Pilih Laman

Sangat wajar jika orang menginginkan barang yang asli. Tak mau yang palsu. Bahkan mereka rela merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan barang yang asli.

 Namun, tidak demikian dengan Amriatin dan Kiki. Meskipun mendapat yang palsu, cukup membuat mereka terharu. Akhirnya berjalan dengan ‘kaki yang lebih bagus lagi’ terwujud juga. Walau hanya dengan kaki palsu.

 

Berbeda dengan kebanyakan orang lainnya, Amriatin terlahir tanpa telapak kaki. Hingga bertahun-tahun lamanya, Amriatin berjalan dengan sepatu plastik merah yang diberi ganjal dengan kain sebagai alat bantu berjalannya. Hal ini berlangsung hingga Amriatin kelas 4 sekolah dasar.

Tidak jauh berbeda, kondisi ini dialami juga oleh Siti Rizqi Qodariah, panggilannya Kiki. Siswi kelas 5 di SD Negeri di Saruni, Maja-Pandeglang terlahir tidak memiliki kaki. Hingga akhirnya saat dirinya kelas 5 sekolah dasar, datang bantuan berupa kaki palsu untuknya. Sekarang, Kiki tengah belajar berjalan dengan ‘kaki barunya’. Tergambar binar-binar kebahagiaan dari wajahnya kala mencoba berjalan. 

Dalam tulisan ini saya akan menceritakan Kebaikan Berbagi yang dilakukan oleh sang pengantar kaki palsu itu, yaitu Bu Indah Prihanande. Ya, pengantar kaki palsu yang pada akhirnya menjawab impian Amriatin dan Kiki itu adalah Bu Nenda. Sebab, ternyata, tidak hanya kaki palsu saja yang menjadi jalan kebaikan yang dilakukan Bu Nenda, tapi ada banyak lagi. 

Bu Nenda punya dua anak. Anisa Latifadinar (21 tahun) yang saat ini kuliah di kampus di Banten, dan Aisyah Latifadinar (15 tahun) yang saat ini duduk di bangku sekolah menengah. Saya adalah guru si bungsunya. Nama Bu Nenda sangat terkenal di kalangan guru meskipun bertempat tinggal beda kabupaten. Karena itu, saya tertarik menggali lebih dalam kiprah beliau dalam bidang sosial kemasyarakat di daerahnya.

Sang Pahlawan Jamban

Bu Nenda mungkin bukan wonder women, tapi bisa menolong banyak orang. Kiprahnya dalam dunia perjambanan membuatnya dikenal sebagai pahlawan jamban. Ya, selain memberikan kebahagiaan lewat kaki palsu, Indah Prihanande juga melakukan proyek kebaikan lainnya dengan membuat ribuan orang bisa buang air besar (BAB) di jamban. Ya, benar. Jamban.

Meskipun bangsa kita telah 74 tahun merdeka, namun masih banyak yang hidup dalam keterbelakangan secara ekonomi dan kesehatan. Bahkan, untuk sekadar memiliki jamban. Zaman now, apa masih ada yang tak punya jamban? Ada. Banyak, malahan. 

Awalnya, Bu Nenda berkunjung ke Desa Parigi di daerah kabupaten Pandeglang, Banten. Untuk membayangkan letak Pandeglang, ingat saja tragedi tsunami Selat Sunda pada penghujung tahun 2018 lalu, yang menewaskan semua personil grup band Seventeen, kecuali sang vokalis. 

Nah, saat berkunjung itu, di perjalanan tercium bau yang tidak sedap. Bau tinja manusia. Sesampainya di sana, ketahuan bahwa masyarakat di sana masih banyak yang masih belum memiliki fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus) yang mamadai. 

Padahal, jamban kan merupakan hal yang urgen. Mereka tak punya jamban. Warga di sana yang buang air besar sembarang (BABS). Di sana dikenal istilah dolbon (modol di kebon).

Padahal, BABS ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat kedua sanitasi terburuk setelah India. Sekitar 150 ribu orang Indonesia meninggal akibat buang air besar sembarangan (BABS). 

BABS juga memicu banyak penyakit seperti kolera, muntaber, polio, dan hepatitis A. Belum lagi, sanitasi yang buruk bisa menyebabkan stunting atau kondisi anak yang memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Jika hal ini dibiarkan, maka kualitas generasi mendatang terancam. 

Inilah kemudian yang menggerakkan hati Bu Nenda untuk totalitas memberikan penyadaran kepada warga tentang bahaya BABS. Dia melepaskan pekerjaannya di Jakarta sebagai direktur di perusahaan keuangan. Dari kerja yang nyaman, ruangan kerja bersih rapi serta gaji besar pindah ke pekerjaan yang penuh risiko, tantangan, dan pengorbanan. Rela berpanas, berpeluh, dan kerepotan lainnya. 

