Wujudkan Panas Bumi Sebagai Energi Masa Depan

INDONESIA

Pernah nggak sewaktu ke tempat wisata pemandian air panas diingetin buat bawa telor?

“Bawa telor ya. Ntar dimasak di sana. Cemplungin aja di air panas. Ntar kalo udah capek berendam, kita makan telor.”

Ada yang benar-benar pernah mempraktikkan? Kalau saya, meskipun sudah kira-kira 6 kali ke pemandian air panas, belum juga nyobain. Hehe..

Pemandian air panas merupakan satu keunikan fenomena alam.  Gejala air panas ini akibat adanya panas bumi yang bocor ke permukaan.

Fenomena alam ini dimanfaatkan sebagai  tempat wisata berupa tempat pemandian air panas. Di mana-mana biasanya pemandian air panas ini selalu ramai oleh pengunjung. Memang sih diyakini airnya mampu mengobati berbagai penyakit kulit. Ramainya pengunjung ini selanjutnya bisa menambah pemasukan bagi masyarakat. Lalu meningkatkan pula perekenomian masyarakat setempat.

Dan tahukah, selain dijadikan objek wisata, daerah yang memiliki air panas merupakan tempat yang memiliki potensi energi.

Ya, benar. Air panas yang menyembur itu memiliki potensi energi panas bumi. Dan panas bumi ini, termasuk energi baru dan terbarukan, lho. Itu tuh energi alternatif yang sekarang ini sedang gencar-gencarnya dikembangkan.

Seperti kita tahu kehidupan manusia sangat membutuhkan energi listrik. Televisi, kipas angin, pendingin ruangan atau AC dan alat-alat listrik lainnya membutuhkan energi listrik untuk bisa menyala. Para ibu juga membutuhkan gas untuk memasak.

Begitu penting energi bagi kehidupan kita. Tapi, tahukan kita bahwa sumber energi yang kita gunakan sekarang banyak berasal dari bahan bakar fosil.

Energi fosil ini berasal dari sisa-sisa makhluk hidup seperti tumbuhan dan hewan yang tertimbun tanah selama berjuta-juta tahun dan berubah bentuk. Itulah yang saat ini dijadikan sumber energi berupa batu bara, minyak bumi, dan gas alam.

Pemakaian bahan bakar fosil ini menimbulkan polusi yang mencemari udara, tanah, dan air kita. Pernahkah kita merasa suhu di tempat kita semakin panas? Bumi terasa semakin panas? Udara semakin tidak sehat? Nah, itu salah satu efek dari penggunaan bahan bakar fosil tadi.

Tidak hanya itu. Kabar buruknya, jika kita gunakan secara terus menerus, cadangan energi fosil ini semakin lama akan semakin menipis dan akan habis. Wah, kebayang ya kalau sumber energi itu habis. Rumah gelap, industri-industri nggak jalan, nggak bisa nyetel televisi. Ringkasnya, semua aktivitas manusia terganggu. Bahkan, bisa jadi manusia saling berebut energi. Ngeri kan?!

Mau tidak mau, kita harus cari alternatif sumber energi lainnya. Solusinya adalah penggunaan energi baru dan terbarukan yaitu energi alternatif sekaligus energi berkelanjutan (sustainable) yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan. Energi ini disediakan oleh alam, dapat pulih secara alami, dan terus menerus ada. Jadi, kita nggak perlu takut kehabisan sumber energi ini.

Sumber energi terbarukan itu banyak lho. Di Indonesia pun sudah mengembangkannya. Selain ramah lingkungan, sedikit atau hampir tidak ada zat berbahaya, ketersediaan bahan bakunya sangat melimpah di Indonesia. Nah, salah satu sumber energi terbarukan yaitu energi Panas Bumi.

Indonesia sangat kaya lho potensi panas buminya. Bahkan, sangat kaya. Ini dia kekayaan Indonesia tentang panas bumi.

