Urgensi Peningkatan Kesehatan Di Daerah Pedalaman

Bagi masyarakat pedalaman, kesehatan lebih penting daripada pendidikan. Bukan pendidikan tidak penting. Tapi pendidikan tidak dapat berlangsung tanpa adanya kesehatan. Jika tak sehat, anak-anak tak bisa sekolah. Jika tak sekolah, kebodohan akan mengancam.

Sebagai pujakesuma (putera jawa kelahiran Sumatra) saya merasakan betul bagaimana rasanya menjadi warga pedalaman. Orang tua saya mengikuti program transmigrasi pada 1975.

Mendapat tempat tujuan di pelosok Jambi sana. Tepatnya di dusun Ringin Anom, desa Lantak Seribu Kabupaten Sarolangun-Bangko. Nama kabupatennya sekarang berubah nama menjadi kabupaten Merangin. Namanya cukup asing, sesuai letak daerahnya yang juga terpencil. 

Daerahnya masih pedalaman. Kami sering berbaur dengan Suku Anak Dalam (SAD) yang merupakan suku asli daerah Jambi. Orang Rimba (sebutan lain Suku Anak Dalam) hidup nomaden (berpindah-pindah) dari hutan ke hutan atau dari kebun ke kebun. Mereka membuat tempat tinggal seadanya. Malahan di atap terbuka. Lantai ‘rumah’ berupa pokok-pokok kayu, tanpa dinding, dan atap terpal atau dedaunan. 

Jika sakit mereka menggunakan ramu-ramuan sebagai obat-obatan. Jarang sekali tersentuh obat atau program kesehatan. Anggota suku yang sakit parah ditinggal dengan ditemani seekor anjing saja. Jika dia sembuh, anjinglah yang akan membawa menuju kelompoknya. Jika dia meninggal, anjingnya akan menyusul sendirian. Begitu kebiasaan mereka.

Daerah tujuan transmigrasi saat itu masih sangat jarang penduduknya. Satu rumah ke rumah lainnya sangat berjauhan. Rumah-rumah di sana berlantai tanah, berdinding papan, dan beratap seng. Satu hektar tanah berdiri satu rumah saja. Apalagi fasilitas umum seperti sekolah atau rumah sakit. Sangat jauh. Hanya ada di kecamatan saja.

Bagaimana kalau warganya sakit? Ya diobati dengan obat warung atau ramuan yang bikin sendiri. Atau, pergi ke ‘orang pintar’. Tidak tahu benar atau tidak penanganannya. Lebih banyak karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan. Kalau sakit berat baru dibawa ke puskesmas atau rumah sakit.

Sewaktu kecil saya mengalami kecelakaan. Tangan harus dijahit. Di desa itu tak ada puskesmas. Harus dibawa ke ibukota kecamatan. Berangkat pagi pulang malam. Sampai-sampai tertidur di motor sewaktu di perjalanan. Akses jalannya sangat sulit. Jalan trans yang masih berupa tanah. Kalau hujan seperti adonan tepung saja.

Keadaan berganti. Puluhan tahun kemudian desa saya jauh lebih baik. Berbagai fasilitas umum ada. Bisa dibilang kehidupan sekarang lebih enak. Saya telah merasakan betapa menderitanya di daerah pedalaman. Saya berharap daerah pedalaman di manapun tempatnya bisa segera mentas dari keterpurukan dan ketertinggalan. Di sini perlu kontribusi dari berbagai pihak untuk mempercepat pencapaian yang dicita-citakan.

Bagi masyarakat pedalaman, kesehatan lebih penting daripada pendidikan. Bukan pendidikan tidak penting. Tapi pendidikan tidak dapat berlangsung tanpa adanya kesehatan. Jika tak sehat, anak-anak tak bisa sekolah. Jika tak sekolah, kebodohan akan mengancam. Dan kebodohan rawan dengan kemiskinan. Siklus ini sangat nyata. Maka sangat penting mengupayakan peningkatan kesehatan.