Pengorbanan yang tidak remeh. Setelah keluarga bisa diajak kompromi, rekan-rekan kerjanya tidak sedikit yang menyayangkan keputusannya. Namun, tekadnya sudah bulat. 

Meskipun niatnya baik, tidak lantas ajakan Bu Nenda diterima dengan baik pula. Sebabnya, warga sudah terlanjur menganggap hal itu –BABS- merupakan hal biasa, tidak ada yang salah. Mereka telah melakukannya secara turun temurun. 

Ibu Niah, misalnya. Di usianya yang sudah 45 tahun, dia baru merasakan buang air besar (BAB) di jamban. Selama ini, beliau dan hampir semua warga di desanya buang air besar di kebun, sawah, dan ladang. 

Dan kalau malam ingin BAB, mereka harus menggunakan obor atau penerangan lainnya. Harus waspada jika bertemu dengan ular atau binatang berbisa lainnya.

Dia tidak secara sporadis mengatakan bahaya BABS. Untuk bisa mengubah karakter warga, terlebih dahulu masuk ke dunia mereka. Bahkan, Bu Nenda harus mau tinggal bersama mereka, untuk menjalin kedekatan dengan warga.

Kadang, saat tinggal bersama mereka, terpaksa harus ikut kebiasaan mereka. Mau gimana lagi? 

Pendekatan Bu Nenda berprioritas pada ibu-ibu. Mereka diajak arisan jamban. Menyisihkan ribuan demi ribuan untuk arisan. Sampai satu persatu menang arisan yang lantas dibelikan jamban. 

Hal ini dilakukannya kampung demi kampung, desa demi desa. Satu dua orang atau lembaga peduli dengan yang dilakukannya. Ada yang membantu materi atau sekadar dukungan. Satu dua orang relawan anak-anak muda membantunya. Ikut ambil bagian dari kerja sosial itu. Sekarang, Bu Nenda tak sendirian berjuang. 

Hari demi hari, bulan pindah ke bulan, tahun berganti tahun. Tak dirasa ternyata sudah 15 tahun lamanya Bu Nenda berjuang dalam perjambanan ini. Masya Allah, sudah sejauh itu Bu Nenda berkiprah.

Saat mencapai titik ini, Bu Nenda (dan rekan-rekannya) telah membangun sekitar 10.045 jamban telah terbangun. Sudah 50 ribu jiwa di Banten tidak lagi BABS. 

 Kini, warga bisa BAB dengan nyaman di rumah sendiri. Tak lagi buang air besar sembarangan. Jika malam, para ibu tak lagi membangunkan suami untuk mengantar BAB. Desa menjadi semakin bersih, kesehatan pun semakin terjaga.  

 Izinkan saya menuliskan satu lagi kisah Berbagi Kebaikan dari Bu Nenda. Kali ini, dari keluarga beliau, tepatnya suaminya. 

Suatu sore, Bu Nenda pulang dari kantornya di Serang, Banten. Sampai di Pandeglang menjelang Maghrib. Di rumah ternyata sedang ada Mbok Kasur. Sang suami bilang, sedari tadi mencari kasur jadul. Supaya Mbok Kasur ada kerjaan. Kasihan, sebab Mbok Kasur ini jauh-jauh dari Serang ke Pandeglang untuk mencari nafkah menjajakan jasa memperbaiki kasur kapuk. Zaman canggih begini, segalanya semakin mewah, maka semakin sedikit yang menerima keahlian Mbok Kasur.

 dan suami tak sampai hati mengecewakan Mbok Kasur. Dicari segala cara agar Mbok Kasur tak pulang dengan tangan hampa. Pekerjaan selesai, Mbok Kasur ditahan jangan pulang dulu. Selesai Maghrib, akan diantar. Maka, Nenda yang baru saja datang dari Serang, akan balik ke Serang lagi.

Lelah sih lelah. Tapi, membayangkan Mbok Kasur yang mencari nafkah dengan berjalan kaki menelusuri jalan sepanjang terminal Kadu Banen – alun-alun Pandeglang, Cihaseum, Kebun Cau dengan membawa gembolan berat, mengalahkan keletihannya.

Setelah menempuh 90 menit perjalanan, tibalah di rumah Mbok Kasur. Sebuah pemukiman padat.  Rumahnya yang kecil dihuni beberapa orang anak dan cucu.

Sambil mengetuk pintu rumah, Mbok kasur setengah berteriak menyampaikan kepada anak-anak nya. “Mbok diantar pake mobil, Mbok diantar pake mobil bagus.” Duh…

 “Hidup buat apa sih kalau bukan untuk bermanfaat untuk oranglain?” jelasnya dengan semringah. Tak ada beban meskipun jika aktivitasnya sangat padat.

 “Sebagai sesama umat memang harus peduli” tambahnya. 