Di Indonesia terdapat 351 lokasi daerah panas bumi. Jumlah yang sangat banyak. Makanya, Regina Tetty Mary dalam sebuah jurnal mengatakan Panas Bumi Sebagai Harta Karun Untuk Menuju Ketahanan Energi.

 

Memang, potensi panas bumi ini sangat diandalkan. Potensi ini diharapkan mampu mendongkrak realisasi bauran energi dari energi baru dan terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025 nanti. Nah, dari sejumlah itu, kontribusi panas bumi mencapai 9%.

Eh iya, sedari tadi ngomongin panas bumi, emang panas bumi apaan sih? Nah, baiklah kita jelaskan ya.

Panas bumi ini biasa disebut Geothermal. Berasal dari kata geo yang berarti bumi, dan thermal yang berarti panas. Jadi secara umum geothermal adalah sumber energi yang berasal dari panas alamiah di dalam bumi.

Sementara itu, berdasarkan UU N0. 21/2014 Tentang Panas Bumi menyatakan bahwa energi panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, serta batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi.

Pemodelan sistem panas bumi adalah seperti ini.

Sederhananya, ada tiga elemen penting panas bumi yaitu reservoir (cerek), fluida (air yang mau dimasak), dan sumber panas (api kompor). Sama seperti memasak air yang menghasilkan uap air, eksplorasi panas bumi yang menghasilkan uap itulah yang digunakan untuk pembangkit listrik.

Pada umumnya, potensi panas bumi didahului adanya manifestasi atau penampakan berupa mata air panas. Namun untuk mengetahui seberapa besar potensi terkandungnya perlu dilakukan survey pendahuluan dan survey lanjutan yang terdiri dari survey geologi, survey geokimia, survey geofisika, dan lainnya.

Tapi, tidak semua panas bumi yang bisa menghasilkan listrik lho. Hanya panas bumi yang bersuhu sekitar 225 derajat Fahrenheit atau 107,2 derajat Celcius yang dapat menghasilkan listrik.

Selain untuk listrik, panas bumi bisa digunakan untuk pemanfaatan lainnya. Misalnya pemandian air panas yang tersebar di berbagai tempat tadi, atau pengeringan hasil kebun untuk memasak nira menjadi gula merah kualitas ekspor di Sulawesi Utara.

Prinsip kerja PLTP hampir sama dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Pada PLTU, uap yang digunakan sebagai penggerak dihasilkan dari boiler yang berasal dari batu bara, berbeda dengan PLTP yang menggunakan uap yang berasal dari perut bumi. Kedua pembangkit listrik sama sama memanfaatkan uap yang digunakan untuk memutar turbin generator yang kemudian menghasilkan energi listrik.

Apa saja keunggulan panas bumi sehingga layak jadi sumber energi masa depan kita? Berdasarkan data Buku Rencana Strategis Direktorat Jenderal EBTKE Tahun 2020-2024 yang terbit April 2020, ada beberapa kelebihan energi panas bumi ini. Panas bumi memiliki kelebihan dibanding energi fosil bahkan energi terbarukan lainnya.

Pertama, Potensi yang sangat besar

Potensi panas bumi yang dimiliki Indonesia sebesar 23,9 GW atau (B.Geologi, Des 2019) dan kapasitas terpasang baru sekitar 2,1 GW. Kalau dikonversikan nih ya 23,9 GW (Giga Watt) itu setara dengan 23.900.000.000 Watt. Lampu listrik di rumah kita berapa Watt ya? Misalnya 100 Watt. Itu artinya, potensi panas bumi bisa dipakai untuk menghidupkan sejumlah 239.000.0000 buah lampu. Wah, banyak nian ya.

Bahkan, Indonesia memiliki 40 % potensi panas bumi di dunia. Artinya, dari sekian banyak potensi panas bumi di dunia, 40 %-nya ada di Indonesia. inilah salah satu keuntungan banyaknya gunung api yang ada di Indonesia. Gunung api itu memiliki magma yang sebagai ‘bahan bakar’ atau pemanasnya.

