Pilih Laman

Sebuah hikmah dari seorang Muhammad bin Sirin. Seorang tabi’in (orang yang hidup sesudah masa para sahabat Rasulullah). Beliau terkenal sebagai ahli ilmu. Juga sebagai orator ulung. Mempunyai suara menggema , keras, dan berwibawa. Biasa memotivasi kaum muslimin untuk beribadah dengan suara yang memukau.

Beliau terkenal dengan kata, kalimat dan ucapan yang indah. Namun semuanya itu berbeda ketika beliau menghadap ibunya. Sebagian sahabatnya berkata, “Seakan-akan beliau selalu kehabisan kata-kata saat berhadapan dengan ibunya”. Beliau hanya membisu, tunduk, takzim dan tidak punya kehebatan apa-apa. Hal itu karena beliau sangat berhati-hati dan benar-benar diatur nada bicaranya ketika berkata pada sang bunda.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah lebih dari seorang oratur ulung sehingga berani berkata tidak sopan pada ibu kita? Apakah kita sudah jadi orang hebat sehingga berkata seperti mengajari ibu kita? Sesungguhnya kita lancang jika berani berkata yang tidak sopan kepada ibu.

Saya jadi teringat dulu sewaktu kegiatan pramuka kewirausahaan Pramuka Wirakarya di Kwarda Banten. Salah satu peraturannya adalah diharuskan membawa tas ransel atau bawaannya kemana pun pergi. Baik itu ke mushola, kegiatan di lapangan, hingga ke kamar mandi. Jika peserta kemah bawa dua tas, keduanya pula tas itu harus dibawa.

Hikmahnya adalah supaya peserta bisa merasakan bagaimana ketika ibu mereka mengandung mereka. Hampir semua peserta merasakan berat, lelah, dan capek menggendong tas seperti itu. Awalnya memang agar ringan. Namun lama kelamaan terasa berat.

Dan hampir semua mereka mengeluh, juga terharu. Mereka menyadari, betapa berat perjuangan ibu mereka. Di perkemaah itu, hanya tiga hari mereka menanggung beban itu. Tentu dapat dibayangkan betapa beratnya penderitaan ibu yang menanggung beban selama kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari.