“Struktur tubuh anak itu besar kepalanya. Artinya daya pikirnya besar. Maka penuhi kebutuhan imajinasinya.”

Hari ini kami sekeluarga belajar lagi. Benar-benar sekeluarga. Saya, istri, dan kedua anak. Meskipun mungkin yang mendengarkan materi hanya saya dan isteri. Anak-anak asyik main dengan teman-temannya. Kebetulan datang pula teman-temannya.

Tidak hanya keluarga kami sendiri. Di sana kami bertemu dengan rekan-rekan yang sudah sangat familiar. Ketemu lagi, ketemu lagi. Hehe…

Kami belajar dengan bang Ical. Nama lengkapnya Achmad Ferzal. Beliau merupakan penggagas komunitas Pendidik Rumahan. Jika kita cari di google, beliau terkenal bukan hanya itu saja, banyak sekali.

 Beliau lulusan ITB, ayah dari lima anak, berpengalaman menjadi kepala sekolah serta kepala yayasan. Orangnya antara muda dan tua begitu. Casingnya sepuh tapi jiwanya muda. Hehe…

Bang Ical memulai dengan gebrakan analogi sederhana. Membuat kami berpikir keras. Namun ketawa keras setelah dijelaskan yang sebenarnya. Tentang Joni dan Susi (biarlah menjadi rahasia kami peserta, hehe…)

 Allah Maha Baik. Mempertemukan dengan orang yang semakin meneguhkan saya bagaimana seharusnya guru dan tentu saja orang tua, membersamai anak.

 

3 Kemampuan Dasar Manusia

 

Ada tiga kemampuan dasar manusia yaitu

1). Menyerap

2). Mengolah

3). Menyajikan

 

Inilah yang hendaknya dioptimalkan oleh yang punya tanggung jawab dengan pendidikan anak, seperti yang saya tulis di atas yaitu guru dan orang tua. Lagi, kata Bang Ical (bukan pimpinan sebuah parpol, lho ya), pendidikan tidak selesai dengan sekolah saja. Justru pendidikan fondasinya ada di rumah. Bahkan di mana saja. Karena itu, beliau mengatakan adanya pendidikan rumahan, pendidikan parkiran, bahkan pendidikan jalanan.

Wah, klop banget nih dengan konsep pendidikan yang dicetuskan Ki Hadjar Dewantara, bahwa “setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru”. Sama gak ya? Hehe… Disamakan aja deh.

Selama ini, lanjut bang Ical, kalau ada masalah, yang disalahkan kan biasanya sekolah atau pendidikan.  Nah lho ..

 Bang Ical dengan semangat 45-nya berbagi kepada kami. Saya antusias dengan pemaparannya. Saat itu saya memilih duduk paling depan di barisan bapak-bapak. Walaupun, kemudian saya harus mengalah ditarik-tarik sama anak. Saya pun pindah tempat duduk.

 

 3 Cara memunculkan kemampuan menyerap dengan optimal.

 

#1. Munculkan keinginan bertanya.

Saat anak banyak bertanya, biarkan. Hal ini mendorong anak menyerap sebanyak mungkin informasi. Ini mengkayakan pengetahuannya.  Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Benar kan? Biasanya kalau bertanya, rentetan pertanyaannya tidak habis-habisnya.  Yang disiapkan orang tua adalah waktu dan sabar menghadapi pertanyaan anak.

 

#2 Menguatkan Kemampuan Mendengar

Anak juga memiliki kemampuan mendengar yang baik. Biarkan dia belajar dengan cara mendengar. Maka orang tua jangan bosan menjawab dan menerangkan banyak hal kepada anak.

 Anak punya imajinasi yang tinggi. Tugas orang tua membantu pertumbuhan imajinasinya. Bahkan dalam menjelaskan satu permasalahan sederhana, ada baiknya orang tua menjelaskan dengan memancing tumbuhnya imajinasi.

 Contoh saat anak bertanya tentang spidol. “Apa itu spidol, Yah?” Maka si ayah bisa menjawabnya dengan,

“Ini roket, kadang bisa terbang ke atas. Kadang melayang. Bisa turun kencang, dan seterusnya.”

 Bang Ical menekankan tiga itu tadi yang mestinya diperbaiki dalam sistem belajar kita. Khusus guru, penuhi tiga kebutuhan siswa ini. Berikan porsi yang cukup. “Struktur tubuh anak itu besar kepalanya. Artinya daya pikirnya besar. Maka penuhi kebutuhan imajinasinya.”