Kedua, lebih Andal Dibandingkan Energi Fosil

Kelebihan energi panas bumi dengan energi fosil di antaranya:

  1. Masa Operasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dapat lebih dari 30 tahun
  2. Pengembangan infrastruktur energi yang berkelanjutan.
  3. PLTP tidak membutuhkan bahan bakar sehingga tidak ada eskalasi biaya bahan bakar dengan demikian, harga lebih stabil di masa depan
  4. Availability factor yang paling tinggi (90-95%). Availability Factor (AF) adalah rasio antara jumlah jam unit pembangkit siap beroperasi terhadap jumlah jam dalam satu periode tertentu. Besaran ini menunjukkan prosentase kesiapan unit pembangkit untuk dioperasikan pada satu periode tertentu.

Ketiga, ramah lingkungan

Memiliki dampak potensi pencemaran yang minimal. Emisi yang dihasilkan hanya 1/15 dari dari emisi pembangkit listrik tenaga uap yang bahan bakarnya batubara, atau 1/10 nya emisi dari pembangkit listrik genset-genset yang bahan bakarnya dari solar.

Selain itu, eksplorasi panas bumi tidak merusak kondisi bentang awal seperti pada kegiatan pertambangan lainnya sehingga keanekaragaman hayati di daerah eksplorasi dapat terjaga.

Keempat, lebih Andal dibandingkan EBT yang lain

Kelebihan panas bumi dari energi baru terbarukan (EBT) lainnya, di antaranya: Tidak tergantung musim; Tidak bersifat intermittent (berhenti atau berhenti sementara waktu); Availability Factor yang paling tinggi (90-95%); Penggunaan lahan yang lebih kecil daripada EBT lainnya.

Kelima, menyerap Tenaga Kerja

Perusahaan pemerintah yang berperan pada eksplorasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) adalah PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) sebagai anak perusahaan dari PT Pertamina (persero). Pembangunan PLTP ini efektif menyerap tenaga kerja lokal.

Misalnya PLTP Lahendong Unit 5 dan 6 serta PLTP Ulubelu di Lampung mampu menyerah hampir 3.000 pekerja. Lalu PLTP Muara Laboh Tahap I menyerap 1.800 orang pekerja.

Sementara itu, menurut Lano Adhitya Permana (peneliti Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi) seperti dikatakan kepada BeritaBaik.id, energi panas bumi panas bumi ini memiliki karakteristik atau keunggulan tersendiri dibanding sumber energi lain.

Pertama, panas bumi merupakan sumber energi bersih, ramah lingkungan, dan terbarukan. Panas bumi ini menghasilkan CO2 (karbondioksida) yang sangat rendah. Bisa dikatakan panas bumi ini termasuk dalam kategori clean energy.

Kedua, energi panas bumi ini tidak bisa diekspor dan hanya bisa dimanfaatkan di wilayah setempat alias bersifat lokal. Tentu saja hal ini dapat menambah PAD bagi daerah setempat.

Ketiga, energi panas bumi tidak tergantung cuaca, supplier, hingga ketersediaan fasilitas pengangkutan dan bongkar muat dalam pasokan bahan bakar. Ini berbeda dengan sumber energi lain yang mesti melalui berbagai proses dan jarak tempuh sebelum bisa dimanfaatkan.

Keempat, pemanfaatan energi panas bumi tidak memerlukan lahan luas. Ini berbeda dengan pemanfaatan sumber energi lain yang cenderung butuh lahan berkali-kali lipat lebih luas.

PLTP Sorik Marapi, Sumatera Utara

Meskipun potensi panas bumi sangat besar sumber energi terbarukan, ternyata masih ada beberapa tantangan dalam menjadikannya sebagai sumber energi masa depan.

  1. Antipati Masyarakat

Masih banyaknya anggapan bahwa PLTP merusak lingkungan. Padahal anggapan ini keliru. Sebab, lokasi panas bumi dan sekitarnya harus dijadikan daerah serapan air karena panas bumi sangat tergantung pada air. Jadi harus ada pohon sebagai penyimpan cadangan air.

Masyarakat juga takut dengan adanya kerusakan lingkungan lain seperti gempa, kebocoran pipa, atau pencemaran udara.

