberlakuan BDR, guru ramai-ramai mengikuti berbagai pelatihan daring. Membekali guru dengan kemampuan agar bisa menggunakan aplikasi daring guna menunjang pembelajaran.

Siswa pun begitu. Meskipun sebagai generasi Z mereka sudah akrab dengan smartphone, tapi menggunakan aplikasi tadi merupakan hal baru. Mereka pun menemukan banyak kesulitan bahkan sekadar masuk ke aplikasi, mengerjakan tugas atau mengumpulkan tugas. Apalagi ditambah guru yang semua memberikan tugas di saat bersamaan, maka kebingungan semakin menjadi-jadi.

Orangtua yang menjalani work from home (bekerja dari rumah) dibuat pusing karena membantu anak mengerjakan tugas. Ada guru yang menugaskan membuat video. Namun, ternyata membuat video, mengedit dan mengunggahnya bukan perkara gampang. Apalagi tugasnya bukan satu dua. Tidak sedikit orangtua yang mengerjakan tugasnya. Akhirnya orangtua uring-uringan membersamai anak di rumah. Pun sebaliknya, anak pun lebih tertekan. Merasa lebih menyenangkan belajar di sekolah.

Belajar di Rumah mulai diberlakukan berdasarkan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemendikbud Nomor 36603/A.A5/OT/2020, tentang Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Kemendikbud, kebijakan Kerja dari Rumah berlaku sejak Senin, 16 Maret 2020.  Sejak 16 Maret hingga 9 April 2020, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah menerima 213 pengaduan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama kurun waktu tiga pekan.1 KPAI mengatakan hampir 70 persen mengeluhkan bahwa tugas yang diberikan guru sangat berat, sedangkan waktu pengerjaannya sangat singkat.

Namun manusia merupakan makhluk pembelajaran. Di awal-awal kebingungan memang ada. Kemudian berangsur membaik.  Adanya koordinasi antarguru dan guru dengan orangtua mengubah pembelajaran semakin membaik.

Pada masa BDR ini semua pihak harus bisa beradaptasi. Banyak sisi positif bagi guru. Jika sebelumnya guru kesulitan dan enggan diajak mengenal dan menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Maka, pada pandemi ini mau tidak mau guru akrab dengan teknologi. Pandemi menyadarkan bahwa penggunaan teknologi merupakan suatu keharusan. Bagi perkembangan pengetahuan. Guru menjadi belajar membuat video pembelajaran. Kreativitas dan inovasi dalam menghadirkan pembelajaran yang asyik dan menyenangkan.

Memang sebaiknya guru membuat sendiri video pembelajaran. Namun jika tidak memungkinkan guru bisa memanfaatkan platform belajar online atau video pembelajaran yang sudah ada. Internet menyediakan berbagai sumber belajar. Namun perlu dipilah agar sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan.

Saya pun awalnya tidak begitu mengenal aplikasi zoom, google suite (google classroom, google form, dan lainnya), aplikasi edit video dan lainnya. Namun karena tuntutan pembelajaran mau tidak mau saya mempelajarinya. Sekarang saya mulai mahir membuat video pembelajaran.

Selain menggunakan aplikasi di atas saya juga memanfaatkan blog untuk pembelajaran. Banyak keunggulan menggunakan blog yaitu siswa bisa fleksibel mengakses materi pembelajaran dan tidak membutuhkan kuota internet yang besar.

Penggunaan blog pun bisa dilengkapi dengan aplikasi lain seperti google form untuk presensi siswa, video pembelajaran, kuis dan lainnya.

Di awal BDR, begitu populer penggunaan zoom. Memang memiliki kelebihan karena dapat melihat siswa atau tatap muka secara daring. Namun, penggunaan zoom punya kekurangan yaitu harus punya kuota yang cukup banyak. Nah, ini cukup bermasalah bagi siswa yang tidak punya kuota yang banyak serta ketersediaan jaringan internet yang memadai.

Akhirnya, saya pun tidak selalu menggunakan zoom. Divariasikan dengan aplikasi lainnya. Kasihan jika siswa harus selalu menyediakan kuota yang banyak. Mereka pun mengeluhkan pengeluaran untuk beli kuota.

Refleksi Pembelajaran Daring

Pembelajaran daring dengan segala kemudahan dan kesulitannya memberikan refleksi banyak hal. Kekurangannya membuat guru terus memperbaiki dan meningkatkan pelayanan. Karena bahasa mendidik adalah bahasa melayani.

  1. Pemanfaatan Teknologi Pada Pendidikan

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran menjadi sebuah keharusan. Teknologi bukan untuk ditakuti, bukan akan menyusahkan manusia tetapi mempermudah dan meningkatkan pekerjaan manusia. Termasuk tugas guru dalam mendidik manusia. Di berbagai negara dengan tingkat pendidikan yang maju, pasti melibatkan teknologi dalam proses pendidikannya. Pada era digital sekarang ini guru harus mampu menguasai teknologi yang menunjang pembelajaran.

2. Pendataan

Mungkin kondisi siswa berbeda-beda. Ada yang punya fasilitas mendukung pembelajaran daring dan ada yang tidak. Ada yang mampu menyediakan kuota internet yang cukup dan ada yang tidak. Sekolah atau guru hendaknya punya data kondisi siswa agar bisa menyesuaikan dengan pembelajaran yang dilakukan. Sehingga guru bisa maklum jika ada siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran karena keterbatasan tadi.