Anaknya Tak Sekolah, Tapi Berprestasi

 Bang Ical punya lima anak. Kalau tadi yang saya dengar, anak sulungnya, Malik, tak sekolah. Saat umur 15. Jadi pas SMP, lah. 

Padahal Bang Ical ini seorang kepala sekolah. Juga menjadi kepala yayasan. (Saya kurang tahu pasti kurun waktunya). 

Malik punya hobi bersepeda. Dari hobinya itu dia telah banyak mengukir prestasi. Dia menjadi pesepeda profesional. Beberapa kali menjuarai iven lomba sepeda nasional. Meski dia belajar otodidak, prestasinya tidak diragukan. 

Selain itu Malik punya hobi memainkan musik perkusi dari barang-barang rongsokan.

Malik mampu membuktikan pada keluarganya bahwa keputusannya dapat dipenuhi dengan tanggung jawab. Di usia 26, dia menikah, isterinya berani memberi kepercayaan padanya, bahwa mereka dapat bertanggung jawab dengan keluarganya meskipun Malik tanpa gelar atau ijazah.

Provokasi Malik

Malik mengkritik orang yang terlalu mengagungkan ijazah. “Bukankah Allah menjamin rezeki setiap makhlukNya? Lalu mengapa kita khawatir nggak bisa hidup tanpa ijazah” kira-kira begitulah.

 Apa kita lebih beriman kepada ijazah ketimbang kepada Allah? Maka, tinggalkan sekolah. Tentu saja, Malik menyampaikannya dengan nada bercanda. Entah kalau dalam hatinya serius. Hehe…

 

Bang Ical pun bilang, bukan berarti yang  sekolah itu salah. Bukan berarti keliru dan tak penting itu sekolah. Hanya saja ada yang perlu diperbaiki. Terutama paradigma pendidikan.

Di sekolah banyak itu ilmu penting tapi belum tentu perlu.” Salah satu yang penting dilakukan di sekolah adalah membersamai siswa menemukan dan menghadapi simulasi kehidupan. #Tsaaah

 Kemudian, berikan 3 (Bang Ical sering amat menggunakan 3) hal kepada anak saat belajar. Satu, waktu (belajar-pen) yang tidak terbatas. Dua, biarkan anak salah. Dari sana dia belajar dari kesalahannya. Dan, tiga, apresiasi.

Ada 3 jenis masalah berdasarkan tingkatan kesulitan yaitu 1) masalah sederhana, 2) masalah rumit, dan 3) masalah kompleks. Mendidik anak merupakan masalah kompleks. Masalahnya bisa sederhana bisa rumit tetapi selalu ada dan membutuhkan keahlian.

Itu yang perlu dilakukan oleh guru dan sekolah serta orang tua. Apakah sudah dilakukan?  Nah, ketiga hal di atas justru dijumpai di banyak permainan game. Game tak mengenal waktu. Game punya banyak tingkatan yang kesulitannya pun berlevel. Game sering memberikan apresiasinya pula seperti bintang, level, dan lainnya.

Oh iya, pembaca yang budiman (jadul amat ya, it’s OK, lah),  acara tadi diadakan oleh sekolah ilalang pemimpinnya Pak Apriyadi, beliau HRD sekolah Al Qudwah. Sekolah ilalang ini mirip sekolah alam gitulah. 

Siapapun bisa berbeda menyimpulkan materi tadi. Tapi saya menyimpulkan, bahwa sekolah atau tidak, boleh saja menjadi pilihan kita. Terpenting adalah menjadi manusia berguna dan bermanfaat.

Bahkan kita harus menghargai pekerjaan apapun yang dipilih anak. Kata Bang Ical, bahkan pekerjaan petugas listrik tidak boleh kita pandang remeh. Coba bayangkan malam-malam mati listrik, lantas petugas listrik berjibaku mengupayakan hidup listrik, luar biasa mulianya.

 Bagi yang pilih sekolah (formal-pen), sah-sah saja. Namun yang perlu diubah adalah paradigma sekolah. Bahwa sekolah bukan hanya untuk mengejar ijazah. Sesuai judul tulisan saya di atas, kita harus punya semangat belajar di manapun tempatnya.  Semangat belajar, bukan hanya untuk mengejar gelar.

 

 Sekian dan terima kasih.

Catatan:

Catatan materi tadi sebetulnya lebih lengkap. Itu yang bisa saya tuliskan ulang. Apa yang saya tuliskan sangat sedikit, yang disampaikan jauh lebih banyak dan lebih jelas. Mohon maaf atas keterbatasan.

 

Rangkasbitung, 9 Februari 2020

Supadilah