Untuk memastikan pendidikan sampai pada masyarakat pedalaman, pastikan dulu kesehatan mereka. Setelah 75 tahun merdeka, janji kemerdekaan belum tuntas dipenuhi. Masih ada 62 daerah yang ditetapkan sebagai daerah tertinggal. Sebarannya berada di Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua, dan Papua Barat.

Pada 2013, setelah menikah, saya merantau dari Jambi menuju Rangkasbitung, kabupaten Lebak, Banten. Tepatnya di kabupaten Lebak. Perlu diketahui bahwa baru pada Agustus 2019 lalu kabupaten ini baru keluar dari status daerah tertinggal.

Selama ini memang kabupaten Lebak (terkenal dengan suku pedalaman Suku Baduy) memang masih merupakan daerah yang tertinggal. Akibat kondisi tertinggal itu pula banyak kisah nelangsa yang terjadi. Seperti cerita berikut ini. Malah, ceritanya belum lama yaitu pada Maret 2019.

Ada rasa bahagia juga nelangsa. Itulah yang dirasa Sari (28 tahun) saat melahirkan anaknya yang kedua. Bahagia karena akhirnya sang buah cinta lahir ke dunia. Tapi nelangsa sebab anaknya terpaksa dilahirkan di tempat terbuka.

Sari sudah bersiap dengan kelahirannya. Namun, dia menantikan di rumah saja. Saat terjadi mules lebih lanjut, dia berniat ke puskesmas.

Tapi Puskesmas terdekat tidak dekat. Jaraknya 20 km dari rumahnya. Walaupun dalam kondisi darurat, Membonceng wanita hamil tentu tak bisa ngebut.  Ditambah, Kondisi jalannya buruk. Akhirnya Sari melahirkan anaknya di tengah jalan. Di tempat terbuka. Sebuah kondisi yang tak pernah terpikirkan dalam benaknya. Sari menamai bayinya dengan nama Borojol karena kelahiran anaknya berlangsung secara ngaborojol (lahir) di jalan.

 Sulitnya akses jalan menuju ke puskesmas menjadi satu penyebabnya. Jalannya berbatu, tidak mulus, dan hampir di sepanjang jalan rusak. Jangankan untuk melaju kencang, pelan-pelan saja harus hati-hati. 

Kesehatan menjadi kebutuhan pokok bagi manusia setelah sandang, pangan, dan papan. Tingginya tingkat kesehatan sangat dipengaruhi ketersediaan sarana kesehatan yang memadai. Namun, mengupayakan terwujudnya kesehatan di seluruh pelosok Indonesia bukanlah hal mudah.

Pekerjaan ini  tidaklah semata menjadi tanggung jawab pemerintah melainkan tanggung jawab bersama antara pemerintah,  swasta, dan masyarakat.

Klinik Asiki merupakan satu contoh nyata dari kepedulian Korindo Group dalam meningkatkan kualitas kesehatan di daerah pedalaman. Dengan menggandeng

KOICA (Korea International Cooperation Agency), klinik Asiki yang didirikan di Kabupaten Boven Digoel, Papua hadir untuk mendekatkan masyarakat dengan fasilitas kesehatan dan menciptakan lingkungan yang sehat.

“Saya tidak menyangka, di daerah terpencil ada klinik besar dengan fasilitas yang setara dengan puskesmas di kota besar,”

dr. Anurman Huda,MM.,AAK

Deputi BPJS Divisi Regional XII Papua-Papua Barat

Meskipun di daerah pedalaman, namun Klinik Asiki menjelma sebagai klinik dengan sarana yang lengkap. Klinik Asiki pun meraih klinik terbaik se-Papua dan Papua Barat dua tahun berturut- turut yaitu di tahun 2017 dan 2018. Bahkan pada 2019, Klinik Asiki raih penghargaan tingkat nasional dalam BPJS Award 2019. Klinik modern yang berada di pedalaman Papua ini sukses menjadi klinik terbaik kedua dari 6.800 klinik yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan

