Di perjalanan pulang dari silaturahim, Pak Sabeni tiba-tiba menyeletuk, “Maaf ya Mas tadi telat, saya tadi ngurus ibu saya pulang berobat,”

Saya memaklumi kalau terlambat. Tapi saya terkejut, karena ibunya Pak Sabeni sakit.

“Sakit apa, Pak?”

“Biasa, Mas. Sakit tua. Dirawat juga sih. Sampe 3 hari.” Lalu beliau menyebutkan nama rumah sakit swasta. Biasanya kalau berobat di sana pasti mahal.

“Pakai BPJS nggak, Pak?”

“Untungnya sih pakai BPJS, Mas. Kalau nggak pakai wah lumayan juga.”

Syukurlah ibu beliau bisa menggunakan layanan BPJS Kesehatan. Katanya sampai 3 hari di rumah sakit itu. Wah, kelihatan banget berapa biayanya kalau tidak pakai BPJS Kesehatan. Apalagi itu rumah sakit swasta yang biasanya kalau berobat di sana pasti mahal.

Saya pun bisa membayangkan, dengan profesi Pak Sabeni sebagai sopir serabutan, pemasukan tidak menentu. Kalau ada yang sakit, tentu membutuhkan banyak biaya. Dari mana hendak dipenuhi biaya itu?

Benar-benar, BPJS sebagai penolong. Bukan hanya Pak Sabeni, saya pun merasakannya. Istri saya 2 kali melahirkan dengan operasi cesar. Biaya operasi biasanya sungguh besar. Tapi berkat menggunakan BPJS Kesehatan, alhamdulillah, kami tidak keluar biaya operasi. Padahal, biaya operasi biasanya berkisar Rp. 8 juta s.d Rp. 15 juta.

Dengan BPJS, Sang Keponakan Pun Lahir Dengan Selamat

“Kapan HPL-nya Mbak?” tanyaku pada mbak kandungku, yang sebentar lagi akan melahirkan. Kelihatan perutnya sudah besar.

“Tanggal 12 Juni, dek. Bisa maju, bisa mundur.”

“Semoga lancar ya Mbak,”

“Aamiin. Tapi kali ini harus Cesar.”

“Lho, kok bisa Mbak? Anak pertama kan lahir normal?”

“Iya, bener. Anak kedua ini posisinya sungsang. Jadi harus operasi,”

Yang mau melahirkan Mbakku. Tapi aku yang sekarang panik.

“Ntar pakai BPJS atau nggak Mbak? Biayanya lumayan lho kalau nggak pakai BPJS. Apa ada dananya? Sudah disiapkan? Lha ntar gimana kalau belum ada dananya? Sudah mepet, lho,”

Serentetan pertanyaan kuberondongkan ke Mbak.

“Sudah. Sudah ikut BPJS. Mbak rutin bayar juga. Malah sejak anak pertama dulu.”

Seketika saya menjadi tenang. Nggak perlu kuatir lagi. Sejenak teringat pengalaman istri saya sewaktu melahirkan anak pertama dan kedua.

Saya masih ingat saat lebaran kemarin. Kakak perempuan saya tinggal menunggu Hari Perkiraan Lahir (HPL) anaknya. Tidak lama lagi anak ketiga lahir. Setelah dua persalinan sebelumnya dilakukan secara normal, persalinan kali ketiga harus operasi.

Alhamdulillah, bertepatan peringatan Hari Lahir Pancasila, keponakan saya lahir dengan selamat. Dan tidak kalah membahagiakan, ibunya sehat pula. Kebahagiaan menyelimuti keluarga besar kami. Semoga sang bayi menjadi anak yang bermanfaat bagi bangsa. Aamiin.