 

Rupanya, prinsip hidup banyak melakukan kebaikan tidak hanya dimiliki Bu Nenda saja. Sang suami pun mendukungnya. Kerap pula ikut ke lapangan membantu sang isteri. 

 Keluarga sudah satu pandangan bahwa berbagi kebaikan menjadi satu hal yang harus ditunaikan. 

 “Kadang kasihan lihat ibu banyak kegiatan jadinya sering kecapekan. Tapi terus keinget kalau ibu kerja buat ngebantu banyak orang. Jadinya Ais mendukung banget. Soalnya banyak orang yang kebantu karena kesibukan itu” terang si bungsu.

Setidaknya ada dua hikmah yang bisa kita ambil dari konsistennya Bu Nenda melakukan berbagai kebaikan itu.

Pertama, Kebaikan Itu Beresonansi

Begitulah, kebaikan bisa beresonansi. Dalam fisika resonasi diartikan sebagai ‘ikut bergetarnya suatu benda karena pengaruh benda lain yang memiliki frekuensi yang sama’. 

Singkatnya, kebaikan itu menular. Satu kebaikan bisa menginspirasi kebaikan lainnya. Satu orang melakukan kebaikan bisa diikuti oleh oranglain. Karena itu, saya lebih sepakat kalau kebaikan itu perlu disebar. Bukan dalam rangka pamer atau riya tetapi agar banyak orang yang juga tergerak melakukan kebaikan. 

Berbagi kebaikan adalah hal lain. Pamer dan riya merupakan hal lain lagi. 

Manfaatkan media sosial untuk berbagi kebaikan. Apalagi jika dia punya follower yang cukup banyak. Akan lebih banyak pula orang yang bisa digerakkan untuk melakukan kebaikan. Daripada berisi hal unfaedah di media sosial, lebih baik digunakan untuk kampanye kebaikan. 

 

Nah, mulai sekarang, jangan ragu-ragu berkampanye kebaikan di media sosial ya. Apalagi action di dunia nyata tentunya. Jangan sampai berhenti menebarkan Kebaikan Berbagi. Agar Kebaikan Berbagi ini tidak berhenti di tangan kamu.

Kedua, Berbuat Kebaikan Merupakan Ivestasi 

Jika mengamati keluarganya, dapatlah kita menemukan kedamaian, kerukunan, dan berkah pada keluarga Bu Nenda. Suasana keluarganya harmonis dan guyup rukun. Meskipun dalam kesederhanaan, suasana bahagia tetap tercipta.

Melihat kedua anaknya yang bager-bageur, sopan santun, berakhlak, rasanya ini merupakan berkah Kebaikan Berbagi yang dilakukan Bu Nenda. 

Belasan tahun menebar kebaikan, apakah dia lelah? Katanya, sih, lelah juga. Tapi apakah bosan? Tidak, katanya lagi. Perjuangan menebar kebaikan menurutnya sebagai bentuk perjuangan. Mengumpulkan bekal. 

“Alhamdulillah tak pernah. Kami ingin sama-sama berjuang. Bukan saya saja, pun bukan hanya dia saja. Kami ingin merasakan nikmatnya berbagi dan memperjuangkan sesuatu yang bermanfaat secara bersama-sama, agar kebahagiaannya bukan hanya untuk saya seorang, pun bukan untuk dirinya saja.”

Seperti Bu Nenda, yang telah menemukan jalan-jalan kebaikannya, kita pun bisa menemukan jalan-jalan kebaikan pula. Jika kita bersedia lebih jeli melihat sekitar, banyak hal yang menuntut kepedulian kita. Banyak kebaikan yang bisa kita lakukan. 

Tidak menunggu berbuat hal yang besar-besar, bahkan hal kecilpun bisa menjadi jalan kebaikan.  

Membantu kaum dhuafa, menyantuni anak yatim, menjadi orangtua asuh, membantu korban bencana, memberi makan yang kelaparan, dan lainnya.

Apalagi pada kondisi mewabahnya Coronavirus disease (Covid-19), yang mengakibatkan dikeluarkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), work from home, atau karantina wilayah. Orang diimbau untuk di rumah saja. Banyak aktivitas di luaran menjadi semakin berkurang. 

Hal ini memberikan dampak pada banyak orang yang biasanya menggantungkan penghasilannya dari keramaian orang-orang. Ribuan orang terdampak. 

Mulai dari ojek online, pedagang kaki lima (PKL), penjaga toko, pengusaha wisata, tukang bangunan, pedagang keliling, pemilik warung makan, pedagang di pasar, dan lainnya. Banyak pula di antara mereka yang dirumahkan. Tenaga kerja honorer –termasuk guru honorer- kehilangan pemasukan seperti biasanya. Padahal, dari sanalah mereka mengandalkan untuk menafkahi keluarganya. Ada anak dan isteri yang butuh makan.