Pendataan ini juga bisa menjadi acuan bagi guru dalam memilih strategi dan metode pembelajaran yang digunakan baik menggunakan aplikasi video, website/blog, atau media sosial yang tidak terlalu membutuhkan kuota yang besar.

3. Pembelajaran Bermakna

Pembelajaran yang tepat pada masa pandemi ini adalah pembelajaran bermakna. Apa itu pembelajaran bermakna?

Pembelajaran bermakna mengandung tiga pengertian yaitu kontekstual, relevan, dan konkret. Pembelajaran kontekstual artinya pembelajaran yang mengaitkan materi belajar dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan bersifat konkret atau nyata artinya siswa belajar langsung tentang pendidikan karakter dari sekitarnya. Mereka bisa belajar keberagaman, gotong royong, keja sama, dan mandiri dari kehidupan mereka.

Relevan artinya sesuai kebutuhan atau kondisi yang terjadi saat ini. Untuk bisa mendapatkan pembelajaran bermakna perlu ada akivitas yang memfasilitasi proses menumbuhkan karakter itu. Bagaimanakah bentuk pembelajaran bermakna ini? Misalnya belajar mengenal virus atau membuat masker (IPA), menjaga kesehatan tubuh (PJOK), poster pencegahan Covid-19 (Seni Budaya), menangkal hoaks Covid-19 (Bahasa Indonesia), atau membuat data perkembangan Covid-19 (Matematika)

4. Penugasan

Belajar daring dikeluhkan oleh orang tua karena dianggap banyak sekali tugas yang diberikan guru. Padahal, kadang orang tua pula yang meminta guru memberikan tugas dengan maksud agar siswa dapat belajar, dan tidak banyak main. Namun, karena kurang koordinasi sehingga banyak guru yang memberikan tugas pada saat bersamaan. Akhirnya tugas pun menumpuk.

Guru perlu menjalin komunikasi dengan orangtua atas tugas yang diberikan. Agar orang tua dapat membantu dan membimbing anaknya pula.

Pada dasarnya pemberian tugas bukan masalah ada atau tidaknya tugas. Tapi yang penting tugas itu harus jelas, relevan dan terukur. Jelas petunjuknya, media pengumpulannya, dan tenggat waktunya. Tugas juga harus terukur dalam artinya siswa dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan.

5. Penilaian

Tidak kalah penting adalah penilaian dari tugas yang diberikan. Guru jangan hanya memberi tugas namun abai memberikan penilaian. Siswa akan merasa malas mengerjakan tugas jika tugas mereka tidak dinilai. Merasa kurang dihargai dari pekerjaan mereka. Karena itu, guru harus memberi nilai atas tugas yang diberikan. Penilaian termasuk bagian dari apresiasi terhadap tugas yang mereka kerjakan. 

6. Umpan Balik

Umpan balik berfungsi sebagai refleksi untuk perbaikan pembelajaran. Bagaimana caranya mendapatkan  umpan balik? Guru bisa bertanya langsung kepada siswa tentang apa saja yang harus diperbaiki pada pembelajaran berikutnya. Jika kemungkinan siswa malu atau takut untuk mengatakannya, bisa dengan menggunakan kuisioner dengan menyembunyikan identitas siswa. Supaya mereka berani menyampaikan apa yang menjadi unek-uneknya. Selain itu, guru juga bisa bertanya kepada orang tua melalui diskusi atau mengisi kuisioner.

7. Tantangan

Pembelajaran pada adaptasi normal membuat semua orang beradaptasi dengan kondisinya. Termasuk dalam hal ini guru tentunya. Belajar dari rumah (BDR) menjadi peluang sekaligus tantangan agar pembelajaran semakin maju dan berkembang.

Guru berlomba-lomba menggesa diri menjadi sosok pendidik yang terus belajar meningkatkan diri dan beradaptasi dengan kondisi. Karena semua kondisi pun merupakan sarana untuk belajar. Mengambil sisi positif dari setiap tantangan.

Metode pembelajaran harus menyenangkan, memahami kondisi siswa, dan memenuhi hak siswa. Ketercapaian kurikulum memang penting namun tidak kalah pentingnya adalah menjaga psikologis anak agar tetap bahagia. BDR yang sudah lama (lebih dari enam bulan) bisa berpotensi menimbulkan kejenuhan. Agar tidak jenuh maka kondisi pembelajaran harus dibuat supaya menyenangkan.

Adanya pengurangan kompetensi dasar sebagai bagian dari kurikulum darurat memberikan kesempatan bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan. Guru punya waktu lebih untuk penguatan pendidikan karakter.

8. Bersinergi dengan sesama guru

Tidak ada salahnya belajar dengan sesama guru. Bisa jadi guru lain memiliki pengalaman yang bisa diambil sisi positifnya. Mungkin guru memiliki strategi efektif dalam menciptakan pembelajaran yang tepat. Guru bisa menirunya agar mencapai pembelajaran yang lebih baik lagi. Ki Hajar Dewantara mengatakan “Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah”.

Jangan malu bertanya atau meminta pendapat. Ilmu bisa didapat dari siapa saja dan dari mana saja. Belajar tidak mengenal usia. Bisa jadi guru senior belajar dari guru yang lebih muda.  Dalam rangka mendapat ilmu tidak perlu ada gengsi atau malu.

Penutup

Bagaimana pun juga kualitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidaklah sama dengan pembelajaran tatap muka. Namun, bukan berarti kita menyerah dengan keadaan. Pandemi mengajarkan banyak hal seperti menumbuhkan empati, disiplin menjaga kesehatan, bertanggung jawab dengan tugas sendiri, dan lainnya.