Dengan keberadaan tenaga medis yang professional, saat ini lebih dari 10.000 peserta yang merasakan kebermanfaatan Klinik Asiki.

dr Firman Jayawijaya, Manager Klinik Asiki menyatakan bahwa Klinik Asiki didukung dengan fasilitas medis yang cukup lengkap dan modern. Dengan gedung seluas 1.100 m2, klinik ini memiliki fasilitas cukup lengkap seperti ruang rawat jalan, rawat inap, ruang bersalin, perawatan bayi/perinatologi, IGD, ruang bedah minor, USG, farmasi, dan fasilitas lainnya hingga penyediaan kendaraan ambulans. Hebatnya, klinik ini dipersembahkan secara gratis bagi putra daerah Papua dan masyarakat tidak mampu sebagai kontribusinya dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat setempat. Kontribusi KORINDO dalam mengupayakan Kesehatan yang Baik Untuk Sesama sangat nyata!

Hal ini sesuai dengan nilai filosofi Korindo grup yakni meningkatkan kualitas hidup konsumen dan ikut menciptakan dunia yang lebih baik melalui kemampuan yang berorientasi pada masa depan, inovatif, dan berpusat pada konsumen.

Peduli – Berbagai kegiatan Klinik Asiki dalam upaya meningkatkan kesehatan pada masyarakat.

Perhatian perusahaan Indonesia yang didirikan pada tahun 1969 dan telah beroperasi selama 50 tahun dalam bidang kesehatan ini tidak setengah hati.

Selain layanan utama yang disediakan langsung di klinik, Klinik Asiki juga menggulirkan program Mobile Service yang menjangkau ke kampung-kampung terpencil dan perbatasan di wilayah sekitar perusahaan yang berada di Kabupaten Boven Digoel, Papua.

Klinik Asiki sebagai klinik terbaik di Papua

Selama 2017, layanan Mobile Service telah dilaksanakan sedikitnya di 6 kampung yang terdapat di Distrik Jair (3 kampung), Distrik Subur (1 kampung), dan Distrik Ki (2 kampung). Kegiatan pelayanan kesehatan tidak berhenti sampai situ. Program ini akan terus digulirkan perusahaan di kampung-kampung lainnya sesuai dengan jadwal Posyandu dari Puskesmas setempat.

Upaya peningkatan kualitas hidup manusia semakin meningkat. Seperti laporan BPS yang menyatakan pembangunan manusia di Indonesia terus mengalami kemajuan. Pada tahun 2019, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia mencapai 71,92. Angka ini meningkat sebesar 0,53 poin atau tumbuh sebesar 0,74 persen dibandingkan tahun 2018. IPM menjelaskan keterjangkauan penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya

Harus diakui belum sepenuhnya menyentuh di seluruh wilayah Indonesia. Apalagi, sebagai negara kepulauan, pekerjaan ini tentunya tidak mudah.  Tidak elok jika kita saling menyalahkan atas keadaan ini. Lebih baik kita berkontribusi dengan apa yang bisa kita lakukan. Berbagai kendala yang ada menjadi sebuah tantangan untuk dihadapi. Mudah-mudahan ketersediaan fasilitas kesehatan di pedalaman semakin meningkat. agar cerita Sari tidak terulang lagi.

Referensi

https://www.bps.go.id/subject/26/indeks-pembangunan-manusia.html

https://www.korindo.co.id/korindo-asiki-clinic-named-the-best-clinic-in-papua/?lang=id

https://www.korindo.co.id/gallery/layanan-mobile-service-klinik-asiki/?lang=id

https://www.kemendesa.go.id/berita/view/detil/3261/ini-daerah-tertinggal-menurut-perpres

https://bantenhits.com/2020/03/10/miris-ibu-di-cirinten-lebak-melahirkan-di-jalan-beralas-tanah-merah-dan-bebatuan/