  1. Biaya Besar di Awal

Biaya investasi awal dan biaya operasional untuk panas bumi ini terbilang lebih mahal. Hal ini berdampak pada harga energinya menjadi mahal dan tidak dapat bersaing dengan harga energi konvensional yang masih disubsidi. Ini ibaratnya usaha yang besar modal awalnya. Tapi lantas sangat kecil biaya operasionalnya. Maka usaha seperti ini bakal cepat balik modalnya.

Karena itu dibutuhkan pengembang yang bekerja sama dalam pengadaan PLTP ini. Kerja sama dengan negara lain pun sangat memungkinkan.

Misalnya kerja sama PT Sejahtera Alam Energy (SAE) dalam pengembangan panas bumi yang mengelola wilayah kerja pertambangan (WKP) Gunung Slamet, Jawa Tengah. Atau kerja sama antara Indonesia dan Australia lewat Fortescue Metals Group (FMG) yang akan berinvestasi di sektor industri hijau dengan mengembangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) sebesar 25 GW. Kerja sama ini telah diteken pada 4 September 2020.

Bapak Menteri ESDM Arifin Tasrif pernah mengatakan, “Ketersediaan energi listrik yang cukup hingga ke pelosok daerah diharapkan dapat mendukung pertumbuhan industri, baik industri besar maupun kecil di daerah-daerah. Selain untuk kawasan industri, Kementerian ESDM juga memprioritaskan ketersediaan listrik di kawasan ekonomi khusus, pariwisata, sentra perikanan dan lain-lain.”

Pertumbuhan ekonomi dan kemajuan industri sangat butuh ditopang oleh ketersediaan listrik yang andal dan ramah lingkungan. Hal ini menjadi kesadaran dari semua pihak dan berbagai kalangan. Geliat kesadaran generasi muda terhadap kebutuhan energi terbarukan dan ramah lingkungan semakin mengemuka. Di berbagai daerah muncul gerakan kesadaran menjaga lingkungan, atau bijak menggunakan energi. Hal ini sebuah fenomena yang membanggakan. Kehendak generasi muda ini patut didukung dan menjadi sebuah gaya hidup.

Pemanfaatan panas bumi telah diatur dalam Undang-undang No 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi. Peran serta masyarakat dalam bidang panasbumi diakomodir dalam Bab VIII Pasal 165.

Nah, undang-undang ini menjadi landasan bagi untuk menjaga dan melindungi wilayah kegiatan pengusahaan panasbumi dan menyampaikan laporan jika ada bahaya atau pencemaran terkait pengusahaan panasbumi.

Masyarakat, termasuk generasi muda, berhak pula memperoleh informasi yang berkaitan dengan pengusahaan panasbumi melalui Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.

Selain itu, masyarakat juga berhak memperoleh manfaat atas kegiatan pengusahaan panasbumi melalui kewajiban perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab sosial perusahaan. (*)

Sumber Referensi:

http://ebtke.esdm.go.id/post/2020/07/30/2598/potensi.besar.panas.bumi.diharap.mampu.dongkrak.bauran.energihttp://ebtke.esdm.go.id

https://www.panasbuminews.com/berita/indonesia-dan-australia-tandatangani-pengembangan-panas-bumi-25-gw/

https://www.panasbuminews.com/regulasi/permen-esdm-50-tahun-2017-pemanfaatan-sumber-energi-terbarukan/

http://pabum.ebtke.esdm.go.id/berita/arsip-berita/panas-bumi/56-panas-bumi-indonesia-baru-termanfaatkan-14-000-mw.html

https://jurnalbumi.com/knol/panas-bumi/#return-note-873-11

https://coaction.id/indonesia-sebagai-peringkat-2-produsen-listrik-panas-bumi/

 

Jurnal

Regina Tetty Mary, dkk. 2017. Panas Bumi Sebagai Harta Karun Untuk Menuju Ketahanan Energi. Jurnal Ketahanan Nasional Vol. 23, No 2. 217-237.