Setelah kegiatan ujian, tugas guru selanjutnya adalah menentukan nilai untuk siswa. Sebelum itu, guru harus mengoreksi lembar jawaban siswa. Mengoreksi satu per satu jawaban siswa baik itu pilihan ganda (PG) atau uraian.

Ujian sekolah tetap ada pada pembelajaran daring saat ini. Namun bentuknya daring juga. Biasanya guru menggunakan aplikasi google suite seperti google form atau google classroom. Ada juga yang menggunakan quziiz, atau LMS.

Kalau guru sudah pakai ini, pekerjaannya lebih ringan. Sebab nilai siswa akan otomatis didapatkan. Tapi nggak semua lho yang bisa pakai aplikasi ini.

Terutama mata pelajaran eksak. Yang menurutku sangat perlu ada bentuk soal uraian atau esai. Sebab hanya bentuk soal inilah guru bisa mengukur kemampuan dan pemahaman siswa.

Berbeda dengan PG. Guru tak bisa mengukur sejauh mana kemampuan siswa. Siswa yang menjawab benar belum tentu paham lho. Sebab mereka bisa saja menyalin jawaban dari teman atau cari jawabannya di internet.

Nah, ngasih nilai merupakan kewajiban guru. Tapi nih ya tidak semuanya guru yang sigap dengan ngasih nilai. Dalam artian, molor. Mungkin karena sibuk. eh paling tepatnya malas. Yah biasanya karena ditunda-tunda.

Sejauh pengamatan saya, saat musim bagi raport, walas selalu nagih nilai ke guru-guru. Panitia ujian sih sudah ngasih jadwal kapan harus ngumpulin nilai. Udah ngasih deadline segala. Eh diterobos aja tuh deadline.

Nggak jarang lho walas musti begadang untuk input nilai karena ada oknum guru telat ngirim nilai. Waktu mepet. Belum ada nilai. Mau nggak mau sampai larut malam ngisi nilai yang baru aja dikirim.

Nah, ini tips supaya guru nggak telat ngumpulin nilai.

 

1. Jangan Menunda Ngoreksi
Emang sih tips ini agak klise. Tapi ini satu-satunya strategi biar nggak kewalahan ngumpulin nilai. Makanya, kalau habis ujian segera aja tuh soal dikoreksi. Inget, yang sulit itu biasanya memulai. Nah, kalau udah mulai, bakalak lancar tuh ke depannya. Ngoreksi bakal semakin enteng.
Maka, kita memulai mengerjakannya. Mulai dari sedapatnya dulu. Nggak harus dilangsung selesai.

Pekerjaan kalau ditunda akan terasa berat. Ingat, kita nggak tau akan ada kegiatan apa di hari-hari ke depan. Saya beberapa kali mengalami ini. Niatnya ngerjain sesuatu besok atau lusa. Eh pas besoknya ternyata ada agenda yang nggak bisa dilewatkan. Akhirnya pekerjaan tadi saya selesaikan dengan hasil apa adanya. Hasil yang kurang maksimal.

2. Fokus
Mungkin ada orang yang mengerjakan sesuatu sambil santai. Mendengarkan musik, nonton film, ngemil, dan lainnya. Saya juga beberapa kali melakukan ini. Tapi beberapa kali juga nggak mau nyambi. Ternyata hasilnya lebih cepat lho mengerjakan pekerjaan nggak pakai nyambi. Apalagi pas ada deadline gitu saya singkirkan agar bisa fokus mengerjakan.

Jadinya keterusan. Kalau ada sesuatu yang urgen, saya nggak mau dengerin musik. Harus fokus eh tapi kalau ngopi mah tetep aja. Justru, itu bikin semangat. Bikin mata melek yang akhirnya menjadi semangat mengerjakan.

3. Kurangi kegiatan lain.

Guru harus tegas dengan agendanya. Jangan mudah tergiur dengan acara lain kalau itu tak mendukung terselesaikannya pekerjaan utama guru.

Kalau perlu coret kegiatan yang bisa dikurangi untuk bisa lebih fokus mengerjakan tugas. Termasuk mengoreksi ini. Prioritas guru kan seputar sekolah. Apalagi jika yang sudah menjadikan guru sebagai profesi atau pekerjaannya. Maka, mau tidak mau harus sadarkan diri bahwa apapun tugas guru merupakan hal yang harus diutamakan.

Seorang guru hebat jika dia bisa memenuhi tuntutan tugasnya dengan baik. Apalagi jika ini merupakan tugas pokok. Bukan tugas tambahan. Padahal tugas pokok ini ya ibaratnya standar saja. Kalau bisa mengerjakan tugas pokok ini sebetulnya tidak hebat-hebat amat. Yah karena itu memang sudah jadi kewajibannya. Lha kalau tugas standar ini tidak bisa dikerjakan dengan baik, lalu guru macam apa kita? Hehe…